CARA MEMBUAT KOLAM IKAN

Selain nutrisi pakan dan bibit ikan, keberhasilan budidaya ikan juga sangat dipengaruhi oleh konstruksi kolam ikan tempat ikan dibudidayakan. Pembuatan kolam ikan dengan kaidah yang benar mampu menciptakan iklam kondusif bagi kelangsungan hidup ikan budidaya. Bahkan di negara dengan sektor perikanan maju seperti di Thailand, konstuksi kolam yang benar menjadi faktor keberhasilan budidaya ikan.

TEKNIK PEMBUATAN KOLAM IKAN

Pembuatan kolam ikan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu pembuatan kolam ikan permanen, semipermanen, dan non-permanen.

Pada pembuatan kolan ikan secara permanen (kolam semen), proses pembuatannya dilakukan dengan menggali tanah seluas yang diperlukan, kemudian dasar dan tepi kolam buat dinding permanen. Pada proses ini membutuhkan bahan-bahan bangunan seperti kapur atau gamping, pasir,batu, serta semen atau PC (portland cement). Pembuatan dengan cara ini membutuhkan biaya yang lebih besar daripada pembuatan kolam ikan nonpermanen, akan tetapi dilihat dari manfaat jangka panjang, pembuatan kolam ikan secara permanen lebih efisien karena biaya perawatannya menjadi lebih sedikit untuk budidaya ikan selanjutnya.

Pembuatan kolam ikan semipermanen merupakan pembuatan kolam ikan dilakukan dengan menggali tanah seluas yang diperlukan, kemudian menutup semua dinding kolam menggunakan terpal atau mulsa PHP (mulsa plastik hitam perak).

Sedangkan pembuatan kolam ikan nonpermanen merupakan pembuatan kolam ikan yang beralaskan tanah, pada proses pembuatannya cukup dengan menggali tanah seluas yang diperlukan.

BAHAN PEMBUATAN KOLAM IKAN

  1. Anyaman terbuat dari kawat atau anyaman bambu untuk saringan air, baik di pintu masuk maupun pintu pembuangan.
  2. Pada kolam permanen membutuhkan batu, semen (PC), pasir, kapur. Penggunaan kapur sebenarnya mengurangi kekuatan dinding kolam ikan, akan tetapi juga diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan lumut pada dinding kolam sehingga membantu nutrisi yang dibutuhkan ikan.
  3. Papan kayu untuk pintu air model monik.
  4. Peralon atau pipa PVC yang digunakan untuk membuat pintu masuk dan pintu keluarnya air. Dapat juga menggunakan bambu yang dilubangi bagian dalamnya pada pertemuan dua ruas sehingga air dapat mengalir.
  5. Bilah bambu untuk tiang pancang (patok) benang pemandu, pembatas bentuk, dan ukuran setiap bagian kolam.
  6. Benang sebagai pemandu ukuran dan bentuk bagian-bagian kolam.
  7. Pensil dan alat tulis lain untuk membuat gambar sket, dan mencatat ukuran-ukuran serta ketentuan lain yang diperlukan.

ALAT PEMBUATAN KOLAM IKAN

Secara umum peralatan yang digunakan dalam membuat kolam ikan permanen adalah peralatan tukang bangunan seperti cangkul, cetok, dan penggosok dinding (lepan) dan lain-lain. Pada pembuatan kolam ikan semipermanen, membutuhkan paku pasak yang terbuat dari bambu untuk memasak mulsa PHP pada dinding tanah.
  1. Cangkul. Cangkul ini digunakan untuk menggali tanah, melumatkan dan mencampur tanah atau material pada pembuatan kolam ikan permanen.
  2. Linggis. Linggis diperlukan untuk menggali tanah keras (wadas).
  3. Lempak. Lempak diperlukan untuk merapikan dinding kolam ikan.
  4. Selang plastik, digunakan untuk mengukur kemiringan kolam dan bagian-bagian lain.
  5. Martel atau palu. Martel atau palu digunakan untuk menancapkan patok, memasang pasak bambu pada pembuatan kolam semipermanen.
  6. Saringan pasir dari kawat. Saringan kawat digunakan untuk menyaring pasir.
  7. Cetok. Cetok digunakan untuk menembok dan memoles adonan material pada pembuatan kolam permanen.
  8. Penggosok (lepan). Penggosok (lepan) digunakan untuk memoles lapisan semen dan kapur.
  9. Meteran atau teodolith. Meteran atau teodolith digunakan untuk mengukur baik panjang, lebar maupun tinggi kolam yang akan dibuat.

CARA PEMBUATAN KOLAM IKAN

Tentukan lokasi pembuatan kolam ikan, kemudian ukur luas lahan yang akan dibuat kolam, kemiringan lahan, serta batas-batas pembuatan kolam ikan. Buatlah skesta gambar dan skema atau gambar konstruksi kolam ikan yang akan dibuat. Setelah itu kemudian lakukan penggalian tanah dan pembuatan tanggul (pematang). Setelah selesai melakukan penggalian, langkah selanjutnya adalah pembuatan caren dan melakukan pemasangan perlengkapan kolam seperti saringan air, pemasangan pintu air baik pintu masuk maupun pintu keluar.

1. Menentukan Lokasi Kolam Ikan

Sebelum melakukan pembuatan kolam ikan, perlu diperhatikan lokasi yang akan dibuat kolam. Hal ini penting untuk mengetahui jenis tanah, menentukan pusat pengambilan air pada pintu masuk, serta pembuangan air. Tanah yang baik untuk pembuatan kolam ikan adalah tanah berstruktur liat berpasir. Cara mengetahui jenis tanah pasir, liat, atau gembur secara sederhana dapat dilakukan dengan mengambil lapisan tanah atas (top soil) dan lapisan bawah, kemudian masing-masing ditambahakan air sampai kondisi tanah menjadi jenuh (lembek). Setelah tanah menjadi lembek, kemudian ambil dan kepal, tekan kuat-kuat. Jika di telapak tangan meninggalkan sedikit pasir berarti tanah tersebut merupakan tanah jenis liat atau gembur. Sedangkan jika di telapak tangan meninggalkan banyak pasir berarti tanah tersebut merupakan jenis tanah pasir.

2. Pengukuran Lokasi Kolam Ikan

Pengukuran luas lahan yang akan digunakan untuk budidaya ikan dapat dilakukan menggunakan meteran biasa atau menggunakan teodolith.
Kemiringan tanah diukur menggunakan selang plastik (water pass) dengan cara menarik salah satu ujung selang ke bagian tepi batas kemudian direntangkan sampai ke sisi yang lain yang akan diukur kemiringan tanahnya. Cara pengukuran ini dilakukan oleh dua orang untuk mempermudah pekerjaan. Permukaan air pada kedua ujung selang menjadi batas tingkat kerataan tanah. Ukur permukaan air dari permukaan tanah pada kedua ujung selang. Selisih jarak permukaan tanah dengan permukaan air pada satu sisi dengan jarak permukaan tanah dengan permukaan air pada sisi yang lain adalah tingkat kemiringan lahan. Lakukan sampai berapa kali di tempat lain untuk diambil rata-ratanya, kemudian dijumlahkan dan dibagi jumlah titik pengukuran .

3. Pengamatan Lokasi Kolam Ikan

Pengamatan lokasi pembuatan kolam ikan diperlukan untuk mempermudah pembuatan sketsa konstruksi kolam ikan serta mempermudah pekerjaan pembuatan. Hal-hal yang perlu dilakukan pada pengamatan lokasi pembuatan kolam ini diantaranya adalah pengamatan terhadap jenis tanaman yang ada, bebatuan, saluran irigasi. Tanaman yang ada di sekitar lokasi lahan perlu diamati untuk menentukan apakah mau dipertahankan atau ditebang dengan melihat aspek nila manfaatnya terhadap kolam ikan di kemudian hari. Saluran irigasi sangat penting pada pembuatan kolam ikan, karena menentukan pembuatan pintu masuk air sekaligus pintu keluanya.

4. Pembuatan Sketsa Lokasi Kolam Ikan

Setelah melakukan beberapa langkah seperti di atas, langkah selanjutnya adalah membuat sketsa gambar sebelum melakukan pembuatan gambar skema konstruksi kolam ikan. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pekerjaan pembuatan konstruksi. Hal-hal yang dijumpai di lapangan ketika melakukan pengamatan dituangkan dalam gambar sketsa.

5. Pembuatan Gambar Skema Konstruksi Kolam Ikan

Langkah selanjutnya adalah pembuatan gambar skema konstruksi kolam ikan disesuaikan dengan ukuran dan luas lahan yang tersedia. Pembuatan gambar skema konstruksi kolam ikan harus lengkap dan detail, setiap bagian dalam gambar juga dibuatkan gambar tersendiri untuk memperjelas saat pembuatan kolam ikan. Contoh gambar skema konstruksi cara membuat kolam ikan dapat dilihat di bawah ini :

kolam ikan

Pembuatan gambar konstruksi pintu air kolam ikan, meliputi:

  1. Pembuatan gambar pintu masuk air.
  2. Pembuatan gambar pintu pembuangan atau pintu keluar air.

    kolam ikan
  3. Pintu pembuangan atau pintu keluar air model monik.

    kolam ikan
  4. Pintu pembuangan atau pintu keluar air dari bambu atau pipa PVC siku atau model “L”.

    kolam ikan

6. Penggalian Tanah dan Pembuatan Pematang atau Tanggul Kolam Ikan

Pekerjaan selanjutnya adalah melakukan penggalian terhadap tanah menggunakan peralatan seperti cangkul, linggis dan lempak untuk memudahkan dan mempercepat pekerjaan. Penggalian tanah dengan memperhatikan skema gambar konstruksi kolam ikan yang sudah dibuat sebelumnya. Tanggul kolam atau pematang kolam harus kuat agar tanah tidak mudah longsor karena tanggul kolam atau pematang kolam ini tidak hanya menampung air tetapi juga menahan tekanan air terutama saat hujan deras.

Pada pembuatan kolam tradisional (nonpermanen), pembuatan pematang kolam atau tanggul kolam dengan cara memadatkan tanah galian. Agar tanggul kolam lebih kuat, pembuatan tanggul jangan sekali jadi, harus dilakukan secara bertahap. Dalam pembuatan tanggul kolam ini, faktor tanah mempengaruhi tingkat kepadatan. Kekuatan tanggul kolam atau pematang selain dipengaruhi oleh jenis tanah juga oleh lebar sempitnya ukuran tanggul. Semakin lebar ukuran tanggul akan semakin kuat meskipun dari sudut efisiensi penggunaan lahan kurang efisien.

Tanggul pembuatan kolam ikan semipermanen sama seperti pada pembuatan kolam nonpermanen hanya saja permukaan dan bagian dinding kolam ditutup menggunakan mulsa PHP (mulsa palstik hitam perak). Penutupan mulsa PHP dilakukan sampai pada dasar dinding kolam kemudian permukaan dasarnya ditutup lagi menggunakan tanah. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kebocoran akibat lubang tikus, kepiting dan hama pengganggu lainnya. Sedangkan pada tanggul kolam secara permanen selain lebih kuat juga aman dari kebocoran atau rembesan akibat hama sawah karena pada kolam permanen terbuat dari dinding semen. Pembuatan Tanggul kolam atau pematang kolam secara permanen sebetulnya lebih kuat, tetapi memerlukan biaya lebih banyak.

Beberapa contoh pembuatan tanggul kolam ikan :

a. Pembuatan Tanggul Kolam Ikan Pada Lahan Datar

Pada contoh ini, tanggul kolam ikan dibuat dengan cara membuat timbunan tanah yang diambil dari masing-masing sisi dasar kolam. Tanah dasar kolam dicangkul secara merata, dan cangkulan tanah tersebut digunakan sebagai timbunan tanggul pada masing-masing sisi dengan pembagian yang merata.

b. Pembuatan Tanggul Kolam Ikan Pada Lahan Agak Miring

Pada contoh ini, tanggul dibangun dengan lapisan tanah permukaan dengan cara penimbunan dari setiap sisi lahan. Sisi lahan yang lebih rendah memperoleh timbunan tanah lebih banyak dibanding sisi lahan yang lebih tinggi. Misalnya, dua bagian dari tanah yang akan dijadikan kolam diangkat dan diletakkan pada sisi lahan yang lebih rendah, sedangkan satu bagiannya diangkat dan diletakkan pada sisi lahan yang lebih tinggi.

c. Pembuatan Tanggul Kolam Ikan Pada Lahan Miring

Pada contoh ini, tanggul kolam ikan dibuat dengan cara mencangkul salah satu sisi bagian dasar kolam ikan yang permukaannya lebih rendah. Kemudian tanah galian tersebut digunakan sebagai timbunan tanah yang berfungsi sebagai tanggul pada sisi kolam tersebut. Sedangkan sisi kolam yang memiliki permukaan lebih tinggi dengan sendirinya akan membentuk dinding kolam, setelah dasar kolam digali.


Membuat Sumbatan Pada Pembuatan Kolam Ikan

Sumbatan berfungsi untuk memperkuat tanggul kolam ikan agar tidak mudah terjadi kebocoran. Sumbatan dibuat dari tanah liat berpasir yang dilumatkan. Waktu pembuatan sumbatan ini bersamaan dengan pembuatan tanggul kolam ikan. Beberapa petani kadang-kadang membuat sumbatan ini setelah tanggul selesai dibangun. Cara membuat sumbatan tanggul kolam dilakukan dengan terlebih dahulu menggali lokasi atau tempat tanggul akan dibangun. Kedalaman galian tanah tersebut kurang lebih 0,25 m dengan lebar disesuaikan lebar tanggul yang akan dibangun di atasnya. Pada lubang galian tersebut, masukkan lumatan tanah liat berpasir (jawa=jledrogan) setinggi 50 cm. Setelah timbunan jledrogan tersebut agak keras, kemudian di atasnya pada bagian tengah, dengan ketebalan kurang lebih sepertiga bagian dari rencana lebar tanggul, ditambahkan lagi lumatan atau jledrogan tersebut setinggi kira-kira sebatas permukaan air kolam yang telah direncanakan.

Teknis pembuatan taggul ini dibuat secara bertahap. Yaitu dengan terlebih dahulu membuat sumbatan bagian bawah setinggi 50 cm hingga selesai. Setelah sumbatan yang lebih awal dibuat agak mengering dan keras maka tambahan sumbatan tersebut, yang berupa lumatan tanah berpasir seperti pada lumatan di bawahnya, bisa ditambahkan. Jika lebar tanggul yang direncanakan adalah 90 cm, maka ketebalan sumbatan bagian bawah adalah 90 cm, dan ketebalan sumbatan bagian atas adalah 30 cm. Jika rencana ketinggian air dari dasar kolam adalah 60 cm, maka ketinggian sumbatan bagian atas adalah 35 cm.

Setelah pembuatan sumbatan mengering, maka langkah selanjutnya adalah melakukan penimbunan pada kedua sisi sumbatan bagian atas hingga membentuk tanggul setengah jadi. Demikian pembuatan sumbatan tanggul kolam telah selesai, seperti tampak pada gambar di bawah.

kolam ikan

kolam ikan

Setelah pembuatan tanggul kolam ikan selesai, untuk memperkuat tanggul agar tidak mudah terkikis oleh air, maka pada bagian sisi dalam tanggul bisa dipasang penguat yang terbuat dari pasangan batu kali atau batu bata yang pasang menggunakan campuran atau adukan semen dan pasir.

Jika merencanakan untuk membuat tanggul kolam ikan yang diperkuat dengan pasangan batu kali atau batu bata, maka pembuatan sumbatan pada tanggul kolam ikan tidak perlu dibuat. Pemasangan penguat tanggul kolam dari pasangan batu kali atau batu bata ini sudah cukup kokoh, sehingga tanggu yang dibuat tidak perlu mengikuti aturan pembuatan tanggul seperti di atas. Bahkan begitu tanggul dipasang, tanpa menunggu tanah mengeras terlebih dahulu sudah bisa langsung dipasang pengguat pada sisi bagian dalamnya.

Dengan pemasangan penguat dinding kolam menggunakan tembok ini, maka tanggul tidak perlu dibuat miring. Lebar penguat tanggul atau dinding kolam juga harus disesuaikan dengan komposisi campuran semen (PC) dan pasir. Semakin banyak komposisi PC dalam campuran, maka dinding kolam semakin kuat, tetapi biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan penguat ini juga cukup besar. Sebagai komposisi standar

Tanggul tidak harus lebar di bagian bawah. Tebal atau lebar tanggul penguat tergantung pada komposisi campuran semen (PC) dan komponen lain. Semakin banyak semen PC yang digunakan semakin kuat, akan tetapi biayanya cukup besar. Patokan komposisi campuran material yang dapat digunakan sebagai referensi untuk membuat dinding kolam adalah 1 semen dan 5 pasir, dengan ketebalan dinding kolam ideal 50 cm.

Dasar dinding penguat tanggul sedalam 30 cm di bawah permukaan dasar kolam. Dinding penguat yang dibuat dari pecahan bata penataannya harus dibuat sedemikian rupa sehingga permukaan yang menghadap ke kolam terlihat rata dan rapi.

Saat melakukan pemasangan pecahan batu atau batu bata, maka cara pemasangannya harus disusun sedikit sigsag saling berseberangan agar saling memperkuat posisi masing-masing pecahan batu atau batu bata.

Untuk kolam yang potensi airnya terbatas atau minim, maka pembuatan dinding kolam sebaiknya diperkuat dengan dinding tembok, dengan semen dalam komposisi campuran yang digunakan untuk membuat dinding tembok. Selain itu, permukaan yang menghadap ke kolam juga perlu diplester sehingga bisa mengurangi perembesan air.

7. Pembuatan dan Pemasangan Perlengkapan Kolam Ikan

Pemasangan dan pembuatan pintu pengeluaran air atau saluran pembuangan dan pintu masuk air dilakukan bersamaan dengan pembuatan tangul. Sebelum tanggul kolam ikan selesai dibuat, pintu pemasukan dan saluran pembuangan, yang merupakan keatuan dari dinding kolam, harus mulai dikerjakan agar proses pembuatannya lebih efisien.

Untuk mengoptimalkan fungsinya dalam kegiatan pemeliharaan, kolam ikan perlu diberi pintu-pintu air. Disamping untuk memudahkan pemeliharaan, pintu air ini berfungsi untuk mengatur sirkulasi air di dalam kolam. Dilihat dari fungsinya, pintu air pada kolam ikan terdiri dari 2 macam, yitu pintu pemasukan dan pintu pembuangan atau saluran pembuangan. Standar teknis pembuatan kolam ikan yang ideal paling tidak memiliki satu pintu masuk air dan satu saluran pembuangan. Pintu masuk air berfungsi untuk mengatur besar kecilnya debit air yang masuk ke dalam kolam. Sementara itu, pintu pengeluaran atau saluran pembuangan berfungsi untuk mengatur ketinggian permukaan air kolam dan sebagai saluran untuk menguras air saat dilakukan pengeringan atau pemanenan.

Kolam ikan yang memiliki tanggul atau dinding kolam dari tanah dan tidak diperkuat dengan penguat dari pasangan batu atau batu bata, sebaiknya menggunakan pintu air yang terbuat dari PVC atau bambu, sehingga saat dilakukan perbaikan pada kolam, saluran air tersebut tidak terlalu mahal untuk diganti. Selain itu, teknik pemasangan pintu air dari PVC atau bambu ini boleh dibilang mudah. Untuk memasang pintu pemasukan air, PVC atau bambu tersebut cukup dengan membenamkan bagian tengahnya saja kedalam dinding kolam ikan. Kedua ujungnya dibiarkan terbuka, dengan posisi mendatar dan sejajar dengan permukaan saluran sumber air. Salah satu ujung PVC atau bambu tersebut mencuat di atas permukaan kolam.

Untuk pemasangan pintu pengeluaran atau saluran pembuangan pada kolam ikan tidak berbeda jauh dengan pemasangan pintu pemasukan air. Saluran pembuangan dibuat sebanyak dua buah. Saluran pembuangan pertama berfungsi sebagai saluran pengurasan air yang dipasang di bawah permukaan dasar kolam atau sejajar dengan permukaan caren. Saluran pembuangan kedua berfungsi sebagai pintu keluar air dan pengatur ketinggian permukaan kolam. Pemasangan saluran pembuangan kedua ini ditentukan berdasarkan rencana ketinggian permukaan air kolam. Cara kedua saluran pembuangan ini sama dengan pemasangan pada pintu pemasukan air, yaitu dengan membenamkan PVC atau bambu ke dalam tanggul atau dinding kolam.

Pintu pembuangan air dari pipa PVC dapat dibuat dua model. Model pertama dibuat seperti pintu air dari bambu, dan model kedua dipasang dengan posisi mendatar pada kolam. Ujung pipa yang satu mencuat di bagian dalam pematang tepat di dasar kolam dan ujung lainnya mencuat di luar tanggul. Ujung pipa PVC yang mencuat di luar tanggul disambung dengan pipa siku dan disambung lagi dengan potongan pipa PVC setinggi tanggul kolam. Bila dilihat secara utuh, model pintu pengeluaran ini tampak seperti huruf L. Keuntungan pintu air model ini adalah dapat diputar ke kiri atau ke kanan sehingga ujung luar pipa pengeluaran air ini posisinya dapat diatur tegak atau miring. Dengan mengatur kemiringan pipa pengeluaran air ini, kedalaman air kolam dapat diatur sesuai dengan yang dikehendaki.

Jumlah dan ukuran pintu pengeluaran air disesuaikan dengan kapasitas air masuk. Minimal jumlah dan ukuran pintu ini sama dengan jumlah pintu pemasukan. Biasanya kolam yang cukup luas mempunyai dua buah atau lebih pintu pemasukan maupun pengeluaran air. Letak pintu air ini disesuaikan pula dengan bentuk kolam dan letak sumber air ataupun saluran pembuangan. Letak pintu pemasukan dan pembuangan air yang ideal adalah bersilangan. Bila pintu masuk terletak pada bagian depan sisi kanan, maka pintu pembuangannya berada di bagian belakang sisi kiri.

Pada kolam ikan yang dibuat dengan tanggul atau dinding kolam pemanen, pintu pemasukan dibuat dengan cara membuat cekungan atau dalam Bahasa Jawa coakan pada dinding kolam yang berada tepat pada saluran sumber air. Pada cekungan atau coakan tersebut diberi jeruji bersi yang dipasang secara berjajar ke samping atau ke atau. Jarak antar jeruji bersi tersebut sesuai dengan kebutuhan. Untuk menghindari masuknya hama yang dapat menyerang ikan lele, pada sisi yang menghadap arah aliran air masuk dipasang saringan dengan kerapatan sesuai kebutuhan. Pemasangan saringan dan jeruji besi ini juga berfungsi sebagai penahan sampah atau kotoran yang masuk ke dalam kolam.

Jeruji besi dapat diganti dengan kawat yang dianyam dan diberi bingkai bambu sebagai saringan. Pemasangan saringan pada pintu ini harus diberi patok pada sisi dalam cekungan agar cukup kuat menahan aliran air atau sampah yang terangkut. Patok ini dipasang pada sisi tegak dan masing-masing dipasang minimal 2 patok berseberangan. Pada cekungan ini dapat pula dibuat cekungan lagi dengan posisi membujur searah dengan posisi tanggul untuk menancapkan saringan air.

Model pintu air lain yang juga cukup dikenal di masyarakat adalah pintu air sistem monik. Pintu air yang dibuat dengan sistem monik ini dapat diaplikasikan untuk pintu pemasukan dan pintu pembuangan. Selain dapat mempermudah kegiatan pengurasan, pintu air sistem monik ini pun memiliki fungsi yang sangat besar, terutama untuk menjaga kualitas air agar tetap dalam kondisi yang baik.

Pintu air model ini dibuat secara permanen dari pasangan batu Bata, dan bangunan utamanya dibuat mirip dengan pintu pemasukan pada tanggul permanen. Bedanya pada pintu model monik adalah celah penyekat dibuat lebih dari satu, yang berfungsi untuk menempatkan papan-papan kayu yang disusun bertumpuk. Dengan cara ini, aliran air yang masuk maupun yang keluar dapat diatur. Demikian Pula ketika pengurasan kolam untuk panen tidak perlu merusak pintu air, tetapi cukup dengan melepas papan-papan penyekatnya saja. Untuk mengeluarkan sampah pun cukup dengan membuka salah satu potongan papan penyekat paling atas, sehingga tidak perlu masuk ke dalam kolam.

Membuat pintu monik pada tanggul tanah maupun permanen tidak berbeda. Pintu air ini berdiri tegak dari dasar kolam sampai permukaan tanggul.

Saringan pada pintu air model monik dipasang di bagian bawah pelapis kayu pada sekat sisi dalam atau bagian atas pelapis kayu sisi luar. Untuk mempermudah pengambilan sampah yang mengotori kolam dan menyumbat aliran air, sebaiknya saringan dipasang pada bagian atas dari pintu air yang berada di sisi luar. Berbeda dengan pemasangan saringan pada pintu air dari bambu atau pipa PVC, saringannya dipasang pada bagian depan sesuai dengan arah aliran air.

Perangkat lain yang harus tersedia pada kolam ikan adalah caren atau kemalir. Caren adalah saluran atau parit yang dibuat di dasar kolam dengan cara menggali tanah pada dasar kolam dengan ukuran dan bentuk yang disesuaikan dengan ukuran dan bentuk konstruksi kolam. Dalam konstruksi kolam, caren memiliki fungsi untuk mempermudah pemanenan atau penangkapan ikan pada saat melakukan kegiatan panen. Selain itu, tidak kalah pentingnya bahwa keberadaan caren ini sekaligus sebagai tempat penimbunan endapan lumpur dan sisa-sisa pakan serta sebagai pengatur sirkulasi air di dasar kolam ikan. Kebanyakan petani belum memahami fungsi teknis dari keberadaan caren ini sehingga mereka membuat caren atau kemalir ini secara sembarangan. Bahkan para ahli perikanan pun kebanyakan beranggapan bahwa pembuatan caren ini hanya berfungsi untuk mempermudah penangkapan ikan saat dilakukan kegiatan panen.

Dari segi teknis, dalam konstruksi kolam ikan caren merupakan saluran yang berperan sebagai penyambung fungsi pintu masuk air dengan saluran pembuangan. Salah satu ujung parit berfungsi sebagai muara pintu masuk air dan ujung lainnya bermuara ke pintu pembuangan. Agar pembuatan caren tidak mengalami kesulitan saat dikerjakan di lahan, sebelumnya perlu dibuatkan gambar konstruksi kolam terlebih dahulu. Bagaimana stuktur pintu masuk air dan bagaimana arah dan bentuk caren yang akan dibuat.

Untuk kolam ikan yang memiliki pintu pemasukan air lebih dari satu buah, maka jumlah caren yang dibutuhkan juga sama dengan jumlah pintu air tersebut. Caren dibuat dengan arah menyesuaikan keberadaan pintu air pada kolam ikan. Sementara itu, ukuran caren menyesuaikan ukuran kolam, kurang lebih 10% dari luas kolam. Berikut ini beberapa gambaran mengenai ukuran caren pada kolam ikan.
  • Untuk luas kolam 100 m², maka luas caren yang ideal adalah 5 m²
  • Untuk luas kolam1.000 m², maka luas caren yang ideal adalah 50 m²
  • Untuk luas kolam 10.000 m², maka luas caren yang ideal adalah 1.000 m²
More aboutCARA MEMBUAT KOLAM IKAN

PEMBIAKAN BIBIT JAMUR KUPING TAHAP PERTAMA

Perbanyakan bibit jamur kuping dilakukan dalam suatu proses produksi pembiakan. Proses pembiakan dilakukan dalam empat tahap pembiakan. Pada artikel kali ini akan dibahas mengenai tahap pertama pembiakan bibit jamur kuping.

Kegiatan pembiakan bibit jamur kuping pada tahap pertama ini merupakan pembiakan spora (basidiospora) yang dihasilkan oleh basidium dan dilakukan dengan cara kultu jaringan. Produk yang dihasilkan pada pembiakan spora adalah miselium jamur yang berupa benang-benang halus. Miselium jamur kuping ini kemudian disebut sebagai turunan pertama (F1).

Pembiakan Bibit Jamur Kuping Tahap Pertama

Langkah awal yang harus dilakukan sebelum kegiatan proses pembiakan spora dikerjakan adalah mempersiapkan bahan atau media tumbuh dan peralatan. Beberapa peralatan yang perlu dipersiapkan dalam kegiatan ini meliputi tabung reaksi, kertas loyang atau kantong plastik, kapas, rak penyimpanan, tali karet, meja pembiakan, autoclave (alat sterilisasi otomatis, dan perlengkapan lain. Peralatan tersebut harus diadakan terlebih dahulu agar kegiatan pembiakan tidak mengalami hambatan.

Pada saat yang sama, penyiapan media tumbuh juga harus dilakukan karena rangkaian kegiatan ini sebaiknya tidak terputus yang disebabkan tidak siapnya salah satu material. Dalam kegiatan pembiakan bibit jamur kuping tahap pertama ini media tumbuh yang biasa digunakan dikategorikan dalam dua kelompok utama, yaitu kelompok yang berasal dari bahan-bahan alami dan kelompok yang berasal dari bahan-bahan semi sintesis. Bahan-bahan alami yang dapat digunakan sebagai media pembiakan adalah bawang, tepung jagung, tepung kentang, atau bahan-bahan organik lain. Bahan-bahan alami ini digunakan dalam bentuk ekstrak atau cariran jernih maupun decoction atau rebusan.

Sementara itu , bahan-bahan semi sintetis yang dapat digunakan sebagai media tumbuh dalam kegiatan pembiakan jamur kuping adalah campuran agar, glukose, ekstrak ragi, atau campuran kentang-glukose-agar, atau campuran agar dan pepton-glukose.

Diantara bahan-bahan tersebut di atas, bahan semi sintetis berupa campuran agar, glukose, dan kentang (tepung kentang) merupakan bahan yang paling efektif untuk digunakan sebagai media pembiakan jamur kuping. Tepung agar digunakan sebanyak 1,5% — 2%. Sementara itu, komposisi baha-bahan lain ditentukan berdasarkan proses uji coba karena memang tidak ada ketentuan secara khusus mengenai komposisi tersebut.

Berbagai alternatif komposisi yang dapat dijadikan sebagai referensi untuk membuat media tumbuh pembiakan jamur kuping tahap pertama ini adalah:
  1. Potato Dextrose Yeast Extract Agar (PDY): Komposisi media tumbuh jamur kuping ini telah berhasil digunakan dalam pembiakan miselium F1 di Balai Benih Induk Ngipiksari, Yogyakarta. Komposisi media ini terdiri atas kentang, dextrose (glukose), dan tepung agar.
  2. Buat campuran bahan alami berupa parutan ubi kentang, bawang bombai dan tepung aren atau enau. Campuran bahan-bahan tersebut dimasukkan dalam larutan agar. Komposisi ideal untuk campuran media ini adalah 100 gram ubi kentang, 50 gram bawang bombai, 150 gram tepung aren, dan 150 gram agar.
  3. Buat campuran antara media agar, sari buncis, dan touge. Campur hingga rata kemudian direbus selama satu jam. Campuran tersebut bisa digunakan sebagai media untuk biakan murni atau kultur jarinan setelah ditanaman atau diolesi dengan sayatan bagaian tubuh buah jamur kuping dewasa.
Setelah semua peralatan dan bahan siap, kegiatan pembiakan bibit jamur kuping bisa dimulai dengan mempersiapkan media tumbuh untuk biakan dimaksud. Dari beberapa komposisi media tumbuh di atas, pada artikel ini hanya akan dibahas contoh pembuatan media biakan menggunakan media PDY.

Pembuatan media tumbuh PDY dimulai dengan mempersiapkan kentang segar sebanyak 200 gam. Cuci hingga bersih kentang tersebut dengan tidak mengupas kulitnya. Setelah itu, kentang diiris-iris atau dicacah kemudian dicuci hingga bersih. Proses pencucian kentang ini dilakukan dengan cara mencuci berulang-ulang irisan kentang hingga air bekas cuciannya tampak jernih. Langkah selanjutnya adalah membilas irisan kentang menggunakan air suling atau aquadest. Kemudian irisan kentang tersebut direndam menggunakan panci dalam 700-1000 ml air aquadest selama 10 menit. Rendaman irisan kentang kemudian direbus dengan menyertakan irisan kentang tersebut hingga volume airnya menyusut tinggal 500-600 ml. Lama proses perebusan kurang lebih 1 jam. Setelah agak dingin, air rebusan ini, sudah bisa dikatakan sebagai ekstrak kentang, disaring menggunakan kain yang halus atau kain yang biasa digunakan untuk menyaring ekstrak ini adalah kain flanel. Air saringan ditampung dalam botol.

Pada ekstrak kentang yang sudah ditampung dalam botol tersebut ditambah dengan air bersih hingga volumenya mencapai 1000 ml. Langkah selanjutnya adalah menambahkan 10-20 gram glukose (dextrose) dan 9-15 gram tepung agar ke dalam ektrak kentang lalu diaduk hingga rata. Rebus campuran tersebut menggunakan autoclave pada tekanan 15 lbs selama limabelas menit.

Setelah perebusan selesai, campuran tersebut siap digunakan sebagai media tumbuh biakan bibit jamur. Media tumbuh kemudian didinginkan dan dimasukkan dalam tabung reaksi pembiakan dan bisa digunakan sebagai media tumbuh biakan murni (kultur jaringan) sebanyak 150-200 buah tabung biakan. Media tumbuh tersebut harus segera digunakan agar tidak tekontaminasi oleh mikroorganisme baik bakteri maupun fungi yang dapat mencemari dan berseifat merusak media. Jika media tumbuh yang sudah dibuat melebihi kapasitas tabung reaksi, sebaiknya disimpan dalam ruangan bersuhu dingin dan steril. Sisa media tumbuh ini dapat digunakan untuk proses pembiakan bibit jamur kuping pada periode berikutnya.

Setiap satu buah tabung reaksi pembiakan diisi kurang lebih satu sendok makan media tumbuh, kemudian tabung reaksi terebut ditutup atau disumbat menggunakan kapas. Bagian luar sumbatan kapas tersebut dibalut menggunakan kertas loyang yang sudah dipersiapkan kemudian diikat menggunakan tali karet. Lakukan pekerjaan serupa terhadap semua tabung reaksi pembiakan.

Setelah semua proses pengisian tabung reaksi pembiakan selesai, lalu melakukan proses sterisilasi pada tabung-tabung reaksi tersebut. Proses sterilisasi dilakukan dengan cara merebus tabung reaksi pembiakan menggunakan alat steril otomatis atau autoclave dalam suhu 125°C selama 1 jam. Untuk melakukan penghematan atau efisiensi baik waktu maupun biaya perebusan saat melakukan sterilisasi, maka tabung reaksi pembiakan ditata sedemikian rupa dalam autoclave sehingga semua ruangnya dapat dimanfaatkan dengan baik.

Setelah proses sterilisasi selesai, tabung reaksi disimpan dalam ruangan yang steril. Kertas loyang penutup kapas pada bagian luar tabung reaksi dilepas dan tabung disimpan dalam rak penyimpanan dengan posisi miring. Penyimpanan dengan posisi miring ini bertujuan untuk menyebarkan media tumbuh pada dinding tabung reaksi pembiakan bagian dalam sehingga penyebaran miselium yang diinokulasi bisa merata pada dinding tabung. Dengan demikian, proses pengambilan miselium untuk dikembangkan pada tahap pembiakan berikutnya lebih mudah. Biarkan media tumbuh steril ini menjadi dingin dalam suhu kamar kurang lebih selama 24 jam.

Media yang telah didinginkan siap untuk dilakukan inolulasi atau penanaman. Siapkan tubuh jamur kuping yang telah dewasa yaitu berumur 3-4 minggu semenjak pembentukan calon tubuh jamur atau pin head. Inokulasi atau penanaman bibit jamur diambilkan dari tubuh buah jamur kuping tersebut.

Tubuh buah jamur yang sudah dipilih untuk diambiil jaringannya dibersihkan dan dicuci hingga bersih lalu dicelupkan dalam alkohol 70% selama 5 menit untuk memastikan bahwa tubuh buah jamur tersebut telah steril. Selain menggunakan alkohol dapat juga menggunakan bahan kimia lain seperti formalin 5%, sodium hipochloride atau calcium hipochloride 0,35%, silver nitrate 0,1%, mercuric cyanide 0,1%, carbonic acid 1%, potasium permanganat 2%, mercurochloride 0,001%, dan hydrogen peroxida 3%.

Siapkan wadah untuk meletakkan sayatan tubuh buah jamur steril tersebut. Wadah tersebut juga harus disterilisasi dengan cara dicuci menggunakan alkohol 70%. Letakkan tubuh buah jamur di atas wadah lalu wadah bersama tubuh buah jamur terebut diletakkan dalam meja pembiakan. Meja pembiakan segera diaktifkan dengan menekan tombol pengontak, sehingga lampu meja pembiakan nyala dan mesin penghisap udara (filter) bekerja.

Tunggu hingga tigapuluh menit untuk memastikan seluruh udara yang terkontaminasi di sekitar meja pembiakan terhisap. Ambil semua tabung pembiakan beserta rak penyimpannya dan diletakkan di atas meja pembiakan kemudian kapas penyumbatnya dibuka.

Lakukan penyayatan tubuh buah jamur kuping pada bagian yang paling tebal, yaitu bagian yang terletak pada ketiak jamur. Pada bagian ini terdapat sumber-sumber percabangan hifa atau miselium atau kantong basidiospora. Sayat bagian tersebut dengan lebar 0,1 cm, tebal 0,1 cm, dan panjang 1 cm. Untuk memudahkan penyayatan, maka gunakan pisau sayat lancip bertangkai yang biasa disebut spatula, atau bisa juga menggunakan pisau bedah. Pastikan pisau tersebut tajam dan steril. Masukkan sayatan tubuh buah jamur tersebut ke dalam tabung reaksi pembiakan, kemudian tutup kembali tabung reaksi yang telah diisi dengan sayatan tubuh buah jamur menggunakan kapas seperti semula. Tabung reaksi yang telah terisi kembali diletakkan pada rak penyimpanan. Lakukan pekerjaan serupa pada tabung reaksi lain. Satu buah tubuh buah jamur kuping dapat disayat sebanyak 10-15 kali.

Setelah proses inokulasi selesai, kemudian spora jamur kuping dalam tabung reaksi pembiakan disimpan dalam ruangan steril selama 20 hari. Penyimpanan spora tersebut harus dilakukan dalam ruangan yang agak gelam untuk mempercepat pembiakan spora menjadi miselium. Setelah 20 hari akan muncul benang-benang putih yang memenuhi media tumbuh. Benang-benang putih inilah yang dinamakan miselium jamur. Miselium jamur kuping ini selanjutnya digunakan sebagai bibit dalam pembiakan jamur kuping tahap kedua. Tabung reaksi yang gagal membentuk miselium segera disingkirkan dari ruangan agar tidak mencemari tabung-tabung lain. Tabung yang gagal dapat diidentifikasi dengan munculnya bau busuk dan berwarna cokela kehitaman. Tabung tersebut bisa dibersihkan dan disteril kembali untuk digunakan pada kegiatan pembiakan bibit jamur kuping lain waktu.


Dukungan Teknis : Rois Efendi - 0852 3875 5088

Baca Artikel Terkait
  • PEMBUATAN BIBIT JAMUR KUPING

    Bibit jamur kuping diproduksi melalui tahap-tahap pembiakan. Tahap pertama adalah pembiakan spora (basidiospora) yang dihasilkan oleh basidium. Tahap ini dilakukan melalui kultur jaringan dan hasil pembiakan pada tahap ini berupa benang-benang jamur (miselium) yang disebut turunan pertama (F1). Tahap kedua adalah pembiakan miselium F1. Pembiakan tahap ini merupakan perbanyakan miselium hasil pembiakan ...
  • EKOLOGI JAMUR KUPING

    A. Biologi dan Siklus Hidup Jamur Kuping - Jamur kuping memiliki tubuh buah mirip daun telinga manusia. Sebutan jamur kuping melekat pada jenis jamur yang memiliki tubuh buah (basidiocarp) mirip kuping (daun telinga). Di antara 65 spesies jamur kuping, ada tiga jenis jamur kuping yang biasa dikonsumsi sebagai makanan lezat dan dapat dibudidayakan, yakni (1) jamur kuping merah (Auricularia auricula Judae) ...
  • BUDIDAYA JAMUR TIRAM

    Usaha budidaya jamur tiram seringkali mengalami kegagalan karena teknik dan cara budidaya yang kurang benar. Meskipun gampang, perlu diperhatikan faktor-faktor seperti lingkungan, kebersihan, serta konsistensi selama perawatan. Jika faktor-faktor tersebut tidak bisa dipenuhi dengan baik maka hasilnya pun kurang optimal bahkan besar kemungkinan berpotensi mendatangkan kegagalan.Jamur tiram putih berwarna ...
  • PERSIAPAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM

    Usaha budidaya jamur tiram sebernarnya sangat mudah, hanya saja terkadang penyebab utama kegagalan ada pada kebersihan lingkungan. Kebersihan lingkungan menjadi syarat utama yang harus diperhatikan, mengingat budidaya jamur tiram sangat rentan terhadap kelembaban tinggi. sebelum memulai usaha budidaya jamur tiram, kita perlu memperhatikan lokasi usaha, diusahakan tidak berdekatan dengan kandang ...
More aboutPEMBIAKAN BIBIT JAMUR KUPING TAHAP PERTAMA

ENERGI HIJAU ENERGI ALTERNATIF

Energi Hijau Energi Alternatif - Energi merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan manusia. Engergi selalu dibutuhkan manusia untuk mendukup aktifitasnya. Tidak bisa dipungkiri, bahwa manusia tidak akan mampu untuk menghindarkan diri dari kebutuhan energi. Ironisnya, kesadaran akan kelestarian energi sangat rendah. Seiring dengan perkembangan jaman, teknologi, dan informasi, kebutuhan energi telah membuat manusi membabibuta dalam mengendalikan penggunaannya. Hal itu diperparah lagi dengan tingkat kebutuhan manusia yang membutuhkan suplai energi besar. Gerak perkembangan jaman tersebut telah menyeret manusia untuk larut dalam kesibukan bekerja. Sehingga perhatian dan kepedulian mengenai perlunya pelestarian energi semakin tipis.

Lantas pertanyaan yang sangat kritis pun mengemuka, “mungkinkah kita melakukan pelestarian energi?” Pelestarian energi hanya mungkin dilakukan dengan membudidayakan energi atau dengan sebuah bahasa yang kini berkembang adalah energy-farming. Membudidayakan energi hanya mungkin dilakukan bilamana kita mampu menciptakan sumber energi selain melakukan exploitasi terhadap sumber daya alam. Pentingnya sajian informasi mengenai sumber energi alternati bagi kehidupan manusia mungkin secara perlahan akan mengubah kesadaran masyarakat untuk tidak selalu bergantung pada sumber-sumber energi terbatas dan tidak terbaharukan.

Karena itulah, pada artikel kali ini akan dibahas mengenai sumber energi alternatif bagi kehidupan manusia. Membudidayakan energi berarti melakukan suatu bentuk kegiatan atau proses untuk menciptakan energi atau sumber energi dan bukan berorientasi untuk melakukan ekploitasi sumber energi yang jumlahnya terbatas. Berpikir mengenai engergy-farming berarti berpikir tentang sebuah alat yang mampu untuk mengumpulkan, menghasilkan dan menyimpan energi dan alat tersebut merupakan alat yang bisa diperbaharui atau dilestarikan.

Dengan kata lain, berpikir untuk mengumpulkan, menghasilkan, dan menyimpan energi maka arah dan tujuan kita akan tertuju pada salah satu sumber energi yang jumlahnya tak terbatas, yaitu matahari. Tumbuhan hijau mungkin merupakan satu-satunya media yang sangat tepat untuk mengumpulkan, menghasilkan, dan menyimpan energi matahari tersebut, karena tumbuhan hijau mampu mengolah bahan makanan dalam tubuhnya menjadi nutrisi dengan energi matahari. Tumbuhan mengambil bahan mentah berupa air dari tanah dan karbon dioksida dari atmosfer, lalu mengubahnya menjadi oksigen dan gula menggunakan energi sinar matahari untuk memberi tenaga pada proses tersebut. Seluruh bagian dari tumbuh tanaman, baik batang, daun, buah, maupun akar menyimpan energi dalam bentuk energi kimia. Energi tersebut dilepas ketika tanaman dibakar, mati, membusuk, atau dimakan oleh hewan.

Dengan demikian, energi hijau menjadi salah satu sumber energi alternatif yang bisa dilestarikan sehingga kebutuhan energi manusia bisa tercukupi tanpa harus melakukan eksploitasi sumber energi yang jumlahnya terbatas. Dengan orientasi pelestarian energi ini diharapkan generasi penerus kita pada masa mendatang tidak akan berada pada satu titik yang banyak dikatakan sebagi krisis energi.

Sumber Energi Alternatif

Sumber energi hayati sebetulnya telah dimanfaatkan oleh manusia selama ribuan tahun silam. Pemanfaatan energi hijau ini tidak pernah disadari bahwa tumbuhan merupakan salah satu sumber energi yang sangat besar yang bila dikelola dengan baik maka energi yang dihasilkan pun akan mampu mencukupi kebutuhan manusia. Salah satu pemanfaatan sumber energi yang paling klasik adalah pemanfaatan biomassa tumbuhan. Biomassa adalah material atau turunan biologis lainnya yang secara fisik bisa kita lihat sebagai tumbuhan itu sendiri. Pemanfaatan biomassa klasik umumnya dilakukan dengan cara dibakar sehingga terciptalah sebuah energi yang kita kenal dengan nama energi panas. Umur energi hijau ini mungkin lebih tua dari peradaban manusia. Dengan demikan, pemanfaatan energi hijau sebagai sumber energi alternatif sebetulnya bukanlah hal baru. Ketika belum ditemukan bahwa di dalam perut bumi terpendam sumber energi dalam bentuk batu bara, minyak bumi, dan gas, manusia telah mengunakan bahan bakar hayati ini sebagai energi utama dalam kehidupannya. Beberapa tahun silam, ketika belum ditemukan listrik, masyarakat Indonesia telah menggunakan biji jarak pagar sebagai sumbu pada obor untuk penerangan malam hari. Beberapa puluh tahun silam, masyarakat telah mamanfaatkan arang sebagai pemanas untuk menyeterika pakaian. Bahkan untuk menghasilkan energi uap pun manusia telah memanfaatkan biomassa tumbuhan sebagai sumber energi utama. Dengan demikian, pemanfaatan energi hijau sebagai sumber energi alternatif di peradaban modern bukanlah hal yang mustahil atau sekedar omong kosong.

Masih dalam sejarah pemanfaatan energi hijau, tahun 1942-1945, pada masa penjajahan Jepang, dunia menjadi saksi bahwa sebagian besar sumber-sumber minyak bumi di Indonesia dan Cina dibakar oleh pasukan sekutu sebagai sebuah taktik untuk mengurangi pasokan energi bagi balatentara Dai Nippon. Namun, pada waktu itu Jepang tidak kehilangan akal untuk mencukupi kebutuhan energinya. Di Indonesia sendiri pernah ada kewajiban yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang agar rakyat Indonesia menanam Ricinus communis atau yang lebih dikenal dengan nama jarak kepyar. Jarak kepyar tersebut diambil minyaknya untuk dijadikan bahan bakar bagi kendaraaan perang dan pesawat terbang Dai Noppon. Kesulitan pasokan energi pasukan Dai Nippon waktu itu bisa diatasi dengan memanfaatkan sumber energi alternatif dari tumbuhan hijau. Belajar dari kejadian puluhan tahun silam ini, maka bukan hal yang mustahil bahwa pada era peradaban modern ini kita harus mampu untuk menciptakan sumber energi alternatif tersebut.

Aktivitas manusia dalam mencari sumber energi alternatif sudah dilakukan sejak lama. Manusia berusaha untuk memenuhi kebutuhan energi dalam kehidupannya terutama untuk digunakan sebagai bahan bakar. Inovasi yang dikembangkan oleh Rudolf Diesel, sebagai penemu mesin diesel, menggunakan minyak kacang (Arachis hipogaea) dan minyak ganja (Cannabis sativa) sebagai bahan bakar utama mesil diesel pertama yang ia ciptakan. Seorang penemu dan penggagas mobil Ford, yaitu Herry Ford, pada tahun 1880 telah menggunakan alkohol sebagai bahan bakar mobil hasil invasinya, yang diberi merk Quadricycle. Hingga kini para peneliti terus berusaha mencari bahan bakar alternatif sebagai pengganti bahan bakar yang berasal dari fosil. Penelitian terus berlangsung dan dilakukan di semua wilayah, baik pegunungan hingga ke lautan. Namun, beberapa kegiatan penelitian ini justru melakukannya di lingkungan sekitarnya. Sawah, ladang, dan hutan, sumber dari biomass bahan-bahan organik, yang kini dikenal sebagai energi hijau. Berkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, energi hijau kini telah menjadi salah satu solusi dalam memenuhi kebutuhuan energi dalam kehidupan manusia, baik sebagai energi panas, sumber bahan bakar, hingga pembangkit listrik. Energi hijau inilah yang kini dikenal dengan istilah bioenergi

Ya, semua pihak barangkali akan sepakat jika mengatakan energi hijau ini sebagai energi masa depan. Selain energi tersebut bisa diperbaharui, energi yang berasal dari tumbuhan ini juga bersifat ramah lingkungan. Oleh karena bahan baku utama energi ini dari tumbuhan hijau yang berasal dari hasil bumi, baik tanaman pertanian, perikanan, perkebuanan, limbah peternakan, bahkan sampah organik rumah tangga, maka energi hijau disebut juga sebagai BBM nabati. BBM ini tidak akan habis dengan penggunaan yang berlangsung terus-menerus karena bahan baku yang berupa tumbuhan hijau bisa diperbaharui atau diadakan kembali dengan cara dibudidayakan. Oleh karena itulah, sepanjang energi matahari masil bisa memberikan manfaat bagi kehidupan di bumi dan manusia tetap membudidayakannya, maka sumber dari energi alternatif ini tidak akan pernah habis.

Berbagai macam bentuk dari sumber energi alternatif ini dapat diambilkan dari limbah peternakan, sisa-sisa atau limbah panen padi, sekam padi, sampah rumah tangga, serabut kelapa, kotoran ternah, bahkan kini sudah dibudidayakan tanaman khusus untuk menghasilkan energi alternatif, seperti willow coppie dan miscanthus (semacam rerumputan seperti bambu). Tanaman tersebut menjadi sumber energi alternatif yang cukup mudah diperoleh karena dapat tubuh dengan cepat sehingga masa budidayanya bisa dipercepat. Selain itu, penanaman ini bisa menjadi habitat baru untuk perlindungan binatang atau suaka marga satwa.

Bukankah negara kita, Indonesia, yang notabenenya sebagai negara agraris, memiliki potensi yang sangat besar untuk menghasilkan sumber energi alternatif tersebut? Menurut data Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (2001), potensinya mencapai pemanfaatan energi alternarif dapat mencapai 311.232 MW. Namun, pemanfaatan sumber energi alternatif tersebut masih sangat rendah, yaitu kurang dari 20%. Rendahnya pemanfaatan sumber energi alternatif di Indonesia disebabkan karena kesadaran untuk beralih menggunakan energi yang bisa diperbarui ini masih kurang. Masyarakat masih terlena dengan harga BBM subsidi yang lebih murah. Mungkin, untuk jangka waktu beberapa tahun ke depan jika teknologi penghasil energi alternatif ini semakin efisien, maka pemanfaatan energi alternatif akan mengalami peningkatan. Sumber lain energi terbarukan yang tersedia di Indonesia sebenarnya cukup banyak, diantaranya adalah, tenaga air (hydro), tenaga panas bumi, energi cahaya, energi angin dan biomassa. Dari semua itu, potensi energi terbarukan dari biomassa masih sangat diabaikan.

Pemanfaatan Energi Alternatif

Ada tiga macam cara yang biasa digunakan untuk memanfaatkan biomassa tumbuhan hijau sebagai energi alternatif, diantaranya adalah:

Pertama, pembakaran langsung (direct combustion) dalam bentuk pemanfaatan panas. Pemanfaatan panas biomassa dikenal sejak dulu, seperti pemanfaatan kayu bakar. Pemanfaatan yang cukup besar umumnya untuk menghasilkan uap pada pembangkitan listrik atau proses manufaktur. Dalam sistem pembangkit, kerja turbin biasanya memanfaatkan ekspansi uap bertekanan dan bertemperatur tinggi untuk menggerakkan generator. Pada industri kayu dan kertas, serpihan kayu terkadang langsung dimasukkan ke boiler agar menghasilkan uap untuk proses manufaktur atau menghangatkan ruangan. Beberapa sistem pembangkit berbahan bakar batu bara menggunakan biomassa sebagai sumber energi tambahan dalam boiler efisiensi tinggi untuk mengurangi emisi. Yang paling penting, ketika dibakar, bahan bakar bio tidak menghasilkan karbon dioksida yang lebih besar jika dibiarkan meluruh secara alami sehingga penggunaannya tidak memberikan sumbangan bersih pada pemanasan global atau efek rumah kaca.

Kedua, pemanfaatan biomassa untuk menghasilkan gas metana. Teknologi untuk mengubah biomassa menjadi gas metana yang banyak dikenal adalah digester biogas. Teknologi ini bertujuan untuk memanfaatkan gas metana hasil fermentasi biomassa sebagai sumber energi panas. Pemanfaatan gas metana dengan teknologi yang lebih maju dilakukan dengan sistem gasifikasi menggunakan temperatur tinggi. Melalui teknologi tersebut, biomassa dari tumbuhan hijau diubah menjadi gas hidrogen, CO, dan metana.

Ketiga, konversi menjadi bahan bakar cair. Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa pemanfaatan bahan bakar hayati yang sedang naik daun saat ini adalah bioetanol dan biodiesel. Kedua bahan bakar bio tersebu sedang gencar dipropagandakan oleh pemerintah sebagai energi alternatif bagi kendaraan. Bioetanol merupakan alkohol yang dibuat melalui proses fermentasi biomassa tumbuhan hijau menggunakan bantuan mikroba dekomposer. Agar hasil yang diperoleh memiliki kualitas yang baik, maka bahan tumbuhan hayati yang digunakan dalam proses fermentasi adalah bahan-bahan alami yang memiliki kandungan pati tinggi, seperti singkong biji sorgum, gandum, sagu, biji jagung, beras, dan kentang; bahan-bahan yang mengandung kadar gula tinggi seperti molases (tetes tebu), nira tebu, nira kelapa, batang sorgum manis, nira aren (enau), nira nipah, nira gewang, dan nira lontar; dan bahan-bahan yang memiliki selulosa, misalnya limbah pertanian berupa jerami padi, ampas tebu, janggel (tongkol) jagung, onggok (limbah tapioka), batang pisang, atau serbuk gergaji (grajen), limbah logging, dan lain-lain. Bioetanol merupakan sumber energi alternatif yang paling sering digunakan sebagai aditif bahan bakar terutama untuk mengurangi emisi karbon monoksida (CO) dan asap lainnya dari kendaraan. Sedangkan biodiesel adalah ester yang dibuat dengan memanfaatkan minyak tanaman, lemak binatang, ganggang, atau bahkan minyak goreng bekas. Biodiesel dapat juga digunakan sebagai aditif bahan bakar diesel untuk mengurangi emisi kendaraan yang berbahan diesel atau dalam bentuk murninya sebagai bahan bakar kendaraan pengganti diesel.
More aboutENERGI HIJAU ENERGI ALTERNATIF

STEK TANAMAN

Stek tanaman merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman menggunakan teknik perbanyakan vegetatif dengan cara menanam bagian tanaman tertentu yang mampu membentuk akar dengan cepat. Bagian tanaman yang biasa digunakan untuk perbanyakan dengan cara stek ini adalah batang atau cabang, akar, dan anakan. Contoh tanaman yang biasa diperbanyak menggunakan teknik stek tanaman adalah ketela pohon.

Stek tanaman yang dilakukan pada tanaman berumur panjang atau tanaman menahun sebaiknya diambilkan dari pohon induk yang telah berbuah sebanyak 2-3 musim secara beturut-turut, sehingga bibit yang dihasilkan akan lebih berkualitas. Cabang atau batang yang digunakan paling tidak telah mencapai umur 1-3 tahun. Cabang atau batang yang telah berumur 1-3 tahun dapat amati dengan warna kulit yang sudah kecokelatan, dan minimal berukuran sebesar pensil. Bibit stek akan mudah mati jika cabang yang digunakan terlalu kecil atau berasal dari tunas air. Kalaupun bibit stek tersebut bisa tumbuh, maka tanaman yang dihasilkan akan rapuh atau mudah roboh dan masa berbuah pun akan cukup lama. Sebaliknya jika menggunakan cabang atau batang yang terlalu tua, maka bibit stek yang ditanam akan terlalu lama menghasilkan akar, sehingga besar kemungkinan tanaman akan mudah kering dan mati.

Selain umur, hal yang harus diperhatikan saat memilih cabang yang akan digunakan sebagai bibit stek adalah cabang tersebut harus memiliki mata tunas yang sehat dengan pertumbuhan yang sempurna. Jika cabang tersebut tidak memiliki mata tunas yang sehat, maka bibit stek yang ditanam akan mengalami keterlambatan pertumbuhan, atau pertumbuhannya merana, bahkan kadang-kadang bibit tersebut tidak tumbuh sama sekali.

Penggunaan pohon induk yang telah berbuah 2-3 musim berturut-turut bertujuan untuk memastikan bahwa pohon induk tersebut merupakan tanaman yang produktif dengan kualitas buah yang baik. Dengan demikian, jika pohon induk tersebut merupakan tanaman unggul maka dapat dipastikan bahwa bibit yang dihasilkan akan memiliki sifat yang sama dengan pohon induk tersebut.

Keuntungan melakukan perbanyakan tanaman dengan teknik stek ini dapat dilakukan dengan cara yang sederhana. Selain itu, sifat-sifat unggul dari pohon induk yang digunakan juga dapat diturunkan pada tanaman baru yang dihasilkan. Buah yang dihasilkan juga memiliki mutu atau kualitas yang serupa dengan pohon induknya.

Namun, tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan menggunakan teknik stek tanaman. Untuk tanaman buah-buahan yang bisa diperbanyak dengan teknik stek sangat terbatas, beberapa diantaranya adalah anggur, arbei, delima, jeruk manis, jambu air, jambu mete. mangga, dan salak. Jambu sukun, jambu biji, dan kesemek bisa diperbanyak dengan menggunakan teknik stek akar. Sementara untuk pohan salak perbanyakan tanaman bisa dilakukan dengan teknik stek tunas.

Stek Batang

Pada dasarnya, teknik stek tanaman dari ketiga bagian tanaman yang digunakan, yaitu stek batang, stek akar, dan stek anakan atau tunas, hanya stek batang yang paling sulit untuk dilakukan, terutama untuk tanaman yang berkayu.

Berdasarkan jenis batang yang digunakan, teknik melakukan stek batang dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu stek lunak, stek setengah lunak, dan stek keras. Ketiga jenis teknik stek batang tersebut dapat dibedakan antara lain:
  1. Stek lunak merupakan teknik stek batang dengan menggunakan ranting atau bagian cabang tanaman yang masih muda.
  2. Stek setengah lunak merupakan teknik stek batang dengan menggunakan ranting atau bagian cabang tanaman yang sudah mulai menua, ditandai dengan warna kulit yang sudah mulai kecokelatan, dan pertumbuhannya sudah terhenti.
  3. Stek keras adalah merupakan teknik stek batang dengan menggunakan ranting atau bagian cabang tanaman yang sudah berumur tak kurang dari satu tahun, berukuran sebesar pensil dan masih masih memiliki daun.
Ketiga jenis teknik stek batang tersebut dapat dilakukan dengan beberapa langkah yang harus dikerjakan, antara lain:
  1. Langkah pertama sebelum melakukan stek batang adalah mempersiapkan media. Media yang digunakan adalah kompos halu dan pasir dengan perbandingan 1:1. Dapat juga menggunakan media yang berupa campuran dari sebuk gergaji dan kompos dengan perbandingan 1:1.
  2. Media dicampur hingga rata kemudian ditempatkan pada pot atau bak yang telah diberi lubang air dengan ketinggian tidak kurang dari 10 cm.
  3. Media yang telah dimasukkan dalam pot atau bak kemudian disiram dengan air secukupnya.
  4. Untuk melakukan teknik stek lunak dan stek setengah lunak, dilakukan pada ranting atau cabang tanaman yang berdiameter 0,5 cm kemudian dipotong sepanjang 10-13 cm di bawah tangkai daun yang terbawah. Buang daun bagian bawah, kurang lebih setengah dari jumlah seluruh daun.
  5. Untuk melakukan teknik stek keras, lakukan pemotongan pada ranting atau cabang tanaman sepanjang 20 cm. Bagian atas ranting atau cabang tanaman tersebut dipotong pada bagian setengah lunak. Sementara itu, potongan pada bagian bawah dilakukan sepanjang 20 cm dari potongan bagian atas. Sisakan paling sedikit tiga helai daun pada bagian atas, sementara daun yang lebar dipotong setengahnya.
  6. Untuk mempercepat pertumbuhan akar, oleskan zat perangsang tumbuh (ZPT) dalam bentuk tepung atau cairan pada 2-3 cm pangkal stek.
  7. Masukkan atau tanam pangkal stek tersebut ke dalam media yang telah disiapkan.
  8. Bibit stek yang sudah ditanam disemprot air menggunakan sprayer kemudian ditutup dengan plastik yang tembus sinar atau paranet.
  9. Letakkan bibit stek tersebut di tempat yang teduh atau tidak terkena sinar matahari langsung.
  10. Bila dalam waktu 1 minggu daun pucuknya masih segar, kemungkinan besar stek berhasil dan sudah berakar.
  11. Umur bibit stek hingga dapat dipindahtanamkan bergantung pada jenis tanamannya, pada umumnya pada pindah tanaman dapat dilakukan setelah bibit berumur satu bulan. Selain jenis tanaman, teknik stek keras biasanya juga lebih lama untuk dapat dilakukan pindah tanam.
  12. Bibit stek yang sudah siap pindah tanam dipindahkan ke dalam pot individu dan dibiarkan tumbuh hingga cukup besar hingga dapat dipindah tanam ke lahan. Usahakan untuk selalu menjaga media tanam bibit stek agar tidak mengalami kekeringan. Namun, untuk menjaga kelembaban tersebut, penyiraman yang dilakukan jangan sampai berlebihan.
More aboutSTEK TANAMAN

CARA MENGAWETKAN DAGING

DAGING

Daging merupakan bagian tubuh dari hewan yang bersifat lunak, melekat pada tulang dan dibungkus oleh lapisan luar yang dinamakan kulit. Daging tersusun oleh sebagian besar jaringan otot, tulang rawan, urat serta biasanya dilekati oleh lemak terutama pada hewan-hewan yang bertubuh gemuk. .

Sebagai komoditas dagang, sebutan daging bisanya ditujukan untuk daging yang berasal dari hewan besar (mamalia dan reptil) saja. Daging semacam ini disebut pula "daging merah", dan diperdagangkan dalam bentuk potongan-potongan. Meskipun memiliki otot (dan daging), ikan (termasuk pula amfibi), hasil laut, dan unggas bukanlah termasuk komoditas daging, karena diperdagangkan secara utuh. Daging dari hewan-hewan terakhir ini disebut pula "daging putih".

Produk olahan daging dapat diperoleh di pasaran dengan berbagai ragam jenis, bentuk, dan variasi. abon, daging kuring, sosis, dendeng, dan kornetbif merupakan beberapa contoh produk olahan daging. Ketersediaan dan keanekaragaman produk daging di tanah air sudah tidak perlu diragukan lagi.

Abon merupakan hasil olahan daging yang berbentuk gumpalan-gumpalan serat daging yang halus dan kering. Produk ini diperoleh dari penggorengan daging cincang yang telah ditambah dengan bumbu-bumbu.

Daging kuring merupakan istilah yang ditujukan untuk daging yang telah mengalami perlakuan penggaraman. Penggaraman daging ini tidak dilakukan menggunakan garam dapur (NaCl), tetapi menggunakan garal salpeter.

Sosis merupakan produk daging olahan berupa campuran daging giling dengan bumbu-bumbu lain serta lemak. Umumnya lemak yang digunakan adalah lemak sapi.

Dendeng merupakan produk olahan daging kering khas Indonesia yang dihasilkan dari proses kombinasi antara kuring dan pengeringan.

Kornetbif merupakan produk olahan daging daging sapi yang telah mengalami proses kuring dengan bumbu-bumbu, sodium nitrit (NaNo₂), kentang, dan kaldu.

A. Penyebab Kerusakan Daging

Daging merupakan komoditas yang cepat mengalami kerusakan. Kerusakan ini terutama disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme. Daging memang merupakan media yang ideal bagi perkembangbiakan mikroorganisme (baik mikroorganisme perusak maupun pembusuk). Hal ini disebabkan kadar air daging yang sangat tinggi (68-75%), kaya akan zat yang mengandung nitrogen, mengandung sejumlah zat yang dapat difermentasikan, kaya akan mineral, dan mempunyai pH yang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroorganisme (5,3-6,5).

Cepat atau lambatnya daging mengalami kerusakan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti suhu daging, suhu lingkungan, kadar air, kelembapan, jumlah oksigen, tingkat pH, dan kandungan gizinya.

B. Pendinginan dan Pembekuan Daging

Daging temak dan unggas segar akan bertahan selama 1-2 hari jika disimpan pada suhu sekitar 21,1° C. Jika disimpan pada suhu ruang (27° C) maka produk tersebut dalam waktu 1-2 hari, dapat dipastikan tidak layak konsumsi lagi akibat kerusakan bahan.

Pendinginan dan pembekuan merupakan suatu proses untuk memperpanjang masa simpan dari bahan pangan yang kini umum dilakukan dalam rumah tangga. Dulu pendinginan dapat dilakukan dengan menggunakan es yang diletakkan di sekitar bahan pangan dalam ruangan yang kedap udara. Sekarang, pendinginan banyak dilakukan dalam refrigerator. Bila ingin menyimpan daging lebih lama, daging dapat dibekukan dalam freezer.

Pendinginan terjadi pada suhu 0° C sampai 5° C. Daya awet pendinginan biasanya 4 hari sejak pembelian daging. Ini merupakan waktu yang biasanya diperlukan daging untuk mencapai suhu 5° C atau kurang. Jadi, daging yang didinginkan harus sudah diolah dalam waktu 3-4 hari sejak pembelian. Khusus daging giling harus sudah diolah dalam waktu satu hari kecuali langsung dibekukan pada suhu pembekuan -80° C. Hal ini karena pengilingan menyebabkan lebih banyak bakteri tersangkut di dalamnya.

Pembekuan merupakan cara sempurna untuk mengawetkan daging. Pembekuan dapat mempertahankan kualitas dan sifat-sifat organoleptik, termasuk nilai gizinya dalam jangka waktu tertentu. Pembekuan biasanya dilakukan pada suhu -12° C sampai dengan suhu -28° C. Masa simpan daging beku bervariasi tergantung suhu dan jenis ternak. Daging unggas sesudah dibersihkan harus segera dibekukan karena dengan pendinginan saja daging hanya dapat bertahan beberapa jam.

Daging sapi yang disimpan dalam suhu -12°C bisa bertahan selama 4 bulan; -18°C bisa bertahan selama 6 bulan; -23°C bisa bertahan selama 12 bulan; -28°C bisa bertahan selama lebih dari 12 bulan.

Daging domba muda yang disimpan dalam suhu -12°C bisa bertahan selama 5 bulan; -18°C bisa bertahan selama 6 bulan; -23°C bisa bertahan selama 12 bulan; -28°C bisa bertahan selama lebih dari 12 bulan.

Daging anak sapi yang disimpan dalam suhu -12°C bisa bertahan selama 3 bulan; -18°C bisa bertahan selama 4 bulan; -23°C bisa bertahan selama 8 bulan; -28°C bisa bertahan selama 12 bulan.

Daging babi yang disimpan dalam suhu -12°C bisa bertahan selama 2 bulan; -18°C bisa bertahan selama 4 bulan; -23°C bisa bertahan selama 8 bulan; -28°C bisa bertahan selama 10 bulan.

Bila ingin mendinginkan atau membekukan daging, beberapa hal di bawah ini sebaiknya diperhatikan.
  1. Daging yang baru dibeli segera dibersihkan (lebih baik dengan air matang hangat).
  2. Untuk memudahkan saat mengolah, kelompokkan daging sesuai tujuan pengolahan.
  3. Tiriskan daging untuk mengurangi kadar air.
  4. Bungkus rapat daging dalam kantong-kantong plastik dan masukkan ke dalam refrigerator. Pembungkusan bertujuan untuk menghindari kontak langsung dengan udara di sekitamya.
  5. Bila akan disimpan untuk waktu lebih dari 3 hari maka pindahkan daging dari refrigerator ke dalam freezer. Bila tidak, sebaiknya daging langsung diolah.
  6. Untuk daging yang dibekukan saat akan dimasak, keluarkan dari freezer dan segarkan kembali (thawing). Mula-mula penyegaran dilakukan dalam lemari pendingin, kemudian dilanjutkan di bawah air dingin yang mengalir atau direndam air hangat beberapa jam sebelum dimasak.

Hal-hal yang harus diingat saat menangani daging beku.

  1. Saat memindahkan ke dalam refrigerator atau di bawah air untuk penyegaran kembali, daging harus tetap berada di dalam plastik yang tertutup rapat.
  2. Daging harus disegarkan dengan air secara merata agar panas yang diterima mencapai seluruh permukaan daging untuk meminimalkan aktivitas bakteri.
  3. Jangan membekukan kembali daging yang sudah disegarkan karena memudahkan tumbuhnya kembali mikroba sehingga daging menjadi mudah busuk.
  4. Masaklah segera daging yang telah disegarkan.

C. Kerusakan Daging Dingin atau Daging Beku

Pendinginan atau pembekuan bukan untuk menjadikan kualitas daging menjadi lebih baik, apalagi jika keadaan sebelum didinginkan atau dibekukan sudah tidak baik. Kedua perlakuan tersebut hanya menghambat kerusakan pada daging yang akan terjadi selanjutnya.

Kerusakan daging berupa busuk tulang, yang ditandai dengan bau busuk dan cita rasa seperti gas busuk pada tulang, maka karkas harus segera didinginkan. Jika ditemukan kerusakan daging berupa bercak-bercak berwarna, yang ditandai dengan bercak berwarna kuning, biru, kehijauan, hitam kecoklatan, atau ungu yang terdapat pada permukaan daging, maka harus dipastikan kebersihan daging tersebut sebelum dilakukan pendinginan. Selain itu, bila daging ditumbuhi oleh cendawan, yaitu ditandai dengan adanya benang cendawan berwarna abu-abu sampai hitam, maka harus dilakukan pemotongan pada bagian tersebut sedalam pertumbuhan cendawan, dan pastikan agar permukaan daging bebas dari air. Atau jika daging mengeluarkan lendir pada permukaan yang sering disertai keluarnya gelembung-gelembung kecil dan bau atau cita rasa busuk, maka daging harus segera didinginkan pada susu di bawah 2°C.

D. Pengawetan Daging Dengan Cara Lain

Selain dengan pendinginan dan pembekuan, daging dapat diawetkan dengan pemanasan atau pengeringan. Syarat-syarat dan hal-hal yang perlu diperhatikan dapat adalah:
  1. Jika menggunakan metode pemanasan, maka penyimpanan daging dilakukan dengan pemanasan sedang yaitu dalam suhu 57-75 °C atau dapat juga dengan pemanasan dalam suhu tinggi >100°C. Masa simpan daging yang diawetkan dengan metode ini selama 1-2 hari. Pemanasan sedang bertujuan untuk membunuh atau membuat tidak aktif mikroorganisme perusak. Jika pemanasan yang dilakukan terlalu tinggi atau melebihi suhu tersebut di atas, maka akan menyebabkan nilai gizi daging berkurang.
  2. Jika menggunakan metode pengawetan daging dengan pengeringan, penyimpanan dilakukan dengan menggunakan udara panas. Cara ini tidak dianjurkan untuk daging mentah atau potongan daging masak yang cukup besar. Produk olahan daging yang diawetkan menggunakan cara ini adalah dendeng. Masa simpan dendeng bisa mencapai 6 bulan. Pengeringan yang dilakukan dalam suhu >60°C menyebabkan daya serap air daging kering menjadi berkurang. Selain itu lemak daging juga dapat mengalami ketengikan.
More aboutCARA MENGAWETKAN DAGING

TEKNIK DAN CARA BUDIDAYA JAMUR KUPING

Budidaya Jamur Kuping - Jamur merupakan makanan yang telah lama dikenal oleh manusia. Bahkan semenjak abada ke XIV, saat dinasti Ming berkuasa di daerah China, jamur telah menjadi menu spesial bagai pejabat negara tersebut. Cita rasa jamur yang lezat ini kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia dengan adanya perdagangan antarnegara dan antarbenua. Hingga kini, jamur pun menjadi suatu menu makanan favorit dan bergengsi di restoran-restoran terkemuka.

Budidaya jamur kuping merupakan salah satu alternatif bisnis yang memiliki prospek dan peluang cukup bagus untuk dikembangkan. Selain dapat dikerjakan sebagai usaha kecil maupun usaha besar, kegiatan budidaya jamur juga dapat dilakukan sebagai usaha sampingan yang bisa dilakukan dengan memanfaatkan ruangan dalam rumah. Beberapa negara yang sudah cukup maju dalam mengembangkan agribisnis budidaya jamur kuping antara alain China, Prancis, Spanyol, Belgia, Belanda, dan Tahiland. Negara-negara tersebut dikenal sebagai negara produsen jamur terbesar di dunia.

Budidaya Jamur Kuping

Kegiatan budidaya jamur kuping dapat dilakukan dengan teknik yang sangat sederhana. Orientasi kegiatan ini adalah menciptakan dan menjaga agar lingkungan budidaya sesuai dengan syarat tumbuh jamur kuping. Ringkasan dari kegiatan yang dilakukan dalam budidaya jamur kuping adalah pembuatan rumah jamur atau kumbung, perawatan miselium dan tubuh buah jamur agar tetap dalam kondisi optimal, serta pengendalian hama dan penyakit yang berpotensi menimbulkan kerugian dalam budidaya. Langkah terakhir dari kegiatan ini adalah pemanenan.

Untuk pengadaan bibit jamur kuping bisa dilihat di :

Pembiakan Bibit Jamur Kuping Tahap Pertama

Pembiakan Bibit Jamur Kuping Tahap Kedua

Pembiakan Bibit Jamur Kuping Tahap Ketiga


Pembuatan atau Rehabilitasi Kumbung Atau Rumah Jamur

Pembuatan rumah jamur atau kumbung dapat dilakukan dengan sederhana sehingga biaya pembuatannya juga lebih murah. Kerangka kumbung dapat dibuat dari kayu atau bambu, sedangkan atap kumbung dari anyaman bambu, jerami padi, atau rumbia. Ukuran kumbung disesuaikan dengan luas dan bentuk lahan. Tiang dibuat dari bambu atau kayu yang sudah tua agar lebih awet dan tahan lama. Sementara itu, atap kumbung dibuat melengkung seperti atap pada gerbong kereta api. Jika menggunakan bahan-bahan di atas, maka bahan tersebut perlu ditata sedemikian rupa untuk menghindari kebocoran saat musim hujan. Bila perlu, bagian bawah atap tersebut diberi alas dari plastik. Atap dan dinding rumah jamur ditutup rapat dan dibuat kokoh. Dinding dibuat dua lapis, pada lapisan bawah, kurang lebih setinggi satu meter, dibuat dari anyaman bambu dan dilapisi plastik bening atau transparan. Sedangkan pada lapisan atas dinding dibuat dari anyaman bambu tanpa dilapisi plastik bening. Jika kelembaban dalam ruangan terlalu rendah dan suhu tinggi, maka seluruh lapisan dinding ditutup atau dilapisi dengan plastik transparan.

Bagian atas dinding kumbung perlu dibuatkan ventilasi selebar 40 cm dan panjang meyesuaikan dinding kumbung, yang digunakan sebagai tempat keluar masuk udara. Sementara itu, pada lapisan dinding bagian bawah perlu dibuatkan lubang ventilasi khusus, seperti jendela, yang dapat dibuka dan ditutup kembali. Untuk mencegah masuknya binatang liar, maka ventilasi udara tersebut harus ditutup degan kasa. Rumah jamur atau kumbung dibuat dengan sekurang-kurangnya satu pintu utama yang digunakan sebagai tempat keluar masuk kumbung.

Kumbung dilengkapi dengan rak-rak atau pera-para yang digunakan sebagai tempat untuk meletakkan baglog. Para-para tersebut dibuat secara berjajar dan berlapis. Ukuran rak disesuaikan dengan ukuran polibag tempat bibit jamur yang akan dibudidayakan. Biasanya, rak dibuat dengan lebar 20 cm dan tinggi lapisan rak 30 cm. Dalam ruangan kumbung tersebut terdapat beberapa unit rak yang terpisah oleh jalan. Jarak antar unit rak kurang lebih satu meter untuk memudahkan pemeliharaan.

Pada setiap unit rak, lapisan rak paling bawah dibuat dengan jarak 30 cm di atas permukaan tanah atau lantai dasar. Pengaturan jarak ini dibuat dengan tujuan untuk memperlancar sirkulasi udara bagaian bawah dan mengantisipasi agar tubuh buah jamur yang telah tumbuh tidak terkontaminasi oleh kotoran pada lantai. Selain itu, ruangan dalam kumbung juga tidak sepenuhnya digunakan untuk penyusunan unit rak. Paling tidak 20% dari luas ruangan digunakan sebagai tempat inkubasi.

Rumah jamur sederhana tersebut dapat digunakan dalam jangka waktu dua tahun, kurang lebih sekitar empat kali perioder penanaman. Artinya, umur ekonomis atau umur produktif kumbung hanya berlangsung selama dua tahun dan investasi yang dikeluarkan untuk membangun rumah jamur harus bisa kembali dalam jangka waktu dua tahun.

Perawatan Miselium dan Tubuh Buah Jamur Kuping

Bibit jamur (miselium) dari hasil pembibitan tahap keempat yang diperoleh dari pembelian atau produksi sendiri dapat dimasukkan ke dalam rumah jamur yang semua perlengkapannya telah disiapkan. Letakkan polibag bibit jamur tersebut pada lantai inkubasi yang telah disiapkan, yaitu lantai yang tidak di pasangi unit rak. Posisi peletakan polybag tersebut harus vertikal dengan cara meletakkan bagian polibag yang tidak ada kapas penyumbatnya berada di posisi bawah, sedangkan bagian polibag yang ada kapas penyumbatnya berada di atas.

Bibit jamur yang telah disiapkan dibiarkan berada pada lantai inkubasi selama 1,5 bulan atau hingga miselium tumbuh sempurna. Jika masa inkubasi ini berjalan normal, maka dalam kurun waktu 1,5 bulan miselium jamur akan menutupi paling tidak 70% parmukaan dan pori-pori media tumbuh.

Miselium jamur yang sudah menutupi 70% permukaan media tersebut segera dipindahkan pada unit rak tempat budidaya. Letakkan polybag atau baglog jamur tersebut dalam posisi miring dimana sisi baglog yang ada kapas penutupnya barada pada posisi luar menghadap ke arah jalan antar unit rak, sedangkan sisi bawah baglog atau sisi yang rapat berada dalam posisi saling bersinggungan satu sama lain. Penyusunan dibuat dua lapis pada setiap lapis rak. Baglog yang selama masa inkubasi tidak tumbuh miselium jamurnya segera dibuang, dikeluarkan dari kumbung, agar tidak mencemari baglog yang tumbuh baik.

Monitoring pada baglog atau polybag jamur yang telah diletakkan pada unit rak harus dilakukan dengan rutin. Jika menjumpai miselium dalam baglog tidak tumbuh baik, maka baglog tersebut harus segera disingkirkan dari dalam kumbung. Tempat kosong bekas polybag yang telah dibuang bisa diisi dengan polybag atau baglog lain atau jika cadangan baglog sudah tidak ada maka bisa dibiarkan dalam posisi kosong.

Penumbuhan tubuh jamur kuping dilakukan saat 75% permukaan media tumbuh telah tertutup oleh miselium jamur kuping. Penumbuhan dilakukan dengan cara merobek plastik baglog pada bagian lengkung yang berada di dekat ujung baglog. Tipe sobekan bisa berbentuk segiempat yang berukuran 1x1 cm atau berbentuk huruf L. Jika robekan berbentuk huruf L, maka sudut siku-siku yang terbuka menghadap ke arah ujung baglog. Namun, untuk memudahkan calon tubuh buah jamur (pin head) keluar, sebaiknya robekan berbentuk segiempat.

Calon tubuh buah jamur atau pin head akan keluar pada umur 15 hari setelah perobekan baglog. Setelah calon tubuh buah jamur tersebut berumur 15 hari, maka perobekan kedua bisa dilakukan. Perobekan kedua dilakukan pada tempat yang berseberangan dengan perobekan pertama sehingga terjadi pemerataan pemanfaatan nutrisi dalam media tumbuh sekaligus untuk memudahkan pemanenan.

Kegiatan utama selama masa pemeliharaan tubuh buah jamur kuping ini adalah menciptakan dan menjaga agar kondisi lingkungan sesuai dengan syarat tumbuh jamur kuping. Manipulasi kondisi lingkungan dapat dilakukan dengan melakukan pengontrolan kelembaban dan sirkulasi udara, serta menjaga kebersihan lingkungan kumbung untuk menghindari serangan hama maupun penyakit yang dapat merugikan kegiatan budiday jamur kuping. Jika kondisi udah terlalu tinggi atau kelembaban terlalu rendah, maka harus dilakukan penyiraman dengan menggunakan tangki sprayer. Jika suhu udara dan kelembaban stabil, maka penyiraman dapat dilakukan setelah tubuh buah jamur yang tumbuh pada robekan pertama berumur 15 hari atau setelah melakukan perobekan kedua. Pada kumbung atau rumah jamur permanen, penyemprotan dilakukan dengan alat semprot otomatis atau presage chamber, sehingga tekanan dan kabut sempror yang dihasilkan bisa lebih lembut dan merata.

Penyiraman merupakan kegiatan penting dalam budidaya jamur kuping ini. Penyiraman bertujuan untuk menciptakan atau mengatur agar suhu udara dan kelembaban bisa stabil sesuai dengan kondisi ideal untuk pertumbuhan jamur. Penyiraman pertama dilakukan hingga tubuh buah jamur kupin tampak basah dan meneteskan air. Sedangkan penyiraman berikutnya dilakukan sesuai dengan kondisi suhu dan kelembaban udara. Jika kelembaban terlalu kering atau rendah dan suhu udara terlalu panas maka penyiraman dapat dilakukan 3-4 kali sehari. Apalagi jika kondisi udara yang demikian dibarengi dengan tiupan angin yang kencang, maka penyiraman dapat dilakukan sebanyak 5 kali dalam sehari. Jika kondisi udara sangat tenang atau tidak ada angin, sirkulasi udara dalam kumbung terhambat, dan tidak ada hujan, maka tindakan yang harus dilakukan untuk menjaga lingkungan dalam kumbung agar tetap sesuai dengan syarat tumbuh jamur adalah dengan membuka lubang ventilasi khusu pada lapisan dinding bagian bawah.

Selain menjaga kelembaban, kegiatan yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga kebersiahan kumbung. Harus diingat agar setiap kali selesai melakukan panen, maka lantai dasar kumbung harus ditaburi dengan kapur pertanian. Hal ini dilakukan untuk mencegah serangan hama pengganggu dan penyakit yang akan menyerang, dengan demikian lingkungan kumbung akan tetap terjaga kesehatannya.


Dukungan Teknis : Rois Efendi - 0852 3875 5088

Baca Artikel Terkait
  • PEMBUATAN BIBIT JAMUR KUPING

    Bibit jamur kuping diproduksi melalui tahap-tahap pembiakan. Tahap pertama adalah pembiakan spora (basidiospora) yang dihasilkan oleh basidium. Tahap ini dilakukan melalui kultur jaringan dan hasil pembiakan pada tahap ini berupa benang-benang jamur (miselium) yang disebut turunan pertama (F1). Tahap kedua adalah pembiakan miselium F1. Pembiakan tahap ini merupakan perbanyakan miselium hasil pembiakan ...
  • EKOLOGI JAMUR KUPING

    A. Biologi dan Siklus Hidup Jamur Kuping - Jamur kuping memiliki tubuh buah mirip daun telinga manusia. Sebutan jamur kuping melekat pada jenis jamur yang memiliki tubuh buah (basidiocarp) mirip kuping (daun telinga). Di antara 65 spesies jamur kuping, ada tiga jenis jamur kuping yang biasa dikonsumsi sebagai makanan lezat dan dapat dibudidayakan, yakni (1) jamur kuping merah (Auricularia auricula Judae) ...
  • BUDIDAYA JAMUR TIRAM

    Usaha budidaya jamur tiram seringkali mengalami kegagalan karena teknik dan cara budidaya yang kurang benar. Meskipun gampang, perlu diperhatikan faktor-faktor seperti lingkungan, kebersihan, serta konsistensi selama perawatan. Jika faktor-faktor tersebut tidak bisa dipenuhi dengan baik maka hasilnya pun kurang optimal bahkan besar kemungkinan berpotensi mendatangkan kegagalan.Jamur tiram putih berwarna ...
  • PERSIAPAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM

    Usaha budidaya jamur tiram sebernarnya sangat mudah, hanya saja terkadang penyebab utama kegagalan ada pada kebersihan lingkungan. Kebersihan lingkungan menjadi syarat utama yang harus diperhatikan, mengingat budidaya jamur tiram sangat rentan terhadap kelembaban tinggi. sebelum memulai usaha budidaya jamur tiram, kita perlu memperhatikan lokasi usaha, diusahakan tidak berdekatan dengan kandang ...
More aboutTEKNIK DAN CARA BUDIDAYA JAMUR KUPING

EKOLOGI JAMUR KUPING

Ekologi Jamur Kuping - Dalam melaksanakan kegiatan agribisnis budidaya jamur kuping, pengetahuan atau informasi detil tentang jamur kuping itu sendiri harus dikuasai oleh pelaku agribisnis atau pembudidaya. Tanpa mengetahui karakteristik petumbuhan dan syarat-syarat tumbuh yang ideal, mustahil seorang pembudidaya akan berhasil dalam melaksanakan kegiatan agribisnis tersebut. Pada pokok bahasan kali ini, kami akan mengulas detil tentang ekologi jamur kuping, sehingga melalui artikel pendek ini kami berharap dapat memberikan sumbangsih dalam pencapaian keberhasilan pada kegiatan usaha budidaya jamur kuping.

Biologi dan Siklus Hidup Jamur Kuping

Jamur kuping merupakan sebutan yang ditujukan terhadap jenis jamur yang memiliki tubuh buah atau basidiocarp mirip dengan daun telinga atau kuping manusia. Memang, secara fisik bentuk tubuh buah jamur ini menyerupai kuping manusia sehingga bisa dipahami jika masyarakat untuk memudahkan penyebutannya kemudian memberikan nama jamur kuping. Di Indonesia kurang lebih terdapat 65 spesies jamur kuping. Dari sekian banyak spesies tersebut, ada tiga jenis jamur kuping yang bisa dikonsumsi oleh manusia dan bahkan menjadi salah satu bahan makanan favorit dan memiliki cita rasa lezat. Ketiga jenis jamur kuping tersebut adalah
  • Jamur kuping putih atau jamur kuping agar (Tremella fuciformis), yaitu jenis jamur kuping yang berukuran kecil dan berwarna putih.
  • Jamur kuping hitam (Auricularia polytricha), yaitu jenis jamur kuping dengan ukuran diameter kurang lebih 6-10 cm yang memiliki warna tubuh buah keunguan atau kehitaman.

  • Jamur kuping merah (Auricularia auricula Judae), yaitu jenis jamur kuping dengan ukuran besar atau lebar yang memiliki warna tubuh buah kemerah-merahan.

Dalam ilmu biologi, jamur dikategorikan ke dalam jenis tanaman yang tidak memiliki khlorofil namun memiliki intisel, spora, dan merupakan sel-sel lepas atau bersambungan yang membentuk benang bersekat atau tidak bersekat yang disebut hifa atau sehelai benang atau miselium yang merupakan kumpulan hifa. Miselium jamur tersebut tumbuh bercabang-cabang yang pada tempat tertentu akan bertemu antara satu cabang dengan cabang lain yang kemudian akan membentuk titik pertemuan dari percabangan miselium tersebut. Pada titik pertemuan tersebut, miselium jamur membentuk satu bintik kecil yang disebut dengan sporangium yang kemudian disebut dengan pin head. Sporangium ini akan tumbuh menjadi tunas dan kemudian berkembang menjadi tubuh buah jamur sempurna.

Klasifikasi Jamur Kuping

Dalam ilmu botani, jamur kuping digolongkan dalam super Kingdom: Eukaryota, kingdom: Myceteae (Fungi), divisio: Amastigomycota, Sub Divisio: Basidiomycotae, Kelas: Basidiomycetes, Ordo: Auriculariales, Familia: Auriculariae, Genus: Auricularia, Species : Auricularia sp. Klasifikasi tersebut didasarkan pada teori yang diajukan oleh Alexopolous dan Mins pada tahun 1979. Jamur kuping memiliki tubuh buah yang bertangkai pendek dan tumbuh pada substrat dengan membuat lubang pada permukaannya. Pada musim hujan, kulit pada tubuh buah jamur kuping ini tampak berlendir, akan tetapi kulit tersebut akan mengerut pada saat musim kemarau. Bagian bawah tubuh buah ini licin dan mengkilap sedangkan pada permukaan atasnya seperti kain beludru. Tubuh buah jamur kuping terbentuk dengan struktur yang agak rumit dan berupa lembaran bergelombang tidak beraturan. Dalam keadaan basah, tubuh buahnya licin, lentur, dan kenyal (galatinous) tetapi akan berubah menjadi kaku dengan bentuk melengkung saat tubuh buah tersebut berada dalam keadaan kering. Dalam kegiatan budiday jamur kuping, tubuh buah atau basidiocarp yang dinyatakan dewasa adalah jika basidiokarp tersebut telah mencapai ukuran kurang lebih 10 cm. Jamur kuping memiliki lebar tubuh buah yang berkisar antara 3 cm - 8 cm dengan ketebalan berkisar antara 0,1 cm - 0,2 cm. Seperti keluarga Aucularia, jamur kuping juga memiliki basidium yang berbentuk hypobasidium atau epibasidium. Baik hypobasidium maupun epibasidium, masing-masing memiliki empat sel. Pada tahap awal, inti diploid dari calon basidium membelah menjadi dua bagian secara miosis. Setiap pembelahan inti diploid tersebut selalu diikuti dengan penyekatan basidium menjadi dua sel. Pada tahap selanjutnya, inti setiap sel diploid yang telah membelah tersebut, akan membelah kembali yang tetap diikuti dengan penyekatan masing-masing basidium sehingga membentuk hypobasidium bersel empat. Dari setiap hypobasidium bersel empat tersebut kemudian tumbuh epibasidium yang panjang dan muncul di atas permukaan lapisan salai, dengan arah pertumbuhan sesuai dengan arah pertumbuhan hipobasidium. Pada setiap ujung epibasidium akan tumbuh penghasil basidiospora yang disebut dengan sterigmata. Pada tahap berikutnya, setelah terbentuk basidiospora, maka basidiospora tersebut tumbuh menjadi miselium jamur. Miselium jamur ini akan memenuhi seluruh permukaan media, kemudian berkembang menjadi dewasa dan dilengkapi dengan basidiokarp.

Lingkungan Hidup Jamur Kuping

Keistimewaan jamur kuping adalah dapat tumbuh di daerah yang bersuhu dingin hingga bersuhu panas. Pada daerah tersebut, jamur kuping dapat ditemukan sepanjang tahun. Jamur kuping dapat tumbuh dan berkembang pada kisaran suhu antara 12°C hingga 36° C. Namun, suhu optimal untuk pertumbuhan dan perkembangannya adalah 26° C - 28° C. Di Indonesia, Philipina, dan Malaysia, banyak ditemukan jamur kuping hitam. Sementara itu, di daerah Indocina dan Thailand banyak ditemukan jenis jamur kuping merah. Kelembaban udara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan miselium sekitar 60% - 75%. Tetapi kelembaban udara yang lebih tinggi dibutuhkan untuk merangsang pertumbuhan dan pembentukan sel tubuh buah, yaitu sekitar 80%-90%. Kadar air pada media yang dibutuhkan untuk pertumbuhan miselium jamur kuping antara 60-62%. Jika kadar air pada media berada di atas 65% atau di bawah 50%, maka pertumbuhan miselium akan mengalami hambatan. Oleh karena itu, pada budidaya jamur kuping harus dijaga agar kelembaban media tetap dalam kondisi optimal untuk pertumbuhannya. Miselium jamur kuping akan tumbuh optimal jika berada dalam keadaan gelap dengan kisaran pH media antara 3-7. Namun, miselium tersebut akan tumbuh optimal pada media yang memiliki tingkat keasaman antara 4,5-5,5. Berbeda dengan miselium, tubuh buah jamur kuping akan tumbuh didaerah bercahaya dan membutuhkan cahaya matahari yang digunakan untuk menopang pertumbuhannya. Tetapi penyinaran sinar matahari langsung yang menembus permukaan tubuh buah tersebut justru akan mengakibatkan kerusakan dan kelayuan. Penyinaran yang dibutuhkan sehingga pertumbuhan tubuh buahnya akan terbentuk dengan normal adalah di bawah 50 lux dengan sifat penyinaran yang menyebar atau diffuse light. Pada habitat alaminya, jamur kuping biasa ditemukan pada berbagai macam jenis kayu. Namun, petumbuhan tersebut akan lebih optimal jika berada pada kayu yang telah lapung di daerah yang berketinggian antara 600-800 mdpl terutama pada suhu 20° C - 30° C dengan kelembaban udara 80-90%. Jamur kuping biasa ditemukan pada tempat-tempat yang teduh atau tempat yang tidak terkena pancaran sinar matahari langsung, dengan sirkulasi udara yang lancar dan hembusan angin sepoi-sepoi basah, serta tempat yang memiliki kandungan oksigen cukup tinggi. Jamur kuping merupakan jenis tanaman saprofit yang bersifat aerob, yaitu membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya. Daerah yang memiliki sirkulasi udara lancar biasanya banyak ditemukan jamur kuping, karena kebutuhan oksigen pada daerah tersebut dapat tercukupi. Jika pasokan oksigen terbatas atau terhambat, maka pembentukan dan pertumbuhan tubuh buahnya akan mengalami hambatan. Selain oksigen, untuk menopang pertumbuhan miselium dan tubuh buahnya, maka dibutuhkan nutrisi yang terkandung pada media tumbuhnya. Baca Artikel Terkait
  • PEMBIAKAN BIBIT JAMUR KUPING TAHAP PERTAMA

    Perbanyakan bibit jamur kuping dilakukan dalam suatu proses produksi pembiakan. Proses pembiakan dilakukan dalam empat tahap pembiakan. Pada artikel kali ini akan dibahas mengenai tahap pertama pembiakan bibit jamur kuping. Kegiatan pembiakan bibit jamur kuping pada tahap pertama ini merupakan pembiakan spora (basidiospora) yang dihasilkan oleh basidium dan dilakukan dengan cara kultu jaringan...
  • BUDIDAYA JAMUR KUPING

    Budidaya Jamur Kuping - Jamur telah dikenal dan populer sebagai makanan lezat sejak abad XIV M. Jamur telah menjadi santapan spesial bagi pejabat negara saat dinasti Ming berkuasa di daratan China. Kelezatan dan rasa khas jamur tersebar di seluruh penjuru dunia sejak terbukanya perdagangan dan komunikasi penduduk antar-negara dan benua. Jamur telah menjadi hidangan favorit sekaligus bergengsi ...
  • BUDIDAYA JAMUR TIRAM

    Usaha budidaya jamur tiram seringkali mengalami kegagalan karena teknik dan cara budidaya yang kurang benar. Meskipun gampang, perlu diperhatikan faktor-faktor seperti lingkungan, kebersihan, serta konsistensi selama perawatan. Jika faktor-faktor tersebut tidak bisa dipenuhi dengan baik maka hasilnya pun kurang optimal bahkan besar kemungkinan berpotensi mendatangkan kegagalan.Jamur tiram putih berwarna ...
  • PERSIAPAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM

    Usaha budidaya jamur tiram sebernarnya sangat mudah, hanya saja terkadang penyebab utama kegagalan ada pada kebersihan lingkungan. Kebersihan lingkungan menjadi syarat utama yang harus diperhatikan, mengingat budidaya jamur tiram sangat rentan terhadap kelembaban tinggi. sebelum memulai usaha budidaya jamur tiram, kita perlu memperhatikan lokasi usaha, diusahakan tidak berdekatan dengan kandang ...
More aboutEKOLOGI JAMUR KUPING