Tampilkan postingan dengan label PERIKANAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERIKANAN. Tampilkan semua postingan

CARA MEMBUAT KOLAM IKAN

Selain nutrisi pakan dan bibit ikan, keberhasilan budidaya ikan juga sangat dipengaruhi oleh konstruksi kolam ikan tempat ikan dibudidayakan. Pembuatan kolam ikan dengan kaidah yang benar mampu menciptakan iklam kondusif bagi kelangsungan hidup ikan budidaya. Bahkan di negara dengan sektor perikanan maju seperti di Thailand, konstuksi kolam yang benar menjadi faktor keberhasilan budidaya ikan.

TEKNIK PEMBUATAN KOLAM IKAN

Pembuatan kolam ikan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu pembuatan kolam ikan permanen, semipermanen, dan non-permanen.

Pada pembuatan kolan ikan secara permanen (kolam semen), proses pembuatannya dilakukan dengan menggali tanah seluas yang diperlukan, kemudian dasar dan tepi kolam buat dinding permanen. Pada proses ini membutuhkan bahan-bahan bangunan seperti kapur atau gamping, pasir,batu, serta semen atau PC (portland cement). Pembuatan dengan cara ini membutuhkan biaya yang lebih besar daripada pembuatan kolam ikan nonpermanen, akan tetapi dilihat dari manfaat jangka panjang, pembuatan kolam ikan secara permanen lebih efisien karena biaya perawatannya menjadi lebih sedikit untuk budidaya ikan selanjutnya.

Pembuatan kolam ikan semipermanen merupakan pembuatan kolam ikan dilakukan dengan menggali tanah seluas yang diperlukan, kemudian menutup semua dinding kolam menggunakan terpal atau mulsa PHP (mulsa plastik hitam perak).

Sedangkan pembuatan kolam ikan nonpermanen merupakan pembuatan kolam ikan yang beralaskan tanah, pada proses pembuatannya cukup dengan menggali tanah seluas yang diperlukan.

BAHAN PEMBUATAN KOLAM IKAN

  1. Anyaman terbuat dari kawat atau anyaman bambu untuk saringan air, baik di pintu masuk maupun pintu pembuangan.
  2. Pada kolam permanen membutuhkan batu, semen (PC), pasir, kapur. Penggunaan kapur sebenarnya mengurangi kekuatan dinding kolam ikan, akan tetapi juga diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan lumut pada dinding kolam sehingga membantu nutrisi yang dibutuhkan ikan.
  3. Papan kayu untuk pintu air model monik.
  4. Peralon atau pipa PVC yang digunakan untuk membuat pintu masuk dan pintu keluarnya air. Dapat juga menggunakan bambu yang dilubangi bagian dalamnya pada pertemuan dua ruas sehingga air dapat mengalir.
  5. Bilah bambu untuk tiang pancang (patok) benang pemandu, pembatas bentuk, dan ukuran setiap bagian kolam.
  6. Benang sebagai pemandu ukuran dan bentuk bagian-bagian kolam.
  7. Pensil dan alat tulis lain untuk membuat gambar sket, dan mencatat ukuran-ukuran serta ketentuan lain yang diperlukan.

ALAT PEMBUATAN KOLAM IKAN

Secara umum peralatan yang digunakan dalam membuat kolam ikan permanen adalah peralatan tukang bangunan seperti cangkul, cetok, dan penggosok dinding (lepan) dan lain-lain. Pada pembuatan kolam ikan semipermanen, membutuhkan paku pasak yang terbuat dari bambu untuk memasak mulsa PHP pada dinding tanah.
  1. Cangkul. Cangkul ini digunakan untuk menggali tanah, melumatkan dan mencampur tanah atau material pada pembuatan kolam ikan permanen.
  2. Linggis. Linggis diperlukan untuk menggali tanah keras (wadas).
  3. Lempak. Lempak diperlukan untuk merapikan dinding kolam ikan.
  4. Selang plastik, digunakan untuk mengukur kemiringan kolam dan bagian-bagian lain.
  5. Martel atau palu. Martel atau palu digunakan untuk menancapkan patok, memasang pasak bambu pada pembuatan kolam semipermanen.
  6. Saringan pasir dari kawat. Saringan kawat digunakan untuk menyaring pasir.
  7. Cetok. Cetok digunakan untuk menembok dan memoles adonan material pada pembuatan kolam permanen.
  8. Penggosok (lepan). Penggosok (lepan) digunakan untuk memoles lapisan semen dan kapur.
  9. Meteran atau teodolith. Meteran atau teodolith digunakan untuk mengukur baik panjang, lebar maupun tinggi kolam yang akan dibuat.

CARA PEMBUATAN KOLAM IKAN

Tentukan lokasi pembuatan kolam ikan, kemudian ukur luas lahan yang akan dibuat kolam, kemiringan lahan, serta batas-batas pembuatan kolam ikan. Buatlah skesta gambar dan skema atau gambar konstruksi kolam ikan yang akan dibuat. Setelah itu kemudian lakukan penggalian tanah dan pembuatan tanggul (pematang). Setelah selesai melakukan penggalian, langkah selanjutnya adalah pembuatan caren dan melakukan pemasangan perlengkapan kolam seperti saringan air, pemasangan pintu air baik pintu masuk maupun pintu keluar.

1. Menentukan Lokasi Kolam Ikan

Sebelum melakukan pembuatan kolam ikan, perlu diperhatikan lokasi yang akan dibuat kolam. Hal ini penting untuk mengetahui jenis tanah, menentukan pusat pengambilan air pada pintu masuk, serta pembuangan air. Tanah yang baik untuk pembuatan kolam ikan adalah tanah berstruktur liat berpasir. Cara mengetahui jenis tanah pasir, liat, atau gembur secara sederhana dapat dilakukan dengan mengambil lapisan tanah atas (top soil) dan lapisan bawah, kemudian masing-masing ditambahakan air sampai kondisi tanah menjadi jenuh (lembek). Setelah tanah menjadi lembek, kemudian ambil dan kepal, tekan kuat-kuat. Jika di telapak tangan meninggalkan sedikit pasir berarti tanah tersebut merupakan tanah jenis liat atau gembur. Sedangkan jika di telapak tangan meninggalkan banyak pasir berarti tanah tersebut merupakan jenis tanah pasir.

2. Pengukuran Lokasi Kolam Ikan

Pengukuran luas lahan yang akan digunakan untuk budidaya ikan dapat dilakukan menggunakan meteran biasa atau menggunakan teodolith.
Kemiringan tanah diukur menggunakan selang plastik (water pass) dengan cara menarik salah satu ujung selang ke bagian tepi batas kemudian direntangkan sampai ke sisi yang lain yang akan diukur kemiringan tanahnya. Cara pengukuran ini dilakukan oleh dua orang untuk mempermudah pekerjaan. Permukaan air pada kedua ujung selang menjadi batas tingkat kerataan tanah. Ukur permukaan air dari permukaan tanah pada kedua ujung selang. Selisih jarak permukaan tanah dengan permukaan air pada satu sisi dengan jarak permukaan tanah dengan permukaan air pada sisi yang lain adalah tingkat kemiringan lahan. Lakukan sampai berapa kali di tempat lain untuk diambil rata-ratanya, kemudian dijumlahkan dan dibagi jumlah titik pengukuran .

3. Pengamatan Lokasi Kolam Ikan

Pengamatan lokasi pembuatan kolam ikan diperlukan untuk mempermudah pembuatan sketsa konstruksi kolam ikan serta mempermudah pekerjaan pembuatan. Hal-hal yang perlu dilakukan pada pengamatan lokasi pembuatan kolam ini diantaranya adalah pengamatan terhadap jenis tanaman yang ada, bebatuan, saluran irigasi. Tanaman yang ada di sekitar lokasi lahan perlu diamati untuk menentukan apakah mau dipertahankan atau ditebang dengan melihat aspek nila manfaatnya terhadap kolam ikan di kemudian hari. Saluran irigasi sangat penting pada pembuatan kolam ikan, karena menentukan pembuatan pintu masuk air sekaligus pintu keluanya.

4. Pembuatan Sketsa Lokasi Kolam Ikan

Setelah melakukan beberapa langkah seperti di atas, langkah selanjutnya adalah membuat sketsa gambar sebelum melakukan pembuatan gambar skema konstruksi kolam ikan. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pekerjaan pembuatan konstruksi. Hal-hal yang dijumpai di lapangan ketika melakukan pengamatan dituangkan dalam gambar sketsa.

5. Pembuatan Gambar Skema Konstruksi Kolam Ikan

Langkah selanjutnya adalah pembuatan gambar skema konstruksi kolam ikan disesuaikan dengan ukuran dan luas lahan yang tersedia. Pembuatan gambar skema konstruksi kolam ikan harus lengkap dan detail, setiap bagian dalam gambar juga dibuatkan gambar tersendiri untuk memperjelas saat pembuatan kolam ikan. Contoh gambar skema konstruksi cara membuat kolam ikan dapat dilihat di bawah ini :

kolam ikan

Pembuatan gambar konstruksi pintu air kolam ikan, meliputi:

  1. Pembuatan gambar pintu masuk air.
  2. Pembuatan gambar pintu pembuangan atau pintu keluar air.

    kolam ikan
  3. Pintu pembuangan atau pintu keluar air model monik.

    kolam ikan
  4. Pintu pembuangan atau pintu keluar air dari bambu atau pipa PVC siku atau model “L”.

    kolam ikan

6. Penggalian Tanah dan Pembuatan Pematang atau Tanggul Kolam Ikan

Pekerjaan selanjutnya adalah melakukan penggalian terhadap tanah menggunakan peralatan seperti cangkul, linggis dan lempak untuk memudahkan dan mempercepat pekerjaan. Penggalian tanah dengan memperhatikan skema gambar konstruksi kolam ikan yang sudah dibuat sebelumnya. Tanggul kolam atau pematang kolam harus kuat agar tanah tidak mudah longsor karena tanggul kolam atau pematang kolam ini tidak hanya menampung air tetapi juga menahan tekanan air terutama saat hujan deras.

Pada pembuatan kolam tradisional (nonpermanen), pembuatan pematang kolam atau tanggul kolam dengan cara memadatkan tanah galian. Agar tanggul kolam lebih kuat, pembuatan tanggul jangan sekali jadi, harus dilakukan secara bertahap. Dalam pembuatan tanggul kolam ini, faktor tanah mempengaruhi tingkat kepadatan. Kekuatan tanggul kolam atau pematang selain dipengaruhi oleh jenis tanah juga oleh lebar sempitnya ukuran tanggul. Semakin lebar ukuran tanggul akan semakin kuat meskipun dari sudut efisiensi penggunaan lahan kurang efisien.

Tanggul pembuatan kolam ikan semipermanen sama seperti pada pembuatan kolam nonpermanen hanya saja permukaan dan bagian dinding kolam ditutup menggunakan mulsa PHP (mulsa palstik hitam perak). Penutupan mulsa PHP dilakukan sampai pada dasar dinding kolam kemudian permukaan dasarnya ditutup lagi menggunakan tanah. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kebocoran akibat lubang tikus, kepiting dan hama pengganggu lainnya. Sedangkan pada tanggul kolam secara permanen selain lebih kuat juga aman dari kebocoran atau rembesan akibat hama sawah karena pada kolam permanen terbuat dari dinding semen. Pembuatan Tanggul kolam atau pematang kolam secara permanen sebetulnya lebih kuat, tetapi memerlukan biaya lebih banyak.

Beberapa contoh pembuatan tanggul kolam ikan :

a. Pembuatan Tanggul Kolam Ikan Pada Lahan Datar

Pada contoh ini, tanggul kolam ikan dibuat dengan cara membuat timbunan tanah yang diambil dari masing-masing sisi dasar kolam. Tanah dasar kolam dicangkul secara merata, dan cangkulan tanah tersebut digunakan sebagai timbunan tanggul pada masing-masing sisi dengan pembagian yang merata.

b. Pembuatan Tanggul Kolam Ikan Pada Lahan Agak Miring

Pada contoh ini, tanggul dibangun dengan lapisan tanah permukaan dengan cara penimbunan dari setiap sisi lahan. Sisi lahan yang lebih rendah memperoleh timbunan tanah lebih banyak dibanding sisi lahan yang lebih tinggi. Misalnya, dua bagian dari tanah yang akan dijadikan kolam diangkat dan diletakkan pada sisi lahan yang lebih rendah, sedangkan satu bagiannya diangkat dan diletakkan pada sisi lahan yang lebih tinggi.

c. Pembuatan Tanggul Kolam Ikan Pada Lahan Miring

Pada contoh ini, tanggul kolam ikan dibuat dengan cara mencangkul salah satu sisi bagian dasar kolam ikan yang permukaannya lebih rendah. Kemudian tanah galian tersebut digunakan sebagai timbunan tanah yang berfungsi sebagai tanggul pada sisi kolam tersebut. Sedangkan sisi kolam yang memiliki permukaan lebih tinggi dengan sendirinya akan membentuk dinding kolam, setelah dasar kolam digali.


Membuat Sumbatan Pada Pembuatan Kolam Ikan

Sumbatan berfungsi untuk memperkuat tanggul kolam ikan agar tidak mudah terjadi kebocoran. Sumbatan dibuat dari tanah liat berpasir yang dilumatkan. Waktu pembuatan sumbatan ini bersamaan dengan pembuatan tanggul kolam ikan. Beberapa petani kadang-kadang membuat sumbatan ini setelah tanggul selesai dibangun. Cara membuat sumbatan tanggul kolam dilakukan dengan terlebih dahulu menggali lokasi atau tempat tanggul akan dibangun. Kedalaman galian tanah tersebut kurang lebih 0,25 m dengan lebar disesuaikan lebar tanggul yang akan dibangun di atasnya. Pada lubang galian tersebut, masukkan lumatan tanah liat berpasir (jawa=jledrogan) setinggi 50 cm. Setelah timbunan jledrogan tersebut agak keras, kemudian di atasnya pada bagian tengah, dengan ketebalan kurang lebih sepertiga bagian dari rencana lebar tanggul, ditambahkan lagi lumatan atau jledrogan tersebut setinggi kira-kira sebatas permukaan air kolam yang telah direncanakan.

Teknis pembuatan taggul ini dibuat secara bertahap. Yaitu dengan terlebih dahulu membuat sumbatan bagian bawah setinggi 50 cm hingga selesai. Setelah sumbatan yang lebih awal dibuat agak mengering dan keras maka tambahan sumbatan tersebut, yang berupa lumatan tanah berpasir seperti pada lumatan di bawahnya, bisa ditambahkan. Jika lebar tanggul yang direncanakan adalah 90 cm, maka ketebalan sumbatan bagian bawah adalah 90 cm, dan ketebalan sumbatan bagian atas adalah 30 cm. Jika rencana ketinggian air dari dasar kolam adalah 60 cm, maka ketinggian sumbatan bagian atas adalah 35 cm.

Setelah pembuatan sumbatan mengering, maka langkah selanjutnya adalah melakukan penimbunan pada kedua sisi sumbatan bagian atas hingga membentuk tanggul setengah jadi. Demikian pembuatan sumbatan tanggul kolam telah selesai, seperti tampak pada gambar di bawah.

kolam ikan

kolam ikan

Setelah pembuatan tanggul kolam ikan selesai, untuk memperkuat tanggul agar tidak mudah terkikis oleh air, maka pada bagian sisi dalam tanggul bisa dipasang penguat yang terbuat dari pasangan batu kali atau batu bata yang pasang menggunakan campuran atau adukan semen dan pasir.

Jika merencanakan untuk membuat tanggul kolam ikan yang diperkuat dengan pasangan batu kali atau batu bata, maka pembuatan sumbatan pada tanggul kolam ikan tidak perlu dibuat. Pemasangan penguat tanggul kolam dari pasangan batu kali atau batu bata ini sudah cukup kokoh, sehingga tanggu yang dibuat tidak perlu mengikuti aturan pembuatan tanggul seperti di atas. Bahkan begitu tanggul dipasang, tanpa menunggu tanah mengeras terlebih dahulu sudah bisa langsung dipasang pengguat pada sisi bagian dalamnya.

Dengan pemasangan penguat dinding kolam menggunakan tembok ini, maka tanggul tidak perlu dibuat miring. Lebar penguat tanggul atau dinding kolam juga harus disesuaikan dengan komposisi campuran semen (PC) dan pasir. Semakin banyak komposisi PC dalam campuran, maka dinding kolam semakin kuat, tetapi biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan penguat ini juga cukup besar. Sebagai komposisi standar

Tanggul tidak harus lebar di bagian bawah. Tebal atau lebar tanggul penguat tergantung pada komposisi campuran semen (PC) dan komponen lain. Semakin banyak semen PC yang digunakan semakin kuat, akan tetapi biayanya cukup besar. Patokan komposisi campuran material yang dapat digunakan sebagai referensi untuk membuat dinding kolam adalah 1 semen dan 5 pasir, dengan ketebalan dinding kolam ideal 50 cm.

Dasar dinding penguat tanggul sedalam 30 cm di bawah permukaan dasar kolam. Dinding penguat yang dibuat dari pecahan bata penataannya harus dibuat sedemikian rupa sehingga permukaan yang menghadap ke kolam terlihat rata dan rapi.

Saat melakukan pemasangan pecahan batu atau batu bata, maka cara pemasangannya harus disusun sedikit sigsag saling berseberangan agar saling memperkuat posisi masing-masing pecahan batu atau batu bata.

Untuk kolam yang potensi airnya terbatas atau minim, maka pembuatan dinding kolam sebaiknya diperkuat dengan dinding tembok, dengan semen dalam komposisi campuran yang digunakan untuk membuat dinding tembok. Selain itu, permukaan yang menghadap ke kolam juga perlu diplester sehingga bisa mengurangi perembesan air.

7. Pembuatan dan Pemasangan Perlengkapan Kolam Ikan

Pemasangan dan pembuatan pintu pengeluaran air atau saluran pembuangan dan pintu masuk air dilakukan bersamaan dengan pembuatan tangul. Sebelum tanggul kolam ikan selesai dibuat, pintu pemasukan dan saluran pembuangan, yang merupakan keatuan dari dinding kolam, harus mulai dikerjakan agar proses pembuatannya lebih efisien.

Untuk mengoptimalkan fungsinya dalam kegiatan pemeliharaan, kolam ikan perlu diberi pintu-pintu air. Disamping untuk memudahkan pemeliharaan, pintu air ini berfungsi untuk mengatur sirkulasi air di dalam kolam. Dilihat dari fungsinya, pintu air pada kolam ikan terdiri dari 2 macam, yitu pintu pemasukan dan pintu pembuangan atau saluran pembuangan. Standar teknis pembuatan kolam ikan yang ideal paling tidak memiliki satu pintu masuk air dan satu saluran pembuangan. Pintu masuk air berfungsi untuk mengatur besar kecilnya debit air yang masuk ke dalam kolam. Sementara itu, pintu pengeluaran atau saluran pembuangan berfungsi untuk mengatur ketinggian permukaan air kolam dan sebagai saluran untuk menguras air saat dilakukan pengeringan atau pemanenan.

Kolam ikan yang memiliki tanggul atau dinding kolam dari tanah dan tidak diperkuat dengan penguat dari pasangan batu atau batu bata, sebaiknya menggunakan pintu air yang terbuat dari PVC atau bambu, sehingga saat dilakukan perbaikan pada kolam, saluran air tersebut tidak terlalu mahal untuk diganti. Selain itu, teknik pemasangan pintu air dari PVC atau bambu ini boleh dibilang mudah. Untuk memasang pintu pemasukan air, PVC atau bambu tersebut cukup dengan membenamkan bagian tengahnya saja kedalam dinding kolam ikan. Kedua ujungnya dibiarkan terbuka, dengan posisi mendatar dan sejajar dengan permukaan saluran sumber air. Salah satu ujung PVC atau bambu tersebut mencuat di atas permukaan kolam.

Untuk pemasangan pintu pengeluaran atau saluran pembuangan pada kolam ikan tidak berbeda jauh dengan pemasangan pintu pemasukan air. Saluran pembuangan dibuat sebanyak dua buah. Saluran pembuangan pertama berfungsi sebagai saluran pengurasan air yang dipasang di bawah permukaan dasar kolam atau sejajar dengan permukaan caren. Saluran pembuangan kedua berfungsi sebagai pintu keluar air dan pengatur ketinggian permukaan kolam. Pemasangan saluran pembuangan kedua ini ditentukan berdasarkan rencana ketinggian permukaan air kolam. Cara kedua saluran pembuangan ini sama dengan pemasangan pada pintu pemasukan air, yaitu dengan membenamkan PVC atau bambu ke dalam tanggul atau dinding kolam.

Pintu pembuangan air dari pipa PVC dapat dibuat dua model. Model pertama dibuat seperti pintu air dari bambu, dan model kedua dipasang dengan posisi mendatar pada kolam. Ujung pipa yang satu mencuat di bagian dalam pematang tepat di dasar kolam dan ujung lainnya mencuat di luar tanggul. Ujung pipa PVC yang mencuat di luar tanggul disambung dengan pipa siku dan disambung lagi dengan potongan pipa PVC setinggi tanggul kolam. Bila dilihat secara utuh, model pintu pengeluaran ini tampak seperti huruf L. Keuntungan pintu air model ini adalah dapat diputar ke kiri atau ke kanan sehingga ujung luar pipa pengeluaran air ini posisinya dapat diatur tegak atau miring. Dengan mengatur kemiringan pipa pengeluaran air ini, kedalaman air kolam dapat diatur sesuai dengan yang dikehendaki.

Jumlah dan ukuran pintu pengeluaran air disesuaikan dengan kapasitas air masuk. Minimal jumlah dan ukuran pintu ini sama dengan jumlah pintu pemasukan. Biasanya kolam yang cukup luas mempunyai dua buah atau lebih pintu pemasukan maupun pengeluaran air. Letak pintu air ini disesuaikan pula dengan bentuk kolam dan letak sumber air ataupun saluran pembuangan. Letak pintu pemasukan dan pembuangan air yang ideal adalah bersilangan. Bila pintu masuk terletak pada bagian depan sisi kanan, maka pintu pembuangannya berada di bagian belakang sisi kiri.

Pada kolam ikan yang dibuat dengan tanggul atau dinding kolam pemanen, pintu pemasukan dibuat dengan cara membuat cekungan atau dalam Bahasa Jawa coakan pada dinding kolam yang berada tepat pada saluran sumber air. Pada cekungan atau coakan tersebut diberi jeruji bersi yang dipasang secara berjajar ke samping atau ke atau. Jarak antar jeruji bersi tersebut sesuai dengan kebutuhan. Untuk menghindari masuknya hama yang dapat menyerang ikan lele, pada sisi yang menghadap arah aliran air masuk dipasang saringan dengan kerapatan sesuai kebutuhan. Pemasangan saringan dan jeruji besi ini juga berfungsi sebagai penahan sampah atau kotoran yang masuk ke dalam kolam.

Jeruji besi dapat diganti dengan kawat yang dianyam dan diberi bingkai bambu sebagai saringan. Pemasangan saringan pada pintu ini harus diberi patok pada sisi dalam cekungan agar cukup kuat menahan aliran air atau sampah yang terangkut. Patok ini dipasang pada sisi tegak dan masing-masing dipasang minimal 2 patok berseberangan. Pada cekungan ini dapat pula dibuat cekungan lagi dengan posisi membujur searah dengan posisi tanggul untuk menancapkan saringan air.

Model pintu air lain yang juga cukup dikenal di masyarakat adalah pintu air sistem monik. Pintu air yang dibuat dengan sistem monik ini dapat diaplikasikan untuk pintu pemasukan dan pintu pembuangan. Selain dapat mempermudah kegiatan pengurasan, pintu air sistem monik ini pun memiliki fungsi yang sangat besar, terutama untuk menjaga kualitas air agar tetap dalam kondisi yang baik.

Pintu air model ini dibuat secara permanen dari pasangan batu Bata, dan bangunan utamanya dibuat mirip dengan pintu pemasukan pada tanggul permanen. Bedanya pada pintu model monik adalah celah penyekat dibuat lebih dari satu, yang berfungsi untuk menempatkan papan-papan kayu yang disusun bertumpuk. Dengan cara ini, aliran air yang masuk maupun yang keluar dapat diatur. Demikian Pula ketika pengurasan kolam untuk panen tidak perlu merusak pintu air, tetapi cukup dengan melepas papan-papan penyekatnya saja. Untuk mengeluarkan sampah pun cukup dengan membuka salah satu potongan papan penyekat paling atas, sehingga tidak perlu masuk ke dalam kolam.

Membuat pintu monik pada tanggul tanah maupun permanen tidak berbeda. Pintu air ini berdiri tegak dari dasar kolam sampai permukaan tanggul.

Saringan pada pintu air model monik dipasang di bagian bawah pelapis kayu pada sekat sisi dalam atau bagian atas pelapis kayu sisi luar. Untuk mempermudah pengambilan sampah yang mengotori kolam dan menyumbat aliran air, sebaiknya saringan dipasang pada bagian atas dari pintu air yang berada di sisi luar. Berbeda dengan pemasangan saringan pada pintu air dari bambu atau pipa PVC, saringannya dipasang pada bagian depan sesuai dengan arah aliran air.

Perangkat lain yang harus tersedia pada kolam ikan adalah caren atau kemalir. Caren adalah saluran atau parit yang dibuat di dasar kolam dengan cara menggali tanah pada dasar kolam dengan ukuran dan bentuk yang disesuaikan dengan ukuran dan bentuk konstruksi kolam. Dalam konstruksi kolam, caren memiliki fungsi untuk mempermudah pemanenan atau penangkapan ikan pada saat melakukan kegiatan panen. Selain itu, tidak kalah pentingnya bahwa keberadaan caren ini sekaligus sebagai tempat penimbunan endapan lumpur dan sisa-sisa pakan serta sebagai pengatur sirkulasi air di dasar kolam ikan. Kebanyakan petani belum memahami fungsi teknis dari keberadaan caren ini sehingga mereka membuat caren atau kemalir ini secara sembarangan. Bahkan para ahli perikanan pun kebanyakan beranggapan bahwa pembuatan caren ini hanya berfungsi untuk mempermudah penangkapan ikan saat dilakukan kegiatan panen.

Dari segi teknis, dalam konstruksi kolam ikan caren merupakan saluran yang berperan sebagai penyambung fungsi pintu masuk air dengan saluran pembuangan. Salah satu ujung parit berfungsi sebagai muara pintu masuk air dan ujung lainnya bermuara ke pintu pembuangan. Agar pembuatan caren tidak mengalami kesulitan saat dikerjakan di lahan, sebelumnya perlu dibuatkan gambar konstruksi kolam terlebih dahulu. Bagaimana stuktur pintu masuk air dan bagaimana arah dan bentuk caren yang akan dibuat.

Untuk kolam ikan yang memiliki pintu pemasukan air lebih dari satu buah, maka jumlah caren yang dibutuhkan juga sama dengan jumlah pintu air tersebut. Caren dibuat dengan arah menyesuaikan keberadaan pintu air pada kolam ikan. Sementara itu, ukuran caren menyesuaikan ukuran kolam, kurang lebih 10% dari luas kolam. Berikut ini beberapa gambaran mengenai ukuran caren pada kolam ikan.
  • Untuk luas kolam 100 m², maka luas caren yang ideal adalah 5 m²
  • Untuk luas kolam1.000 m², maka luas caren yang ideal adalah 50 m²
  • Untuk luas kolam 10.000 m², maka luas caren yang ideal adalah 1.000 m²
More aboutCARA MEMBUAT KOLAM IKAN

HAMA PENYAKIT IKAN LELE

Hama dan penyakit ikan lele merupakan faktor yang sering menimbulkan kerugian bagi petani atau pelaku agribisnis budidaya ikan lele. Meskipun kerugian yang ditimbulkan oleh serangan hama tidak sebesar kerugian yang ditimbulkan oleh serangan penyakit, namun untuk menunjang keberhasilan budidaya ikan lele, keduanya harus mendapat perhatian yang serius.

Disamping biaya yang dikeluarkan tidak begitu besar, untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit ikan lele, tindakan pencegahan akan lebih efektif jika dibandingkan dengan tindakan pengobatan. Tindakan pencegahan dilakukan jauh sebelum serangan hama dan penyakit ikan lele tersebut menyerang dan harus dilakukan secara terpadu. Tindakan pengobatan akan lebih sulit dilakukan dan memiliki resiko yang lebih besar terhadap kegagalan. Hal ini terutama bila dialami oleh petani pembudidaya ikan lele pemula yang baru saja menghadapi permasalahan-permasalah di lapangan. Bagi petani pembudidaya ikan lele yang sudah profesional, upaya pengendalian dengan metode pengobatan terhadap serangan hama dan penyakit ikan lele yang mereka temui dilapangan mungkin tidak akan terlalu banyak mengalami kesulitan.

HAMA IKAN LELE

Hama ikan lele adalah organisme pengganggu pada kegiatan budidaya ikan lele yang dapat memangsa, membunuh, dan mempengaruhi produktivitas lele. Meskipun tidak menimbulkan kerugian yang besar, namun hama ikan lele ini tetap harus dikendalikan. Hama yang menyerang ikan lele biasanya datang dari luar melalui aliran air, udara, atau darat. Hama yang berasal dari dalam biasanya akibat persiapan kolam yang kurang sempurna.

Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mencegah serangan hama ikan lele.
  • Pengeringan dan pengapuran sebelum kolam digunakan untuk proses budidaya. Pengapuran bertujuan untuk meningkatkan pH air kolam, sedangkan pengeringan bertujuan untuk membunuh atau menekan kehidupan organisme yang berpotensi menjadi hama ikan lele nantinya.
  • Pemasangan saringan pada pintu masuk air dan saluran pembuangan agar hama yang berpotensi masuk kedalam kolam melalui kedua saluran tersebut bisa dihindari.
Hama yang sering menyerang ikan lele, terutama yang masih berukuran kecil, adalah ular, belut, dan ikan gabus. Tindakan penanggulangan serangan ketiga hama tersebut sebagai berikut.
  1. Penanggulangan Hama Ular Yang Menyerang Ikan Lele

    1. Sebelum kolam digunakan untuk budidaya ikan lele lingkungan disekitar kolam terlebih dahulu harus dibersihkan. Ular yang memiliki karakter tidak menyukai tempat terbuka akan takut untuk mendatangi tempat tersebut. Upaya pembersihan lingkungan kolam ini tetap harus dilakukan saat proses budidaya berlangsung.
    2. Untuk menghindari lubang tikus yang bisa dijadikan sarang ular, sebaiknya pematang ditembok. Dengan demikian ular tidak memiliki peluang untuk bersarang disekitar kolam.
    3. Lakukan pengontrolan pada malam hari, terutama saat benih ikan lele masih kecil. Bila menemui ular yang masuk ke dalam kolam, segera diburu dan dibuang atau dibunuh.
  2. Penanggulangan Hama Belut Yang Menyerang Ikan Lele

    1. Sebelum melakukan pengolahan sebaiknya kolam pemeliharan digenangi terlebih dahulu setinggi 20-30 cm, kemudian diberi insektisida Akodan dengan dosis rendah, yakni 0,3-0,5 cc/m³ air. Ingat, penggunaan insektisida ini harus dilakukan dengan hati-hati dan dengan dosis rendah karena dapat mencemari lingkungan. Sebetulnya penggunaan pestisida ini hanya dilakukan jika kondisi mendesak. Bila waktu yang tersedia cukup lama untuk melakukan pengeringan, misalnya selama tiga minggu, maka belut atau bibit belut yang berada pada permukaan dasar kolam atau pematang sudah mati atau pergi meninggalkan kolam.
    2. Setelah diberi insektisida, kolam dibiarkan selama 2 hari hingga belut dan organisme penggangu lain mati. Kemudian air dibuang dan lahan dikeringkan untuk menetralkan sisa racun insektisida tersebut. Pastikan saat membuang air kolam, terlebih dahulu kolam harus diisi penuh dengan air. Hal ini bertujuan untuk mengurangi konsentrasi pestisida yang terbawa pada aliran air, sehingga tidak membahayakan kolam-kolam atau tempat pemeliharaan ikan di bawahnya.
  3. Penanggulangan Ikan Gabus Yang Menyerang Ikan Lele

    1. Pintu masuk dan saluran pembuangan dipasang saringan agar ikan gabus tidak masuk ke dalam kolam melalui kedua saluran tersebut.
    2. Pematang kolam dibuat tinggi, sehingga ikan gabus yang berada di kolam kolam lain atau genangan air lain disekitar kolam, tidak melompat masuk ke dalam kolam

PENYAKIT IKAN LELE

Penyakit ikan lele merupakan organisme pengganggu yang dapat menimbulkan kerugian besar bagi para pembudidaya ikan lele. Bahkan penyakit ini sering dianggap sebagai pemicu kegagalan yang paling besar peranannya. Penyakit ikan lele dapat diartikan sebagai organisme pengganggu yang hidup dan berkembang pada tubuh lele sehingga organ tubuh lele mengalami kerusakan. Jika salah satu atau sebagian organ tubuh terganggu, maka seluruh jaringan tubuh ikan lele juga akan terganggu. Terganggunnya jaringan tubuh ikan lele tentu saja akan mempengaruhi mekanisme kerja jaringan tubuh tersebut. Sehingga ikan lele akan mengalami hambatan pertumbuhan, dan jika serangan parah atau terjadi pada organ yang fital, maka besar kemungkinan ikan lele yang terserang penyakit tersebut akan mati.

Pada dasarnya, penyakit akan menyerang ikan lele jika terjadi ketidakseimbangan antara kondisi ikan lele, lingkungan, dan patogen. Ikan lele yang mengalami kekurangan nutrisi atau kondisi tubuhnya tidak baik, sangat besar kemungkinan terserang penyakit atau patogen. Sebaliknya, jika kondisi tubuh ikan lele baik dengan kecukupan nutrisi yang sempurna, maka kemungkinan ikan lele tersebut terserang penyakit sangat kecil. Kondisi tubuh ikan lele yang kurang baik bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti perubahan kondisi lingkungan sehingga ikan lele mengalami stress, terjadi luka atau perdarahan yang disebabkan karena serangan hama, penganganan saat panen dan teknik pengankutan yang kurang tepat, serta perkelahian antar ikan lele.

Selain perubahan lingkungan dan luka atau perdaraan, kondisi tubuh ikan lele yang kurang baik juga bisa diakibatkan oleh kondisi lingkungan perairan dalam kolam, misalnya kandungan oksigen terlarut di dalam kolam yang rendah karena kurangnya sirkulasi air atau terlalu banyak memberikan pakan alami sehingga terjadi persaingan kebutuhan oksigen, adanya gas beracun yang dapat dipicu dari pembusukan sisa-sisa pemberian pakan, atau terjadi pencemaran air kolam baik oleh limbah industri, buangan bahan kimia, maupun limbah rumah tangga.

Penyakit ikan lele ada yang menyerang pada bagian dalam dan ada yang menyerang bagian luar tubuhnya. Penyakit yang menyerang organ tubuh bagian dalam disebut dengan endotern. Biasanya penyakit ini akan menyerang organ usus, jantung, maupun hati. Sementara itu, penyakit ikan lele yang menyerang organ tubuh bagian luar disebut dengan eksotern. Penyakit ini penyerang tubuh ikan lele, sirip, mata, mulut, dan bagian luar tubuh ikan lele lainnya.

Tindakan pencegahan penyakit ikan lele.

  1. Lakukan pengeringan dan pengapuran pada dasar kolam sebelum dilakukan pengolahan lahan. Pengapuran dapat meningkatkan pH atau derajat keasaman tanah dan air. Pada pH mendekati netral, patogen atau penyakit tidak bisa berkembang dengan baik. Dengan demikianm salah satu fungsi dari pemberian kapur pertanian ini adalah untuk memutus siklus hidup patogen.
  2. Kualitas perairan kolam harus dijaga agar tetap dalam kondisi yang baik. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kualitas air kolam adalah dengan tidak memberi pakan yang berlebihan, sehingga tidak ada sisa pakan yang mengendap di dasar kolam dan menimbulkan gas beracun. Selain pengaturan pemberian pakan, upaya menjaga kualitas air ini dapat dilakukan dengan pengaturan sirkulasi air, yaitu dengan menjaga debit air yang masuk agar tetap stabil. Debit air yang stabil akan meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air.
  3. Pakan tambahan yang diberikan harus sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Jika berlebihan, selain dapat menurunkan kualitas air, juga dapat mengganggu kesehatan ikan lele yang terlalu kenyang.
  4. Penanganan saat pemanenan benih ikan lele harus dilakukan dengan hati-hati serta sesuai dengan prosedur penangkapan ikan lele. Jika penanganan yang dilakukan sudah benar, maka resiko terjadinya luka akibat penanganan bisa diperkecil.
  5. Lakukan pengontrolan secara rutin, sehingga bisa menghindari atau mengendalikan masuknya binatang pembawa penyakit ke dalam kolam. Bunatang yang berpotensi membawa penyakit antara lain keong mas, siput, dan burung.
Ikan lele bisa terserang atau terinfeksi oleh beberapa jenis penyakit. Setiap jenis penyakit mempunyai karakter sendiri-sendiri dalam malakukan infeksi terhadap ikan lele. Selain itu, gejala yang ditimbulkan akibat serangan penyakit tersebut juga tidak sama. Oleh karena itu, Cara pengendalian dan penanganan setiap jenis penyakit juga berbeda-beda. Dengan mengetahui gejala serangan, jenis penyakit, obat yang bisa digunakan, serta dosis penggunaannya maka tindakan pengobatan yang dilakukan juga akan lebih efektif.

Berikut ini beberapa jenis penyakit, gejala, dan cara penanganannya.

Penyakit Pada Ikan Lele Yang Disebabkan Oleh Bakteri :

Pseudomonas sp.
Gejala yang tampak pada ikan lele yang terserang penyakit Pseudomonas sp. ditandai adanya perdarahan pada kulit, hati, ginjal, dan limpa. Perdarahan pada kulit tersebut akhirnya mengakibatkan luka berupa borok-borok pada tubuh ikan lele.

Tindakan penanggulangan terhadap serangan penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air agar tetap baik sehingga ikan lele akan selalu dalam kondisi yang sehat. Jika sudah terserang, tindakat pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan merendam ikan lele dalam larutan Oxytertracyclin dosis 25-30 mg/kg ikan lele per hari. Diberikan secara berturut-turut selama 7-10 hari. Pemberian dilakukan pada bak terpisah

Aeromonas hydrophiladan
Gejala yang tampak pada ikan lele yang terserang penyakit Aeromonas hydrophiladan ditandai dengan adanya perubahan warna tubuh ikan lele yang menjadi gelap, kulit kasat, dan terjadi perdarahan. Ikan lele sulit bernapas, berenang sangat lemah, dan terjadi perdarahan pada hati, ginjal, dan limpa. Ciri-ciri yang timbul akibat infeksi Pseudomonas dapat dibedakan dengan serangan bakteri Aeromonas yaitu dengan adanya luka-luka kecil pada kulit kemudian meluas ke arah daging.

Tindakan penanggulangan terhadap serangan penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air agar tetap baik sehingga ikan lele akan selalu dalam kondisi yang sehat. Pada ikan lele yang sudah terserang bisa dilakukan penyuntikan dengan Terramycine 25-30 mg/kg lele, diulang 3 hari sekali sebanyak 3 kali ulangan. Mencampur makanan dengan Terramycine 50 mg/kg lele per hari selama 7-10 hari. Selain itu dapat menggunakan Sulphanamide sebanyak 100 mg/kg lele per hari selama 3-4 hari.

Aeromonas punctata
Gejala yang tampak pada ikan lele yang terserang penyakit Aeromonas punctata ditandai dengan adanya ikan lele yang kehilangan nafsu makan. Infeksi pada kulit kepala, kulit badan bagian belakang, insang, sirip, dan bagian badan lainnya.

Tindakan penanggulangan terhadap serangan penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air agar tetap baik sehingga ikan lele akan selalu dalam kondisi yang sehat. Ikan lele yang sudah terlanjur terserang harus direndaman menggunakan larutan copper sulfat dosis 1200 ppm selama 1-20 menit. Perendaman dengan Oxytetracyclin HCL dengan dosis 10 mg/1 kg ikan lele selama 30 menit.

Peduncle (cold water diseases)
Gejala serangan tampak pada ikan lele yang terserang penyakit Peduncle (cold water diseases) hampir sama dengan gejala serangan pada penyakit Columnaris, bedanya Peduncle menyerang pada temperatur dingin, sekitar 16° C, sedangkan Columnaris pada temperatur panas, sekitar 20° C, infeksi berjalan lambat dalam hal timbulnya borok atau nekrosa pada kulit.

Tindakan penanggulangan terhadap serangan penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air agar tetap baik sehingga ikan lele akan selalu dalam kondisi yang sehat. Tindakan pengobatan terhadap ikan lele yang sudah terserang adalah perendaman dengan menggunakan Oxytetracyclin 10 ppm selama 30 menit. Mencampur makanan dengan Sulfisoxzole sebanyak 100 mg/kg berat ikan lele per hari selama 10-20 hari berturut-turut.

Columnaris
Gejala yang tampak pada ikan lele yang terserang penyakit Columnaris ditandai dengan adanya perdarahan pada kulit ikan lele. Borok-borok pada kulit. Perdarahan pada hati, ginjal, dan limpa. Luka-luka kecil pada hati. Nekrosa pada jaringan daging dan jaringan pembuat darah.

Tindakan penanggulangan terhadap serangan penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air agar tetap baik sehingga ikan lele akan selalu dalam kondisi yang sehat. Untuk ikan lele yang sudah terserang, tindakan pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan perendaman menggunakan Oxytetracyclin HCL dosis 25-30 mg/kg ikan lele per hari diberikan 7-10 hari berturut-turut. Pemberian Sulfamerazine sebanyak 100-200 mg/kg berat ikan lele per hari, melalui makanan 1-3 hari. Penyuntikan Oxytetracyclin HCL sebanyak 25-30 mg/kg ikan lele per hari, melalui makanan selama 7-10 hari berturut-turut.

Edward siella
Gejala yang tampak pada ikan lele yang terserang penyakit Edward siella ditandai dengan adanya perubahan tubuh ikan lele yang berwarna gelap. Kadang-kadang mata menonjol. Ada sedikit bercak darah di pangkal sirip dada. Kadang-kadang ditemukan benjolan di bagian samping tubuh ikan lele.

Tindakan penanggulangan terhadap serangan penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air agar tetap baik sehingga ikan lele akan selalu dalam kondisi yang sehat. Tindakan pengobatan dapat dilakukan pada masa periode awal penyerangan menggunakan Sulphanamide dengan dosis 100-200 mg/kg/hari diberikan sampai hari yang keempat secara berturut-turut. Lele yang terserang penyakit harus segera dimusnahkan dengan dibakar atau dikubur.

Penyakit Ginjal
Gejala yang tampak pada ikan lele yang terserang penyakit ginjal ditandai dengan adanya luka di ginjal, hati, dan bintik-bintik berwarna keputih-putihan. Hingga saat ini belum ditemukan obat yang tepat untuk memberantas penyakit ini.

Penyakit Tuberculosis
Gejala yang tampak pada ikan lele yang terserang penyakit Tuberculosis ditandai dengan adanya perubahan tubuh ikan lele berwarna gelap. Perut membengkak dan terdapat bintik-bintik pada hati. Cara pencegahan dengan perbaikan kualitas air.

Penyakit Pada Ikan Lele Yang Disebabkan Oleh Parasiter :

Saprolegiasis
Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya sekumpulan benang halus seperti kapas berwarna putih kecokelatan pada ubuh ikan lele. Tempat penyerangan biasanva di daerah kepala, tutup insang, sirip, dan bagian badan lainnya.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan menjaga kebersihan kolam dan kualitas air. Menghindari setiap perlakuan yang menimbulkan luka. Perendaman dalam Malachite Green Oxalate (MGO) sebanyak 3 g/m³ air selama 30 menit.

Penyakit Bintik putih
Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan ikan lele berenang sangat lemah dan selalu di permukaan air. Terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip, dan insang. Lele sering menggosokkan tubuhnya ke dasar kolam atau pada benda-benda yang keras.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu lele diberok dalam air yang mengalir. Padat penebaran dikurangi, dilakukan perendaman dengan larutan formalin 25 ml/m³ air ditambah larutan Oxalate 0,1 g/m³ air selam 12-24 jam.

Tichodiina sp.
Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan gerakan lele lemah dan lele kurus. Menggosok-gosokkan tubuhnya pada benda-benda keras.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu padat penebaran dikurangi. Merendam lele dalam larutan formalin 150-200 ppm (150-200 ml/m³) selama 15 menit. Merendam Malachite Green Oxalate 0,1 g/m³ selama 24 jam.

Cacing kecil pada kulit, sirip, dan insang
Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan kepala ikan lele yang kelihatan besar tetapi kurus. Kulit lele suram. Sirip ekor kelihatan rontok. Lele menggosok-gosokkan badan ke dasar kolam penampungan atau benda keras lainnya. Tutup insang tidak normal.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan mengurangi kepadatan penebaran. Merendam lele dalam formalin 250 ml/m³ air selama 15 menit. Merendam dengan Methylene Blue sebanyak 3 gr/m³ air selama 24 jam.

Myxosporensis (Myxobolus sp.)
Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya bintil-bintil berwarna putih kemerah-merahan pada insang.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan pengeringan kolam dan pengapuran dengan dosis 200 g/m³, dibiarkan selama 1-2 minggu. Air yang masuk disaring melalui filter pasir, kerikil, dan ijuk.

Myxosoma sp.
Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya pembengkakan (bisul) di sekitar punggung. Jika bisul pecah, akan keluar cairan keruh berwarna kuning.

Pencegahan dengan cara menyaring air yang masuk. Perendaman dengan larutan formalin 25 cc/m³ selama 5 menit. Kolam disemprot dengan Dipterex/Sumithion 50 EC dengan takaran 1 cc/m³.

Lernaea sp.
Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya parasit yang menempel di tutup insang, sirip, atau mata selama 15 menit. Kemudian terlihat luka-luka di tempat penyerangan tersebut.

Pencegahan dengan cara menyaring air masuk. Lele yang terinfeksi direndam dalam larutan garam/NaC1 20 g/liter (2%) selama 5 menit.

Kutu ikan (Argulus).
Gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya ikan lele yang menjadi kurus. Parasit menempel di kulit, sirip, dan insang. Bekas penyerangan kelihatan kemerah-merahan.

Pencegahan dengan pengeringan kolam dan pengapuran sebanyak 200 g/m². Air yang masuk disaring.
More aboutHAMA PENYAKIT IKAN LELE

PAKAN ALTERNATIF IKAN LELE

Untuk meningkatkan keuntungan dalan usaha agribisnis, para pembudidaya ikan lele berupaya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ikan lele dengan memberikan berbagai pakan alternatif. Memberikan pakan tambahan yang berupa pakan buatan saja memang terlalu berat terutama bagi pembudidaya ikan lele dengan kapasitas permodalan kecil. Pakan buatan adalah pakan yang sengaja dibuat oleh manusia atau pabrik untuk memenuhi kebutuhan pakan pada kegiatan budidaya ikan lele. Sementara itu, mengandalkan ketersediaan pakan alami juga tidak mungkin, mengingat dalam kegiatan budidaya ikan lele yang dilakukan secara intensif ketersediaan pakan alami tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan ikan lele terhadap pakan. Oleh karena itu, pemberian pakan alternatif sangat besar pengaruhnya untuk menopang pertumbuhan dan perkembangan ikan lele dalam kegiatan budidaya.

Pakan alternatif sangat banyak ragamnya dan bisa didapat di sekitar lokasi budidaya. Secara prinsip, pemberian pakan alternatif ini bertujuan untuk menekan biaya selama proses budidaya. Oleh karena itu, pertimbangan utama dalam mencari pakan alternatif untuk ikan lele adalah harga yang murah dan mudah didapat. Beberapa jenis pakan alternatif yang bisa didapatkan dengan harga murah dan mudah dalam pencariannya antara lain limbah peternakan ayam, daging bekicot atau keong mas yang banyak terdapat di daerah persawahan, limbah pemindangan ikan, ikan runcah, serta ikan-ikan yang sudah rusak dan tidak layak dikonsumsi manusia yang biasanya banyak terdapat di daerah pesisir.

Pakan alternatif ikan lele

Pakan alternatif adalah pakan jenis lain yang bisa diberikan kepada ikan lele terutama pada kegiatan usaha budidaya ikan lele pembesaran. Pakan tersebut bukan buatan pabrik maupun petani, melainkan sisa-sisa industri peternakan, limbah pemindangan, ikan rucah, atau berupa hama-hama yang menyerang tanaman padi, seperti keong mas. Selain harganya murah dan cara perolehannya yang mudah didapat, pakan alternatif mengandung protein yang cukup untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan ikan lele. Numun, pakan alternati juga memiliki kelemahan, yaitu cara pemberiannya yang kurang efektif sehingga memerlukan beberapa penanganan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ikan lele. Sebagai contoh, jika memberikan pakan alternatif berupa bekicot maka harus dilakukan pemisahan tubuh bekicot dari cangkangnya terlebih dahulu. Hal ini disebabkan cangkang bekicot tidak akan dimakan oleh ikan lele sehingga akan terjadi pengendapan pakan di dasar kolam yang berpotensi menurunkan kualitas air kolam. Untuk pemberian ikan runcah juga harus dipisahkan dulu antara daging ikan dan tulang-tulangnya karena tulang-tulang ikan runcah tersebut tidak akan dimakan oleh ikan lele. Demikian pula jika memberikan pakan alternatif berupa limbah peternakan ayam berupa ayam yang mati. Ayam yang telah mati harus dibersihkan dulu bulu-bulunya. Bulu-bulu ini tidak dimakan oleh ikan lele yang akan mengendap di dasar kolam dan sangat berpotensi menimbulkan pencemaran air kolam.

Pakan alternatif dari limbah peternakan

Para pelaku agribisnis ini banyak yang mengkombinasikan budidaya ikan lele dengan budidaya ayam, seperti ayam pedaging atau lokasi usaha budidayanya berdekatan dengan lokasi petenakan ayam. Pemanfaat limbah peternakan ayam berupa bangkai ayam yang telah mati menjadi sumber pakan yang murah dan mengandung nilai gizi yang tinggi bagi ikan lele. Hal ini tentu saja sangat menguntungkan bagi pembudidaya ikan lele yang bermodal terbatas. Bangkai ayam yang telah mati memerlukan beberapa perlakuan khusus sebelum diberikan kepada ikan lele. Bangkai tersebut harus dibersihkan dari bulu-bulu ayam, kemudian dimasak sampai matang dengan cara merebus bangkai ayam tersebut. Pastikan bahwa semua organ ayam ini telah matang sebelum diberikan kepada ikan lele. Perebusan bangkai ayam ini bertujuan untuk membunuh bibit-bibit penyakit yang terdapat pada ayam yang telah mati. Hal yang harus diperhatikan saat memberikan bangkai ayam sebagai pakan alternatif ikan lele adalah cara pemberiannya yang harus terukur. Pastikan bahwa bangkai ayam yang diberikan akan habis dimakan oleh ikan lele. Jika ada sisa dari organ bangkai ayam tersebut harus segera diambil dari dalam kolam agar tidak mencemari perairan kolam.

Pakan Alternatif Dari Ikan Rucah

Selain limbah peternakan, pakan alternatif lain yang sangat disukai ikan lele adalah ikan runcah. Ikan runcah merupakan limbah dari hasil tangkapan ikan laut, yaitu ikan-ikan hasil tangkapan yang rusak dan tidak layak dikonsumsi manusia. Untuk mendapatkan ikan runcah, harus mencarinya di daerah pantai atau daerah nelayan terutama daerah yang berdekatan dengan TPI atau tempat pelelangan ikan. Untuk ikan runcah yang berukuran kecil biasanya tidak banyak mengandung tulang atau tulangnya masih lunak, sehingga bisa diberikan langsung tanpa diolah terlebih dahulu. Untuk ikan runcah yang berukuran besar, maka harus diolah terlebih dahulu, yaitu dengan merebusnya setengah matang untuk memisahkan daging dan tulang. Setelah daging dipisahkan dari tulangnya, untuk memberikan tambahan nutrisi, bisa ditambahkan dedak halus kemudian dicampur hingga rata. Pakan yang sudah siap bisa diberikan kepada ikan lele dengan ditebarkan secara merata. Namun, yang perlu diperhatikan adalah pemberian pakan tetap tidak boleh berlebihan, hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi pengendapan sisa pakan di dasar kolam.

Pakan Alternatif Dari Limbah Pemindangan

Petani atau pembudidaya ikan lele yang mengembangkan usaha agribisnisnya di daerah dataran rendah, terutama daerah-daerah pantai, maka tidak kesulitan untuk mencari dan memperoleh pakan alternatif yang bisa dijadikan sebagai pasokan pakan utama ikan lele. Selain murah, memanfaatkan limbah pengolahan ikan laut, misalnya limbah pemindangan, sebagai pakan alternatif, juga memiliki manfaat yang besar. Limbah pengolahan ikan laut ini memiliki kandungan protein yang sangat tinggi, sehingga selain sebagai pakan tambahan, limbah ini juga berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan protein ikan lele. Limbah pengolahan ikan laut yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan alternatif ikan lele antara lain isi perut, kepala, dan bagian-bagian lain yang tidak terpakai. Sebagai tambahan gizi, limbah pengolahan ikan laut tersebut bisa dicampur dengan dedak halus sebelum diberikan.

Pakan Alternatif Dari Keong Mas atau Bekicot

Bagi pembudidaya ikan lele yang mempunyai lokasi budidaya di dekat daerah persawahan atau kebun, pakan alternatif yang bisa dicari untuk diberikan pada ikan lele adalah adalah bekicot dan keong mas. Bekicot dan keong mas ini merupakan hama bagi petani, terutama petani sayur untuk bekicot dan petani padi untuk keong mas. Kedua jenis binatang ini banyak ditemukan di lokasi budidaya komoditas pertanian. Untuk mencari bekicot, bisa diperoleh dari lokasi-lokasi budidaya sayuran, sedangkan untuk mencari keong mas, bisa diperoleh di lokasi-lokasi persawahan atau penanaman padi. Dengan demikian, pemanfaatan kedua jenis binatang ini sebagai pakan alternatif ikan lele bisa bersimbiosis mutualisme dengan petani-petani di desa.

Pemanfaatan bekicot dan keong mas sebagai pakan alternatif ikan lele tidak bisa diberikan langsung. Tetapi kedua binatang ini harus diolah terlebih dahulu, yaitu dengan memisahkan tubuh kedua binatang ini dari rumah atau cangkangnya. Pemisahan bekicot dan keong mas dari cangkangnya dapat dilakukan dengan mudah. Rebus kedua jenis binatang ini selama beberapa menit, kemudian ambil tubuhnya dengan cara dicongkel dengan benda yang keras atau bisa juga ditarik mengunakan penjepit. Setelah daging bekicot dan keong mas tersebut terpisah dari cangkangnya, bisa diberikan langsung sebagai pakan ikan lele.

Bekicot dan cangkang ini memiliki kandungan protein yang sangat tinggi, sehingga pemanfaatannya sebagai pakan alternatif akan memberikan pengaruh yang sangat baik, terutama untuk menopang kebutuhan protein sebagai sumber energi utama ikan.
More aboutPAKAN ALTERNATIF IKAN LELE

MENGENAL IKAN LELE

Kebanyakan masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan ikan lele. Ikan yang menjadi komoditas agribisnis yang memiliki prospek bisnis cerah ini banyak dibudidayakan oleh masyarakat, baik di kolam tanah, kolam tembok, atau kolam terpal. Saat ini upaya membudidayakan ikan lele di kolam terpal sangat marak dilakukan oleh masyarakat.

Dari segi cita rasa, ikan lele memiliki tekstur daging yang lezat dan disukai konsumen. Kegemaran masyarakat terhadap komoditas perikanan yang satu ini bisa dilihat dari begitu banyaknya warung makan yang menyediakan menu ikan lele selalu ramai dikunjungi orang. Selain cita rasanya yang enak, daging ikan lele juga tidak dipenuhi tulang-tulang kecil seperti ikan-ikan lain, misalnya ikan mas. Hal ini memudahkan orang untuk mengkonsumsi daging ikan lele tersebut tanpa harus menelisik tulang-tulang kecil yang menyelip dalam daging.

Morfologi Ikan Lele

Ikan lele merupakan jenis ikan air tawar yang memiliki warna tubuh kehitaman atau kecokelatan. Tubuh ikan lele berkulit licin karena diselimuti lendir, dan tidak memiliki sisik seperti ikan-ikan lain. Hal yang menarik dari tubuh ikan lele ini adalah apabila terkena sinar matahari, maka warna tubuh ikan lele akan berubah menjadi pucat. Warna tubuh tersebut juga akan berubah jika ikan lele terkejut menjadi loreng hitam putih seperti mozaik. Ikan lele memiliki mulut yang berukuran kurang lebih ¼ dari panjang tubuhnya. Ikan lele juga dijuluki catfish karena memiliki kumis disekitar mulut yang berjumlah delapan buah sehingga menyerupai kucing. Kumis ikan lele tersebut berfungsi sebagai alat peraba saat mencari makanan atau sedang bergerak.

Seperti kebanyakan ikan-ikan air tawar lain, ikan lele menggunakan sirip untuk bergerak atau berenang. Sirip ikan lele terdiri dari dua buah sirip dada yang berpasangan, dua buah sirip perut yang berpasangan, satu buah sirip dubur, satu buah sirip ekor, dan satu buah sirip punggung. Sirip dada pada ikan lele dilengkapi dengan sirip keras dan runcing yang berfungsi sebagai senjata dan alat gerak. Sirip keras tersebut sering dikenal dengan istilah patil. Sirip perut terletak di bagian bawah tubuhnya. Sementara itu, sirip dubur terletak dibelakang sirip perut yang membentang hingga pangkal ekor. Sirip ekor ikan lele berbentuk busur agak membulat. Dan sirip punggung pada ikan lele berada di atas tubuhnya yang mementang hingga ke pangkal ekor bagian atas.

Klasifikasi ikan lele

Ikan lele termasuk ke dalam ordo: Ostariophysi, subordo: Silaroidae, famili: Clariidae, genus Clarias, dan spesies Clarias sp.

Syarat Hidup Ikan Lele

Ikan lele memiliki organ arborescent atau insang tambahan yang dikenal pula dengan sebutan labyrinth. Organ tersebut berfungsi sebagai alat untuk bertahan hidup saat ikan lele berada di dalam lumpur atau di dalam perairan yang sedikit mengandung oksigen.

Kelebihan ikan lele tersebut membuat ikan ini menjadi pilihan budidaya oleh para petani pembudidaya ikan lele. Kelebihan membudidayakan ikan lele ini adalah ikan lele mampu bertahan hidup dengan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal meskipun dibudidayakan di dalam kolam yang memiliki kualitas air kurang baik. Hal ini sangat berseberangan dengan ikan-ikan yang biasa dibudidayakan lainnya yang memerlukan kualitas yang yang baik. Oleh karena itu, budidaya ikan lele ini dapat dilakukan di comberan atau kolam-kolam dengan sumber air yang terbatas, seperti kolam terpal yang dibuat di pekarangan rumah. Akan tetapi, dalam membudidayakan ikan lele ini, meskipun daya hidupnya (survival rate) lebih tinggi dibanding ikan-ikan lain, tetap harus dipenuhi paling tidak kriteria standar minimal untuk lingkungan hidup ikan lele.

Untuk menunjang keberhasilan budidaya dan mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan ikan lele, para ahli perikanan penetapkan kriteria atau standar minimal untuk kualitas air pada kolam budidaya ikan lele, baik secara kimia maupun fisika, yang harus dipenuhi untuk membudidayakan ikan lele. Beberapa syarat dan kualitas air yang dibutuhkan untuk menopang kehidupan ikan lele antara lain:
  1. Suhu optimal untuk pemeliharaan ikan lele berkisar antara 20-30° C.
  2. Suhu optimal untuk kehidupan ikan lele agar pertumbuhan dan perkembangannya optimal adalah 27° C.
  3. Kandungan oksigen terlarut di dalam air minimum sebanyak 3 ppm (miligram per liter).
  4. Derajat keasaman (pH) air untuk kehidupan ikan lele dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal adalah 6,5-8.
  5. Kandungan karbondioksida (CO₂) dalam air harus di bawah 15 ppm; NH, sebesar 0,05 ppm; NO, sebesar 0,25 ppm; dan NO, sebesar 250 ppm.

Kebiasaan Hidup Ikan Lele

Di habitat aslinya yaitu di perairan bebas, ikan ikan lele memiliki kebiasaan untuk memijah pada awal musim penghujan. Pada musim penghujan, ikan lele mengalami rangsangan untuk memijah karena terjadinya peningkatan kedalaman air. Kebiasaan tersebut juga bisa dilihat pada usaha pembenihan ikan lele yang dilakukan secara tradisional. Pada kegiatan usaha pembenihan tradisional proses pemijahan ikan lele tidak berbeda jauh dengan kebiasaan alaminya. Hal ini tentu sangat berbedan dengan pemijahan ikan lele terutama pada budidaya ikan lele pembenihan semiintensif dan intensif. Pada kedua sistem pembenihan tersebut, ikan lele diberi rangsangan untuk memijah, yaitu dengan memberikan zat tertentu melalui suntikan.

Kebiasaan alami ikan lele untuk memijah tersebut dalam kegiatan budidaya ikan lele bisa disiasati dengan memanipulasi lingkungan di kolam budidaya untuk merangsang ikan lele memijah di luar musim hujan.

Cara pemijahan ikan lele secara alami di alam dapat diilustrasikan sebagai berikut.
  1. Ketika musim penghujan datang, ikan lele yang siap memijah (matang kelamin atau matang gonad) akan mencari lokasi sesuai dengan keinginannya.
  2. Gerombolan ikan lele jantan dan betina yang telah matang kelamin tersebut berpijah. Ikan lele betina meletakkan telur-telurnya di bagian pinggiran perairan.
  3. Pada saat bersamaan, ikan lele jantan menyemprotkan spermanya pada telur-telur tersebut. Telur-telur yang telah dibuahi akan menempel pada batu-batuan atau tanaman air yang ada di pinggiran perairan.
  4. Beberapa hari kemudian (tergantung pada suhu perairan) telur-telur ikan lele tersebut akan merietas dengan sendirinya.
Produksi yang dihasilkan dari pemijahan secara alami ini jumlahnya sangat sedikit. Hal ini disebabkan benih-benih yang baru menetas sebagian besar mengalami kematian, karena tidak tahan dengan kondisi lingkungan perairan yang sangat ekstrem. Sementara itu, tidak sedikit benih yang masih hidup dimangsa oleh predator-predator yang ada di perairan tersebut. Bisa juga terjadi, predator atau pemangsa sudah memangsa telur yang dibuahi ketika telur tersebut belum sempat menetas.

Ikan lele tergolong jenis ikan karnivor atau pemakan daging dan sangat menyukai pakan alami berupa binatang-binatang renik seperti kutu air dari kelompok Daphnia, Cladocera, atau Cipepoda. Selain memakan ketiga jenis binatang tersebut, ikan lele juga menyukai binatang-binatang lain seperti cacing sutera, larva jentik nyamuk, serangga yang masuk ke dalam air, keong-keong kecil, belatung serta daging-daging lain yang masuk dalam air.

Lihat Lebih Detil Tentang Pakan Alternatif Ikan Lele

Baik sewaktu hidup bebas di alam maupun ketika dipelihara di kolam budidaya, ikan lele tergolong jenis ikan yang sangat responsif terhadap makanan. Artinya, hampir semua pakan yang diberikan sebagai ransum atau pakan sehari-hari akan dimakannya. Oleh karena itulah, ikan lele memiliki laju pertumbuhan yang sangat cepat dalam waktu yang singkat. Sehingga para pembudidaya ikan banyak yang memilih komoditas ini sebagai komoditas agribisnis andalannya. Keunggulan laju pertumbuhan ikan lele ini bisa dioptimalkan dengan memberikan pakan yang memiliki nutrisi tinggi dan kompleks sehingga jangka waktu pemeliharaan bisa dipersingkat dengan produktivitas yang tinggi.

Lihat Lebih Detil Tentang Budiday Ikan Lele


Karakteristik Daging Ikan Lele

Ikan lele termasuk salah satu jenis ikan air tawar yang memiliki tekstur daging dengan cita rasa yang enak dan empuk. Salah satu keunggulan tekstur daging ikan lele ini adalah tidak memiliki tulang-tulang halus dan kecil dalam dagingnya. Cita rasa dan keunggulan tekstur daging inilah yang membuat ikan lele banyak diburu konsumen di pasar-pasar ikan. Namun demikian, tidak semua konsumen menyukai daging ikan lele. Tetap ada saja yang kurang begitu tertarik dengan daging ikan lele ini karena beranggapan bahwa daging ikan lele mengandung terlalu banyak lemak. Sah-sah saja beranggapan demikian, dan mungkin anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, mengingat daging ikan lele, terutama untuk ikan lele yang berukuran besar, jika digoreng memang ada bagian-bagian tertentu yang hancur.

Akan tetapi, terlepas dari pro dan kontra mengenai cita rasa daging ikan lele, ternyata daging ikan lele memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Hal ini bisa dilihat dari hasil berbagai penelitian yang menyebutkan bahwa setiap 100 gram daging ikan lele mengandung 18,2 gram protein. Dengan perhitungan kandungan protein tersebut, setiap 1 kg ikan lele yang berukuran kecil bisa dikonsumsi untuk 10 porsi. Setiap porsi mengandung kurang lebih protein 18 gram, energi 290 kalori, lemak 16 gram, dan karbohidrat 12 gram. Komposisi tersebut jarang terdapat pada daging ikan lain yang digunakan sebagai sumber energi. Dengan demikian tidak mustahil jika daging ikan lele sangat disukai oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Pengolahan daging ikan lele yang cukup populer di Indonesia dan banyak dijajakan di warung-warung pinggir jalan adalah pecel lele. Ikan lele berukuran 100-150 gram digoreng kering kemudian diberi bumbu sambal dan dimakan bersama lalapan. Selain dibuat pecel lele, pengolahan daging ikan lele ini sangat beragam dalam berbagai bentuk, misalnya dibuat masakan pedas sambal goreng ikan lele, pepes ikan lele, gulai ikan lele, hingga asam pedas. Bahkan menu dari ikan lele ini sudah banyak disajikan dan menjadi menu utama di restoran-restoran kelas menegah ke atas dan di hotel-hotel berbintang pun sudah cukup banyak menyajikannya.
More aboutMENGENAL IKAN LELE

BUDIDAYA IKAN HIAS

Ikan hias ternyata memiliki jumlah peminat yang sangat tinggi sehingga prospek usaha budidaya ikan hias memiliki peluang yang cukup bagus. Minat masyarakat terhadap ikan hias ini konon berawal dari kebiasaan orang mengurung ikan di pekarangan. Kebiasaan tersebut akhirnya menjadi hobi untuk memelihara ikan di rumah. Kini kegemaran orang memandang kecantikan ikan hias di pekarangan atau di dalam rumah telah berkembang menjadi peluang bisnis berskala internasional.

Budidaya Ikan Hias Arulius

Klasifikasi Ikan Hias Arulius

Ordo: Ostariophysi/Ostariophysoidei, Sub-ordo: Cyprinoidei, Famili: Cyprinidae, Genus: Puntius, Spesies: Puntius arulius/Barbus arulius.

Ciri-ciri Ikan Hias Arulius

Ikan hias ini dikenal juga dengan nama Longfin Barb dan berasal dari negara India dan sudah lama dikenal oleh para hobi dan pembudidaya ikan hias dalam negeri. Karena selain mudah dikembangbiakkan, ikan hias ini pun mampu memberi keturunan yang lumayan banyak setiap kali memijah. Lain daripada itu, ikan hias arulius juga memiliki daya tarik di tubuhnya yang mirip ikan bandeng itu. Warna dasar tubuhnya sulit diuraikan secara tepat. Punggungnya berwarna keperakan, perut kekuningan, sedangkan tutup insangnya dilekati warna-warni kehijauan.

Sirip ekor dan anus gabungan antara hijau dan merah dominan. Sirip punggung mempunyai tulang sirip yang mencuat keluar seperti duri, sedang sirip perut dan dada transparan hijau gelap. Warna-warni tubuh arulius ini tidak selalu permanen. Tetapi yang pasti gabungan warna di tubuhnya mengundang banyak perhatian. Panjang total tubuhnya dapat mencapai 12 cm.

Sifat Ikan Hias Arulius

Longfin barb ini dikenal juga ikan yang suka damai. Bila ingin dipelihara di dalam akuarium pajangan, ia aman dicampur dengan ikan jenis lain meski ukurannya jauh lebih kecil. Kelebihannya, jika ia dicampur beberapa ekor sekaligus, mereka sering bertingkah aneh-aneh, misalnya membentuk barisan dan berjalan secara beriringan.

Di alamnya sana, arulius banyak ditemukan di air yang agak deras. Gerakannya lincah dan agresif tetapi tidak membahayakan keselamatan ikan lainnya. Hanya raja semasa mudanya ikan ini kurang menawan, dan akan menawan setelah berubah dewasa terlebih-lebih untuk ikan jantan.

la membutuhkan akuarium yang berukuran besar dan luas karena si jantan ini sering bertindak aneh-aneh misalnya mengotori air akuarium. Akuarium itu sendiri hendaknya diisi batu-batuan yang agak kehitaman serta diberi ornamen lain. Ornamen ini bisa berupa kayu dan tanaman air yang ditanam di dalam akuarium. la membutuhkan ruang luas untuk berenang. Selain itu juga menuntut air segar, maka usahakanlah penggantian air di dalam akuarium dilakukan secara rutin. Ketentuannya air baru itu harus sama temperaturnya dengan yang ada di dalam akuarium. Jika tidak, bisa membawa malapetaka baginya.

Tempat Pemijahan Ikan Hias Arulius

Memijahkan ikan hias arulius merupakan kegiatan yang bisa dibilang mudah. Tempat memijah yang disediakan buat ikan ini ialah :
  • kolam atau bak dari semen 2 x 3 m sedalam 50 cm.
  • akuarium panjang 1 m, lebar 0,5 m, kedalaman 0,5 m.
  • air yang dikehendaki arulius tidak ada kekecualian dengan ikan hias jenis lain, yaitu bisa dari sumur atau ledeng dengan kesadahan normal, keasaman (pH) 7 dengan suhu antara 23-25°C.
Untuk melengkapi tempat pemijahan ini maka ke dalam tempat pemijahan diisi air setinggi 40 cm. Karena arulius sifatnya memberantakkan telur, maka ke dalam tempat pemijahan harus disediakan tanaman air dasar, untuk melindungi keselamatan telur dari induknya. Tempat pemijahan ini kalau bisa diusahakan menerima sinar matahari pagi. Eceng gondok boleh ditempatkan untuk mengurangi terik matahari dan memberi kesan alami bagi induk.

Memilih induk Ikan Hias Arulius

Syarat induk tak boleh ditawar, yaitu harus sehat, bentuk tubuh normal, dan lincah. Usia siap kawin arulius setidaknya 9-12 bulan dengan panjang. tubuh antara 8-10 cm. Untuk membedakan jenis kelaminnya bisa dilihat dari bentuk badan dan sirip punggungnya. Bentuk badan si jantan biasanya lebih panjang dan langsing, sementara si betina lebih montok, buntek dengan penampang badan lebih besar. Selain itu, ikan hias arulius jantan memiliki sirip punggung yang luar biasa cantik, memanjang dengan warna gelap atau kemerahan. Sedang si betina memiliki sirip punggung yang lebih pendek.

Pemijahan Ikan Hias Arulius

Induk ikan hias arulius yang telah dipilih ditaruh ke dalam tempat pemijahan yang sudah dimanupulasi sedemikian rupa sebelumnya, dengan perbandingan jantan-betina 4 : 10. Induk arulius jantan 4 ekor betina 10 ekor. Dengan perbandingan ini diharapkan ikan jantan dapat membuahi telur-telur ikan betina secara merata.

Biasanya, induk ikan hias arulius yang telah matang kelamin yang dimasukkan sore hari akan memijah malam harinya. Telur-telur akan jatuh dan berserakan di dasar kolam/akuarium pemijahan, di antara tanaman air. Jadi tidak menempel pada tanaman. Biasanya telur-telur itu akan menetas setelah 24-36 jam.

Untuk lebih memberi jaminan keselamatan bagi telur dan benih sebaiknya induk dikembalikan ke tempat pemeliharaan induk, begitu selesai memijah. Ke dalam akuarium diberi aerator sebagai supplyer oksigen. Sedang bak/kolam kurang perlu diberi aerator.

Telur dan benih tetap dibiarkan dalam akuarium pemijahan, tanpa perlu diganggu. Setelah menetas, tanaman air dasar boleh dipindahkan. Untuk menjaga agar benih tidak terikut, sebaiknya digoyang-goyangkan terlebih dahulu.

Pembesaran Ikan Hias Arulius

Biasanya telur ikan hias arulius akan menetas dalam waktu 24-36 jam. Tetapi ada pula yang baru menetas keseluruhan jadi burayak setelah tiga hari. Larva atau burayak yang baru saja menetas sampai dengan tiga hari tidak perlu diberi makan. Pakan diberikan setelah pada hari keempat berupa infusspria. Seminggu kemudian, kutu air hasil saringan pun sudah bisa disantapnya. Jika ukuran mulutnya sudah mampu menelan pakan yang berukuran lebih besar maka perlu diberi tambahan pakan lain seperti cacing sutera yang diberikan pagi dan sore agar pertumbuhannya lebih pesat.

Induk ikan hias arulius dipelihara di tempat terpisah untuk memulihkan kondisinya seperti semula dan dapat dikawinkan kembali. Perlakuan merawat anak-anak ini harus tetap memperhatikan suhu air dan kesadahannya airnya. Yang perlu diperhatikan adalah saat penggantian air harus dilakukan dengan hati-hati terutama suhu air yang lama dan air baru harus dipastikan sama. Setelah tempat pendederan ini terlalu padat, maka perlu dilakukan pendederan di tempat yang lebih luas.

Budidaya Ikan Hias Cupang

Klasifikasi Ikan Hias Cupang

Ordo: Percomorphoidei, Sub-ordo: Anabantoidea, Famili: Anabantidae, Genus: Trichopsis, Spesies: Trichopsis vittatus (Cuvier & Valenciennes), Osphromenus vittatus (Cuvier & Valenciennes)

Ciri-ciri Ikan Hias Cupang

Ikan hias cupang berasal dari daerah Jawa, Kalimantan, Sumatera, Malaya, Indochina dan Siam. Ikan hias yang dikenal dalam bahasa Inggris dengan sebutan Talking Gourami atau Croaking Gourami memiliki bentuk tubuh yang sangat langsing dan pipih ke samping (Compressed). Warna dasar badannya bervariasi dari kuning hingga sawo matang. Punggung berwarna lebih gelap dengan bagian perut lebih kuning putih. Secara keseluruhan warna pada tubuhnya sangat bervariasi dan terlihat tajam.

Pada sisi badannya terdapat garis horizontal yang berwarna biru gelap atau hitam. Garis ini dimulai dari mata hingga di daerah sirip ekor. Beberapa specimen lain yang ditemukan kadang-kadang mempunyai tambahan garis samar-samar, sebanyak satu atau dua buah.

Sirip-sirip berwarna kemerahan, dengan ujung berwarna ungu atau biru. Sirip ini mempunyai bintik-bintik berwarna seperti pelangi — biru, merah, kehijauan. Warna matanya sangat menarik. Bagian luar berwarna merah darah, sedangkan bagian dalam berwarna hijau kebiruan. Sirip anal, punggung dan ekor tumbuh sempurna dengan beberapa jari-jari sirip yang tumbuh menonjol.

Sifat-sifat Ikan Hias Cupang

Ikan hias ini dapat mencapai panjang total 6,25 cm, sedangkan untuk pemijahannya dapat dilakukan sejak berukuran 5 cm.

Cupang merupakan salah satu jenis ikan hias yang memiliki kebiasaan menyusun sarang busa sebelum melakukan pemijahan. Namun demikian berbeda dengan ikan hias betta, ikan hias cupang ini bisa ditempatkan dalam akuarium umum, karena mempunyai sifat pendamai.

Ikan hias cupang banyak ditemukan hampir pada semua perairan bebas serta dapat hidup dan berkembang biak pada media yang terbatas.

Tempat Pemijahan Ikan Hias Cupang

Untuk memijahkannya cukup disediakan akuarium berukuran 20 x 40 cm, tinggi 20 cm. Atau toples-toples kaca. Dapat juga dengan menggunakan bak semen berukuran 1 x 2 m atau 1 x 1 m dengan ketinggian bak antara 30-40 cm. Bila pemijahan dilakukan dalam bak semen sebaiknya dibuatkan kamar-kamar dengan sekatan kayu, agar dapat dipakai untuk mengawinkan cupang dalam jumlah yang cukup banyak. Kamar pemijahan ini boleh berukuran hanya 20 x 20 cm.

Di dalam tempat pemijahan diberi tanaman air untuk membantu induk jantan membuat sarang busa. Tanaman ini boleh eceng gondok yang mengapung atau Aponogeton yang memanjang dari dasar bak. Bisa juga sekedar potongan daun eceng gondok, jika pemijahan dilakukan pada kamar-kamar yang disekat di bak semen.

Air yang digunakan bisa air biasa dari sumur atau ledeng. Sebaiknya telah didiamkan selama 24 jam, untuk menguapkan gas yang tidak dikehendaki. Bila memang air sulit dicari, ikan ini masih mau dikawinkan pada air yang diperoleh dari penampungan hujan. Tentunya harus pula diendapkan sehari semalam.

Memilih Induk Ikan Hias Cupang

Untuk membedakan ikan cupang jantan dari betin dapat dilihat dari perbedaan sirip-siripnya dan warna badannya.
Ikan hias cupang jantan mempunyai jari-jari sirip anal, punggung, dan ekor yang tumbuh dengan sangat sempurna, yaitu lebih panjang sedikit dibandingkan selaput yang menutupinya. Sedangkan ikan hias cupang betina mempunyai sirip ekor, anal, dan punggung yang biasa, tanpa ada penonjolan dari jari-jari siripnya.
Selain itu ikan hias cupang jantan juga terlihat mempunyai ujung sirip punggung yang berwarna kemerahan, yang juga terlihat pada sirip ekor dan analnya. Pada ikan jantan yang telah matang kelamin terdapat bintik-bintik hitam pada punggungnya yang lebih banyak dari biasanya, yang tidak terlihat pada induk ikan hias cupang betina.

Ikan-ikan yang dipilih sebagai induk sebaiknya telah berukuran 5 cm dan telah berumur antara 6-7 bulan. Induk jantan berjumlah sebanding dengan induk betina, karena perkawinan ikan hias cupang menganut sistem monogami.

Induk yang telah terpilih ditempatkan dalam wadah terpisah, dan diberi makan yang layak, biasanya kutu air atau cuk (jentik nyamuk).

Pemijahan Ikan Hias Cupang

Sebelum dipakai, bak atau akuarium dibersihkan dulu untuk menghindari jamur atau bibit penyakit lainnya. Kotoran yang melekat di dindingnya digosok hingga licin, kemudian dibilas dengan air bersih. Jika dirasakan perlu, boleh direndam dengan larutan PK encer, sebelum akhirnya dibilas lagi.

Ke dalam akuarium diisi air setinggi 15-18 cm, sedangkan bak boleh sampai kedalaman 25 cm. Kemudian dimasukkan tanaman yang telah dibersihkan. Aponogeton harus diberi pecahan genteng pada dasarnya supaya jangan tumbang, sedangkan eceng gondok dapat ditempatkan begitu saja.

Induk-induk ikan hias cupang yang telah dipilih dimasukkan ke dalam tempat pemijahan, satu ikan jantan untuk satu induk ikan betina. Bila menggunakan tempat bak semen, banyaknya induk yang dikawinkan disesuaikan dengan banyaknya sarang yang tersedia.

lnduk ikan hias cupang jantan akan membangun sarang busa di antara daun-daunan enceng gondok atau di sekitar tanaman Aponogeton. Induk ikan hias cupang betina hanya mengawasi pasangannya mempersiapkan pelaminan. Setelah sarang busa siap, maka tidak berapa lama induk betina akan menghampiri pasangannya untuk bersama-sama bercumbu di bawah sarang busa.

Induk ikan hias cupang betina akan mengeluarkan telurnya yang segera akan diikuti induk jantan dengan menyemprotkan spermanya. Telur-telur akan melekat di busa yang berwarna putih itu. Sebagian telur yang jatuh akan dipungut oleh kedua induknya dan ditempatkan bersama sekumpulan telur yang lain.

Telur yang dibuahi oleh sperma ikan hias cupang jantan akan menetas dalam tempo tidak lebih dari 24 jam, pada suhu 24°C. Benih yang telah menetas akan berdiam di sekitar tempatnya semula. Baru setelah melewati masa tiga hari benih-benih akan mulai terlihat berpindah, berenang bebas. Pada saat inilah harus diberikan makanan, sebab kandungan kuning telurnya sudah habis. Juga jangan lupa memindahkan induk jantannya. Sedangkan induk betina sudah harus dipisah begitu selesai memijah.

Pembesaran Ikan Hias Cupang

Mengingat tempat pemijahan yang relatif sempit dan untuk menyelamatkan benih-benih yang masih lemah, maka setelah berumur seminggu benih sudah boleh dipindahkan ke lain tempat. Tempat yang baru, boleh berupa bak semen atau akuarium yang berukuran agak besar.

Pemindahan dilakukan pagi hari di saat suhu masih rendah dengan mengikutsertakan sebagian airnya. Air yang dipakai di tempat baru sebaiknya telah diendapkan sehari semalam, dengan ketinggian air tidak boleh lebih dari 25 cm. Di dalam bak ini boleh ditempatkan satu atau dua rumput eceng gondok yang berakar rimbun sebagai tempat peneduh dan perlindungan dari tetesan air hujan. Jangan lupa membersihkan lebih dulu sebelum menempatkan dalam bak pendederan, sebab jika alpa dapat fatal akibatnya.

Makanan pertama kali yang diberikan oleh infusaria atau air hijau yang dapat diperoleh dari permukaan kolam. Kemudian rotifera yang disusul kutu air yang kecil, sebelum akhirnya benih mampu menelan cacing sutra.

Penggantian air dilakukan seminggu sekali dengan membuang tidak lebih dari 2/3 bagian air lama. Penggantian air dilakukan dengan menyipon air lama memakai slang dan menggantinya dengan air yang telah diendapkan sehari semalam.

Pemindahan kedua dilakukan setelah benih berumur sebulan, ke bak yang lebih lapang. Atau bisa juga dengan mengurangi kepadatan benih dalam kolam dengan memindahkan sebagian ke bak lain. Sementara itu induk ikan hias cupang dapat dikawinkan lagi setelah waktu empat minggu, kadang-kadang malah bisa kurang.
More aboutBUDIDAYA IKAN HIAS

BUDIDAYA IKAN LELE PENDEDERAN

Budidaya ikan lele pendederan adalah kegiatan pemeliharaan benih ikan lele yang berasal dari hasil budidaya ikan lele pembenihan hingga mencapai ukuran tertentu. Budidaya ikan lele pendederan dilakukan dalam dua tahap, yakni pendederan tahap pertama dan pendederan tahap kedua.

Budidaya ikan lele pendederan tahap pertama adalah kegiatan budidaya atau ternak ikan lele yang berasal dari hasil kegiatan budidaya ikan lele pembenihan dengan ukuran benih 1-3 cm hingga mencapai ukuran tertentu. Biasanya para petani pembudidaya ikan lele melakukan kegiatan budidaya ikan lele pendederan tahap pertama ini dalam jangka waktu 2-3 minggu dengan ukuran benih yang dihasilkan adalah 3-5 cm. Budidaya ikan lele pendederan tahap pertama ini dapat dilakukan di kolam tanah, kolam tembok, kolam tanah dengan dinding tembok maupun karamba jaring apung. Sementara itu, kegiatan budidaya ikan lele pendederan tahap kedua adalah kegiatan budidaya atau ternak ikan lele yang berasal dari hasil kegiatan budidaya ikan lele pendederan tahap pertama. Petani pembudidaya ikan lele melakukan kegiatan budidaya ikan lele pendederan tahap kedua ini selama 30 hari dengan benih ikan lele yang dihasilkan adalah benih berukuran 8-12 cm per ekor.

BUDIDAYA IKAN LELE PENDEDERAN TAHAP PERTAMA

Budidaya Ikan Lele Pendederan Menggunakan Kolam Jaring

Kegiatan budidaya ikan lele pendederan menggunakan jaring apung biasanya hanya dilakukan untuk kegiatan pendederan tahap pertama. Hal ini disebabkan benih yang dipelihara masih berukuran kecil dan belum membutuhkan tempat yang lebih luas.

Keuntungan yang diperoleh dari budidaya ikan lele pendederan menggunakan jaring adalah sebagai berikut:
  • Tingkat kematian atau kehilangan benih bisa ditekan jauh lebih kecil dibanding dengan pemeliharaan yang dilakukan di kolam, yaitu sekita 15-20%. Rendahnya tingkat kehilangan benih tersebut disebabkan hama yang menyerang ikan lele semakin kecil, karena hama kesulitan masuk dalam jaring.
  • Teknik pemeliharaan dengan menggunakan karamba cukup mudah dan praktis. Pemanenan benih ikan lele juga sangat mudah. Caranya hanya dengan mengangkat beberapa ujung atau sudut atas jaring. Pada saat beberapa bagian ujung diangkat, benih-benih ikan lele dengan sendirinya akan berkumpul pada sisi jaring yang ujungnya tidak diangkat. Benih tinggal diambil menggunkan seser atau sair.
Untuk budidaya ikan lele dengan menggunakan jaring, maka jaring yang dipilih harus jaring yang memiliki mata jaring lebih kecil daripada ukuran benih ikan lele. Tujuan pemilihan mata jaring yang lebih kecil tersebut adalah agar benih ikan lele tidak kabur keluar jaring. Jaring terbuat dari kain trilin berbahan lembut yang biasanya digunakan para petani pembudidaya ikan sebagai tempat untuk penetasan telur ikan mas (hapa). Jaring tersebut bisa didapatkan ditoko-toko perikanan, toko perlenkapan pancing, maupun toko-toko lain yang menjual alat-alat perikanan. Jaring yang baru dibeli biasanya masih berbentu lembaran, sehingga perlu sedikit penanganan agar berbentu karamba, misalnya dengan cara dijahit menggunakan benang nilon. Ukuran jaring yang digunakan untuk budidaya ikan lele pendederan ini disesuaikan dengan luas kolam dan jumlah benih ikan lele yang akan didederkan. Pada setiap sudut jari diberi tali sehingga memudahkan pada saat pengikatan jaring ke tiang karamba. Tinggi jaring kurang lebih 50-60 cm berbentuk kotak.

Pemasangan Jaring Tempat Benih Ikan Lele

Jaring yang digunakan sebagai karamba harus dipastikan tidak dalam keadaan rusak atau berlubang bekas gigitan tikus maupun binatang lain. Pemasangan jaring dapat dilakukan setelah semua tiang atau patok dipasang pada kolam dengan cara mengikatkan ujung-ujung jaring tersebut. Jika jaring yang digunakan berukuran besar, maka jumlah tali yang harus diikatkan pada patok atau tiang penyangga juga harus banyak. Jumlah patok yang dipasang disesuaikan dengan ukuran jaring. Semakin besar ukuran jaring maka semakin banyak jumlah patok yang dipasang. Jarak antar patok atau tiang penyangga jaring yang satu dengan patok atau tiang penyangga jaring yang lain juga disesuaikan dengan ukuran jaring. Patok yang digunakan sebaiknya dari bambu agar lebih kuat jika terendam air. Untuk memudahkan pemeliharaan benih ikan lele yang dibudidayakan, sebaiknya jaring ditempatkan tidak terlalu ke tengah kolam, sehingga kontrol dan penanganan terhadap benih ikan lele tersebut bisa optimal. Usahakan ketinggian air di dalam jaring tetap stabil berada pada kisaran 30-40 cm karena benih ikan lele yang dibudidayakan masih berukuran sangat kecil sehingga tidak membutuhkan air yang dalam.

Penebaran Benih Ikan Lele

Setelah jaring siap, maka langkah selanjutnya adalah penebaran benih. Untuk mengurangi tingkat stress, penebaran benih ikan lele sebaiknya dilakukan saat cuaca tidak panas, pada pagi atau sore hari. Benih ikan lele tersebut bisa dibeli dari petani pembudidaya ikan lele pembenihan yang lain maupun dari hasil pembenihan sendiri. Benih yang dihasilkan dari pembenihan sendiri memiliki banyak keuntungan, diantaranya adalah jarak angkut benih lebih dekat sehingga resiko kerusakan benih juga lebih kecil, pemanenan atau pengambilan benih dari kolam penetasan bisa dilakukan dengan menyesuaikan cuaca saat penebaran, benih ikan lele yang dihasilkan bisa dijamin kualitasnya, serta tingkat adaptasi benih ikan lele terhadap lingkungan barunya tidak terlalu besar.

Jika benih yang digunakan dalam budidaya ikan lele pendederan ini berasal dari petani atau pembudidaya ikan lele lain maka hal ini perlu penanganan yang serius, terutama berkaitan dengan proses adaptasi benih ikan lele yang akan ditebar. Proses adaptasi ini merupakan proses penyesuaian benih ikan lele dengan kondisi perairan yaitu antara kondisi perairan saat benih ikan lele berada di dalam kolam penetasan dengan kondisi perairan di dalam kolam pendederan. Adaptasi ini juga terjadi untuk menyesuaikan kondisi air saat berada dalam wadak penampungan atau pengangkutan yang biasanya di dalam plastik dengan kondisi air kolam pendederan.

Untuk mengurangi tingkat stress benih ikan lele selama proses adaptasi dapat dilakukan dengan cara membiarkan wadah pengangkutan atau plastik tempat benih ikan lele diangkut berada terapung di kolam penebaran selama kurang lebih sepuluh menit. Setelah itu wadah baru dibuka, dan tambahkan air kolam pendederan ke dalam plastik tempat benih ikan lele diangkut sedikit demi sedikit. Dengan teknik seperti ini diharapkan benih ikan lele akan terbiasa dengan kondisi air di jaring dalam kolam pendederan. Setelah wadah penuh, letakkan wadah benih ikan lele tersebut pelan-pelan, biarkan air dalam wadah keluar dan biarkan benih ikan lele keluar dengan sendirinya. Kepadatan penebaran benih pada budidaya ikan lele pembenihan taham pertama ini 1.500-2.500 ekor/m².

Pemeliharaan Benih Ikan Lele

Pemeliharaan merupakan kegiatan utama dalam agribisnis budidaya ikan lele. Dalam budidaya ikan lele pendederan menggunakan jaring ini kegiatan pemeliharan meliputi pemberian pakan tambahan, pengontrolan jaring untuk memantau jaring dari kerusakan yang diakibatkan gigitan binatang air, pengontrolan kolam untuk mengantisipasi adanya kebocoran kolam akibat aktivitas binatang seperti kepiting, belut, atau binatang lain.

Pemberian pakan tambahan berupa pellet dalam bentuk tepung. Pemberian pakan dalam bentuk pakan alami kurang sesuai untuk budidaya ikan lele pendederan menggunakan jaring. Hal ini disebabkan ruang pemeliharaan yang sempit sehingga benih ikan lele tidak memiliki ruang untuk bergerak mencari pakan. Pemberian pakan berupa pellet tepung dilakukan tiga kali sehari, yaitu pada pagi, sore, dan malam hari. Volume pemberian pakan adalah 3-5% dari berat total benih yang dipelihara setiap harinya. Pemberian pakan dilakukan dengan cara ditebar secara merata dalam kolam jaring agar semua benih ikan lele memiliki kesempatan untuk memperoleh makanan.

Lihat Lebih Detil Nutrisi Dan Pakan Ikan

Lihat Lebih Detil Pakan Alternatif Ikan Lele

Pengontrolan harus dilakukan secara rutin, terutama terhadap serangan hama. Hama yang biasa menyerang benih ikan lele adalah ular atau katak. Pengontrolan atau pengendalian hama pada budiday ikan lele dalam jaring ini relatif lebih ringan, karena hama-hama tersebut tidak mudah masuk dalam jaring. Meskipun begitu, pengontrolan tetap harus dilakukan.

Lihat Lebih Detil Hama Penyakit Ikan Lele

Pemanenan Benih Ikan Lele

Pada umur 2-3 minggu benih ikan lele siap dipanen. Sebelum melakukan pemanenan perlu dipersiapkan beberapa peralatan panen terlebih dahulu, sehingga pada saat benih ikan lele sedang dipanen tidak ada kendala yang diakibatkan peralatan belum siap. Beberapa peralatan yang harus dipersiapkan adalah :
  • Seser, yaitu alat tangkap yang digunakan untuk mengambil dan menangkap benih ikan lele dari jaring atau kolam.
  • Ember atau wadah penampung, yaitu tempat yang disediakan untuk menampung benih ikan lele setelah ditangkap menggunakan seser.
  • Ember seleksi, yaitu alat yang digunakan untuk melakukan seleksi benih. Biasanya ember ini diberi lubang-lubang yang besarnya sesuai dengan sasaran benih yang dikehendaki.
  • Jaring penampung, yaitu jaring yang disediakan untuk menampung benih setelah dilakukan penangkapan seleksi
  • Plastik, yaitu wadah yang digunakan untuk menampung benih ikan lele jika benih tersebut akan dipindahkan ke tempat pemeliharaan lain yang jarak tempuhnya jauh.
  • Oksigen, yaitu gas yang digunakan untuk membantu pernafasan benih ikan lele saat ikan lele diangkut menuju tampat pemeliharan lain yang jarak tempuhnya jauh.
Pemanenan pada karamba jaring cukup dilakukan dengan mengangkat beberapa ujung jaring. Setelah benih ikan lele berkumpul pada sisi jaring yang tidak diangkat, maka benih bisa langsung dipanen. Pemanenan atau pengangkatan benih ikan lele dilakukan dengan hati-hati menggunakan seser atau alat tangkap berbentuk jaring, dengan ukuran yang tidak terlalu besar atau sesuai kebutuhan.

Langkah selanjutnya adalah melakukan sortasi benih. Benih dalam wadah penampung dimasukkan ke dalam ember sortasi yang diletakkan pada jaring penampung. Benih yang berukuran lebih kecil dari lubang-lubang yang dibuat pada ember sortasi akan keluar dengan sendirinya dari ember tersebut. Sedangkan benih yang tidak keluar dari ember sortasi adalah benih yang berukuran sesuai dengan kriteria seleksi pembudidaya. Benih tersebut ditempatkan secara terpisah, yaitu dengan cara membagi dua jaring penampung yang disiapkan dengan mengankat bagian tengah jaring tersebut menggunakan bambu, kayu, atau benda lain yang bisa digunakan untuk penopang. Pemisahan bisa juga dilakukan dengan mempersiapkan dua jaring penampung.

Ukuran benih ikan lele rata-rata yang dihasilkan telah mencapai 3-5cm dengan tingkat kematian atau tingkat kehilangan kurang lebih sebesar 10-20% dari jumlah penebaran awal. Benih dapat dipelihara ke kolam pendederan tahap kedua atau langsung dijual kepada petani pembudidaya lain. Dengan kata lain, perolehan hasil dari budidaya ikan lele pendederan dalam jaring ini berkisar 80-90%.

Budidaya Ikan Lele Pendederan Di Kolam

Budidaya ikan lele pendederan tahap pertama ini juga bisa dilakukan di dalam kolam. Kolam yang digunakan untuk pemeliharaan benih ikan lele bisa berupa kolam tanah, kolam tembok, maupun kolam tanah dengan dinding tembok. Namun untuk mencapai hasil yang optimal dalam kegiatan agribisnis budidaya ikan lele, ada baiknya untuk mengikuti beberapa prosedur pembuatan kolam yang tepat.

Lihat Lebih Detil Cara Pembuatan Kolam Ikan

Persiapan Budidaya Ikan Lele Pendederan Di Kolam

Sebelum benih ditebarkan, dilakukan persiapan terlebih dahulu sebagai berikut.
  • Lakukan pengeringan kolam. Pengeringan kolam ini bertujuan untuk memudahkan pengolahan dan perbaikan kolam serta membunuh bibit-bibit penyakit dan menetralkan gas-gas beracun yang ada di dasar kolam.
  • Pemberian pupuk dan pengapuran kolam. Untuk menumbuhkan pakan alami yang berupa plankton, kolam diberi pupuk menggunakan pupuk kandang, seperti kotoran ayam sebanyak 200-300 gram/m², TSP dan urea masing-masing sebanyak 10 gram/m² dan kapur pertanian atau dolomit sebanyak 25-30 gram/m² atau disesuaikan dengan derajat keasaman (pH) tanah. Tujuan pemupukan dan pengapuran selain untuk menaikkan tingkat keasaman tanah (pH), juga dapat mengurangi pertumbuhan bibit-bibit penyakit. Tebar pupuk dan kapur pertanian tersebut secara merata ke seluruh permukaan dasar kolam.
  • Pintu pemasukan air atau inlet dan pintu pembuangan perlu diberi saringan agar benih ikan lele yang dipelihara tidak kabur keluar dari kolam. Selain itu, pemasangan saringan juga bertujuan untuk menghindari masuknya hama melalui saluran air.
  • Setelah semua proses selesai, kolam perlu diisi dengan air setinggi 40-50 cm dan dbiarkan selama 7 hari untuk memberi waktu terhadap proses dekomposisi dari pupuk kandang yang diberikan. Selain itu, membiarkan kolam tergenang air juga bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami dengan sempurna.

Penebaran Benih Pada Budidaya Ikan Lele Pendederan Di Kolam

Penebaran benih ikan lele dilakukan pada hari kedelapan setelah pemberian pupuk kandang dan pengapuran atau saat pakan alami telah tersedia. Benih ikan lele yang ditebar ke dalam kolam pemeliharaan adalah benih yang berukuran 1-3 cm dengan populasi atau padat penebaran 500-700 ekor/m². Penebaran harus dilakukan dengan hati-hati agar benih ikan lele tidak mengalami stres. Jika benih yang akan ditebarkan berasal dari tempat yang jauh, sebelum ditebarkan benih ikan lele harus diberi waktu untuk proses adaptasi terlebih dahulu sebagaimana yang dilakukan pada budidaya ikan lele dalam karamba jaring.

Pemeliharaan Benih Pada Budidaya Ikan Lele Pendederan Di Kolam

Kegiatan pemeliharaan pada budidaya ikan lele pendederan di kolam meliputi pemeliharaan atau pengontrolan dinding kolam, menjaga kualitas air, memberikan pakan tambahan, serta pengendalian hama penyakit yang dapat merugiakan usaha agribisnis budidaya ikan lele.

Dinding kolam perlu dikontrol seminggu sekali untuk menghindari terjadinya kebocoran kolam. Pengontrolan ini bisa dilakukan dengan cara berkeliling dan mengamati dinding kolam bagian luar. Jika ada aliran air yang diperkirakan berasal dari dalam kolam, maka harus segera dilakukan perbaikan.

Pada budidaya ikan lele pendederan ini kualitas air kolam tidak cepat menurun. Akan tetapi menjaga kualitas air kolam juga tetap penting. Cara yang paling efektif untuk menjaga kualitas air kolam adalah dengan menjaga aliran air tetap stabil dengan debit air yang tidak terlalu besar. Aliran air ini dibuat dengan sistem paralon.

Untuk menopang dan mempercepat pertumbuhan, maka benih ikan lele perlu diberi pakan tambahan. Pemberian pakan tambahan berupa pellet dalam bentuk tepung. Pemberian pakan tambahan ini dilakukan tiga kali sehari, yaitu pada pagi, sore, dan malam hari. Volume pemberian pakan adalah 3-5% dari berat total benih yang dipelihara setiap harinya. Agar pakan lebih efisien dan efektif, sebaiknya pemberiannya dilakukan dengan cara membiasakan di satu atau dua tempat raja, misalnya di bagian pojok kolam.

Lihat Lebih Detil Nutrisi Dan Pakan Ikan

Lihat Lebih Detil Pakan Alternatif Ikan Lele

Pengendalian terhadap serangan hama dan penyakit yang menyerang ikan lele perlu dilakukan. Hama yang sering menyerang benih ikan lele yang dipelihara dalam kolam antara lain belut, ular, atau ikan gabus. Jika terlihat hama-hama tersebut masuk kedalam kolam maka harus ditangkap dan dibuang atau dibunuh. Tindakan pencegahan penyakit cukup dengan menjaga kualitas dan kuantitas air kolam, yakni dengan menghindari pemberian pakan yang berlebihan. Karena pakan yang berlebih akan menumpuk di dasar kolam dan bisa membusuk yang akhirnya menjadi salah satu sumber penyakit.

Lihat Lebih Detil Hama Penyakit Ikan Lele

Pemanenan Benih Ikan Lele

Benih ikan lele yang dipelihara pada budidaya ikan lele pendederan tahap pertama ini dapat dipanen setelah berumur 2-3 minggu semenjak penebaran. Untuk mengurangi tingkat stress akibat pemanenan, sebaiknya kegiatan pemanenan ini dilakukan pada pagi atau sore hari saat cuaca tidak terlalu panas. Benih yang dipanen pada saat cuaca sedang terik akan sangat bersiko mengalami kematian saat dipindahkan ke kolam pendederan tahap kedua. Hal ini tentu saja akan mengakibatkan kerugian besar dalam usaha agribisnis budidaya ikan lele.

Sebelum melakukan pemanenan perlu dipersiapkan beberapa peralatan panen terlebih dahulu, sehingga pada saat benih ikan lele sedang dipanen tidak ada kendala yang diakibatkan peralatan belum siap. Beberapa peralatan yang harus dipersiapkan adalah :
  • Seser, yaitu alat tangkap yang digunakan untuk mengambil dan menangkap benih ikan lele dari jaring atau kolam.
  • Ember atau wadah penampung, yaitu tempat yang disediakan untuk menampung benih ikan lele setelah ditangkap menggunakan seser.
  • Ember seleksi, yaitu alat yang digunakan untuk melakukan seleksi benih. Biasanya ember ini diberi lubang-lubang yang besarnya sesuai dengan sasaran benih yang dikehendaki.
  • Jaring penampung, yaitu jaring yang disediakan untuk menampung benih setelah dilakukan penangkapan seleksi
  • Plastik, yaitu wadah yang digunakan untuk menampung benih ikan lele jika benih tersebut akan dipindahkan ke tempat pemeliharaan lain yang jarak tempuhnya jauh.
  • Oksigen, yaitu gas yang digunakan untuk membantu pernafasan benih ikan lele saat ikan lele diangkut menuju tampat pemeliharan lain yang jarak tempuhnya jauh.
Setelah semua peralatan siap, kegiatan pemanenan bisa dilaksanakan. Pemanenan benih ikan lele di kolam dilakukan dengan cara meyurutkan atau mengeringkan air kolam terlebih dahulu. Pengeringan dilakukan secara pelan-pelan agar benih ikan lele yang dipelihara tidak mengalami stress hingga air tersisa di kobakan atau kemalir. Setelah benih ikan lele berkumpul di kemalir, segera ditangkap menggunakan seser, dan benih ikan lele tersebut ditempatkan pada wadah penampung yang sudah dipersiapkan.

Langkah selanjutnya adalah melakukan sortasi benih. Benih dalam wadah penampung dimasukkan ke dalam ember sortasi yang diletakkan pada jaring penampung. Benih yang berukuran lebih kecil dari lubang-lubang yang dibuat pada ember sortasi akan keluar dengan sendirinya dari ember tersebut. Sedangkan benih yang tidak keluar dari ember sortasi adalah benih yang berukuran sesuai dengan kriteria seleksi pembudidaya. Benih tersebut ditempatkan secara terpisah, yaitu dengan cara membagi dua jaring penampung yang disiapkan dengan mengankat bagian tengah jaring tersebut menggunakan bambu, kayu, atau benda lain yang bisa digunakan untuk penopang. Pemisahan bisa juga dilakukan dengan mempersiapkan dua jaring penampung.

Ukuran benih ikan lele rata-rata yang dihasilkan telah mencapai 5-8cm dengan tingkat kematian atau tingkat kehilangan kurang lebih sebesar 25-30% dari jumlah penebaran awal. Benih dapat dipelihara ke kolam pendederan tahap kedua atau langsung dijual kepada petani pembudidaya lain.

BUDIDAYA IKAN LELE PENDEDERAN TAHAP KEDUA

Kegiatan budidaya ikan lele pendederan tahap kedua ini tidak berbeda jauh dengan kegiatan budidaya ikan lele pendederan tahap pertama. Perbedaannya utama kedua fase pendederan tersebut terletak pada luas lahan budidaya atau pemeliharaan dan kepadatan penebaran benih ikan lele. Pada budidaya ikan lele pendederan tahap kedua ini kepadatan penebarannya hanya 250-300 ekor/m². Waktu pemeliharaan seperti telah dibahas di muka yaitu sekitar 30 hari dengan ukuran panen benih ikan lele 8-12 cm. Selain itu, volume pemberian pakan pada tahap ini juga lebih banyak, karena ukuran dan tingkat pertumbuhan benih ikan lele juga berbeda dengan benih ikan lele pada pendederan tahap pertama.
More aboutBUDIDAYA IKAN LELE PENDEDERAN

KUTU AIR (Daphnia sp.)

Tentang Kutu Air (Daphnia sp.)

Kutu air (Daphnia sp.) merupakan krustasea kecil bagian dari zooplankton yang habitatnya di air. Kutu air (Daphnia sp.) bukan merupakan jenis serangga dan tidak hidup sebagai parasit.

Kutu air (Daphnia sp.) berukuran panjang kurang dari setengah milimeter. Pakan utamanya kutu air ini adalah berbagai fitoplankton dan juga sisa-sisa makanan hewan lainnya (detritus).

Budidaya Kutu Air

Kutu air (Daphnia sp.) banyak terdapat di alam, terutama di daerah comberan dan daerah persawahan. Biasanya kutu air (Daphnia sp.) akan tumbuh subur pada perairan yang banyak mengandung bahan organik. Di samping bisa diperoleh langsung dengan melakukan penangkapan dari alam, kutu air atau Daphnia sp. juga bisa dibudidayakan. Selain cara mendapatkan kutu air (Daphnia sp.) yang cukup repot, untuk daerah-daerah yang tidak banyak comberan dan persawahan juga akan kesulitan mendapatkan kutu air (Daphnia sp.) dari alam. Oleh karena itu, untuk mencukupi kebutuhan pakan ikan, terutama pada fase pembenihan, maka kutu air (Daphnia sp.) ini haru dibudidayakan atau dikulturkan sendiri. Cara membudidaya kutu air (Daphnia sp.) cukup mudah.

Wadah atau tempat yang dapat digunakan untuk budidaya kutu air (Daphnia sp.) bisa menggunakan bak tembok maupun fibre glass. Bak atau wadah yang sudah disiapkan harus dibersihkan terlebih dahulu, kemudian diisi dengan air bersih yang tidak mengandung kaporit. Untuk mendapatkan air bersih tersebut, bisa menggunakan air sumur. Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk kandang, akan lebih baik menggunakan kotoran ayam kampung, yang tidak tercemar bahan kimia, dengan dosis 4-5 g/liter air.

Pemupukan tersebut dilakukan dengan cara memasukkan kotoran atau pupuk kandang ke dalam karung atau bahan lain yang bisa digunakan sebagai wadah dan bisa menyerap air. Hal ini dimaksudkan agar kotoran atau material kasar tidak masuk ke dalam bak, sehingga bak budidaya kutu air akan tetap bersih. Pemupukan yang sudah berhasil ditandai dengan warna air di dalam wadah yang berubah menjadi kecokelatan seperti teh, sesaat setelah pupuk dimasukkan ke dalam wadah. Pupuk tersebut dibiarkan selama 7 hari agar terjadi proses dekomposisi, dengan tujuan untuk mengurangai gas-gas beracun yang timbul akibat proses dekomposisi pupuk tersebut. Setelah itu, pada hari kedelapan inokulasi atau penebaran bibit-bibit kutu air (Daphnia sp.) sudah bisa dilakukan. Bibit kutu air (Daphnia sp.) bisa didapat dengan melakukan penangkapan dari alam, yaitu ditempat comberan atau di daerah persawahan. Bibit kutu air (Daphnia sp.) yang sudah diinokulasi akan tumbuh dengan cepat dan bisa dipanen menggunakan scopnet halus bermata jaring 1,5-2mm. Bibit-bibit kutu air (Daphnia sp.) tersebut sudah bisa diberikan pada benih atau larva ikan lele.

Untuk menjaga agar stok kutu air (Daphnia sp.) selalu tersedia, maka harus dilakukan pemupukan ulang sebanyak ½ dosis pemupukan pertama dengan interval pemberian pupuk selama 7-8 hari sekali. Jika bak atau tempat budidaya kutu air (Daphnia sp.) sudah penuh dengan pupuk, maka sebelum melakukan pemupukan ulan harus dikeluarkan terlebih dahulu pupuk yang sudah diberikan sebelumnya. Dengan demikian, pasokan kutu air (Daphnia sp.) akan tetap tersedia untuk mendukung budidaya perikanan.
More aboutKUTU AIR (Daphnia sp.)