Tampilkan postingan dengan label KOMODITAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KOMODITAS. Tampilkan semua postingan

KOPI Coffea sp.

Kopi merupakan komoditas yang sering dimanfaatkan sebagai minuman penghangat atau penambah stamina. Sebagai komoditas rakyat yang sudah cukup lama dibudidayakan, kopi mampu menjadi menjadi sumber nafkah bagi petani kopi Indonesia. Selain itu, kopi juga memegang peranan penting sebagai sumber devisa negara. Hal ini tidak terlepas dari peranan kopi sebagai komoditas andalan ekspor bagi Indonesia. Akan tetapi komoditas ini sering sekali mengalami fluktuasi harga sebagai akibat dari ketidak seimbangan antara permintaan dan penawaran kopi dunia.

Keberhasilan agribisnis kopi sangat membutuhkan dukungan dan peran aktif semua pihak, baik pemerintah maupun swasta sebagai pelaku agribisnis. Peran para pelaku agribisnis kopi sangat menentukan kualitas dan kuantitas kopi, mulai dari proses produksi, pengolahan, hingga pemasaran. Dengan begitu, komoditas kopi Indonesia memiliki daya saing yang tinggi di pasaran Internasional.

Beberapa komponen teknologi yang mampu mendukung perkembangan agribisnis kopi diantaranya adalah:
  1. Teknologi budidaya tanaman kopi yang meliputi pemilihan bibit kopi unggul, pemeliharaan tanaman kopi, pemangkasan tanaman kopi, pemupukan berimbang, penanganan hama penyakit tanaman kopi.
  2. Teknologi pengolahan kopi yang meliputi seluruh kegiatan pasca panen hingga packing
  3. Pembentukan jaringan pemasaran

Sejarah Kopi

Ada beberapa spesies kopi yang sudah dikenal dan beredar di pasaran, yaitu kopi arabika, kopi robusta, kopi liberika, dan kopi ekselsa. Dari beberapa varietas tersebut, kopi arabika menduduki peringkat pertama yang menguasai pasar dunia, kurang lebih 70% dari konsumsi kopi dunia. Kemudian disusul oleh kopi robusta yang mencapai 26% dari tingkat konsumsi kopi dunia.

Kopi arabika merupakan spesies kopi yang berasal dari daerah Afrika, yaitu tepatnya di pegunungan Etiopia yang kemudian kopi tersebut dikembangkan di daerah Yaman. Melalui pedagang Arab, kopi arabika disebarkan ke beberapa negara. Masyarakat di Arab merasakan bahwa minuman yang yang berasal dari biji kopi tersebut dapat menambah energi, yang kemudian minuman ini mereka sebut sebagai qahwa yang berarti pencegah rasa ngantuk. Oleh karena itu, kopi sering menjadi minuman para sultan sebagai pencegah rasa ngantuk. Kata qahwa (qahwain) merupakan kata yang berasal dari bahasa Turki, yaitu kahven. Beberapa negara memberikan istilah yang berbeda-beda untuk menyebut kopi. Di Jerman kopi disebut dengan istilah kaffe, di Perancis disebut dengan cafe, di Inggris disebut dengan coffe, di Belanda disebut dengan koffie, yang kemudian di Indonesia mengadopsi istilah Belanda tersebut menjadi kopi. Pada abad ke 16, kopi arabika mulai diperkenalkan di Indonesia oleh Belanda yang membuka perkebunan tanaman komersial, salah satunya adalah kopi yang didatangkan dari Yaman.

Morfologi Kopi

Dilihat dari fisik pertumbuhannya, spesies kopi memiliki ciri yang berbeda-beda. Spesies kopi arabika karakter pertumbuhan tanaman yang rimbun dan membentuk pohon perdu kecil. Adapun tanaman kopi ekselsa memiliki pertumbuhan pohon yang besar dan kuat. Secara umum, tanaman kopi memiliki dua tipe pertumbuhan cabang, yaitu ortotrop dan plagiotrop. Tipe ortotrop merupakan pertumbuhan cabang ke arah atas atau vertikal, sedangka tipe plagiotrop merupakan pertumbuhan cabang ke arah samping atau horisontal. Kopi arabika memiliki percabangan yang lebih lentur dan berdaun lebih tipis jika dibandingkan dengan spesies lain yang memiliki percabangan kuat dan berdaun lebih tebal dan lebar.

Daun tanaman kopi berbentuk lonjong, tulang daun berbentuk menyirip dan nampak tegas, berwarna hijau gelap dan mengkilap dengan daun muda berwana hijau lebih muda. Daun tumbuh berpasangan dan berlawanan arah.

Bunga tumbuh di ketiak daun, berwarna putih, dan memiliki aroma yang wangi. Secara umum tanaman kopi akan berbuah setelah berumur tiga tahun dari saat berkecambah. Buah kopi tersusun atas kulit buah (epicarp), daging buah (mesocarp), dan kulit tanduk (endocarp). Biji kopi mempunyai alur pada bagian datarnya, berada dalam buah kopi dan terbungkus oleh kulit tanduk. Setiap buah memiliki dua biji kopi.

Tanaman kopi memiliki perakaran yang tidak begitu dalam, bahkan 90% perakarannya berada pada lapisan tanah atas atau top soil, kurang lebih berada pada lapisan di atas 30 cm.

Taksonomi Kopi

Tanaman kopi termasuk dalam genus Coffea dengan famili Rubiaceae. Genus Coffea mencakup hampir 70 spesies, tetapi hanya ada dua spesies yang ditanam dalam skala luas di seluruh dunia, yaitu kopi arabika (Coffea arabica) dan kopi robusta (Coffea canephora var. robusta). Sementara itu, sekitar 2% dari total produksi dunia dari dua spesies kopi lainnya, yaitu kopi liberika (Coffea liberica) dan kopi ekselsa (Coffea excelsa) yang ditanam dalam skala terbatas, terutama di Afrika Barat dan Asia.
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpennbuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Tumbuhan penghasil biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (Tumbuhan berkeping dua/dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Rubiales
Famili: Rubiaceae (suku kopi-kopian)
Genus: Coffea
Spesies: Coffea sp. [Coffea arabica L. (kopi arabika), Coffea canephora var. robusta (kopi robusta), Coffea liberica (kopi liberika), Coffea excelsa (kopi excelsa)]

Jenis-jenis Kopi

Ada empat jenis kopi yang dikenal, yaitu kopi arabika, kopi robusta, kopi liberika, dan kopi ekselsa. Dari keempat jenis kopi tersebut, kopi arabika dan kopi robusta paling banyak dikenal dan memasok kurang lebih 96% pasokan kapi dunia. Hal tersebut disebabkan kopi arabika dan kopi robusta yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kopi leberika dan ekselsa. Keunggulan kopi arabaika adalah kualitas cita rasa yang tinggi dan kandungan kafein yang rendah dibandingkan dengan kopi robusta, sehingga hara kopi arabika lebih mahal. Tetapi area pertanaman kopi arabika terbatas pada ketinggian di atas 1.000 mdpl karena kopi jenis ini sangat rentan terserang penyakit karat daun kopi. Sedangkan kopi robusta memiliki keunggulan lebih tahan terhadap penyakit tersebut, sehingga luas pertanaman kopi jenis ini di Indonesia jauh lebih besar. Kopi liberika dan kopi ekselsa kurang memiliki nilai ekonomis dan komersial karena kualitas biji kopinya yang terlalu bervariasi dan cita rasa yang kurang disukai. Akan tetapi jenis kopi tersebut memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap kondisi yang kurang mendukung untuk budidaya kopi.

Perkembangan Kopi di Indonesia

Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor Indonesia. Penanaman kopi di Indonesia dimulai pada tahun 1696 yang pada waktu itu dikembangkan jenis kopi arabika oleh pemerintah Hindia Belanda. Akan tetapi penanaman kopi tersebut belum berhasil, sehingga pada tahun 1699 pemerintah Hindia Belanda kembali mendatangkan jenis kopi arabika. Pada periode ini kopi arabika berkembang cukup baik terutama di wilayah pulau Jawa, sehingga kopi ini lebih dikenal dengan istilah kopi jawa atau java coffe. Kopi jawa memiliki kualitas buah biji kopi yang sangat baik dan menjadi komoditas ekspor unggulan semejak lebih dari 100 tahun yang lampau.

Berkembangnya areal pertanaman kopi juga diikuti dengan merebaknya infeksi cendawan Hemileia vastatrix B et Br. yang menyebabkan penyakit karat daun kopi. Serangan cendawan Hemileia vastatrix B et Br. ini menyebabkan kerusakan pada daun dan pada serangan parah dapat mematikan tanaman. Pada tahun 1878 penyakit tersebut menyerang parah areal pertanaman kopi di Indonesia dan mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengendalikan cendawan Hemileia vastatrix B et Br. namun tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Sehingga pada tahun 1900 pemerintah Hindia Belanda mendatangkan kopi robusta untuk menggantikan kopi arabika yang rentan dengan karat daun. Semenjak saat itu terjadi perubahan orientasi penanaman dari kopi arabika ke kopi robusta. Dan hingga saat ini kopi robusta mendominasi pertanaman kopi di Indonesia.

Faktor lain yang mendorong masuknya kopi robusta ke Indonesia adalah pembelian benih robusta oleh perusahaan perkebunan "Cultuur Mij. Soember Agoeng" tahun 1900 dari I'Horticule Coloniale yang berkedudukan di Brussel. Benih-benih untuk menghasilkan bibit tersebut didatangkan dari Kongo Belgia (sekarang Zaire) yang terletak di Afrika Barat. Pada tanggal 10 September 1900 bibit-bibit kopi robusta diterima di Kebun Soember Agoeng. Perusahaan perkebunan tersebut berkantor di kota s'Gravenhage di Belanda dan mengelola perkebunan Soember Agoeng, Wringin Anom, dan Kali Bakar yang berlokasi di daerah Dampit, sekitar 40 km arah tenggara dari kota Malang.

Upaya memasukkan kopi robusta ke Indonesia juga dilakukan oleh gabungan pengusaha perkebunan di wilayah Kediri ("Kedirische Landbouw Vereniging") pada tahun 1901. Selain itu, Pemerintah Hindia Belanda pada tahun tersebut juga memasukkan kopi robusta ke Kebun Percobaan milik Pemerintah Hindia Belanda (Governement Proeftuin) di Bangelan dekat Malang untuk keperluan penelitian.

Perdagangan Kopi

Seperti komoditas pertanian lain, rantai perdagangan kopi juga sangat bervariasi. Pada dasarnya rantai perdagangan komoditas ini dipengaruhi oleh jangkauan pasar dan sarana prasarana wilayah, misalnya jalur transportasi, sarana telekomunikasi, dan lain-lain. Jika areal produksi kopi berada tidak jauh dengan pasar, maka petani atau pekebun kopi dapat langsung menjual hasil produksinya ke pasar. Atau jika areal produksi kopi berada pada jarak yang agak jauh dari pasar dan sarana transportasi ke pasar cukup mendukung, maka petani atau pekebun kopi juga bisa langsung mejual hasil produksinya ke pasar. Atau jika areal produksi kopi berada pada jarak yang lebih jauh lagi dari pasar dan sarana transportasi maupun telekomunikasi cukup mendukung, maka petani atau pekebun kopi bisa menjual langsung secara kolektif atau bersama-sama petani kopi lain ke pasar. Namun kondisi serupa juga memungkinkan untuk muncul satu mata rantai perdagangan baru, yaitu pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul akan mengumpulkan hasil produksi petani kopi dalam satu wilayah tertentu untuk dibawa ke pasar, atau pedagang pengepul, atau pedagang besar, atau langsung ke eksportir. Tentu saja hal ini sangat dipengaruhi oleh jaringan bisnis yang dibentuk oleh pedagang di tiap-tiap lini. Bisa saja seorang eksportir mengadakan kemitraan dengan petani atau pekebun kopi dan bisa langsung mengekspor hasil produksi petani setelah melalui tahapan control kualitas biji kopi.

Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan. Disamping memiliki nilai ekonomis dan komersial yang tinggi, produksi kopi secara nasional juga cukup tinggi. Hanya 40% produksi kopi nasional yang dikonsumsi dalam negeri dan 60% dari total produksi kopi nasional masuk sebagai komoditas ekspor. Beberapa negara tujuan utama ekspor kopi Indonesia adalah Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang. Konsekuensi dari bersarnya prosentase produksi kopi Indonesia yang diekspor adalah ketergantungan harga dengan kondisi pasar kopi dunia. Akan tetapi, 99% ekspor kopi Indonesia masih dalam bentuk biji kopi, sedangkan sisanya, sebesar 1%, diekspor dalam bentuk olahan (kopi bubuk). Hal ini tentu saja membutuhkan perhatian pemerintah, agar ekspor produk olahan kopi Indonesia bisa meningkat, sehingga akan memberi nilai tambah, baik dari segi finansial maupun sosial. Industri pengolahan kopi dalam skala besar tentu saja akan menambah lapangan kerja dan lapangan usaha di sektor lain.

Selain itu, peluang lebih besar lagi yang perlu mendapat perhatian semua pihak adalah kopi spesialti (specialty coffe) yang merupakan produk kopi organik. Produk kopi organik adalah kopi yang dihasilkan dari petani atau pekebun kopi yang cara budidayanya mengacu pada sistem pertanian berkelanjutan. Dengan kata lain, kopi spesialti merupakan kopi yang dihasilkan dari budidaya kopi secara organik, yaitu budiaya kopi yang tidak menggunakan input bahan kimia. Sehingga pengendalian dan penanganan organisme pengganggu tanaman juga harus mengutamakan prinsip pengendalian secara terpadu. Sebuah peluang agribisnis yang cukup besar, mengingat kopi spesialti dari Indonesia deperdagangkan dengan harga premium yang cukup tingi.
More aboutKOPI Coffea sp.

DURIAN Durio zibethinus

MENGENAL DURIAN

Buah durian sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad ke-7 M. Tanaman durian berasal dari hutan Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan yang berupa tanaman liar. Kemudian, tanaman ini mulai menyebar ke rah Barat, yaitu ke Thailand, Birma, India, dan Pakistan. Buah ini memiliki nama latin Durio zibethinus yang berasal dari kata duri dan zhibet atau civet yang berarti musang, karena memang durian dianggap memiliki bau yang menyerupai musang.

Jenis tanaman durian diperkirakan mencapai 30 jenis. Dari 30 jenis tersebut, hanya Durio zibethinus yang ditanam untuk dikonsumsi sebagai buah-buahan. Tanaman durian merupakan jenis pohon hutan basah yang memiliki tinggi mencapai 30-40 m dan garis tengah 2-2,5 m. Walaupun umumnya tidak dikenal di negara barat, durian adalah sebuah komoditas berharga di Asia Tenggara yang memberikan pengaruh pada kultur dan sejarah dunia. Durian merupakan jenis buah yang cukup lama ada di dunia. Di Malaysia, nilai ekspor durian tercatat di atas 40%. Sementara di Indonesia, panen beras pernah gagal hanya karena waktu tanamnya bersamaan dengan panen durian.

Oleh karena durian merupakan buah asli nusantara, sehingga keragaman genetik buah durian di Indonesia sangat besar. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi durian unggul paling tinggi di dunia. Hingga tahun 2009 telah ditetapkan sebanyak 71 buah durian dengan varietas unggul. Jumlah ini terbilang sangat tinggi, jika dibandingkan dengan Thailand yang hanya memiliki 4 varietas unggul, yaitu monthong, kra dum thong, chanee, dan puang manee.

Asal-usul Durian

Durian merupakan buah asli Indonesia, dengan pusat keanearagaman varietas di Pulau Kalimantan. Kata durian diambil dari bentuk kulit buahnya yang berduri. Pada awalnya, durian merupakan tanaman liar di hutan. Namun, karena rasa buah ini cukup banyak digemari oleh masyarakat, sehingga tanaman durian berkembang menjadi tanaman pekarangan dan tanaman sela di tegalan. Seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan konsmen, saat ini duriaan mulai dikebunkan dan menjadi tanaman budidaya. Di Thailand durian berkembang pesat menjadi tanaman budidaya komersial. Hal ini disebabkan karena durian memiliki pangsa pasar yang cukup luas. Bahkan Thailand adalah negara yang paling dikenal sebagai pengekspor durian. Negara ini telah berhasil mengembangkan kultivar durian bermutu tinggi dengan sistem budi daya yang baik. Selain Thailand, beberapa negara pengekspor durian antara lain adalah Mindanao (Filipina), Queensland (Australia), Kamboja, Laos, Vietnam, India, dan Sri Lanka.

Di Indonesia, durian mulai dikembangkan secara intensif menjadi tanaman budidaya. Pangsa pasar yang cukup luas dan nilai ekonomis yang tinggi menjadikan tanaman ini sebagai pilihan komoditas bagi para petani. Persepsi masyarakat yang cukup tinggi terhadap buah durian menjadikan harga buah ini terbilang cukup mahal dan menjadi buah yang cukup mewah. Perdagangan durian di pasar modern selama ini masih dipenuhi oleh durian monthong dari Thailand. Hal ini disebabkan oleh mutu buah yang lebih sesuai dengan selera pembeli, konsistensi mutu, dan sistem pasokan yang lebih baik.

Sentra Penanaman Durian di Indonesia

Indonesia memiliki wilayah andalan sentra produksi durian. Wilayah tersebut adalah Nangroe Aceh Darusalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Upaya peningkatan produksi durian di dalam negeri sebenarnya masih bisa dilakukan melalui perbaikan sistem produksi sehingga jumlah pasokan durian dengan mutu baik dapat ditingkatkan. Indonesia memiliki potensi produsen durian yang bagus mengingat varietas durian dan agroklimat yang beragam sehingga durian dapat dihasilkan sepanjang tahun.

Standar Mutu Buah Durian

Dengan diberlakukannya pasar global, persaingan di pasar buah makin ketat. Oleh karenanya, pembudidaya durian perlu meningkatkan mutu buah sehingga memiliki daya saing di pasar. Peningkatan mutu huah juga akan memberikan keuntungan yang berkelanjutan karena produksi dilakukan secara efisien. Buah durian yang bermutu tinggi akan diterima dengan baik oleh pasar dan konsumen sehingga akan layak mendapatkan harga jual yang tinggi.

Mutu merupakan gabungan dari sifat-sifat yang memberikan nilai pada durian. Mutu tidak hanya diperuntukkan pada produk, tetapi termasuk juga pelayanan, seperti kesesuaian isi kemasan dengan label dan ketepatan waktu pengiriman. Mutu merupakan suatu konsep dinamis yang mampu memuaskan konsumen, terdiri dari unsur spesifik mengenai penampilan tertentu suatu produk sesuai dengan persepsi konsumen.

Setiap pasar memiliki tuntutan terhadap mutu buah durian yang berbeda-beda. Hal ini akan berpengaruh terhadap pembentukan standar mutu durian yang diproduksi. Oleh karenanya, terdapat standar mutu minimal durian yang semestinya dipenuhi oleh setiap pembudidaya durian. Standar mutu tersebut sebagai berikut :
  • Ukuran buah sedang dengan bobot 1,6-2,5 kg/buah.
  • Daging buah berwarna kuning muda hingga kuning tua/tembaga.
  • Rasa daging buah manis legit/manis legit sedikit pahit.
  • Tekstur daging buah pulen (lembut dan kering).
  • Porsi edibel/jumlah daging minimal 30% dengan ketebalan daging buah minimal 10 mm.
  • Biji kempes/kecil dengan berat maksimal 15 g/biji.
  • Buah bisa dipetik di pohon (± 5 hari sebelum jatuh) (rasa = durian jatuh).
  • Buah tahan disimpan minimal 7 hari setelah jatuh.
Dengan masuknya durian impor, terbentuk konsumen baru yang menuntut kriteria lain pada standar mutu durian. Standar mutu yang diinginkan untuk durian impor adalah daging buah tebal, biji kempes, daging buah tidak lengket di tangan, aroma yang tidak kuat,warna daging buah yang lebih merah, dan buah dapat diperam tanpa mengurangi kualitas (durian buah klimakterik). Tuntutan konsumen baru tersebut cenderung dipenuhi oleh durian monthong sehingga upaya pemuliaan buah durian di Indonesia perlu ditingkatkan lagi.

ASEAN dan Indonesia juga memiliki standar mutu buah durian yang sedikit berbeda. Standar mutu tersebut sebagai berikut:
  • Penampilan luar tampak segar, bebas dari kotoran dan benda asing, serta tidak ada bagian yang busuk.
  • Bebas dari kerusakan yang tampak walaupun tidak berpengaruh pada isi buah.
  • Bebas dari serangan hama dan penyakit serta kerusakan yang mempengaruhi penampilan buah.
  • Bebas dari kerusakan yang disebabkan oleh suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi.
  • Bebas dari bau dan rasa selain durian.
  • Pada saat matang, tidak boleh ada bagian daging buah yang mengeras, ujungnya menghitam, serta bebas dari daging berair (water core). Apabila hal tersebut terjadi, kerusakan tidak boleh lebih dari 5% dari daging buahnya.

Klasifikasi ilmiah buah durian

Kingdom : Plantae - Plants
Subkingdom : Tracheobionta - Vascular plants
Superdivision : Sperrnatophyta - Seed plants
Division (phylum) : Magnoliophyta - Flowering plants
Kelas : Magnoliopsida - Dicotyledons
Subkelas : Dilleniidae
Order : Malvales
Keluarga : Bombacaceae - Kapok-tree family
Genus : Durio Adanson - durio
Spesies : Durio zibethinus Murray – durian

Morfologi Tanaman

Tanaman durian merupakan jenis pohon tahunan, hijau abadi (pengguguran daun tidak tergantung musim); tetapi ada saat tertentu untuk menumbuhkan daun-daun baru (periode flushing atau peronaan) yang terjadi setelah masa berbuah selesai. Ketinggian tanaman dapat mencapai 25-50 m, tergantung spesiesnya. Pohon durian sering memiliki banir (akar papan). Pepagan (kulit batang) berwarna cokelat kemerahan, mengelupas tak beraturan. Tajuknya rindang dan renggang.

Daun Durian

Daun durian berbentuk jorong hingga lanset dengan panjang 10-15 (-17) cm dan lebar 3-4,5 (-12,5) cm. Daun umumnya terletak berseling; bertangkai; berpangkal lancip atau tumpul dan berujung lancip melandai. Sisi bagian atas berwarna hijau terang, sedangkan nisi bawah tertutup sisik-sisik berwarna perak atau keemasan dengan bulu-bulu bintang.

Bunga Durian

Bunga durian muncul langsung dari batang (cauliflorous) atau cabang-cabang yang tua di bagian pangkal (proximal) secara berkelompok. Bunga-bunga tersebut berkelompok dalam karangan berisi 3-10 kuntum berbentuk tukal atau malai rata. Kuncup bunganya membulat, diameternya sekitar 2 cm, dan bertangkai panjang. Kelopak bunga berbentuk tabung sepanjang kurang lebih 3 cm. Daun kelopak tambahan terpecah menjadi 2-3 cuping, berbentuk bundar telur. Mahkota berbentuk sudip, panjangnya kira-kira 2 kali panjang kelopak, berjumlah 5 helai, dan berwarna keputih-putihan. Benang sarinya banyak, terbagi ke dalam 5 berkas. Sementara kepala putiknya membentuk bongkol dengan tangkai yang berbulu. Bunga muncul dari kuncup dorman, umumnya mekar pada sore hari dan bertahan hingga beberapa hari. Sementara pada siang hari, bunga menutup. Bunga durian menyebarkan aroma wangi yang berasal dari kelenjar nektar di bagian pangkalnya untuk menarik perhatian kelelawar sebagai penyerbuk utamanya. Kajian di Malaysia pada tahun 1970-an menunjukkan bahwa penyerbuk durian adalah kelelawar Eonycteris spelaea. Penelitian tahun 1996 lebih jauh menunjukkan bahwa hewan lain, seperti burung madu Nectariniidae dan lebah turut serta dalam penyerbukan tiga kerabat durian lainnya.

Buah Durian

Buah durian bertipe kapsul berbentuk bulat, bulat telur, hingga lonjong dengan panjang hingga 25 cm dan diameter hingga 20 cm. Kulit buahnya tebal serta berwarna hijau kekuning-kuningan, kecokelatan, hingga keabu-abuan. Permukaan kulit durian bersudut tajam ("berduri") walaupun duri ini bukan duri dalam pengertian botani. Oleh karena itu, buah ini disebut"durian”. Buah akan berkembang setelah pembuahan dan memerlukan 4-6 bulan untuk pemasakan. Pada masa pemasakan, terjadi persaingan antarbuah pada satu kelompok sehingga hanya satu atau beberapa buah yang akan mencapai kemasakan, sedangkan sisanya gugur. Buah akan jatuh sendiri apabila masak. Pada umumnya berat buah durian dapat mencapai 1,5-5 kg. Setiap buah memiliki lima ruang ("kamar") yang menunjukkan jumlah daun buah yang dimiliki. Masing-masing ruangan terisi oleh beberapa biji, biasanya tiga butir atau lebih. Biji tersebut berbentuk lonjong dengan panjang kira-kira 4 cm. Warnanya merah muda kecokelatan dan tampak mengilap. Biji terbungkus oleh arilus (salut biji, daging buah) berwarna putih hingga kuning terang dengan ketebalan yang bervariasi. Pada kultivar unggul, ketebalan arilus ini dapat mencapai 3 cm. Biji dengan salut biji dalam perdagangan disebut pongge.

Manfaat Durian

Durian memang memberikan banyak manfaat. Selain daging buahnya yang enak untuk dinikmati, tanaman, kulit, dan biji durian juga ternyata memberikan nilai manfaat.

Manfaat Tanaman Durian

Durian merupakan buah yang tanamannya berupa pohon. Oleh karenanya, tanaman ini bisa digunakan sebagai pencegah erosi di lahan-lahan yang miring. Selain itu, batangnya juga kerap digunakan sebagai bahan bangunan/perkakas rumah tangga. Kualitas kayu durian setaraf dengan kayu sengon sebab kayunya cenderung lurus.

Manfaat Daging Buah Durian

Bagian utama yang dimanfaatkan dari durian adalah daging buahnya. Umumnya, daging buah durian berwarna kuning atau putih kekuningan. Daging buah ini menyelimuti atau melindungi biji. Setiap ruang terisi oleh beberapa biji, biasanya berjumlah tiga. Ketebalan daging buah biasanya beragam, tergantung varietas, tetapi pada kultivar unggul dapat mencapai 3 cm. Rasa dan aroma daging buah sangat dipengaruhi oleh kandungan gula, alkohol, dan asam amino aromatik lainnya. Selain rasanya yang lezat dan legit untuk dimakan, ternyata durian juga memiliki khasiat untuk meremajakan kulit. Buah beraroma kuat ini dapat mencegah dampak dari penuaan. Dengan dicampur bahan lainnya, durian mampu mengatasi tanda penuaan di area kelopak mata seperti kerutan (crow's feet), garis halus, kendur, serta lingkar hitam. Formula berbahan dasar durian juga sangat baik untuk memperbaiki tekstur kulit, mengatasi sel kulit mati, merangsang regenerasi kulit, serta meningkatkan fungsi kolage untuk kekencangan kulit. Durian merupakan jenis buah yang kaya akan fitonutrient, yaitu omega 3 dan omega 6, fitosterol, polifenols, komponen organosulfur unik, protein, dan triptofan. Sebagai buah asli nusantara, durian juga dikenal sebagai obat berbagai penyakit, antara lain obat antimalaria (dengan meminum perasan kulit buahnya), obat cacing, obat kuning (dengan berendam pada godogan daun durian), serta antidiabetes (diduga dapat meningkatkan kandungan insulin dalam darah). Khaisat yang paling menarik adalah sebagai afrodisiak. Durian diakui memiliki zat afrodisiak yang tinggi, yaitu rumphius 1,741; baillon 1.875; ridley 1.902; dan popham 1.979. Karena itulah, terdapat ungkapan "when the durians come down, the sarongs come on atau when the durian fall, the sarong also fall".

Manfaat Biji Dan Kulit Durian

Umumnya, biji durian dinikmati sebagai makanan kecil. Cara memasaknya umumnya dengan direbus atau dibakar. Oleh karena kandungan patinya cukup tinggi, biji durian berpotensi sebagai alternatif pengganti makanan. Pengolahannya dengan dibuat bubur dan biasanya dicampur dengan daging buahnya. Kulit buah bisa dikeringkan dan digunakan sebagai bahan bakar, terutama untuk mengasapi ikan. Selain itu, kulit durian juga dipakai sebagai bahan abu gosok yang bagus. Caranya dengan menjemurnya hingga kering dan membakarnya sampai hancur. Kulit durian juga bisa digunakan untuk menghilangkan bau buah durian yang menyengat. Caranya, berikan air di bagian dalam kulit durian yang bentuknya cekung. Kemudian, air tersebut digunakan untuk cuci tangan sehabis makan durian. Zat-zat dalam kulit durian akan bercampur dengan air yang kemudian akan menetralkan bau durian.
More aboutDURIAN Durio zibethinus

CABE (Capsicum annum)

MENGENAL TANAMAN, KANDUNGAN DAN MANFAAT, BUDIDAYA, HAMA PENYAKIT TANAMAN, ANALISA USAHATANI



cabe

TANAMAN cabe

Tanaman cabe pada dasarnya terbagi atas dua golongan utama, yaitu cabe besar (Capsicum annum L.) dan cabe rawit (Capsicum frutescens L.) cabe besar terbagi menjadi dua golongan, yaitu cabe pedas (hot pepper) dan cabe paprika (sweet pepper). Pada artikel ini yang akan diulas adalah cabe besar pedas (Capsicum annum var. longum L.)

Asal Usul dan Perkembangan Tanaman cabe

Tanaman cabe (hot pepper) berasal dari daratan Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Tanaman cabe tumbuh kira-kira sejak 2500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat yang pertama kali memanfaatkan dan mengembangkan cabe adalah orang Inca di Amerika Selatan, orang Maya di Amerika Tengah, dan orang Aztek di Meksiko. Mereka memanfaatkannya sebagai bumbu masakan. Christopher Colombus yang mendarat di pantai San Salvador pada tanggal 12 Oktober 1492 menemukan penduduk setempat banyak yang menggunakan buah merah menyala berasa pedas sebagai bumbu masakan. Kemudian Columbus membawa cabe dari benua Amerika ke Spanyol untuk dipersembahkan kepada Ratu Isabella sebagai hasil temuannya di benua Amerika. Pada tahun 1500-an, bangsa Portugis mulai memperdagangkan cabe ke Makao dan Goa, kemudian masuk ke India, Cina, dan Thailand. Sekitar tahun 1513 kerajaan Turki menduduki wilayah Portugis di Hormuz, teluk Persia. Saat Turki menduduki Hongaria, cabe pun dibudidayakan di Hongaria.

Hingga sekarang belum ada data yang pasti mengenai kapan cabe dibawa masuk ke Indonesia. Menurut dugaan kemungkinan cabe dibawa oleh saudagar-saudagar dari Persia ketika singgah di Aceh. Sumber lain menyebutkan bahwa cabe masuk ke Indonesia dibawa oleh bangsa Portugis.

Morfologi Tanaman cabe

Tanaman cabe termasuk tanaman semusim (annual) yang berbentuk perdu, tumbuh tegak dengan batang berkayu dan bercabang banyak. Tinggi tanaman dewasa antara 65 – 170 cm dan lebar tajuk 50 – 100 cm.

Dalam dunia tumbuh-tumbuhan (Plantarum),tanaman cabe tergolong dalam tumbuhan yang menghasilkan biji (Spermatophyta). Biji cabe tertutup oleh kulit buah sehingga termasuk dalam golongan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae). Lembaga pada biji cabe terbagi dalam dua daun lembaga, sehingga dimasukkan dalam kelas tumbuhan berbiji belah (Dicotyledoneae). Hiasan bunganya termasuk lengkap, yaitu terdiri atas kelopak dan mahkota, dengan daun-daun mahkota yang berlekatan menjadi satu, sehingga dimasukkan dalam sub-kelas Sympetalae. cabe termasuk dalam keluarga terung-terungan (Solanaceae).

Klasifikasi Tanaman cabe

Kingdom  : Plantae
Divisi       : Spermatophyta
Subdivisi  : Angiospermae
Kelas       : Dicotyledoneae
Subkelas  : Sympetalae
Ordo        : Tubiflorae (Solanales)
Famili      : Solanaceae
Genus      : Capsicum
Spesies    : Capsicum annum L.

Anatomi Tanaman cabe

Akar Tanaman cabe

Perakaran tanaman cabe merupakan akar tunggang yang terdiri atas akar utama (primer) dan akar laterl (sekunder). Dari akar lateral keluar serabut-serabut akar (akar tersier). Panjang akar primer berkisar 35 – 50 cm. Akar lateral menyebar dengan panjang berkisar 35 – 45 cm.

Batang Tanaman cabe

Batang utama tanaman cabe tegak lurus dan kokoh, tinggi sekitar 30 – 40 cm, dan diameter batang sekitar 1,5 – 3,0 cm. Batang utama berkayu dan berwarna cokelat kehijauan. Pada budidaya cabe intensif pembentukan kayu pada batang utama mulai terjadi pada umur 30 – 40 hari setelah tanam (HST). Pada setiap ketiak daun akan tumbuh tunas baru yang dimulai pada umur 10 – 15 HST. Namun pada budidaya cabe intensif, tunas-tunas baru itu haru dirempel. (Lihat artikel Budidaya cabe).

Dilihat dari pertumbuhannya, pertambahan panjang tanaman cabe diakibatkan oleh pertumbuhan kuncup secara terus-menerus. Pertumbuhan seperti ini disebut pertumbuhan simpodial. Cabang primer akan membentuk percabangan sekunder dan cabang sekunder membentuk percabangan tersier terus- menerus. Pada budidaya cabe secara intensif akan terbentuk sekitar 11 – 17 percabangan pada satu periode pembungaan.

Daun Tanaman cabe

Daun tanaman cabe berwarna hijau muda sampai gelap. Daun ditopang oleh tangkai daun. Tulang daun berbentuk menyirip. Secara keseluruhan bentuk daun tanaman cabe besar adalah lonjong dengan ujung daun meruncing.

Bunga dan Buah cabe

Seperti umumnya famili Solanaceae, bunga tanaman cabe berbentuk terompet (hyporcrateriformis). Bunga tanaman cabe tergolong bunga yang lengkap (completus) karena terdiri dari kelopak bunga (calyx), mahkota bunga (corrola), benang sari (stamen), dan putik (pistillium). Alat kelamin jantan (benang sari) dan alat kelamin betina (putik) pada tanaman cabe terletak dalam satu bunga sehingga disebut berkelamin dua (hermaphroditus). Bunga cabe tumbuh di percabangan (ketiak daun), terdiri dari 6 helai kelopak bunga berwarna hijau dan 5 helai mahkota bunga berwarna putih.

Tangkai putik berwarna putih dengan kepala putik berwarna kuning kehijauan. Dalam satu bunga terdapat satu putik dan enam benang sari. Tangkai sari berwarna putih dengan kepala sari berwarna biru keunguan. Setelah penyerbukan akan terjadi pembuahan. Pada saat pembentukan buah, mahkota bunga rontok tetapi kelopak bunga tetap menempel pada buah.
Bentuk buah bervariasi, tergantung pada varietasnya.

Kandungan dan Manfaat cabe Bagi Kesehatan Manusia

cabe merupakan salah satu komoditas pertanian yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Komoditas cabe mengandung senyawa-senyawa serta gizi yang sangat berguna bagi tubuh. Kandungan senyawa cabe meliputi : kapsaikin, flavenoid, kapsisidin, kapsikol, dan minyak esensial.

Kandungan Gizi cabe per 100 gram

Kalori : 31,0 kal
Protein : 1,0 g
Lemak : 0,3 g
Karbohidrat : 7,3 g
Kalsium : 29,0 mg
Fosfor : 24,0 mg
Serat : 0,3 g
Besi : 0,5 mg
Vitamin A : 470 SI
Vitamin B1 : 0,05 mg
Vitamin B2 : 0,03 mg
Vitamin C : 18,0 mg
Niasin : 0,2 mg
Dari berbagai sumber, diolah.

Manfaat cabe

cabe selain mengandung gizi seperti tersebut di atas, juga sangat bermanfaat bagi mahluk hidup. Bagi manusia, selain sebagai penyedap masakan, penggugah selera makan, cabe juga sangat berkhasiat bagi kesehatan. Bagi hewan, Zat kapsaikin pada cabe mampu merangsang burung ocehan untuk gemar bernyanyi (mengoceh). cabe kering dapat merangsang ayam dan itik untuk bertelur.

Sebagai penyedap masakan, cabe banyak digunakan untuk memasak berbagai jenis masakan, bahkan sebagian daerah di Indonesia, seperti Sumatera Barat (Padang) buah cabe merupakan bumbu wajib untuk setiap masakan. Umumnya selain sebagai bumbu masakan, cabe juga dikonsumsi dalam bentuk sambal serta bentuk olahan cabe, seperti cabe kering, saos cabe, pasta cabe, dll.

cabe yang dipanaskan, diambil bijinya kemudian diberi air jeruk nipis + garam, dapat menggugah selera makan. Gabungan rasa panas serta pedas yang disebabkan alkaloid kapsaikin, dihasilkan kelenjar dalam plasenta di pangkal buah cabe, membuat orang yang memakannya berkeringat dan bercucuran air mata, namun beberapa saat kemudian akan timbul rasa nyaman. Khasiat penggugah selera makan tersebut sebenarnya dirangsang oleh minyak atsiri (ditimbulkan cabe saat dikunyah), atau oleh aromanya yang terhirup hidung sebelum disantap. Kapsaikin berfungsi merangsang keluarnya air liur di mulut, juga merangsang kerja lambung sehingga pencernaan menjadi lancar.

cabe sangat bermanfaat bagi kesehatan. Disamping memperlancar sirkulasi darah ke jantung, sifatnya yang analgesik mampu mengobati kejang otot dan rematik. Kandungan utama kapsaikin berfungsi sebagai antialergi, karena mampu menumpulkan kepekaan saraf tepi. Selain itu kapsaikin juga dapat mengurangi dan mengeluarkan lendir dari paru-paru sehingga cabe dapat menyembuhkan bronkitis, influensa, sinusitis, dan asma. Kapsaikin juga berfungsi menstimulir detektor panas dalam kelenjar hipotalamus sehingga menghasilkan perasaan sejuk meskipun di udara panas. Selain itu, kapsaikin dapat menghalangi bahaya pada sel trachea, bronchial, dan bronchoconstiction yang disebabkan oleh asap rokok dan polutan lainnya. Kandungan flavonoid dan antioksidan pada cabe berfungsi melindungi tubuh dari kanker. cabe mampu memperlancar sekresi asam lambung dan mencegah infeksi sistem pencernaan karena adanya kandungan kapsisidin. Kapsikol dalam cabe dapat mengurangi pegal-pegal, sakit gigi, sesak napas, dan gatal-gatal. Oleh karena itu cabe banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri obat-obatan koyo. Kandungan kalium dan fosfor tinggi pada cabe dapat membantu pertumbuhan tulang dan sel baru.

Mengkonsumsi cabe secara teratur juga dapat menunda kerentaan tubuh. Akan tetapi bagi mereka yang sangat sensitif terhadap cabe, apabila dipaksakan dapat mengalami kejang perut dan diare. Meskipun kondisi tubuh cukup kuat menerima masakan pedas, tapi jika berlebihan dapat berakibat fatal bagi kesehatan. Konsumsilah cabe dalam jumlah terukur, sesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

BUDIDAYA cabe

TEKNIK DAN CARA MENANAM cabe

Budidaya cabe merupakan pilihan agribisnis bernilai ekonomis tinggi, untuk itu cara menanam cabe yang tepat, baik cara pengendalian hama penyakit maupun teknik budidaya cabe sangat menentukan keberhasilan budidaya. Cara menanam cabe yang saya uraikan di sini sudah disesuaikan dengan kondisi di lapangan pada saat ini. Saya rangkai sedemikian rupa sehingga cara menanam cabe cabe ini sangat praktis dan mudah diterapkan terutama bagi petani pemula.

SYARAT TUMBUH TANAMAN cabe

Tanah

Tanah tempat penanaman cabe harus gembur dengan kisaran pH 6,5 – 6,8.

Air

Tanaman cabe (cabai) memerlukan air cukup untuk menopang pertumbuhannya. Air berfungsi sebagai pelarut unsur hara, pengangkut unsur hara ke organ tanaman, pengisi cairan tanaman cabe, serta membantu proses fotosintesis dan respirasi. Tetapi pemberian air tidak boleh berlebihan.

Iklim

Angin sepoi-sepoi cocok untuk budidaya cabe. Curah hujan tinggi berpengaruh terhadap kelebihan air. Intensitas sinar matahari sangat dibutuhkan tanaman cabe (cabai), berkisar antara 10 – 12 jam per hari. Sedangkan suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman cabe 24 derajat C -28 derajat C.

PERSIAPAN TEKNIS BUDIDAYA cabe

Pemilihan Lokasi Budidaya cabe

Lokasi budidaya cabe sebaiknya dipilih yang strategis, transportasi mudah, dekat sumber air, jauh dari area penanaman cabe (cabai) lain/tanaman sefamili. Sejarah lahan sangat penting untuk diperhatikan, paling baik lahan tidak ditanami tanaman cabe selama minimal 2 tahun terakhir agar diperoleh hasil optimal.

Pengukuran pH Tanah Budidaya cabe

Pengukuran pH tanah diperlukan untuk menentukan jumlah pemberian kapur pertanian pada tanah masam atau pH rendah (di bawah 6,5). Pengukuran bisa menggunakan kertas lakmus, pH meter, atau cairan pH tester. Pengambilan titik sampel bisa dilakukan secara zigzag.

Persiapan Sarana Prasarana Budidaya cabe

  1. Pengadaan tanah untuk media semai.
  2. Pengadaan pupuk kandang, pupuk kimia, dan kapur pertanian.
  3. Pengadaan benih dan mulsa PHP (Plastik Hitam Perak).
  4. Pengadaan Pestisida.
  5. Pengadaan ajir, bambu penjepit mulsa PHP, dan tali pertanian.
  6. Pengadaan peralatan.
  7. Persiapan tenaga kerja.

PELAKSANAAN BUDIDAYA cabe

Persiapan Lahan Budidaya cabe

  1. Pembajakan dan penggaruan.
  2. Pembuatan bedengan kasar selebar 110-120 cm, tinggi 40-70 cm, lebar parit 50-70 cm.
  3. Pemberian kapur pertanian sebanyak 200 kg/rol mulsa PHP untuk tanah dengan pH di bawah 6,5.
  4. Pemberian pupuk kandang fermentasi sebanyak 40 ton/ha dan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 150 kg/rol mulsa PHP.
  5. Pengadukan/pencacakan bedengan agar pupuk yang sudah diberikan bercampur dengan tanah. Rapikan bedengan.
  6. Pemasangan mulsa PHP.
  7. Pembuatan lubang tanam.
  8. Jarak tanam ideal musim kemarau 60 cm x 60 cm dan musim penghujan bisa diperlebar 70 cm x 70 cm. Tujuannya untuk menjaga kelembaban udara di sekitar pertanaman cabe.
  9. Pemasangan ajir.

Persiapan Pembibitan dan Penanaman Budidaya cabe

  1. Rumah atau sungkup pembibitan.
  2. Pembuatan media semai. Komposisi media semai adalah 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang, dan 150 g NPK halus. Media semai dimasukkan ke dalam polibag semai.
  3. Penyemaian benih cabe (cabai).
  4. Pemeliharaan bibit. Pembukaan sungkup dimulai jam 07.00 - 09.00, kemudian sungkup dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur 5 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka penuh untuk penguatan tanaman. Penyiraman jangan terlalu basah, dilakukan setiap pagi. Penyemprotan pestisida dilakukan pada umur 15 hss (hari setelah semai). Dosis ½ dari dosis dewasa.
  5. Pindah tanam. Bibit cabe (cabai) berdaun sejati 4 helai siap pindah tanam ke lahan.

PEMELIHARAAN TANAMAN cabe

Penyulaman Budidaya cabe

Penyulaman budidaya cabe dilakukan sampai umur tanaman 3 minggu. Apabila umur tanaman cabe sudah terlalu tua dan masih terus disulam mengakibatkan pertumbuhan tanaman cabe tidak seragam. Berpengaruh terhadap pengendalian hama penyakit.

Perempelan dan Pengikatan Tanaman Budidaya cabe

Perempelan tunas samping. Perempelan tunas samping dilakukan pada tunas yang keluar di ketiak daun. Bertujuan memacu pertumbuhan vegetatif tanaman, agar tanaman cabe (cabai) tumbuh kekar, disamping itu juga menjaga kelembaban saat tanaman cabe sudah dewasa. Dilakukan sampai pembentukan cabang utama, ditandai munculnya bunga pertama.

Perempelan daun. Perempelan daun dilakukan umur 80 hst (hari setelah tanam) pada daun-daun di bawah cabang utama dan daun tua/terserang penyakit.

Sanitasi Lahan Budidaya cabe

Sanitasi lahan budidaya cabe meliputi : pengendalian gulma/rumput, pengendalian air saat musim hujan sehingga tidak muncul genangan, tanaman cabe terserang hama penyakit disingkirkan dari area penanaman.

Pengairan Budidaya cabe

Pengairan budidaya cabe diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleban seminggu sekali jika tidak turun hujan. Penggenangan jangan terlalu tinggi, batas penggenangan hanya 1/3 dari tinggi bedengan.

Pemupukan Susulan Budidaya cabe

Pupuk akar

Diberikan dengan cara pengocoran :
  • Umur 15 hst dan 30 hst, dosis 3kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman cabe (cabai) 200ml.
  • Umur 45 hst dan 60 hst, dosis 4kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman cabe (cabai) 200ml.
  • Umur 75 hst, 90 hst dan 105 hst, dosis 5kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman cabe (cabai) 200ml.

Pupuk daun

  • Kandungan Nitrogen tinggi diberikan umur 14 hst dan 21 hst.
  • Kandungan Phospat, Kalium dan Mikro tinggi diberikan umur 35 hst dan 75 hst.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN cabe

HAMA TANAMAN cabe


Hama Gangsir (Brachytrypes portentosus) - Gambar Gangsir

Hama ini menyerang tanaman cabe muda yang baru saja pindah tanam. Serangannya dilakukan pada malam hari, sedangkan pada siang harinya bersembunyi di dalam tanah. Gangsir ini membuat liang di dalam tanah sampai kedalaman 90 cm. Gangsir merusak tanaman cabe muda dengan cara memotong pangkal batang tapi tidak memakannya. Pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.

Hama Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) - Gambar Ulat Tanah

Hama jenis ini menyerang tanaman cabe muda pada malam hari, sedangkan pada siang harinya bersembunyi di dalam tanah atau di balik mulsa PHP. Ulat tanah menyerang batang tanaman cabe muda dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan juga ulat pemotong. Pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam atau pemberian umpan beracun, yaitu dedak yang diberi insektisida berbahan aktif metomil, kemudian diberikan pada lubang tanam pada sore hari. Pemberian umpan beracun cukup efektif untuk mengendalikan Agrotis ipsilon.

Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura) - Gambar Ulat Grayak

Hama ini menyerang bagian daun tanaman cabe secara bergerombol. Daun yang terserang berlubang dan meranggas. Pada serangan parah, daun tanaman cabe hanya tinggal eidermis saja. Ulat grayak disebut juga dengan nama ulat tentara. Seperti halnya jenis hama ulat lain, hama ini menyerang tanaman cabe pada malam hari, sedang siang harinya beresembunyi di balik mulsa atau di dalam tanah. Hama ini bersifat polifag. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Hama Ulat Buah (Helicoverpa sp) - Gambar Ulat Buah

Hama ulat buah pada tanaman cabe adalah Helicoverpa sp. Hama ini menyerang buah cabe muda maupun tua dengan cara membuat lubang dan memakannya. Ulat buah bersifat polifag. Pengendalian hama ulat buah dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Hama Thrips (Thrips parvispinus) - Gambar Thrips

Thrips merupakan hama utama tanaman cabe. Hama ini menyerang tanaman cabe adalah Thrips parvispinus. Serangan hama thrips ditandai dengan adanya bercak-bercak keperakan pada daun tanaman cabe. Hama ini lebih suka mengisap cairan daun muda sehingga menyebabkan daun tanaman cabe mengeriting, akhirnya tanaman menjadi kerdil. Hama thrips berkembangbiak secara partenogenesis (tak kawin) sehingga populasinya berkembang sangat cepat. Selain bersifat polifag, hama thrips juga merupakan serangga vektor penular berbagai macam virus tanaman. Pengendalian hama ini dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Hama Kutu Daun (Myzus persiceae) - Gambar Kutu Daun

Hama kutu daun pada tanaman cabe adalah Myzus persiceae. Hama ini mengisap cairan tanaman cabe terutama pada daun muda, kotorannya berasa manis sehingga menggundang semut. Serangan parah menyebabkan daun tanaman mengalami klorosis(kuning), menggulung dan mengeriting, akhirnya tanaman cabe menjadi kerdil. Pengendalian hama ini dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Hama Kutu Kebul (Bemisia tabaci) - Gambar Kutu Kebul

Hama kutu kebul pada tanaman cabe adalah Bemisia tabaci. Hama ini berwarna putih, bersayap dan tubuhnya diselimuti serbuk putih seperti lilin. Hama kutu kebul menyerang dan menghisap cairan daun tanaman sehingga sel-sel dan jaringan daun tanaman rusak. Pengendalian hama ini dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Hama Tungau (Polyphagotarsonemus lotus) dan (Tetranychus cinnabarinus) - Gambar Tungau

Hama tungau pada tanaman cabe adalah tungau kuning (Polyphagotarsonemus lotus) dan tungau merah (Tetranychus cinnabarinus). Tungau bersembunyi di balik daun dan menghisap cairan daun tanaman. Daun tanaman cabe terserang berwarna kecoklatan dan terpelintir, serta pada permukaan bawah daun terdapat benang-benang halus berwarna merah atau kuning. Pengendalian hama tungau dengan penyemprotan insektisida akarisida berbahan aktif propargit, dikofol, tetradifon, piridaben, klofentezin, amitraz, abamektin, atau fenpropatrin dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan

Hama Lalat Buah (Dacus dorsalis) - Gambar Lalat Buah

Hama lalat buah pada tanaman cabe adalah Dacus dorsalis. Lalat betina dewasa menyerang dengan cara menyuntikkan telurnya ke dalam buah cabe, kemudian telur berubah menjadi larva, telur-telur ini akhirnya menggerogoti buah cabe sehingga buah cabe menjadi busuk. Pengendalian hama ini dapat menggunakan perangkap lalat (sexpheromone), caranya : metil eugenol dimasukkan pada botol aqua yang diikatkan pada bambu dengan posisi horisontal, atau dapat pula menggunakan buah-buahan yang aromanya disukai lalat (misal nangka, timun) kemudian dicampur insektisida berbahan aktif metomil. Selain itu juga dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Hama Nematoda (Meloidogyne incognita) - Gambar Nematoda

Serangan nematoda ditandai adanya daun tanaman cabe menguning, pertumbuhan tanaman terhambat, tanaman layu, serta ujung tanaman mati. Apabila tanaman dicabut terdapat bintil-bintil pada akar tanaman cabe. Nematoda merupakan cacing tanah yang berukuran sangat kecil, hama ini adalah cacing parasit, menyerang bagian akar tanaman. Bekas gigitan nematoda berpotensi menimbulkan serangan sekunder, seperti layu bakteri, layu fusarium, busuk phytopthora atau cendawan lain penyerang akar. Cara pengendalian hama ini adalah dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.

PENYAKIT TANAMAN cabe

Penyakit Rebah semai - Gambar Rebah Semai

Penyakit ini menyerang tanaman cabe disebabkan oleh cendawan Pythium debarianum dan Rhizoctonia Solani. Penyakit rebah semai biasa menyerang tanaman cabe pada fase pembibitan dan tanaman cabe muda setelah pindah tanam. Cendawan ini tergolong patogen tular tanah. Serangan penyakit rebah semai banyak terjadi pada suhu rendah serta tanah masam. Serangan pada persemaian bisa mengakibatkan bibit tidak berkecambah atah tanaman cabe tiba-tiba rebah. Pada pangkal batang terdapat infeksi cendawan berwarna cokelat hitam kebasah-basahan. Cara pengendaliannya dengan penyemprotan fungisida sistemik berbahan aktif propamokarb hidroklorida, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf dan fungisida kontak berbahan aktif tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis ½ dari dosis terendah yang tertera pada kemasan

Penyakit Layu Bakteri (Pseudomonas sp) - Gambar Layu Bakteri

Bakteri penyebab layu pada tanaman cabe adalah Pseudomonas sp. Penyakit ini sering menggagalkan budidaya. Penyakit layu bakteri banyak ditemukan pada areal budidaya cabe dataran rendah. Tanaman cabe terserang mengalami kelayuan pada daun yang diawali dari daun-daun muda. Bila batang, cabang atau pangkal batang tanaman cabe dibelah maka akan terlihat berkas pembuluh pengangkut berwarna cokelat tua dan membusuk. Pada umumnya sulit membedakan antara layu bakteri dan layu fusarium. Cara untuk membedakan sebagai berikut, ambil air jernih, potong secara melintang bagian tanaman cabe terserang, masukkan potongan tersebut ke dalam air. Tunggu beberapa menit, bila dari potongan tersebut keluar cairan berwarna putih, menyerupai asap, dapat dipastikan tanaman cabe terserang layu bakteri. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman terserang, saluran pembuangan air harus betul-betul rapi, pastikan tidak ada air menggenang di areal pertanaman cabe, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik dengan bahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan. Sebagai pencegahan, secara biologi dapat diberikan trichoderma pada saat persiapan lahan, pada umur 25 hst, 40 hst dan 70 hst dilakukan pengocoran dengan pestisida organik pada tanah, contoh wonderfat dengan dosis sesuai anjuran pada kemasan.

Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum) - Gambar Layu Fusarium

Cendawan penyebab layu pada tanaman cabe adalah Fusarium oxysporum. Tanaman cabe terserang mengalami kelayuan dimulai pada daun-daun tua, kemudian menyebar ke daun-daun muda dan menguning. Secara umum mirip dengan penyakit layu bakteri. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman terserang, saluran pembuangan air harus betul-betul rapi, pastikan tidak ada air menggenang di areal pertanaman cabe, melakukan penggiliran tanaman, serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan. Sebagai pencegahan, secara biologi dapat diberikan trichoderma pada saat persiapan lahan, pada umur 25 hst, 40 hst dan 70 hst dilakukan pengocoran dengan pestisida organik pada tanah, contoh wonderfat dengan dosis sesuai anjuran pada kemasan.

Penyakit Busuk Phytophtora (Phytopthora infestans) - Gambar Busuk Phytophtora

Cendawan penyebab serangan pada tanaman cabe adalah Phytopthora infestans. Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman cabe. Batang tanaman cabe terserang ditandai dengan bercak coklat kehitaman dan kebasah-basahan. Serangan serius menyebabkan tanaman layu. Daun tanaman cabe terserang seperti tersiram air panas. Buah cabe terserang ditandai dengan bercak kebasah-basahan yang menjadi coklat kehitaman dan lunak. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Penyakit Busuk Kuncup (Choanephora cucurbitarum) - Gambar Busuk Kuncup

Penyakit busuk kuncup pada tanaman cabe adalah Choanephora cucurbitarum. Penyakit ini menyerang bunga, tangkai bunga, pucuk dan ranting tanaman. Ranting terserang akan berwarna coklat kehitaman, cepat menyebar sehingga mematikan ujung tanaman, sedangkan bagian lainnya masih tegar. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah metalaksil, propamokarb hidroklorida, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf, dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis sesuai petunjuk pada kemasan.

Penyakit Bercak Cercospora (Cercospora capsici) - Gambar Bercak Cercospora

Cendawan penyebabnya adalah Cercospora capsici. Penyakit ini menyerang daun, tangkai buah batang dan cabang tanaman. Gejala serangannya ditandai adanya bercak bulat kecil kebasah-basah, bercak dapat meluas dengan diameter 0,5 cm, pusat bercak berwarna pucat sampai putih dengan tepi berwarna lebih tua. Serangan parah pada daun menyebabkan daun tanaman menguning dan gugur. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis sesuai petunjuk pada kemasan.

Penyakit Bercak Bakteri (Xanthomonas campestris) - Gambar Bercak Bakteri

Penyakit ini menyerang daun, buah dan batang tanaman cabe. Penyakit bercak bakteri dikenal juga dengan sebutan Bacterial spot. Serangan pada daun tanaman cabe terdapat bercak kecil kebasah-basahan kemudian menjadi nekrotis kecoklatan pada bagian tengahnya. Serangan parah akan mengakibatkan daun tanaman cabe gugur. Serangan pada buah cabe terdapat bercak putih dikelilingi warna cokelat kehitaman. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan aplikasi fungisida berbahan aktif tembaga atau bakterisida golongan antibiotik. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

Penyakit Antraknosa (Patek) - Gambar Antraknosa

Penyakit antraknosa disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici dan Gloeosporium piperatum. Penyakit ini sering juga diistilahkan dengan nama patek. Colletotrichum capsici menginfeksi buah cabe dengan membentuk bercak cokelat hitam kemudian meluas menjadi busuk lunak. Serangan berat menyebabkan buah cabe mengering keriput. Pada bagian tengah bercak terdapat kumpulan titik-titik hitam dari koloni cendawan. Gloeosporium piperatum menyerang tanaman cabe mulai buah cabe masih hijau. Biasanya mengakibatkan mati ujung. Pada buah cabe terserang terlihat bintik-bintik kecil kehitaman dan berlekuk. Bintik-bintik ini pada bagian tepi berwarna kuning, membesar dan memanjang. Pada kondisi lembab, cendawan membentuk lingkaran memusat berwarna merah jambu. Buah cabe terserang harus dimusnahkan dari area penanaman. Pengamatan terhadap tanaman harus dilakukan setiap hari, terutama pada saat musim hujan. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

Penyakit Virus - Gambar Virus

Virus yang menyerang tanaman cabe adalah TMV, TEV, TRV, CMV, TRSV, CTV dan PVY. Virus merupakan penyakit yang sangat berpotensi menimbulkan kegagalan terutama pada musim kemarau. Gejala serangan umumnya ditandai dengan pertumbuhan tanaman yang mengerdil, daun mengeriting dan terdapat bercak kuning kebasah-basahan. Penyakit virus sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Penyakit ini ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lain melalui vektor atau penular. Beberapa hama yang sangat berpotensi menjadi penular virus diantaranya adalah thrips, kutu daun, kutu kebul, dan tungau. Manusia dapat juga berperan sebagai penular virus, baik melalui alat-alat pertanian maupun tangan terutama pada saat pemangkasan. Beberapa upaya penanganan virus antara lain : membersihkan gulma (karena gulma berpotensi menjadi inang virus), mengendalikan hama/serangga penular virus, memusnahkan tanaman yang sudah terserang, kebersihan alat dan memberi pemahaman kepada tenaga kerja agar tidak ceroboh saat melakukan penanganan terhadap tanaman.

Strategi Pengendalian Hama dan Penyakit Pada Budidaya cabe (cabai)

Pengendalian hama gangsir, ulat tanah, nematoda dilakukan secara bersamaan cukup satu kali pemberian insektisida, yaitu 1gram per lubang tanam.

Pengendalian hama ulat grayak, ulat buah, kutu daun, kutu kebul, thrips, tungau, lalat buah dan penyakit menggunakan pestisida harus dilakukan berseling atau penggantian bahan aktif yang tertera di atas setiap melakukan penyemprotan (jangan menggunakan bahan aktif yang sama secara berturut-turut).

PANEN

cabe atau cabe merah dapat dipanen pada umur 90-110 hst. Buah dipanen adalah buah 80% masak.

ANALISA USAHATANI

More aboutCABE (Capsicum annum)

JAGUNG (Zea mays)

MENGENAL TANAMAN JAGUNG, BUDIDAYA JAGUNG, HAMA PENYAKIT TANAMAN JAGUNG



MENGENAL TANAMAN JAGUNG

Jagung (Zea mays) merupakan tanaman pokok kedua setelah padi. Jagung mengandung kalori yang hampir sama dengan beras dan kaya akan protein sehingga merupakan sumber karbohidrat paling memenuhi syarat sebagai pengganti beras. Selain protein, tanaman jagung juga mengandung lemak, kalsium, fosfor, ferrum, serta vitamin A dan vitamin B1.

Klasifikasi Tanaman Jagung dan Kandungan gizi Jagung per 100 gram bahan adalah bisa dilihat pada MENGENAL TANAMAN JAGUNG

BUDIDAYA JAGUNG

Budidaya jagung yang akan diulas di situs ini adalah cara budidaya jagung menggunakan sistem Tanpa Olah Tanah (TOT). Cara menanam jagung sistem olah tanah ini bertujuan untuk memanfaatkan lahan bekas terutama bekas pertanaman padi sebagai alternatif penggiliran tanaman, disamping itu juga untuk menghemat biaya produksi terutama biaya olah tanah.
Tanaman jagung tumbuh optimal pada pH tanah 6-7 dengan suhu udara berkisar 22-26°C. Ketinggian tempat untuk pertumbuhan optimal tanaman jagung antara 200-800 mdpl, meskipun tanaman jagung masih dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di daerah berketinggian sampai 1800 mdpl. Selama pertumbuhannya, tanaman jagung membutuhkan sinar matahari penuh tanpa naungan.

Tanaman jagung membutuhkan pemberian pupuk nitrogen dalam jumlah tinggi selama berlangsungnya proses budidaya jagung karena tanaman jagung termasuk tanaman sensitif dan rakus terhadap nitrogen.

Pelaksanaan Budidaya Jagung

Pada persiapan lahan budidaya jagung perlu diperhatikan pemberian pupuk organik atau pupuk kandang yang sudah difermentasi agar selama proses pematangan pupuk kandang atau pupuk organik tersebut tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Dalam satu hektar lahan membutuhkan pupuk sebanyak 2 ton.

Pada tanah asam (tanah dengan pH rendah) diperlukan aplikasi pengapuran untuk meningkatkan pH tanah menjadi normal atau mendekati normal. Untuk lebih praktisnya, pemberian kapur mayoritas tanah di Pulau Jawa sebanyak 400 kg/Ha.

Drainase sangat perlu diperhatikan pada budidaya jagung terutama pada saat musim hujan untuk menghindari terjadinya genangan air. Pembersihan gulma dapat dilakukan secara manual dengan mencangkul atau menggunakan herbisida pra-tumbuh. Perlu diperhatikan pada saat menggunakan herbisida pratumbuh yaitu setelah penyemprotan herbisida pratumbuh biarkan lahan diberakan (tidak ditanami) selama 10 hari.

Kebutuhan benih dalam satu hektar sebanyak 6 Kg, angka ini sudah termasuk cadangan penyulaman. Untuk menghindari benih agar tidak terserang hama terutama hama semut setelah benih ditanam, diperlukan tindakan perendaman benih. Lihat Selengkapnya pada artikel BUDIDAYA JAGUNG

Jarak tanam pada budidaya jagung 40 cm x 70 cm. Untuk menghemat perawatan, pada saat membuat lubang tanam sekaligus dibuatkan lubang sebagai tempat pemupukan. Lubang pupuk berjarak 10 cm dari lubang tanam, jadi penugalan dilakukan dua titik sekaligus. Penanaman benih jagung sebanyak dua butir perlubang tanam. Sedangkan pemupukan pada lubang pemupukan yang sudah dipersiapkan dilakukan pada hari yang sama menggunakan pupuk NPK dan pupuk urea dengan perbandingan 2 NPK 15-15-15 dan 1 urea. Dosis pemupukan sebanyak 1 sendok makan per-lubang.

Pemeliharaan Tanaman Pada Budidaya Jagung

Penyulaman budidaya jagung dilakukan setelah tanaman jagung berumur 7 HST (Hari Setelah Tanam) dengan mengganti benih jagung yang terserang hama baik ulat tanah, semut maupun hama lainnya serta benih jagung yang tidak tumbuh.

Pengendalian gulma secara manual dilakukan dengan cara pencangkulan secara tipis hanya untuk memotong gulma di permukaan, kemudian tanah bekas cangkulan dibalik dan digunakan untuk menimbun batang tanaman jagung agar lebih kuat bila diterpa angin. Secara kimiawi dapat juga menggunakan herbisida pratumbuh.

Pemupukan Susulan diberikan melalui akar dengan cara membuat lubang pemupukan berjarak 15 cm dari batang, masukkan pupuk pada lubang, untuk menghindari penguapan terutama unsur nitrogen, setelah melakukan pemupukan lubang pupuk ditutup lagi menggunakan tanah. Pemupukan susulan diberikan dua kali, pemupukan pertama pada saat tanaman jagung berumur 25 HST dengan perbandingan 2 NPK 15-15-15 dan 1 urea. Berikan pupuk sebanyak 1 sendok makan per lubang tanam. Pemupukan kedua diberikan pada saat tanaman jagung berumur 50 HST menggunakan NPK 15-15-15. Dosis pemupukan 1 sendok makan per-lubang tanam.
Selain pupuk akar, untuk memacu pertumbuhan tanaman jagung, perlu juga diberikan pupuk daun. Pemberian Pupuk daun berkandungan nitrogen tinggi diberikan pada saat tanaman jagung berumur 15, 22, 29, dan 36 HST, sedangkan pupuk daun dengan kandungan phosphat dan kalium tinggi diberikan pada saat tanaman jagung berumur 40, 47, 54, dan 61 HST.

Lihat Artikel BUDIDAYA JAGUNG Untuk Informasi Lebih Detailnya

HAMA PENYAKIT TANAMAN JAGUNG

HAMA TANAMAN JAGUNG

Ulat Tanah

Hama ulat tanah yang menyeran tanaman jagung adalah (Agrotis sp.).
Pengendalian hama ini dapat dilakukan menggunakan insektisida biologi dari golongan bakteri seperti Bacilius thuringiensis atau insektisida biologi dari golongan jamur seperti Beauvaria bassiana. Secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

Belalang

Hama belalang yang menyerang tanaman jagung adalah (Locusta sp., dan Oxya chinensis).
Pengendalian secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

Kumbang Bubuk

Hama kumbang bubuk yang menyerang jagung adalah (Sitophilus zeamais Motsch).
Pengendalian hama kumbang bubuk :
a) Pengelolaan tanaman dengan baik dapat menekan terjadinya serangan.
b) Penggunaan varietas resisten/tahan serangan hama kumbang bubuk.
c) Kebersihan dan pengelolaan gudang.
d) Persiapan biji jagung yang disimpan.
e) Perlakuan biji jagung baik secara fisik dan mekanis dengan penjemuran dan sortasi.
f) Memamfaatkan bahan tanaman.
g) Pengendalian hayati dengan memanfaatkan agensia patogen seperti Beauveria bassiana pada konsentrasi 109 konidia/ml takaran 20 ml/kg biji dapat mencapai mortalitas 50%. Penggunaan parasitoid Anisopteromalus calandrae (Howard) mampu menekan kumbang bubuk.
h) Dilakukan fumigasi

Lalat Bibit

Lalat bibit yang menyerang tanaman jagung adalah (Atherigona sp.).
Pengendalian hama lalat bibit
a) Pengendalian hayati dengan memanfaatkan agensia patogen.
b) Secara kultur teknis dengan penggiliran tanaman.
c) Penggunaan varietas resisten/tahan serangan hama lalt bibit.
d) Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan perlakuan benih (seed dressing) yaitu thiodikarb dengan dosis 7,5-15 g b.a./kg benih atau karbofuran dengan dosis 6 g b.a./kg benih maupun penyemprotan pestisida pada tanaman jagung berumur 5-7 HST menggunakan karbosulfan dengan dosis 0,2 kg b.a./ha atau thiodikarb 0,75 kg b.a/ha. Penggunaan insektisida hanya dianjurkan di daerah endemik .

Ulat Grayak

Hama ulat grayak yang menyerang tanaman jagung adalah (Spodoptera sp.).
Pengendalian hama ulat grayak
a) Pengendalian secara fisik dapat dilakukan pada saat tanaman jagung berumur 2 minggu, dengan cara memasang alat perangkap ngengat sex feromonoid sebanyak 40 buah/Ha.
b) Penggunaan agensia hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami.
c) Pengendalian secara kimiawi dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

Penggerek Tongkol

Hama penggerek tongkol yang menyerang tanaman jagung adalah (Heliotis armigera, Helicoverpa armigera.)
Pengendalian hama penggerek tongkol
a) Pemanfaatan musuh alami, seperti trichogramma sp.
b) Pengendalian secara kimiawi dilakukan setelah terbentuk rambut jagung pada tongkol dan selang 1-2 hari hingga rambut jagung berwarna coklat.

Penggerek Batang

Hama penggerek batang yang menyerang tanaman jagung adalah (Ostrinia fumacalis).
Pengendalian hama penggerek batang
a) Kultur teknis
b) Waktu tanam yang tepat.
c) Tumpangsari jagung dengan kedelai atau kacang tanah.
d) Pemotongan sebagian bunga jantan (4 dari 6 baris tanaman).
e) Pemanfaatan musuh alami seperti :
- Parasitoid Trichogramma spp.Parasitoid tersebut dapat memarasit telur O. furnacalis.
- Predator Euborellia annulata memangsa larva dan pupa O. furnacalis.
- Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki mengendalikan larva O. furnacalis,
- Cendawan Beauveria bassianadan Metarhizium anisopliae mengendalikan larva O. furnacalis. Ambang ekonomi 1 larva/tanaman.
f) Pengendalian secara kimiawi dengan penggunaan insektisida yang berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklhrofos, dan karbofuran efektif untuk menekan serangan penggerek batang jagung.

Kutu Daun

Hama kutu daun pada tanaman jagung adalah (Mysus persicae).
Pengendalian hama Mysus persicae dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Lihat Artikel HAMA PENYAKIT TANAMAN JAGUNG Untuk Informasi Lebih Detailnya

PENYAKIT


Hawar Daun

Penyakit hawar daun pada tanaman jagung adalah (Helmithosporium turcicum).
Pengendalian penyakit hawar daun
a) Menanam varietas tahan Bisma, Pioner-2, pioner-14, Semar-2 dan semar-5
b) Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai ke akarnya pada tanaman jagung yang terserang penyakit hawar daun.
c) Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida dengan bahan aktif mankozeb dan dithiocarbamate.

Busuk Pelepah

Penyakit busuk pelepah yang menyerang tanaman jagung adalah (Rhizoctonia solani).
Pengendalian penyakit busuk pelepah
a) Menggunakan varietas/galur yang tahan sampai agak tahan.
b) Jarak tanam ideal, tidak terlalu rapat untuk menjaga kelembaban.
c) Drainase baik.
d) Pergiliran tanaman.
e) Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida dengan bahan aktif mancozeb dan karbendazim.

Penyakit Bulai

Penyakit bulai yang menyerang tanaman jagung adalah (Peronosclerospora maydis).
Pengendalian penyakit bulai
a) Menanam varietas tahan penyakit bulai.
b) Pergiliran tanaman.
c) Penanaman jagung secara serempak
d) Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai ke akarnya pada tanaman jagung yang terserang penyakit bulai.
e) Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida metalaksil pada benih jagung (perlakuan benih) dengan dosis 2 gram (0,7 g bahan aktif) perkilogram benih.

Busuk Tongkol

Ada beberapa jenis penyakit busuk tongkol pada tanaman jagung

a. Busuk tongkol Fusarium

Penyakit busuk tongkol Fusarium disebabkan oleh infeksi cendawan Fusarium moniliforme.

b. Busuk tongkol Diplodia

Gejala busuk tongkol Diplodia disebabkan oleh infeksi cendawan Diplodia maydis.

c. Busuk tongkol Gibberella

Gejala busuk tongkol Gibberella disebabkan oleh infeksi cendawan Gibberella roseum.

Pengendalian penyakit busuk tongkol
a) Melakukan pemupukan berimbang .
b) Tidak membiarkan tongkol terlalu lama mengering di lapangan, jika musim hujan bagian batang dibawah tongkol dipotong agar ujung tongkol tidak mengarah keatas.
c) Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan termasuk padi-padian, karena patogen ini mempunyai banyak tanaman inang.

Busuk Batang

Penyakit busuk batang yang menyerang tanaman jagung ada delapan spesies/cendawan seperti Colletotrichum graminearum, Diplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium moniliforme, Macrophomina phaseolina, Pythium apanidermatum, Cephalosporium maydis, dan Cephalosporium acremonium.
Pengendalian penyakit busuk batang
a) Menanam varietas tahan.
b) Pergiliran tanaman.
c) Pemupukan berimbang, menghindari pemberian N tinggi dan K rendah.
d) Drainase baik.
e) Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan cendawan antagonis Trichoderma sp.

Karat Daun

Penyakit karat daun pada tanaman jagung adalah (Puccinia polysora).
Pengendalian penyakit karat daun
a) Menanam varietas tahan.
b) Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai ke akarnya pada tanaman jagung yang terserang penyakit karat daun.
c) Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida dengan bahan aktif benomil

Bercak Daun

Penyakit bercak daun yang menyerang tanaman jagung adalah (Bipolaris maydis Syn.).
Pengendalian penyakit bercak daun
a) Menanam varietas tahan.
b) Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai akarnya pada tanaman jagung yang terserang penyakit bercak daun.
c) Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida dengan bahan aktif mancozeb dan carbendazim.

Virus Mosaik

Pengendalian virus mosaik
a) Mencabut tanaman yang terinfeksi seawal mungkin agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman sekitarnya ataupun pertanaman yang akan datang.
b) Mengadakan pergiliran tanaman.
c) Penggunaan pestisida apabila di lapangan populasi vektor cukup tinggi.
d) Tidak penggunakan benih yang berasal dari tanaman yang terinfeksi virus.

Lihat Artikel HAMA PENYAKIT TANAMAN JAGUNG Untuk Informasi Lebih Detailnya
More aboutJAGUNG (Zea mays)