Tampilkan postingan dengan label HORTIKULTURA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HORTIKULTURA. Tampilkan semua postingan

TANAMAN HIAS

Tanaman hias merupakan tanaman yang memiliki keistimewaan dalam bentuk penampilan yang menarik. Daya tarik penampilan tanaman hias tersebut telah memikat hati sejumlah kalangan di seluruh nusantara.Tak hanya di perkotaan, para penggemar tanaman hias ini juga telah merambah kalangan masyarakat perdesaan. Trend tanaman hias ini biasanya berawal dari kota, terutama kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Semarang, dan sebagainya.

Berbagai jenis tanaman hias yang ada di Indonesia banyak diburu oleh hobiis. Beberapa diantaranya yaitu adenium, ephorbia, aglaonema, anthurium, philodendron, palem, dan walisongo.

Adenium yang dulu hanya memiliki bunga polos kini menjadi salah satu jenis tanaman hias yang banyak dicarai. Para penggemar adenium ini muncul lantaran hadirnya adenium hybrid yang memiliki bentuk tanaman yang unik dan corak warna bunga yang lebih beragam. Hadirnya adenium hybrid, dengan bentuk dan corak warna bunga yang sangat bervariasi, telah meramaikan bursa pada dunia tanaman hias.

Tidak ketinggalan, euphorbia pun demikian, tanaman hias ini sekarang hadir dengan penampilan bunga yang kian menawan dengan corak warna yang bervariasi. Selain adenium dan euphorbia, tanaman hias aglaonema yang dulu populer dengan sebutan sri rejeki ini juga menawarkan penampilan yang sangat menawan. Nuansa warna-warni pada daun telah menarik minat para penggemar tanaman hias. Apalagi tanaman hias yang satu ini juga memiliki reputasi sebagai tanaman hoki yang dapat memberikan nasib baik bagi pemeliharanya.

Plumeria juga hadir dengan menlengkapi khasanah tanaman hias dengan inovasi-inovasi terbarunya yaitu plumeria hibrid. Para penggemar tanaman hias semakin memiliki banyak pilihan dengan hadirnya sansivieria, bromelia, dan azalea yang memiliki penampilan mempesona. Jenis tanaman hias lain yang bisa menjadi pilihan adalah teratai, keladi, dan tilandsia.

Para penggemar tanaman hias juga menyukai tanaman yang berpenampilan unik (variegata, kristata, dan mutasi). Jenis tanaman hias ini yang banyak diburu para hobiis antara lain anthurium, philodendron, palem, dan walisongo. Disamping itu, karena kelangkaannya, encephalartos dan cikas juga banyak diburu para penggemar tanaman hias.

Tanaman hias bisa digunakan untuk memperindah taman. Keberadaannya dapat menciptakan suasana yang alami, sejuk, dan indah pada taman di pekarangan rumah kita. Penempatan tanaman hias yang cantik dan unik dapat menjadi eye cathcer atau fokus pandang sehingga memberikan kesan eksklusif terhadap penampilan taman. Mengombinasikan beberapa jenis tanaman seperti agaonema, philodendron, snthurium, dan ecephalartor pada dekorasi taman dapat menciptakan suatu pemandangan yang anggun dan asri.

Penempatan tanaman hias philodendron atau anthurium baik di teras rumah maupun di dalam rumah akan melengkapi keindahan dan keasrian rumah Anda. Atau bisa juga dengan menambahkan adenium, aglaonema, dan euphorbia yang menyuguhkan pesona bunga warna-warni juga bisa memberikan kesan segar dan alami dalam ruangan rumah maupun teras depan.

Keindahan, pesona, kelangkaan, dan kepopuleran, tanaman hias juga bisa dilihat dari sudut pandang keunikannya. Keunikan tanaman hias ini sebetulnya merupakan penyimpangan dari pertumbuhan tanaman yang tidak wajat. Keunikan tersebut bisa bersifat permanen maupun sementara. Secara umum, para penggemar tanaman hias memberikan nilai plus terhadap keunikan atau penyimpangan pada tanaman hias, terutama keunikan kristata dan variegata.

  1. Kristata
  2. Pada dasarnya keunikan kristata merupakan salah satu bentuk kelainan. Namun itu tak mengurangi pesonanya. Padahal kondisi kristata pada satu tanaman itu bisa diartikan kurang sehat, sehingga sifatnya yang berbeda dari kondisi tanaman hias normal yang lainnya. Kelainan ini dapat terjadi pada batang, umumnya pecah di pangkal, tengah, atau pucuk. Kristata yang paling bagus bila terjadi di pangkal karena sosoknya menjadi unik. Sifat kristata jarang yang permanen. Suatu ketika tanaman akan kembali normal dan mengeluarkan pucuk baru sehingga bentuknya menjadi rusak. Kelak, mata tunas baru membesar dan menjadi batang.

  3. Variegata
  4. Varigata merupakan sebutan untuk sebuah tanaman hias yang tampil beda dibanding kondisi normalnya. Dalam ilmu botani varigata disebabkan oleh mutasi atau perubahan susunan gen akibat bahan kimia, faktor perubahan lingkungan yang drastis dan kelainan genetis. Mutasi terjadi pada sel yang sedang membelah. Sel tersebut biasanya terdapat pada meristem dan meristem yang sedang membelah terdapat pada mata tunas yang sedang membelah. Mutasi adalah perubahan susunan asam-asam amino dan basa penyusun kromosom yang menyebabkan perubahan ekspresi yang muncul. Perubahan tersebut disebabkan oleh adanya rangsangan yang ekstrim atau salah cetak dalam proses replikasi DNA.

    Suatu tanaman bisa dimanipulasi sehingga terjadi proses salah cetak dengan menggunakan senyawa kimia yang dapat menyebabkan mutasi (mutagenic) atau dengan cara membuat proses cetak terjadi dengan cepat. Untuk mempercepat proses cetak tersebut maka proses pembelahan harus dipercepat dengan menggunakan hormon sitokinin dan auksin seimbang dibantu dengan pemberian vitamin B1 untuk lebih mempercepat proses pembelahan. Agar pembelahan sel terebut dapat terjadi dengan sangat cepat maka harus disediakan semua kebutuhan tanaman seperti zat pembangun, energi dan komponen penunjang. Langkah selanjutnya adalah mengupayakan agar sel tanaman dapat berwarna putih yaitu dengan memberikan hormon giberelin dosis tinggi. Pemberian hormon giberelin ini berujuan untuk memacu agar pembelahan sel mendahului proses pembentukan klorofil. Sementara itu, pada saat yang sama proses pembentukan klorofil juga harus dihambat dengan tidak memberikan unsur Fe sebagai unsur penyusun klorofil. Maka yang terjadi adalah sel membelah dengan sangat cepat dan berwarna putih dan proses pembelahannya diganggu dengan adanya bahan pembuat mutasi. Langkah selanjutnya adalah menghentikan proses pembelahan tersebut dengan memberikan zat penghambat, seperti paclobutrazol. Dengan manipulasi tersebut, maka kondisi tanaman, yang semula sel membelah dengan sangat cepat tiba-tiba terhenti, sehingga akan terjadi proses pertumbukan yang akan menyebabkan salah cetak. Dengan cara tersebut, diharapkan perubahan sel yang berwarna putih dan proses pertumbukan DNA akan menyebabkan mutasi yang bersifat permanen.

    Tanaman hias variegata yang berdaun tipis sebaiknya tidak dipilih karena sangat rentan terhadap terik sinar matahari, sehingga saat membutuhkan penyinaran untuk membantu proses fotosintesis, tanaman tersebut akan mudah.
Seorang penggemar tanaman hias harus mengetahui sifat dan karakter tanaman hias peliharaannya. Bila terjadi kesalahan perlakuan terhadap tanaman, maka akan berdampak pada pertumbuhan dan kesehatan tanaman tersebut, sehingga penampilannya menjadi kurang menarik.

Tanaman hias aglaonema, philodendron, dan keladi merupakan jenis tanaman yang rentan terhadap sinar matahari langsung, sehingg penempatan tanaman tersebut harus berada di bawah naungan. Sementara itu adenium dan euphorbia memiliki tingkat ketahanan yang tinggi terhadap sengatan sinar matahari karena memang habitat asal kedua jenis tanaman tersebut dari daerah gurun yang memiliki temperatur panas. Oleh karena itu, penempatan adenium dan euphorbia lebih tepat jika berada di tempat terbuka tanpa naungan.
More aboutTANAMAN HIAS

STEK TANAMAN

Stek tanaman merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman menggunakan teknik perbanyakan vegetatif dengan cara menanam bagian tanaman tertentu yang mampu membentuk akar dengan cepat. Bagian tanaman yang biasa digunakan untuk perbanyakan dengan cara stek ini adalah batang atau cabang, akar, dan anakan. Contoh tanaman yang biasa diperbanyak menggunakan teknik stek tanaman adalah ketela pohon.

Stek tanaman yang dilakukan pada tanaman berumur panjang atau tanaman menahun sebaiknya diambilkan dari pohon induk yang telah berbuah sebanyak 2-3 musim secara beturut-turut, sehingga bibit yang dihasilkan akan lebih berkualitas. Cabang atau batang yang digunakan paling tidak telah mencapai umur 1-3 tahun. Cabang atau batang yang telah berumur 1-3 tahun dapat amati dengan warna kulit yang sudah kecokelatan, dan minimal berukuran sebesar pensil. Bibit stek akan mudah mati jika cabang yang digunakan terlalu kecil atau berasal dari tunas air. Kalaupun bibit stek tersebut bisa tumbuh, maka tanaman yang dihasilkan akan rapuh atau mudah roboh dan masa berbuah pun akan cukup lama. Sebaliknya jika menggunakan cabang atau batang yang terlalu tua, maka bibit stek yang ditanam akan terlalu lama menghasilkan akar, sehingga besar kemungkinan tanaman akan mudah kering dan mati.

Selain umur, hal yang harus diperhatikan saat memilih cabang yang akan digunakan sebagai bibit stek adalah cabang tersebut harus memiliki mata tunas yang sehat dengan pertumbuhan yang sempurna. Jika cabang tersebut tidak memiliki mata tunas yang sehat, maka bibit stek yang ditanam akan mengalami keterlambatan pertumbuhan, atau pertumbuhannya merana, bahkan kadang-kadang bibit tersebut tidak tumbuh sama sekali.

Penggunaan pohon induk yang telah berbuah 2-3 musim berturut-turut bertujuan untuk memastikan bahwa pohon induk tersebut merupakan tanaman yang produktif dengan kualitas buah yang baik. Dengan demikian, jika pohon induk tersebut merupakan tanaman unggul maka dapat dipastikan bahwa bibit yang dihasilkan akan memiliki sifat yang sama dengan pohon induk tersebut.

Keuntungan melakukan perbanyakan tanaman dengan teknik stek ini dapat dilakukan dengan cara yang sederhana. Selain itu, sifat-sifat unggul dari pohon induk yang digunakan juga dapat diturunkan pada tanaman baru yang dihasilkan. Buah yang dihasilkan juga memiliki mutu atau kualitas yang serupa dengan pohon induknya.

Namun, tidak semua tanaman dapat diperbanyak dengan menggunakan teknik stek tanaman. Untuk tanaman buah-buahan yang bisa diperbanyak dengan teknik stek sangat terbatas, beberapa diantaranya adalah anggur, arbei, delima, jeruk manis, jambu air, jambu mete. mangga, dan salak. Jambu sukun, jambu biji, dan kesemek bisa diperbanyak dengan menggunakan teknik stek akar. Sementara untuk pohan salak perbanyakan tanaman bisa dilakukan dengan teknik stek tunas.

Stek Batang

Pada dasarnya, teknik stek tanaman dari ketiga bagian tanaman yang digunakan, yaitu stek batang, stek akar, dan stek anakan atau tunas, hanya stek batang yang paling sulit untuk dilakukan, terutama untuk tanaman yang berkayu.

Berdasarkan jenis batang yang digunakan, teknik melakukan stek batang dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu stek lunak, stek setengah lunak, dan stek keras. Ketiga jenis teknik stek batang tersebut dapat dibedakan antara lain:
  1. Stek lunak merupakan teknik stek batang dengan menggunakan ranting atau bagian cabang tanaman yang masih muda.
  2. Stek setengah lunak merupakan teknik stek batang dengan menggunakan ranting atau bagian cabang tanaman yang sudah mulai menua, ditandai dengan warna kulit yang sudah mulai kecokelatan, dan pertumbuhannya sudah terhenti.
  3. Stek keras adalah merupakan teknik stek batang dengan menggunakan ranting atau bagian cabang tanaman yang sudah berumur tak kurang dari satu tahun, berukuran sebesar pensil dan masih masih memiliki daun.
Ketiga jenis teknik stek batang tersebut dapat dilakukan dengan beberapa langkah yang harus dikerjakan, antara lain:
  1. Langkah pertama sebelum melakukan stek batang adalah mempersiapkan media. Media yang digunakan adalah kompos halu dan pasir dengan perbandingan 1:1. Dapat juga menggunakan media yang berupa campuran dari sebuk gergaji dan kompos dengan perbandingan 1:1.
  2. Media dicampur hingga rata kemudian ditempatkan pada pot atau bak yang telah diberi lubang air dengan ketinggian tidak kurang dari 10 cm.
  3. Media yang telah dimasukkan dalam pot atau bak kemudian disiram dengan air secukupnya.
  4. Untuk melakukan teknik stek lunak dan stek setengah lunak, dilakukan pada ranting atau cabang tanaman yang berdiameter 0,5 cm kemudian dipotong sepanjang 10-13 cm di bawah tangkai daun yang terbawah. Buang daun bagian bawah, kurang lebih setengah dari jumlah seluruh daun.
  5. Untuk melakukan teknik stek keras, lakukan pemotongan pada ranting atau cabang tanaman sepanjang 20 cm. Bagian atas ranting atau cabang tanaman tersebut dipotong pada bagian setengah lunak. Sementara itu, potongan pada bagian bawah dilakukan sepanjang 20 cm dari potongan bagian atas. Sisakan paling sedikit tiga helai daun pada bagian atas, sementara daun yang lebar dipotong setengahnya.
  6. Untuk mempercepat pertumbuhan akar, oleskan zat perangsang tumbuh (ZPT) dalam bentuk tepung atau cairan pada 2-3 cm pangkal stek.
  7. Masukkan atau tanam pangkal stek tersebut ke dalam media yang telah disiapkan.
  8. Bibit stek yang sudah ditanam disemprot air menggunakan sprayer kemudian ditutup dengan plastik yang tembus sinar atau paranet.
  9. Letakkan bibit stek tersebut di tempat yang teduh atau tidak terkena sinar matahari langsung.
  10. Bila dalam waktu 1 minggu daun pucuknya masih segar, kemungkinan besar stek berhasil dan sudah berakar.
  11. Umur bibit stek hingga dapat dipindahtanamkan bergantung pada jenis tanamannya, pada umumnya pada pindah tanaman dapat dilakukan setelah bibit berumur satu bulan. Selain jenis tanaman, teknik stek keras biasanya juga lebih lama untuk dapat dilakukan pindah tanam.
  12. Bibit stek yang sudah siap pindah tanam dipindahkan ke dalam pot individu dan dibiarkan tumbuh hingga cukup besar hingga dapat dipindah tanam ke lahan. Usahakan untuk selalu menjaga media tanam bibit stek agar tidak mengalami kekeringan. Namun, untuk menjaga kelembaban tersebut, penyiraman yang dilakukan jangan sampai berlebihan.
More aboutSTEK TANAMAN

PERAWATAN BIBIT TANAMAN ANGGREK

Keberhasilan budidaya tanaman anggrek sangat ditentukan oleh kualitas bibit tanaman anggrek itu sendiri. Pemilihan bibit harus dilakukan dengan cermat. Jangan sampai kegiatan budidaya tanaman anggrek kita menunjukkan penampilan yang mengecewakan karena kesalahan dalam memilih bibit. Tanaman anggrek yang akan digunakan sebagai tanaman induk harus dipilih dari tanaman yang benar-benar sehat. Tanaman yang sehat bisa dilihat dari pertumbuhan tanaman yang subur dan kokoh, batang terlihat besar dan kekar, warna daun tampak hijau gelap, bunga yang dihasilkan menarik, tahan terhadap serangan hama dan penyakit, serta penampilan secara umum tampak prima.

Pemilihan bibit tanaman anggrek bisa diperoleh dengan cara memperbanyak tanaman yang sudah ada atau tanaman dewasa, bibit kompot, maupun diperoleh dari hasil kultur jaringan. Setiap bibit yang dihasilkan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Oleh karena itu, pemilihan bibit tanaman anggrek harus disesuaikan dengan kebutuhan. Beberapa kriteria yang dapat dijadikan sebagai parameter dalam memilih bibit tanaman anggrek yang bagus akan diuraikan pada artikel ini.

Tanaman Anggrek Dewasa

Tanaman anggrek yang sudah dewasa merupakan tanaman yang sudah berada dalam fase generatif yang ditandai dengan keluarnya bunga. Keuntungan menggunakan bibit tanaman anggrek yang sudah dewasa adalah dapat diketahui bentuk, corak, dan kualitas bunga yang dihasilkan. Selain itu, bibit tanaman anggrek tersebut lebih cepat menghasilkan bunga dibandingkan dengan menggunakan bibit yang lain. Kelemahan menggunakan bibit yang sudah dewasa adalah harga yang relatif mahal. Oleh karena itu, jika menanam tanaman anggrek yang sudah dewasa sebaiknya juga berorientasi pada pelaksanaan perbanyakan tanaman. Beberapa kondisi yang harus diperhatikan agar pelaksanaan kegiatan perbanyakan bisa berhasil dengan baik antara lain:
  1. Secara umum penampilan tanaman harus tampak sehat.
  2. Tangkai bunga harus tampak kokoh dan besar, sehingga bunga yang dihasilkan juga lebih tahan lama.
  3. Jumlah kuntum bunga yang dihasilkan harus banyak dengan jarak antar kuntum yang rapat, sehingga tanaman tampak dipenuhi dengan bunga.
  4. Ukuran bunga cukup besar dan tidak cepat layu.
  5. warna bunga tampak cerah dan menarik, sehingga penampilan tanaman tampak mengesankan.
  6. Tanaman anggrek tersebut harus rajin berbunga.
Untuk memperoleh bibit yang berkualitas, maka bibit tanaman anggrek dewasa harus dirawat dengan baik. Beberapa prosedur perawatan bibit tanaman anggrek dewasa antara lain:
  1. Tanaman anggrek yang pertumbuhannya sudah terlalu padat dan perakaran sudah memenuhi media tanam, maka media tanam tersebut harus diganti sehingga tanaman akan tetap dalam kondisi segar.
  2. Media tanam yang sudah terlihat hancur dan terjadi pelapukan harus diganti dengan media tanam yang baru karena media tanam seperti ini bersifat asam dan berpotensi mendatangkan penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman anggrek.
  3. Pupuk harus diberikan secara berimbang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Pupuk yang baik paling tidak harus mengandung unsur NPK agar pertumbuhan dan proses pembungaan tanaman tetap berlangsung dengan baik.
  4. Pengendalian hama dan penyakit tanaman anggrek harus dilakukan dengan benar. Jika tanaman terserang hama, misalnya thrips, maka pengendalian yang bisa dilakukan adalah melakukan penyemprotan dengan insektisida. Jika tanaman anggrek terserang penyakit yang disebabkan oleh jamur, maka pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan penyemprotan larutan fungisida. Begitu pula, jika tanaman terserang penyakit yang disebabkan oleh bakteri, maka pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan penyemprotan larutan bakterisida. Hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan pestisida untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit tanaman anggrek adalah prinsip 4 tepat, yaitu tepat dosis, tepat cara, tepat sasaran, dan tepat waktu. Lihat Petunjuk Aplikasi Pestisida
  5. Aplikasi pupuk daun untuk menopang pertumbuhan dan memberikan tambahan nutrisi pada tanaman anggrek.
  6. Jika ditemukan tanaman yang terindikasi terserang penyakit akar, maka media tanam tanaman anggrek tersebut harus segera diganti. Perakaran yang terserang penyakit harus dipotong. Sebelum ditanam kembali, maka tanaman anggrek tersebut terlebih dahulu harus direndam dalam larutan fungisida dan bakterisida.

Tanaman Anggrek Muda

Jika menanam tanaman anggrek yang masih muda, maka harus diperhatikan beberapa kriteria yang bisa dijadikan pedoman untuk memilih tanaman yang berkualitas. Tanaman anggrek muda adalah tanaman yang belum menghasilkan bunga atau masih berada pada fase vegetatif. Tanaman anggrek muda biasanya dijual dalam kemasan pot-pot kecil dengan harga relatif lebih murah dari pada tanaman anggrek dewasa. Kriteria yang harus diperhatikan antara lain kondisi fisik tanaman tampak sehat, daun tampak hijau tua dan tebal, batang terlihat bongsor, seta pertumbuhan yang cepat.

Perawatan pada tanaman anggrek muda harus dilakukan dengan benar agar bisa mencapai hasil yang optimal setelah dewasa. Beberapa prosedur pemeliharaan yang dapat dilakukan pada tanaman anggrek muda antara lain:
  1. Pemupukan harus dilakukan dengan benar (lihat Pupuk dan Pemupukan). Taman anggrek muda yang masih berada pada fase vegetatif secara umum membutuhkan unsur hara N atau Nitrogen dalam jumlah yang relatif tinggi. Selain itu, unsur Phosphor (P) juga harus diberikan dengan cukup agar pertumbuhan perakaran berlangsung dengan baik. (Lihat Defisiensi Unsur Hara
  2. Penyiraman harus dilakukan secara terukur, tidak berlebihan, hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko serangan penyakit akibat kelebihan air.
  3. Pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan baik dan benar.
More aboutPERAWATAN BIBIT TANAMAN ANGGREK

CARA BUDIDAYA TANAMAN ANGGREK

Tanaman anggrek merupakan salah satu jenis tanaman hias yang memiliki penampilan sangat menarik. Keindahan tanaman anggrek dapat dilihat dari untaian, bentuk, warna dan corak bunga yang sangat bervariasi. Tanaman anggrek merupakan jenis bunga potong, yang memiliki daya tahan cukup bagus sehingga bisa lebih tahan lama untuk dinikmati keindahannya.

PERBANYAKAN BIBIT TANAMAN ANGGREK

PERBANYAKAN bibit tanaman anggrek bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu perbanyakan generatif dan vegetatif. Perbanyakan generatif adalah perbanyakan dilakukan melalui proses perkawinan atau penyerbukan, yaitu dengan menggunakan biji. Sementara itu, perbanyakan vegetatif adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman itu sendiri, bisa dilakukan dengan teknik setek, keiki, pemisahan rumpun, dan kultur jaringan.

A. Perbanyakan Tanaman Anggrek Secara Generatif

Biji tanaman anggrek bisa didapatkan dengan melakukan perkawinan atau penyerbukan buatan terlebih dahulu. Penyerbukan secara alami sangat sulit berhasil, selain harus melakukan pernyerbukan, biji tanaman anggrek membutuhkan waktu yang relatif lama hingga tumbuh menjadi bibit tanaman. Sehingga perbanyakan dengan cara ini jarang dilakukan oleh pembudidaya tanaman anggrek.

Biji tanaman anggrek sangat bergantung pada keberadaan cendawan mikoriza. Biji tanaman anggrek mendapatkan nutrisi dari sekresi cendawan mikoriza. Penyemaian biji tanaman anggrek biasanya dilakukan dengan menggunakan media yang terdiri dari kalsium nitrat 1 gram, monobasicpotasium fosfat 0,25 gram, magnesium sulfat 0,25 gram, amonium sulfat 0,50 gram, sukrosa 20 gram, ferro sulfat 0,025 gram, mangaan sulfat 0,0075 gram, dan ditambah agar-agar 10-20 gram serta air kelapa 100-150 cc. Biji tersebut ditebar di atas media yang telah dipersiapkan dan harus dalam keadaan steril dengan pH 5,0-5,2. Biasanya biji anggrek akan berkecambah pada umur tiga minggu setelah semai. Pada umur 9-12 bulan setelah semai, bibit anggrek dapat dipindahtanamkan ke media yang lebih besar atau ke dalam pot komunitas.

Media penyemaian biji tanaman anggrek tersebut memang sangat sulit di dapat, oleh karena itu, bagi pembudidaya tanaman anggrek dapat melakukan penyemaian biji anggrek melalui jasa penyedia media, biasanya melalui jasa laboratorium tanaman anggrek. Setelah bibit tersebut bisa tumbuh di media agar-agar dalam botol maka bibit tersebut bisa diambil.

B. Perbanyakan Tanaman Anggrek Secara Vegetatif

Perbanyakan bibit tanaman anggrek dengan cara vegetatif ini biasanya dapat menghasilkan keturunan yang memiliki karakter sama dengan induknya. Penyimpangan genetik biasanya terjadi karena faktor luar lain, seperti pemupukan, serangan hama penyakit, maupun kondisi lingkungan. Perbanyakan vegetatif dilakukan dengan cara mengambil bagian tanaman tertentu kemudian menanamnya secara terpisah pada lahan yang telah dipersiapkan.

a. Perbanyakan Tanaman Anggrek Dengan Teknik Pemisahan Rumpun

Perbanyakan tanaman anggrek dengan teknik pemisahan tumpun dapat dilakukan dengan cara memecah tunas tanaman anggrek simpodial atau berbatang semu, seperti Dendrobium sp. dan Cattleya sp. Anggrek yang siap dipecah sebaiknya dipilih yang bercabang 3-5. Setelah dipecah, tanaman anggrek tersebut bisa langsung ditanaman pada media yang telah dipersiapkan.

b. Perbanyakan Tanaman Anggrek Dengan Menggunakan Keiki

Keiki adalah anakan tanaman anggrek yang tumbuh liar di ujung umbi. Keiki ini berupa tunas yang muncul di ruas-ruas tanaman anggrek dewasa. Keiki atau tunas liar tersebut akan terbentuk jika media tanam tidak pernah diganti, sehingga akar tanaman banyak rusak. Terhambatnya pertumbuhan akar tanaman anggrek tersebut mengakibatkan pertumbuhan tunas yang harusnya muncul pada pangkal batang pindah ke ruas tanaman. Dengan kata lain, jika tanaman anggrek rajin diganti media tumbuhnya, maka kemungkinan muncul keiki sangat kecil. Oleh karena itu, bila pembudidaya ingin melakukan perbanyakan tanaman anggrek dengan memanfaatkan keiki, maka media tanaman tanaman anggrek tersebut tidak diganti.

Keiki yang akan ditanam sebaiknya dicari yang berukuran panjang kurang lebih 20 cm dan sudah menghasilkan akar sebanyak 3-4 helai. Pemotongan dilakukan dengan hati-hati, dan umbi induk harus ikut terangkat. Menyertakan umbi induk saat pemotongan bertujuan untuk memberikan cadangan makanan pada keiki sebelum keiki mampu menyerap makanan sendiri, atau sampai terbentuknya akar. Keiki sebaiknya tidak langsung ditanam tetapi ditempelkan dulu di lempengan pakis sampai terjadi penambahan umbi. Jika umbi sudah terbentuk 2-3 buah, keiki siap dipindahkan ke pot. Anggrek yang diperbanyak dengan keiki masa berbunganya lebih lama dibandingkan dengan cara pemisahan rumpun. Perbanyakan anggrek dengan keiki ini hanya bisa dilakukan pada anggrek Dendrobium sp.

c. Perbanyakan Tanaman Anggrek Dengan Teknik Stek

Perbanyakan tanaman anggrek dengan teknik stek merupakan cara perbanyakan vegetatif yang menggunakan batang atau tunas. Cara perbanyakan tanaman anggrek ini biasanya dilakukan pada tanaman anggrek berbatang satu atau anggrek jenis monopodial, serta serta pada tanaman anggrek dengan cara hidup terestrial, seperti anggrek Arachnis sp. , Vanda terestrial, dan Aeridachnis sp. .

Cara melakukan perbanyakan tanaman anggrek dengan teknik stek ini bisa dilakukan dengan mengambil bagian tanaman yang tingginya sudah mencapai dua meter atau lebih. Batang tanaman tersebut dipotong kira-kira 80 cm dari pucuk tanaman. Bekas potongan batang tersebut dioles dengan perangsang akar misalnya rooton F, kemudian ditanam pada media yang sudah disiapkan. Pada umur enam bulan, pada bagian pangkal batang yang ditanam tersebut sudah tumbuh akar dan biasanya sudah muncul tunas-tunas baru. Dengan demikian proses perbanyakan tanaman anggrek tersebut bisa dikatakan berhasil.

d. Perbanyakan Tanaman Anggrek Dengan Teknik Kultur Jaringan

Perbanyakan dengan cara ini akan menghasilkan bibit dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan perbanyakan cara lainnya. Hanya dengan sebagian kecil dan jaringan tanaman sudah bisa diperoleh ribuan bibit. Perbanyakan ini umumnya dilakukan pembudidaya tanaman anggrek yang berorientasi usaha atau bisnis dalam skala besar, untuk memenuhi permintaan konsumen.

Secara singkat, proses kerja perbanyakan tanaman anggrek dengan cara kultur jaringan sebagai berikut:

Cari tunas tanaman anggrek yang berukuran 5 cm dari umbi induk. Tunas tersebut kemudian dikerat dan disteril dengan merendam dalam larutan Clorox 10% selama 10 menit. Tunas yang sudah disteril tersebut kemudian dibuka dengan menggunakan pisau dalam keadaan steril di entkast. Langkah selanjutnya adalah mengambil itik tumbuh (meristem) yang ada di bagian pucuk tunas. Titik tumbuh atau meristem tersebut dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang berisi larutan hara steril. Kemudian erlenmeyer dikocok dengan menggunakan alat pengocok berkecepatan sekitar 60-100 rpm selama 24 jam. Dalam waktu sekitar 2 bulan, eksplan telah membentuk kalus yang semakin lama semakin membesar.

Pertumbuhan yang membesar itu menyebabkan jaringan terpecah-pecah. Tiap pecahan bisa dipindahkan lagi ke botol erlenmeyer lain dan mendapatkan perlakuan yang sama (dikocok). Demikian seterusnya, setiap jaringan pecah, segera dipindahkan ke erlenmeyer lain. Pada akhirnya jaringan tersebut ditumbuhi plb (protocorm like bodies) yang jika dipindahkan ke media padat atau media agar-agar akan menjadi plantet (anak semai). Anak semai selanjutnya ditanam berjajar di media padat dalam botol. Jika anak semai di media padat telah menyundul langit-langit botol serta tumbuh akar banyak, pertanda bibit siap dipindahkan ke dalam pot komunitas.

PEMILIHAN MEDIA TANAM ANGGREK

Media tanaman memiliki fungsi utama sebagai tempat tumbuh tanaman anggrek. Selain itu, media tanam juga berfungsi untuk menyimpan air dan unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman. Untuk mendukung fungsi-fungsi tersebut, maka media tanaman harus memenuhi standar pertumbuhan tanaman anggrek. Beberapa kondisi media tanam yang memenuhi standar tersebut antara lain, media harus poros, mudah menyimpan air, tidak mudah diinangi penyakit, memiliki daya aerasi yang cukup baik, mampu memberikan tambahan nutrisi pada tanaman, serta murah dan mudah didapat.

Tanaman anggrek akan memiliki pertumbuhan yang optimal jika media tanaman tersebut memiliki derajat keasaman (pH) antara 6-6,8. Oleh karena itu, pengecekan pH media harus dilakukan karena media tanam ini sangat mempengaruhi laju pertumbuhan tanaman anggrek dan produksi bunga anggrek yang dibudidayakan. Untuk mengetahui pH media bisa dilakukan dengan menggunakan pH tester.

Informasi lebih lengkap tentang pH tanah bisa dilihat pada artikel pH Tanah

Penggantian media tanam baru juga harus dilakukan jika pertumbuhan tanaman anggrek sudah terlalu padat atau jumlah tunas dan batang sudah terlalu padat dalam satu pot; kondisi media tanam sudah hancur, yang bisa menyebabkan media menjadi asam; dan setelah selesai berbunga, agar dapat merangsang tunas anakan baru. Media tanaman yang biasa digunakan oleh pembudidaya atau penggemar tanaman anggrek di Indonesia adalah pecahan batu bata atau genteng, serutan atau potongan kayu, sabut kelapa, arang kayu, serta moss kadaka.

Informasi lebih lengkap tentang media tanam anggrek bisa dilihat pada artikel Media Tanam Bunga Anggrek

PEMUPUKAN TANAMAN ANGGREK


Pemupukan merupakan kegiatan memberikan nutrisi atau unsur hara yang diberikan kepada tanaman. Pemupukan bisa dilakukan melalui akar maupun daun. Pemupukan melalui akan dilakukan dengan cara memberikan pupuk pada media tanaman. Sedangakan pemupukan melalui daun dilakukan dengan cara memberikan pupuk melalui mulut daun. Pemberian pupuk melalui daun biasanya dilakukan dengan penyemprotan pupuk pada permukaan daun, terutama permukaan daun bagian bawah, karena mulut daun banyak terdapat di permukaan daun bagian bawah. Pemupukan lewat daun ini lebih afektif, karena mulut daun ini mampu menyerap pupuk yang diberikan sebanyak 90%.

Kebutuhan unsur hara pada setiap fese pertumbuhan tanaman anggrek berbeda-beda. Untuk Tanaman anggrek yang masih pada fase pembibitan membutuhkan unsur hara nitrogen lebih tinggi, yaitu 60% N, 30% P, dan 10% K. Pupuk diberikan cukup sekali melalui daun selama fase pembibitan. Pada fase tanaman muda, kebutuhan nutrisi atau unsur hara pada tanaman anggrek adalah 30% N, 30% P, dan 30% K. Pemberian pupuk melalui daun cukup diberikan seminggu sekali, sedangkan pemupukan melalui akar dapat diberikan tiga minggu sekali. Kebutuhan pupuk untuk tanaman anggrek dewasa yang sudah memasuki fase generatif atau pembungaan adalah 10% N, 60% P, dan 30% K. Pemupukan lewat daun diberikan seminggu sekali, sedangkan pemupukan lewat akar bisa diberikan tiga minggu sekali pada media tanam.

Informasi lebih lengkap tentang pupuk bisa dilihat pada artikel Pupuk dan Pemupukan

PENYIRAMAN TANAMAN ANGGREK

Air merupakan kebutuhan pokok mahluk hidup. Seperti halnya tanaman lain, tanaman anggrek juga akan memiliki pertumbuhan yang optimal jika kebutuhan air tercukupi. Namun pemberian air pada pada tanaman anggrek tidak boleh berlebihan, karena akan mengakibatkan media tanam terlalu lembab dan mudah terserang penyakit. Jika media tanam terlalu kering, maka tanaman anggrek akan mengalami dehidrasi yang ditandai dengan mengerutnya umbi semu. Demikian juga sebaliknya, jika pemberian air terlalu berlebihan, maka akar tanaman anggrek akan mudah terserang penyakit, terutama busuk akar dan busuk pangkal batang. Jika tanaman anggrek mengalami busuk akar, maka penyerapan unsur hara akan terhambat, dan tanaman dapat mengalami kelayuan.

Beberapa proses dalam jaringan tanaman berjalan dengan bantuan air. Misalnya, fotosintesis berupa asimilasi CO₂ di dalam butir hijau daun dengan bantuan cahaya. Asimilasi protein pun hanya mungkin terjadi jika ketersediaan air mencukupi. Pengangkutan unsur hara dari akar ke seluruh bagian tanaman juga menggunakan bantuan air. Demikian juga dengan pengangkutan basil fotosintesis ke akar atau bagian tanaman lain.

Pengairan yang cukup akan mempengaruhi proses respirasi pada tanaman. Tanaman anggrek akan menyerap air untuk menopang pertumbuhannya. Air yang telah diserap oleh tanaman akan menguap jika suru lingkungan terlalu tinggi kemudian dengan cadangan air yang cukup, akan menurunkan suhu tanaman. Tanaman yang mengalami kekurangan air maka tekanan turgor akan menyusut atau berkurang sehingga organ tumbuh tanaman akan layu dan akhirnya tanaman mati. Namun, jika tanaman yang mengalami kekurangan air tersebut belum melewati titik layu permanen, dengan pemberian air yang tepat, maka turgor sel akan kembali seperti semula sehingga tanaman dapat hidup dengan normal.

Penyiraman yang berlebihan pada tanaman anggrek akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman anggrek terganggu. Air yang berlebihan akan membungkus permukaan akar tanaman anggrek, sehingga akar tanaman anggrek akan kesulitan bernafas. Penyerapan air yang berlebihan oleh tanaman juga akan mengakibatkan tanaman anggrek mudah terserang hama dan penyakit. Butir-burtir air akan terkumpul di pucuk tanaman sehingga tunas tanaman anggrek akan mudah terinfeksi oleh cendawan atau bekteri. Tunas yang terserang penyakit akan berwarna cokelat kehitaman dan akhirnnya mati.

Frekuensi dan volume pemberian air pada tanaman anggrek berbeda-beda, tergantung pada jenis dan keadaan lingkungan. Tanaman anggrek monopodial, seperti anggrek Vanda sp. , anggrek Arachnis sp. , dan anggrek Renanthera sp. merupakan jenis tanaman yang membutuhkan intensitas cahaya matahari langsung. Oleh karena itu, jenis anggrek ini membutuhkan air lebih banyak dibanding jenis tanaman anggrek lain. Penyiraman pada saat musim kemaru paling tidak dilakukan dua kali sehari.

Faktor Yang Menentukan Frekuensi Dan Volume Penyiraman Pada Tanaman Anggrek

a. Jenis Tanaman Anggrek

Jenis tanaman anggrek sangat mempengaruhi frekuensi dan volume pemberian air. Tanaman anggrek yang tumbuh dengan intensitas sinar matahari langsung, seperti anggrek terestrial atau jenis anggrek tanah, seperti Vanda, Renanthera, Arachnis, dan Renanthera, maupun tanaman anggrek jenis litofit, seperti Dendrobium, dan Phalaenopsis, membutuhkan air yang lebih banyak dibanding dengan jenis tanaman anggrek yang lain. Apalagi jika kondisi cuaca sangat panas, pemberian air harus dilakukan lebih banyak. Penyiraman pada siang hari harus dilakukan dengan hati-hati karena justru akan mengakibatkan daun tanaman terbakar. Penyiraman sebaiknya menggunakan alat semprot yang dapat membasahi seluruh permukaan tanaman.

Berbeda dengan jenis tanaman anggrek di atas, untuk jenis anggrek epifit (Cattleya dan Oncidium), semi-epifit (Brassavola, Epidendrum, Laelia), dan saprofit (Goodyera), kebutuhan akan air lebih sedikit. Pemberian air cukup dilakukan satu kali sehari. Tanaman anggrek jenis ini sangat rentan terhadap kelebihan air. Jika terjadi kejenuhan air, maka tanaman akan mudah terserang penyakit busuk akar.

Waktu penyiraman yang baik pada tanaman anggrek yaitu pada pagi hari sekitar pukul 07.00-09.00 dan dan sore hari sekitar pukul 16.00-18.00. Penyiraman pada siang hari akan beresiko, karena justru membuat daun tanaman terbakar. Jika tanaman mengalami kekeringan pada siang hari, sebaiknya tidak buru-buru dilakukan penyiraman, karena tanaman anggrek tidak akan mengalami kematian hanya karena kekurangan air selama beberapa jam. Penyiraman sebaiknya dilakukan setelah cuaca tidak begitu panas.

b. Media Tanam Bunga Anggrek

Media tanam bunga anggrek sangat mempengaruhi frekuensi dan volume pemberian air. Kualitas media tanam sangat berpengaruh pada kemampuan dalam hal menyerap dan mengikat air. Dengan demikian, frekuensi dan volume pemberian air antara media tanaman yang satu dengan media tanam yang lain berbeda-beda. Media tanam yang mempunyai daya serap air besar kebutuhan penyiramannya berbeda dengan media tanam yang berdaya serap kecil. Pada media tanam bunga anggrek yang memiliki daya serap air bagus, seperti sabut kelapa, pakis, atau kadaka, membutuhkan penyiraman yang lebih sedikit yaitu cukup satu kali sehari. Sementara itu, pada media tanam yang memiliki daya serap air rendah, seperti arang, becahan batu bata atau genteng, dan potongan atau serutan kayu, membutuhkan volume dan frekuensi penyiraman yang lebih tinggi.

c. Kondisi Cuaca

Pada cuaca panas, dengan terik sinar matahari tinggi, penyiraman dilakukan lebih sering dengan volume air yang lebih banyak, terutama pada media yang memiliki daya simpan air rendah. Untuk tipe anggrek panas, penyiraman sebaiknya dilakukan setelah permukaan media tanaman tampak kering. Untuk tipe tanaman anggrek dingin penyiraman dilakukan saat kelembaban udara dirasa cukup rendah dan temperatur tinggi.

Cara Pemberian Air Pada Tanaman Anggrek

Pemberian air pada tanaman anggrek dapat dilakukan dengan berbagai cara. Jika penanaman anggrek dilakukan di dalam pot dan dalam jumlah sedikit, maka pemberian air dapat dilakukan dengan menggunakan gembor. Tetapi jika penanaman anggrek dilakukan di lahan atau kebun, maka pemberian air dilakukan dengan menggunakan alat semprot, pompa air, prinkler, atau sistem irigasi tetes.
More aboutCARA BUDIDAYA TANAMAN ANGGREK

BUDIDAYA TANAMAN BUAH

Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki aneka tanaman buah yang sangat beragam. Akan tetapi keragaman tanaman buah di Indonesia tidak didukung dengan produksi buah yang baik. Hal ini terutama untuk tanaman buah yang berumur panjang atau tahunan, seperti durian, mangga, rambutan, kedondong, dan sebagainya.

Rendahnya produksi buah di Indonesia mengakibatkan kekurangan pasokan buah. Untuk mengatasi hal tersebut, maka Indonesia harus mengimpor beberapa jenis buah dari luar negeri, seperti anggur, apel, jeruk, dll.

Jika dilihat dari posisi strategis Indonesia yang berada di daerah tropis, sebetulnya kekurangan kebutuhan buah dalam negeri tersebut bisa diatasi dengan meningkatkan produksi buah nasional. Tentu saja para petani harus mengetahui tatalaksana pemeliharaan yang benar sehingga bisa meningkatkan produksi tanaman buah.

Fungsi Tanaman Buah

Fungsi utama tanaman buah adalah untuk menghasilkan buah, sebagai tanaman pelindung, untuk merehabilitasi lahan-lahan kritis, serta untuk mencegah erosi. Selain itu, tanaman buah yang ditanam di pekarangan rumah juga memiliki fungsi lain, yaitu sebagai tanaman hias, tanaman pelindung atau peneduh, dan tanaman penahan angin.

Fase Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Buah

Fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman buah seperti tanaman pada umumnya. Fase tersebut dibedakan menjadi dua fase, yaitu fase vegetatif dan fase generatif. Sekalipun kedua fase tersebut berbeda, akan tetapi kedua fase tersebut berjalan bersama tetapi lebih dominan pada salah satu fase.

Fase generatif merupakan fase pertumbuhan dimana tanaman menimbun karbohidrat untuk pembentukan bunga, buah, biji, serta pemasakan buah. Sedangkan fase vegetatif adalah fase dimana tanaman menggunakan sebagian besar karbohidrat untuk membentuk akar, batang, daun, pucuk tanaman, dan pembesaran tanaman.

Syarat Tanaman Buah

Agar tanaman mampu berbuah dengan baik dan sesuai dengan waktu yang ditentukan, maka dibutuhkan beberapa syarat yang mendukung kondisi tanaman untuk berbuah. Berikut ini syarat-syarat tanaman untuk berbuah :
  1. Lingkungan tempat tumbuh tanaman harus memenuhi syarat-syarat pertumbuhan tanaman bersangkutan, baik suhu, kelembaban, cuaca, ketinggian tempat, curah hujan, maupun intensitas sinar matahari yang masuk. Suatu tanaman tidak akan tumbuh dengan baik apabila kondidi lingkungan yang cocok untuk tanaman tersebut tidak terpenuhi. Sebagai contoh, tanaman yang cocok ditanam di dataran tinggi tidak akan tumbuh dengan baik jika ditanam di dataran rendah. Begitu pula tanaman yang cenderung berbuah pada musim kemarau maka tidak akan menghasilkan buah pada musim hujan. Kondisi lingkungan terseubut dikenal dengan istilah kondisi makroklimat
  2. Selain kondisi makroklimat, pertumbuhan dan perkembangan tanaman juga dipengaruhi oleh kondisi mikroklimat, yaitu lingkungan tanah tempat tumbuh tanaman tersebut. Kondisi mikroklimat juga harus memenuhi syarat masing-masing jenis tanaman, sehingga tanaman tersebut bisa tumbuh optimal dan berbuah sesuai dengan target kita. Kondisi mikroklimat diantaranya adalah pH tanah, kelembaban tanah, struktur tanah, keadaan air tanah, kandungan unsur hara dalam tanah dan banyaknya mikroorganisme dalam tanah.
  3. Faktor lain yang mempengaruhi tanaman untuk berbuah adalah sifat tanaman. Sifat tanaman sangat terkait dengan genetika tanaman. Sifat tanaman tersebut harus betul-betul merupakan tanaman unggul. Sekalipun semua kondisi atau persyaratan sudah terpenuhi, tetapi jika tanaman buah yang kita tanaman ternyata memiliki sifat mandul, maka jangan berharap banyak tanaman kita mampu berbuah sesuai dengan harapan. Bahkan bisa jadi tidak berbuah sama sekali.
  4. Syarat lain yang mempengaruhi kecepatan tanaman berbuah adalah kesehatan tanaman. Pastikan bahwa tanaman buah tersebut tidak terserang hama atau penyakit. Selain itu juga harus dihindari penyakit fisiolongis akibat ketidakseimbangan unsur hara yang diberikan
Jika persyaratan atau kondisi di atas bisa dipenuhi, maka langkah selanjutnya adalah mempercepat tanaman untuk memasuki fase generatif atau fase pembuahan. Manipulasi tersebut bisa dilakukan dengan cara pemangkasan, pelukaan batang, pemupukan, pengaturan pemberian air, atau dengan pemberian ZPT (Zat Pengatur Tumbuh).

Faktor Yang Menyebabkan Kegagalan Tanaman Berbuah

Jika semua faktor tersebut di atas sudah bisa dipenuhi dan tanaman kita belum juga berbuah, kemungkinan ada beberapa faktor yang menyebabkan tanaman tersebut gagal membentuk buah. Faktor-faktor yang menyebabkan tanaman gagal membentuk buah antara lain:
  1. Tanaman tersebut merupakan jenis pohon yang membutuhkan tanaman jantan untuk berbuah. Jika tanaman buah kita termasuk jenis tanaman seperti ini, maka harus ada tanaman jantan yang berada disekitar tanaman buah tersebut. Salah satu contoh tanaman yang membutuhkan tanaman jantan untuk membentuk buah adalah kelengkeng.
  2. Bisa juga tanaman mengalami mutasi gen yang mengakibatkan tanaman tersebut mandul.
  3. Munculnya bunga jantan dan bunga betina tidak bersamaan dan sebelum penyerbukan terjadi, salah satu bunga tersebut sudah gugur terlebih dahulu.
  4. Pemupukan nitrogen (N) yang berlebihan sehingga tanaman cenderung melakukan pertumbuhan vegetatif. Tanaman tersebut terlau subur sehingga karbohidrat yang dihasilkan dari proses fotosintesis hanya digunakan untuk pertumbuhan, akibatnya tanaman bisa tidak membentuk buah sama sekali.
  5. Tanaman belum mencapai batas umur untuk berbuah. Batas umur tanaman untuk berbuah tergantung pada jenis dan varietas tanaman tersebut. Selain itu, bibit tanaman juga akan mempengaruhi batas umur untuk berbuah. Menggunakan bibit yang dihasilkan dari perbanyakan generatif (menggunakan biji) pasti akan memiliki batas umur yang lebih panjang dibanding dengan menggunakan bibit tanaman yang dihasilkan dari berbanyakan vegetatif (misalnya, stek, cangkok, dll.). Bibit tanaman yang dihasilkan dari perbanyakan generatif harus memulai pertumbuhan dari awal. Biji yang tumbuh menjadi tanaman baru harus membentuk akar, batang, tajuk, daun, sehingga awal produksi bunga atau buah lebih lembat.
  6. Jika tanaman tersebut berbunga lebat, tetapi bunga tersebut akhirnya gugur atau rontok sebelum membentuk buah, penyebabnya adalah sebagai berikut:
    1. Tanaman kekurangan nitrogen (N) dan pemberian kalsium (Ca) yang berlebihan.
    2. Ketersediaan air yang kurang mencukupi, biasanya terjadi pada musim kemarau.
    3. Jika bibit yang digunakan merupakan bibit dari perbanyakan dengan cara okulasi, atau menyambung (grafting) kemungkinan kualitas batang bawah yang digunakan kurang bagus.
    4. Serangan hama dan penyakit yang mengakibatkan tanaman tidak mampu membentuk buah. Bunga yang terserang biasanya membusuk sebelum menjadi buah atau saat buah masih kecil.
    5. Hujan yang terlalu deras, angin yang terlalu kencang, dan kemarau yang terlalu panjang.
    6. Penyemprotan menggunakan bahan kimia yang berlebihan pada saat tanaman sedang membentuk bunga. Pada saat tanaman sedang membentuk bunga, sebaiknya penyemprotan menggunakan bahan kimi harus dilakukan dengan dosis yang terukur, bahkan kalau tidak memaksa, sebaiknya penyemprotan harus dihindari saat tanaman sedang berbunga. Bunga tersebut bisa rontok karena terkena paparan bahan kimia yang berlebihan.

Penanggulangan Terhadap Kegagalan Tanaman Berbuah

Setelah mengetahui faktor-faktor pendukung atau syarat-syarat tanaman untuk berbuah dan faktor-faktor yang menyebabkan tanaman gagal membentuk buah, sebaiknya kita melakukan hal sebagai berikut sebagai langkah untuk membuat tanaman buah kita lebih produktif:
  1. Pastikan bahwa tanaman buah yang kita tanaman sesuai dengan kondisi lingkungan, iklim, curah hujan, dan persyaratan-persyaratan lain yang dibutuhkan. Cabut dan ganti dengan tanaman lain jika tanaman tersebut tidak sesuai dengan syarat tumbuhnya.
  2. Untuk tanaman-tanaman yang tidak membutuhkan air dalam jumlah banyak, sebaiknya dibuat saluran drainase atau pembuangan air agar tidak terjadi kelebihan air di lahan. Pengaturan terhadap kelebihan air terutama dilakukan saat musim hujan. Sebaliknya, untuk tanaman yang membutuhkan air dalam jumlah banyak, terutama pada musim kemarau, harus dilakukan penyiraman atau penggenangan yang cukup.
  3. Lakukan pemangkasan secara rutin agar tanaman buah tidak terlalu rimbun. Pemangkasan juga bertujuan untuk merangsang tanaman memasuki fase generatif. Pemangkasan dilakukan dengan memotong ranting yang tumbuh kearah batang utama, ranting yang bersilangan, dan ranting yang tumbuh ke atas atau vertikal.
  4. Untuk mengurangi kerimbunan daun, juga bisa dilakukan dengan membuang kulit batang sekitar 1 cm di sekeliling batang. Selain itu, bisa juga dengan memangkas sebagian akar. Ujung-ujung akar dipotong menggunakan singkup atau cangkul seperlunya. Pemotongan akar jangan terlalu banyak, agar tanaman tidak mati.
  5. Jika batang bawah yang digunakan untuk okulasi atau grafting kurang bagus maka harus segera diganti. Batang bawah yang kurang bagus akan menghasilkan tanaman yang tidak berkualitas, sehingga perlu dilakukan penggantian tanaman atau melakukan okulasi, atau grafting ulang. Kombinasi adalah perpaduan antara bibit generatif (asal biji) sebagai batang bawah dengan bibit vegetatif (asal pucuk, mata tunas cabang atau ranting) dari tanaman yang memiliki kualitas buah yang bagus.
  6. Meskipun pertumbuhan tanaman kombinasi sudah baik, tetap harus dibongkar atau diganti batang atasnya dengan bibit yang pengaruh kombinasinya lebih sesuai.
  7. Kalau pohon mangga sambungan jelek produksinya, lebih baik dipotong batang atasnya. Setelah tumbuh tunas baru segera disambung dengan varietas mangga lain sehingga terjadi sambungan rangkap dua. Pengaruh kombinasi ini menghasilkan tanaman bermutu tinggi. Sosok tanaman lebih pendek, dan cepat berbuah.
  8. Tanaman yang terserang hama dan penyakit biasanya gagal membentuk buah. Kalaupun terbentuk buah, maka buah yang dihasilkan akan kecil-kecil atau bahkan busuk. Pengendalian hama dan penyakit tanaman bisa dilakukan dengan aplikasi pestisida, baik pestisida organik maupun kimia. Cara aplikasi pestisida bisa dilakukan dengan penyemprotan atau bisa juga melalui penyuntikan pada pangkal batang menggunakan pestisida sistemik.

Perbanyakan (Pembibitan) Tanaman Buah

PERBANYAKAN tanaman buah-buahan terdiri dari dua cara, yakni perbanyakan generatif dan vegetatif. Perbanyakan tanaman menggunakan biji (bagian tanaman yang dibuahi) disebut pembibitan secara generatif atau seksual. Disebut demikian, karena biji berasal dari pertumbuhan embrio basil penyerbukan (perkawinan, pembuahan) antara putik dengan serbuk sari. Perbanyakan tanaman yang tidak menggunakan biji disebut perbanyakan vegetatif atau aseksual. Bagian tanaman buah yang dapat digunakan untuk perbanyakan ini adalah akar dan batang atau tunas. Perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan teknologi kultur jaringan termasuk perbanyakan tanaman secara vegetatif, karena bibit itu ditumbuhkan dari bagian sel tanaman yang tidak dibuahi.

Bibit Tanaman Buah Generatif

Bibit tanaman buah yang dihasilkan secara generatif bisa berasal dari biji yang sengaja dibenihkan atau yang tumbuh secara alamiah di alam. Perbanyakan pohon buah-buahan secara genaratif sudah sejak dahulu kala dilakukan orang, dan sampai sekarang masih digunakan.

Kelemahan perbanyakan tanaman buah dengan cara generatif: memerlukan waktu yang lama untuk berbuah; kualitas buah baru bisa diketahui setelah tanaman berbuah; sifat-sifat baik yang dimiliki pohon induknya sulit diperoleh, kemungkinan bisa muncul sifat-sifat jelek pada bibit yang dihasilkan bahakan tanaman bisa tidak menghasilkan buah selama hidupnya, karena hanya berbunga jantan.

Kelebihan perbanyakan tanaman buah dengan cara generatif: pembibitan dapat dilakukan dengan mudah dan murah; kemungkinan menghasilkan varietas baru yang lebih baik; tanaman tumbuh sehat, kekar, kuat dan berumur panjang; kalau kebetulan biji bersifat poliembrional, sifat-sifat tanaman baru bisa persis sama dengan pohon induknya.

Bibit Tanaman Buah Vegetatif

Keistimewaan bibit tanaman buah yang diperoleh secara vegetatif adalah sifat-sifat unggul dari pohon induk dapat diwarisi oleh keturunan berikutnya. Tanaman cepat berbunga dan berbuah karena masa pertumbuhan vegetatifnya lebih pendek jika dibanding dengan tanaman yang dihaslikan dari perbanyakan generatif. Tanaman ini dapat tumbuh baik di lahan yang permukaan air tanahnya dangkal.

Kelemahan bibit yang dihasilkan secara vegetatif diantaranya yaitu jumlah bibit yang dapat diperoleh dari satu pohon induk sedikit. Perakarannya yang dangkal mengakibatkan tanaman dari hasil perbanyakan vegetatif ini mudah tumbang atau roboh dan tidak tahan kekeringan pada musim kemarau. Selain itu, sifat-sifat jelek dari pohon induk tetap diwariskan pada keturunannya.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghasilkan bibit tanaman secara vegetatif yaitu stek, cangkok, merunduk, dan pemisahan anakan.

Bibit Kombinasi Vegetatif-Generatif

Bibit vegetatif-generatif disebut juga bibit kombinasi karena terdiri dari gabungan dari bibit vegetatif (batang atas) dengan bibit generatif (batang bawah). Dengan penggabungan itu kelemahan bibit batang atas yang berakar dangkal tertutup oleh bibit batang bawah yang berasal dari biji, dan kelemahan bibit batang bawah yang lambat berbuah tertutup oleh bibit batang atas yang cepat berbuah dan memiliki sifat-sifat unggul.

Berdasarkan cara penggabungannya, bibit kombinasi dapat dibedakan tiga macam cara, yaitu sambungan, okulasi, dan susuan.
More aboutBUDIDAYA TANAMAN BUAH

BUDIDAYA BUAH NAGA ORGANIK

Buah naga merupakan salah satu buah yang memiliki kandungan dan khasiat yang luar biasa bagi kesehatan manusia. Banyak keunggulan buah naga yang menjadikannya diburu oleh konsumen untuk berbagai keperluan. Tingginya permintaan konsumen terhadap buah naga memberikan peluang yang cukup besar bagi pengembangan agribisnis budidaya buah naga.

BUAH NAGA

Buah naga akhir-akhir ini banyak dibudidayakan oleh masyarakat, karena tingginya permintaan terhadap buah yang berasal dari gurun tersebut. Penanaman buah naga tersebar di pulau Jawa hingga ke Kalimantan. Kebun-kebun buah naga juga banyak ditemui. Memang, budidaya buah naga tergolong mudah dan minim perawatan. Budidaya buah naga bisa diusahakan di lahan yang luas dalam skala usaha besar maupun di lahan-lahan sempit seperti di kebun atau halaman rumah dengan menggunakan pot. Oleh karena itu, para pembudidaya buah naga mampu meraup keuntungan besar, disamping produksinya yang tinggi, juga harga jual yang sangat bagus.

PENANAMAN BUAH NAGA

Penanaman buah naga kini banyak yang diarahkan ke sistem budidaya organik. Buah naga yang dihasilkan dari budidaya yang dilakukan dengan teknik budidaya organi memiliki kualitas buah yang lebih baik dibandingkan buah naga yang dihasilkan dari budidaya secara kimia. Keuntungan dari teknik budidaya buah naga secara organik adalah buah yang dihasilkan sehat tanpa adanya residu bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh manusia dan lingkungan sekitar. Dengan demikian pencemaran lingkungan baik air, udara, maupun tanah oleh paparan pestisida bisa dikurangi. Disamping itu, penggunaan bahan organik juga dapat mengembalikan kesuburan tanah, baik sifat fisik, biologi, maupun kimia tanah, sehingga tanah bisa digunakan untuk proses budidaya pertanian berkelanjutan.

Sejauh ini di Indonesi sistem budidaya buah naga di Indonesia masih menggunakan bahan kimia, baik itu pemupukan maupun penggunaan pestisida. Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dengan tidak diimbangi dengan pemberian pupuk organik justru dapat menurunkan tingkat kesuburan tanah dalam kurun waktu tertentu. Tekstur tanah pertanian menjadi kurang subur, keras dan tandus akibat aplikasi pupuk kimia yang berlebihan. Selain itu penggunaan pestisida dosis tinggi dapat menimbulkan residu bahan kimia pada hasil produksi. Jika buah dengan paparan residu pestisida tinggi dikonsumsi oleh manusia secara terus menurus, maka residu pestisida tersebut akan terakumulasi dan menjadi racun dalam tubuh. Lihat selengkapnya tentang bahaya pestisida bagi kesehatan.

SYARAT TUMBUH TANAMAN BUAH NAGA

Syarat tumbuh tanaman buah naga tidak berbeda jauh dengan tanaman kaktus atau tanaman gurun pasir lainnya. Karena berasal dari daerah gurun pasir yang panas dan kering maka buah naga umumnya tumbuh baik di dataran rendah hingga menengah, yaitu buah naga sepesies Hylocereus undatus, yaitu buah naga dengan daging putih akan tumbuh baik pada ketinggian kurang dari 300 mdpl, sedangkan buah naga spesies Hylocereus costaricensis, yaitu buah naga dengan daging super merah (super red) tumbuh baik pada ketinggian 0-100mdpl. Sementara itu buah naga spesies Selenicereus megalanthus, yaitu buah naga dengan kulit kuning, daging putih tanpa sisik, akan tumbuh baik pada daerah dingin dengan ketinggian lebih dari 800 mdpl.

Tanaman buah naga lebih cocok ditanam di daerah kering, dibandingkan dengan yang memiliki iklim basah, dengan curah hujan yang ideal untuk pertumbuhannya yaitu 720 mm/tahun. Namun buah naga masih dapat tumbuh pada curah hujan tinggi yaitu antara 1.000-1.300 mm/tahun, akan tetapi selama pertumbuhannya tersebut, buah naga rentan terserang penyakit, terutama penyakit busuk akar dan busuk batang. Hal ini disebabkan tanaman buah naga tidak tahan genangan air, sehingga jika kondisi tanahnya tergenang, maka akar tanaman buah naga kesulitan mendapatkan suplai oksigen. Perakaran yang tidak mendapatkan suplai oksigen secara normal, maka perakaran tersebut mudah terserang penyakit.

Tanaman buah naga merupakan jenis tanaman yang membutuhkan intensitas penyinaran cahaya matahari penuh. Oleh karena itu, lokasi penanaman buah naga sebaiknya dilakukan di lahan terbuka tanpa naungan. Lahan terbuka juga lebih memberi peluang untuk memberikan sirkulasi udara yang cukup bagi pertumbuhan tanaman. Suhu udara ideal untuk pertumbuhan buah naga antara 26-36 derajat C.

Kondisi tanah yang ideal adalah tanah yang gembur dan porous, serta banyak mengandung bahan organik dan unsur hara. Hindari penanaman buah naga pada tanah yang banyak mengandung logam berat dan garam. pH tanah optimal untuk pertumbuhan buah naga antara 6-7. Penanaman buah naga pada tanah masam, dengan pH tanah di bawah 6, akan menyebabkan pertumbuhan akar tanaman menjadi pendek dan rusak. Akibatnya, akar tanaman buah naga tidak mampu menyerap unsur hara dengan baik sehingga tanaman mengalami kekurangan unsur hara dan keterlambatan pertumbuhan.

Meskipun tahan terhadap kekeringan, bukan berarti tanaman buah naga tidak memerlukan air. Air merupakan kebutuhan vital bagi tanaman. Oleh karena itu, air harus tersedia dengan baik. Namun, pemberian air yang berlebihan juga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman buah naga. Oleh karena itu, hindari lokasi yang mudah tergenang saat musim hujan, karena tanaman buah naga merupakan tanaman yang sensitif terhadap kelebihan air. Genangan air akan menyebabkan kelembaban tanah tinggi sehingga berpotensi menjadi tempat yang baik untuk pertumbuhan penyakit.

PERSIAPAN TEKNIS BUDIDAYA BUAH NAGA

Pemilihan lokasi budidaya buah naga perlu diperhatikan, hal ini bertujuan untuk memenuhi syarat tumbuh yang optimal bagi pertumbuhan buah naga. Pemilihan lokasi yang tepat akan menjadi faktor pertama yang menentukan keberhasilan budidaya buah naga.

Setelah menentukan lokasi agribisnis budidaya buah naga maka langkah selanjutnya adalah melakukan pengukuran pH tanah untuk menentukan jumlah pemberian kapur pertanian pada tanah masam atau pH rendah (di bawah 6,5). Pengukuran bisa dilakukan dengan kertas lakmus, PH meter, atau cairan PH tester. Pengambilan titik sampel bisa dilakukan dengan cara zigzag.

PELAKSANAAN BUDIDAYA BUAH NAGA

Persiapan Lahan Budidaya Buah naga

Setelah lokasi penanaman ditentukan dan melakukan pengukuran pH tanah maka dilanjutkan dengan persiapan lahan untuk budidaya. Persiapan tersebut mencakup pemasangan tiang panjatan, pembersihan lahan, serta pengolahan lahan.

Buah naga merupakan tanaman merambat sehingga dibutuhkan tiang panjatan untuk menopang pertumbuhan batang dan cabangnya. Bentuk atau model tiang panjatan yang digunakan dalam budidaya buah naga ada macam, yaitu bentuk tunggal dan bentuk kelompok atau pagar. Tiang panjatan yang digunakan harus dipastikan kuat dan mampu bertahan selama beberapa tahun karena tanaman buah naga tergolong tanaman yang berumur panjan.

Tiang panjatan buah naga dengan bentuk tunggal

Tiang panjatan bentuk tunggal bisa menggunakan tiang buatan yang terbuat dari beton atau tiang panjatan hidup dengan memanfaatkan batang tanaman hidup. Tiang panjatan tunggal dapat digunakan untuk menopang empat tanaman yang berproduksi dengan produktifitas rata-rata 3 kg per-tanaman. Para pembudidaya buah naga biasanya menggunakan tiang panjatan yang terbuat dari beton atau pipa PVC. Bentuk tiang panjatan bisa persegi, bulat, segitiga atau bentuk yang lain sesuai dengan selera pembudidaya. Untuk tiang panjatan yang berbentuk persegi dibuat dengan ukuran 10 cm x 10 cm, bentuk bulat dibuat dengan diameter 10 cm, dan bentuk segitiga dibuat dengan panjang sisi 15 cm. Tinggi tiang panjatan antara 1,5-2 meter. Jika jarak tanam buah naga 2,5 m x 2 m dan setiap tiang panjatan ditanami 4 tanaman maka untuk lahan selua 1 ha dibutuhkan sekitar 2.000 tiang panjatan dan 8.000 bibit buah naga.

Alternatif lain selain menggunakan tiang beton pembudidaya buah naga bisa menggunakan tiang panjatan hidup, yaitu tiang panjatan yang dibuat dengan memanfaatkan batang pohon hidup, misal tanaman angsana. Jati, jaranan, dan Clerecedae. Artinya tiang panjatan berupa tanaman hidup yang memiliki perakaran cukup dalam dan tanaman tersebut harus tahan pemangkasan berat karena buah naga harus terkena sinar matahari langsung agar bisa berproduksi secara optimal. Oleh karena itu, tiang panjatan hidup harus sering dipangkas apabila sudah menutupi batang dan cabang buah naga. Tiang panjatan hidup harus memiliki tinggi minimal 2 m dan berdiameter minimal 10 cm karena jika diameter kurang dari 10 cm dikhawatirkan tidak kuat menopang pertumbuhan buah naga. Penggunaan tiang jenis ini lebih menghemat biaya daripada tiang beton meskipun tidak sekuat dan tahan lama seperti itang beton. Namun demikian dengan adanya tiang panjatan hidup juga membutuhkan tambahan pupuk sehingga menambah biaya pemeliharaan.

Tiang panjatan ditancapkan ke dalam tanah dengan kedalaman sekitar 50 cm agar tiang berdiri kokoh dan kuat menyangga tanaman. Pada ujung tiang bagian atas diberi besi melingkar dengan diameter 30-60 cm berbentuk seperti stir mobil. Tujuan pemasangan besi melingkar ini adalah untuk menyediakan tempat yang berfungsi sebagai penopang cabang dan anak cabang tanaman buah naga. Apabila besi beton dirasa cukup mahal bisa menggunakan ban sepeda motor, ban mobil, atau bisa juga para-para dari kayu yang berbentuk menyilang. Jika menggunakan ban, agar bar kuat perlu dimasukkan ke dalam besi penyangga. Bila menggunakan ban luar mobil yang dibelah, maka ban tersebut perlu diikat pada besi penyangga agar lebih kuat.

Tiang panjatan buah naga dengan bentuk kelompok (double rowing)

Berbeda dengan tiang panjatan tunggal, model tiang panjatan double rowing mirip dengan tiang untuk menjemur pakaian. Dalam hal ini, tiang panjatan tersebut bisa digunakan sebagai tempat rambatan lebih dari satu tanaman buah naga. Kelebihan dari tiang panjatan kelompok adalah dapat dibuat dengan biaya yang lebih murah serta teknik pembuatan yang lebih efisien, dibanding tiang panjatan tunggal, karena bisa digunakan sebagai tempat rambatan untuk banyak tanaman buah naga. Namun, tiang panjatan kelompok ini juga memiliki kelemahan yaitu perawatan yang sulit karena cabang tanaman bisa saling terkait satu sama lain dan kurang tahan terhadap beban tanaman yang terlalu berat.

Cara pembuatan tiang panjatan ini adalah dengan menghubungkan dua buah tiang menggunakan kawat tebal sebagai penyangga batang tanaman buah naga dengan jarak antar tiang 4 meter. Tiang dibuat dengan tinggi 2-2,5 meter, kemudian dipendam sedalam kurang lebih 50 cm. Tebal tiang kurang lebih 15x15 cm dan terbuat dari beton atau cor. Agar tidak mudah roboh saat menopang beban sulur atau cabang tanaman buah naga, maka perlu dibuatkan penguat dari besi. Ujung tiang diberi palang yang dipasang melintang dan menyatu dengan tiang beton tersebut. Palang terbuat dari besi dengan panjang kurang lebih 50-60 cm, sehingga antara tiang beton dan palang besi membentuk huruf T. Ujung palang tersebut dihubungkan dengan ujung palang pada tiang lainnya menggunakan kawat yang kuat dan tahan karat, sehingga bentuk kedua tiang yang dihubungkan tersebut menyerupai tempat jemuran. Dari kedua kawat penghubung tiang panjatan ini dipasang kawat vertikal menuju kearah masing-masing titik tanam. Kawat vertikal ini yang akan digunakan sebagai penopang batang utama buah naga.

Sistem panjatan double rowing dengan panjang 4 meter dapat digunakan untuk menampung buah naga sebanyak 20-26 buah tanaman. Jarak tanam antarbaris 30 cm dan antartanaman 1 m dengan model penanaman zigzag. Tujuan penataan tata letak penanaman buah naga tersebut untuk mengoptimalkan intensitas sinar matahari sehingga cahaya yang tersebar lebih merata.

Pembersihan Lahan Penanaman Buah Naga

Pembersihan lahan yang akan digunakan sebagai tempat penanaman buah naga perlu dilakukan agar proses penanaman dan persiapan tidak mengalami kesulitan. Semak atau pohon kecil yang tampak di lahan dipotong sampai pangkal batan atau dicabut agar tidak tumbuh kembali. Sementara untuk cabang dan ranting pohon yang sudah besar dipotong sampai pangkal cabang atau ranting. Gulma yang tumbuh di lahan juga harus dibersihkan dengan cara dicangkul tipis-tipis.

Pengolahan Lahan Dan Pemupukan Dasar

Lahan yang sudah bersih kemudian dicangkul di sekitar daerah penanaman buah naga. Pencangkulan ini bertujuan untuk memecah tanah menjadi agregat-agregat kecil dan membalik tanah agar aerasi tanah lebih baik. Selain itu pecangkulan juga bertujuan agar lapisan tanah bawah bisa tercampur dengan lapisan tanah atas sehingga penyebaran humus atau bahan organik bisa merata ke seluruh lapisan tanah. Dengan demikian, tanah menjadi gembur dan subur sehingga akar tanaman buah naga dapat menyerap unsur hara dengan baik.

Lahan dengan pH tanah di bawah 6 harus dilakukan pengapuran dengan dosis 1,2 ton/ha ditabur merata keseluruh lahan. Selanjutnya pembuatan lubang tanam sesuai dengan model tiang panjatan yang digunakan.

Pada sistem panjatan tunggal, pengolahan tanah hanya dilakukan disekitar tiang panjatan saja. Buat lubang tanam tanam di sekitar tiang panjatan dengan ukuran 40 cm x 40 cm, kedalaman lubang kurang lebih 30 cm. Masukkan media tanam ke dalam lubang tanam yang terdiri dari campuran tanah, pupuk kandang, dan pasir/sekam bakar dengan perbandingan 1:1:1. Setelah itu lakukan penyiraman pada media tanam hingga basah dan biarkan terkena sinar matahari selama satu minggu. Agar pertumbuhan dan produksi tanaman buah naga optimal, berikan asam humat dan asam fulvat. Tambahkan juga agensia hayati, seperti fungisida/bakterisida organik untuk mencegah serangan penyakit setelah penanaman. Langkah selanjutnya adalah membuat drainase berupa parit diantara baris tanaman. Pembuatan drainase bertujuan untuk menampung kelebihan air pada saat musim hujan.

Berbeda dengan pengolahan tanah sistem panjatan tunggal. Pada sistem panjatan kelompok (double rowing) pengolahan tanah dilakukan dengan membuat alur penanaman diantara dua tiang beton yang sudah dipersiapkan. Alur yang berfungsi sebagai lokasi atau tempat penanaman buah naga, dibuat kurang lebih sepanjang 4 m dengan lebar galian 40-60 cm. Arah alur sesuai dengan arah kawat pengikat batang, yaitu diantara dua tiang betong. Kemudian media tanam ditebar merata ke dalam alur yang telah dibuat. Komposisi media tanam yang digunakan dalam satu alur adalah 20 kg tanah top soil, 20 kg pupuk kandang, dan 20 kg sekam bakar. Aduk bahan tersebut hingga merata kemudian dimasukkan ke dalam lubang alur. Setelah semua media dimasukkan ke dalam alur kemudian dilakukan penyiraman pada media hingga basah. Biarkan media tanam yang sudah dimasukkan ke dalam lubang terkena sinar matahari selama satu minggu. Penngeringan bertujuan agar media tanam terbebas dari patogen atau penguapan akibat proses dekomposisi. Agar pertumbuhan dan produksi tanaman buah naga optimal, berikan asam humat dan asam fulvat. Tambahkan juga agensia hayati, seperti fungisida/bakterisida organik untuk mencegah serangan penyakit setelah penanaman.

Persiapan Pembibitan Tanaman Buah naga

Keberhasilan budidaya buah naga tidak terlepas dari usaha penyiapan bibit yang berkualitas. Bibit yang vigor, sehat, serta bebas hama penyakit merupakan beberapa ciri bibit yang berkualitas dan memenuhi syarat. Bibit yang telah dipersiapkan dengan baik akan menghasilkan tanaman yang sehat dan mampu berproduksi optimal.

Selain itu kualitas bibit juga bisa ditentukan dari kualitas induk. Jika induk tanaman buah naga memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat dengan kualitas buah yang bagus, maka besar kemungkinan bibit yang dihasilkan juga memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan induknya. Jumlah kebutuhan bibit tergantung dengan sistem budidaya yang digunakan. Jika mengguanakan sistem tiang panjatan tungal maka dibutuhkan bibit buah naga sebanyak 1.000 batang/ha. Tetapi jika menggunakan sistem panjatan kelompok maka kebutuhan bibit buah naga akan lebih banyak lagi, yaitu 10.400 batang/ha. Oleh karena itu, pengadaan dan penyiapan bibit harus dilakukan secara intensif agar tidak terjadi kekurangan bibit setelah penanaman.

Perbanyakan bibit dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu perbanyakan generatif dan perbanyakan vegetatif. Perbanyakan generatif adalah perbanyakan menggunakan biji buah naga. Keuntungan menggunakan teknik perbanyakan generatif yaitu dapat diperoleh bibit dalam jumlah yang banyak dengan biaya yang murah. Setiap butir buah naga minimal berisi 1.000 biji. Namun cara ini kurang populer dan jarang dilakukan oleh pembudidaya buah naga karena membutuhkan waktu yang sangat lama dan sedikit lebih sulit jika dibandingkan dengan teknik perbanyakan vegetatif. Disamping itu untuk mendapatkan biji yang bernas dan berkualitas juga aga susah, karena harus dibutuhkan buah yang benar-benar tua dan sehat. Seleksi bijii yang berkualitas juga sulit dilakukan karena ukuran biji yang sangat kecil dan memiliki penampakan yang sama. Oleh karena itu, pada artikel ini hanya akan dibahas tentang teknik dan cara perbanyakan vegetatif.

Perbanyakan vegetatif adalah perbanyakan tanaman dengan menggunaka bagian dari tanaman itu sendiri. Teknik perbanyakan ini membutuhkan biaya yang mahal, tetapi tingkat keberhasilannya lebih tinggi disamping waktu yang dibutuhkan pada fase pemeliharaan lebih singkat. Keuntungan lain dari perbanyakan vegetatif yaitu kemungkinan tanaman mengalami penyimpangan genetik sangat kecil.

Metode perbanyakan vegetatif yang paling mudah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bibit pada budidaya buah naga adalah dengan teknik stek batang. Perbanyakan dengan stek memiliki tingkat keberhasilan bibit bertahan hidup lebih tinggi, pertumbuhannya lebih cepat, dan bibit yang dihasilkan berkualitas tinggi dengan genetik yang serupa dengan induknya. Selain itu teknik stek batang juga mudah dilakukan.

Sebelum melakukan penyetekan harus dipilih batang atau cabang tanaman yang baik, sehat, tua, berwarna hijau gelam, dan sudah pernah berbuah paling tidak 3-4 kali dengan panjang minimal 30 cm. Keberhasilan stek ditentukan oleh calon batang yang digunakan. Batang tanaman buah naga yang pernah berbuah pertumbuhannya akan cepat, kokoh, dan mudah membentuk tunas. Sedangkan batang atau cabang yang masih muda mengandung banyak air sehingga lebih rentan terserang penyakit. Batang atau cabang tanaman buah naga yang memenuhi kriteria tersebut akan lebih cepat keluar akar sehingga pertumbuhan tanaman juga lebih cepat yang ditandai dengan keluarnya tunas-tunas baru.

Setelah menentukan batang atau cabang tanaman buah naga yang akan digunakan untuk perbanyakan dengan cara stek batang, maka langkah selanjutnya adalah melakukan pemotongan terhadap calon batang atau cabang tanaman buah naga yang akan digunakan. Untuk membedakan bagian bawah dan atas batang yang telah dipotong, maka potongan dibuat meruncing pada bagian bawah, dengan demikian bekas potongan pada bagian atas batang akan membentuk huruf V. Kemudian angin-anginkan batang stek hingga getahnya mengering atau kurang lebih selama 2-3 hari.

Stek ditanam pada polibag yang sudah diisi media dengan komposisi 1 tanah, 1 pupuk kandang, dan 1 sekam bakar. Polybag diletakkan di atas bedengan yang sudah disiapkan dengan jarak 20 cm x 20 cm. Bedengan dibuat dengan lebar 100 cm. Langkah selanjutnya tempat persemaian ditutup dengan plastik sungkup transparan dengan ditopang menggunakan bambu yang dipasang melengkung. Selama pembibitan kondisi media harus dijaga agar tidak kekeringan. Tunas baru akan muncul setelah bibit berumur kurang lebih 2 minggu.

Pada umumnya, batang atau cabang stek yang sehat akan mengeluarkan lebih dari satu tunas secara bersamaan. Sisakan satu tunas yang paling besar dan sehat dengan petumbuhan yang kokoh. Perempelan tunas harus dilakukan secara rutin agar suplai nutrisi bisa dioptimalkan untuk pertumbuhan tunas yang dipelihara. Setelah 3 minggu, stek mulai mengeluarkan akar dan tanaman sudah tampak vigor. Pada umur ini plastik sungkup sudah bisa dibuka pada pagi hari dan ditutup lagi saat menjelang petang agar bibit memperoleh sinar matahari langsung. Namun jika kondisi hujan, plastik sungkup tetap dibiarkan menutupi bibit agar media penanaman tidak terlalu basah. Bibit siap ditanam pada umur 3-5 bulan.

Pengendalian hama penyakit dapat dilakukan dengan cara menjaga sanitasi lingkungan, baik di bedengan maupun polybag. Kelembaban pada areal penanaman harus selalu dijaga agar bibit stek tidak mengalami kekeringan. Namun yang perlu diperhatikan adalah pada saat melakukan penyiraman, harus dihindari pemberian air yang berlebihan agar tidak terjadi genangan yang berpotensi menimbulkan serangan penyakit, terutama penyakit akar. Gulma yang tumbuh di sekitar arel pembibitan juga harus dibersihkan agar tidak terjadi persaingan dalam memperoleh intensitas sinar matahari dan penyerapan unsur hara. Selain itu, gulma yang tumbuh di sekitar areal pembibitan juga berpotensi menjadi inang hama dan penyakit. Jika bibit terserang hama penyakit lakukan pengendalian secara terpadu. Jika serangan ringan, pengendalian hama penyakit cukup dilakukan secara manual. Sebagai pencegahan, lakukan penyemprotan rutin menggunakan pestisida organik maupun agensia hayati 1 minggu sekali.

Penanaman Buah Naga

Setelah lahan penanaman buah naga selesai dipersiapkan, pemindah tanaman bibit stek yang telah siap, kurang lebih berumur tiga bulan, bisa segera dilakukan. Penanaman harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan akibat teknis penanaman yang tidak benar, sehingga dapat mengakibatkan bibit stress dan pertumbuhannya terhambat. Perhatikan pada saat penanaman media dalam polybag jangan sampai pecah karena akan membuat bibit kesuliatan beradaptasi akibat mengalami kerusakan akar. Penanaman jangan terlalu dalam karena dapat mengakibatkan bibit mudah terserang penyakit busuk batang. Penanaman yang ideal kurang lebih 20% dari panjang bibit.

Teknis penanaman sistem tiang panjat tunggal berbeda dengan penanaman pada sistem tiang panjat berkelompok. Pada penanaman sistem tiang panjatan tunggal dilakukan dengan jarak tanam 10 cm dari tiang panjatan. Keempat stek ditanam mengelilingi tiang panjatan. Ikat keempat bibit tersebut pada tiang panjatan menggunakan tali yang lunak agar bibit tidak mudah jatuh. Lakukan pengikatan dengan hati-hati, jangan terlalu kuat sehingga mengakibatkan batang tanaman terluka. Batang tanaman yang terluka akan mudah terserang penyakit, terutama busuk batang. Lakukan penyiraman setelah penanaman selesai.

Teknik penanaman buah naga dengan sistem double rowing dilakukan dengan cara mengikuti lajur di antara dua tiang panjatan. Bibit buah naga ditanam tidak jauh dari kawat yang dipasang secara vertikal dengan titik tanam berpola zigzag.

Pemeliharaan Tanaman Buah Naga

Dalam budidaya buah naga, pemeliharaan harus tetap dilakukan secara teratur. Pemeliharaan tanaman merupakan faktor penting yang mendukung keberhasilan budidaya. Upaya pemeliharaan pada budidaya buah naga secara intensif meliputi pengairan, penyulaman, pengikatan batang atau cabang, pemupukan susulan, pemangkasan, seleksi buah, sanitasi kebun, serta pengendalian hama penyakit tanaman.

Pengairan

Pada dasarnya tanaman buah naga tidak membutuhkan irigasi khusus. Umunya pengairan dilakukan dengan sistem tadah hujan. Oleh karena akarnya yang sangat lebat, sehingga buah naga tahan terhadap kekeringan. Namun buah naga tetap memerlukan air yang cukup selama pertumbuhannya. Kekurangan air selama fase vegetatif dapat membuat tanaman layu dan sulit bertunas. Oleh karena itu penyiraman tetap dilakukan seminggu sekali hingga tanaman berumur 6 bulan. Bila kondisi tanah terlalu kering, maka penyiraman dilakukan 2-4 hari sekali, tergantung pada kondisi di lahan. Pada fase generatif, yang ditandai dengan munculnya bunga dan buah, maka penyiraman dilakukan setiap 10-14 hari sekali atau menyesuaikan kondisi bila tanah terlalu kering. Kekurangan air pada fase ini bisa mengakibatkan bunga rontok dan buah yang terbentuk tidak sempurna. Penyiraman dilakukan pada pagi atau sore hari.

Selain dengan penyiraman, pengairan juga bisa dilakukan dengan cara penggenangan. Caranya yaitu dengan perendaman air di parit sedalam kurang lebih 20 cm. Pengeleban dilakukan selama 1-1,5 jam, setelah itu air di parit harus segera dibuang atau dialirkan keluar. Pada sistem pertanian modern, pengairan bisa dilakukan menggunakan sprinkler dengan bantuan instalasi pompa air menggunakan motor.

Penyulaman tanaman

Penyulaman merupakan kegiatan mengganti tanaman yang mati disebabkan karena serangan hama, penyakit, atau sebab lain. Tujuan dari penyulaman yaitu agar tanaman bisa berproduksi optimal dan efisiensi lahan tetap tinggi. Penyulaman dilakukan pada umur 7 hari setelah tanam hingga tanaman berumur 2 bulan.

Pengikatan batang atau cabang

Letak batang atau cabang perlu diatur agar pertumbuhan tanaman normal dan tidak salah bentuk. Pengaturan letak turut berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan tanaman. Pengaturan dilakukan dengan pengikatan batang atau cabang ke tiang panjatan. Pengikatan yang terlambat membuat pertumbuhan batang atau cabang melengkung dan tidak teratur. Akibatnya cabang produktif tidak tumbuh ke atas.

Pengikatan dilakukan setiap 20-25 cm ke tiang panjatan. Tali pengikat bisa menggunakan tali rafia atau tali lunak lainnya dengan membentuk angaka 8. Pengikatan jangan terlalu kencang agar batang atau cabang tidak terjepit yang dapat mengakibatkan luka atau bahkan patah. Selain itu tujuan pengikatan juga untuk mempermudah akar udara menempel pada tiang panjatan sehingga memperkokoh posisi tanaman.

Pemupukan susulan

Meskipun tanah telah menyediakan hara, akan tetapi ketersediaan haranya tidak mencukupi untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman selanjutnya. Oleh karena itu, perlu diberi pupuk susulan atau pupuk tambahan. Pada budidaya buah naga dengan sistem organik pemberian pupuk tambahan dilakukan menggunakan pupuk kandang atau bahan organik lain yang sudah difermentasi. Dosis pemberian pupuk organik sebanyak 2-5 gram/tanaman pada fase vegetatif dan 5-10 gram/tanaman pada fase generatif. Frekuensi pemberian pupuk dilakukan dua bulan sekali. Pupuk diberikan dengan cara menggali lubang disekitar tanaman, jangan terlalu dekat dengan batang karena bisa melukai akar tanaman, kemudian ditaburkan dan segera ditutup dengan tanah. Setelah semua pupuk ditutup dengan tanah, lakukan penyiraman agar pupuk mudah bereaksi dan terserap oleh akar tanaman. Untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan produksi buah naga berikan nutrisi tanaman organik, asam humat dan asam fulvat, maupun hormon organik 7 hari sekali. Untuk penggunaan hormon tumbuhan (ZPT) sintesis, sebaiknya memahami fungsi dari hormon (ZPT) sintesis yang akan digunakan.

Pemangkasan tanaman buah naga

Pemangkasan tanaman bertujuan untuk memperoleh bentuk yang baik sehingga menunjang pertumbuhan yang baik. Selain itu, pemangkasan juga bertujuan untuk membuang bagian tanaman yang tidak produktif seperti cabang yang kerdil atau kurus. Batang atau cabang yang tidak produktif akan menghambat pembentukan tunas baru dan buah karena berkompetisi dengan batang produktif dalam memperoleh hara.

Pemangkasan vegetatif
Pemangkasan vegetatif untuk membentuk batang pokok dilakukan setelah bibit ditanam. Tunas yang tumbuh dari bibit dipertahankan hanya 1-2 tunas saja. Pilih tunas atau cabang yang sehat, kokoh dan berwarna hijau gelap. Tunas yang berbentuk tidak sempurna, dengan ujung membulat, juga harus dipangkas. Tunas yang dipelihara akan menjadi batang utama untuk dipertahankan hingga berukuran 130-150 cm. Jika telah mencapai tinggi yang diinginkan maka segera dipangkas sekitar 5-10 cm dari ujung batang. Bekas pangkasan dioles dengan larutan fungisida/bakterisida organik untuk menghindari infeksi cendawan atau bakteri. Dengan pemangkasan batang akan merangsang tumbuhnya cabang produktif yang seragam. Tunas baru yang muncul di bagian bawah juga harus dipangkas.

Pemangkasan generatif
Setelah pemangkasan vegetatif di bagian pangkal batang utama, maka akan muncul cabang produktif secara alami pada ujung batang tersebut. Umumnya akan muncul 4-5 cabang produktif. Lakukan seleksi pada cabang produktif tersebut dan pilih 3-4 cabang yang paling besar, sehat, kekar, dan berwarna hijau gelap. Pemangkasan tetap dilakukan pada setiap tunas baru yang muncul di cabang produktif hingga cabang produktif mencapai ukuran 70-100 cm. Saat cabang produktif telah mencapai ukuran tersebut, segera pangkas 5-10 cm dari ujung cabang. Setelah dilakukan pemotongan pada ujung cabang produktif, maka pemangkasan dilakukan terhadap semua tunas baru yang muncul pada tanaman buah naga. Pemotongan tunas tersebut bertujuan agar nutrisi yang diserap tanaman digunakan secara optimal untuk pembentukan bunga dan buah. Yang perlu diperhatikan adalah setiap kali melakukan pemangkasan harus segera diikuti dengan pengolesan larutan pestisida organik pada bekas pangkasan tersebut.

Seleksi bunga dan buah

Tanaman yang sudah mulai berbungan ditandai dengan munculnya bunga pada cabang produktif. Biasanya akan muncul lebih dari satu bunga. Oleh karena itu, seleksi bunga dilakukan saat bunga masih kecil, sehingga nutrisi tidak digunakan untuk perkembangan bunga yang dibuang. Pilih 2-3 bunga yang paling besar, sehat, berwarna cerah, dan segar pada setiap cabang produktif dengan jarak antar bunga kurang lebih 30 cm.

Sanitasi Kebun Penanaman Buah Naga

Sanitasi kebun merupakan kegiatan membersihkan kebun dari gulma atau tumbuhan pengganggu, batang atau cabang bekas pangkasan, serta perawatan saluran irigasi agar tidak menimbulkan genangan air saat musim hujan. Tujuan dari kegiatan tersebuat adalah untuk mencegah penyebaran hama penyakit, menjaga kelembaban areal pertanaman, dan pengurangi perebutan unsur hara antara tanaman buah naga dengan gulma.

Batang atau cabang bekas pangkasan segera dikumpulkan dan dimusnahkan saat melaukan pemangkasan. Caranya dengan menyediakan wadah dan langsung memasukan bekas pangkasan tersebut ke dalam wadah agar tidak tercecer. Pengendalian gulama dilakukan dengan melakukan penyiangan rutin. Pada budidaya buah naga organik, pengendalian gulma tidak dianjurkan menggunakan herbisida. Penyiangan dilakukan secara kultur teknis menggunakan cangkul. Pencangkulan di sekitar titik tanam dilakukan dengan hari-hati agar tidak merusak perakaran tanaman buah naga.

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT TANAMAN BUAH NAGA SECARA ORGANIK

Tanaman buah naga tergolong jenis tanaman yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit, seperti halnya tanaman kaktus lain yang memiliki ketahanan sukup tinggi terhadap serangan hama dan penyakit. Namun, hal ini tidak berarti bahwa tanaman buah naga yang kita budidaya selamanya terhindar dari hama penyakit. Oleh karena itu, upaya pengendalian hama penyakit tersebut tetap harus diterapkan sebagai sebuah kesatuan dalam proses agribisnis budidaya buah naga. Kerusakan akibat serangan hama dan penyakit tidak hanya menurunkan kualitas dan kuantitas produksi, tetapi bila tidak dikendalikan dan serangan semakin parah juga dapat mematikan tanaman. Oleh karena itu, sejak dini harus dilakukan pengontrolan tanaman dan identifikasi terhadap organisme pengganggu tanaman yang menyerang.

HAMA BUAH NAGA

Tungau (Tetranycus sp.)

Tungau berukuran sangat kecil dengan bentuk menyerupai laba-laba dan bersifat polyfag, yaitu menyerang hampir segala jenis tanaman. Serangga dewasa berukuran kurang lebih 1 mm dan aktif di siang hari. Siklus hidup tungau berkisar antara 14-15 hari. Tungau menyerang tanaman buah naga dengan cara menghisap cairan batang dan cabang. Akibatnya dipermukaan kulit batang atau cabang tanaman yang terserang muncul bintik-bintik kuning atau cokelat. Serangan yang berat akan menyebabkan tanaman buah naga tumbuh tidak normal.

Pengendalian tungau bisa dilakukan dengan penyemprotan pestisida nabati 3-4 hari sekali, seperti nimba, tagetes, eceng gondok, atau rumput laut. Untuk memulihkan tanaman yang terserang tungau diberikan nutrisi tanaman organik, baik melalui akar, dengan cara dikocor, maupun melalui tubuh tanaman, dengan cara disemprot.

Kutu Kebul (Bemisia tabaci)

Salah satu hama utama dalam budidaya buah naga adalah kutu kebul. Imago serangga dewasa berukuran 1-1,5 mm, berwarna putih, dan sayapnya ditutupi lapisan lilin yang bertepung. Serangga dewasa biasanya berkelompok pada permukaan bagian bawah cabang. Jika tanaman disentuh biasanya serangga akan beterbangan seperti kabut atau kebul putih. Gejala serangan kutu kebul pada tanaman buah naga ditandai dengan adanya bercak nekrotik akibat rusaknya sel-sel dan jaringan tanaman pada batang atau cabang yang terserang. Ekskresi kutu kebul berupa madu yang merupakan media tempat tumbuhnya embun jelaga yang berwarna hitam. Hal ini menyebabkan proses fotosintesis berlangsung tidak normal. Selain kerusakan langsung pada tanaman, kutu kebul merupakan serangga yang sangat berbahaya karena berperan sebagai vektor penular virus tanaman. Kerugian akibat serangan kutu kebul dapat mencapai 20-100%. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 60 jenis virus yang berpotensi ditularkan oleh kutu kebul.

Pengendalian hama kutu kebul dapat dilakukan secara kultur teknis, yaitu dengan menerapkan metode strip-planting yaitu penerapan tanaman perangkap. Tanaman perangkap bisa ditanam mengelilingi areal budidaya buah naga sehingga membentuk pagar yang rapat. Beberapa tanaman yang efektif digunakan sebagai perangkap kutu kebul antara lain, jagung, bunga matahai, kacang panjang, dan buncis. Selain penerapan strip planting, pengendalian gulma juga harus dilakukan secara rutin. Gulma sangat berpotensi sebagai inang kutu kebul.

Untuk mengurangi populasi serangga bisa dengan pemasangan alat perangkap yellow trap sebanyak 40 buah/ha. Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami kutu kebul, antara lain sebagai berikut :
  1. Kumbang predator Menochilus sexmaculatus (Coccinelidae) yang memiliki siklus hidup 18-24 hari dengan kemampuan memangsa nimfa kutu kebul sebanyak 200-400 ekor. Satu ekor kumbang betina mampu menghasilkan telur sebanyak 3.000 butir.
  2. Parasitoid Encarcia formosa, satu ekor serangga betinanya mampu menghasilkan telur sebanyak 100-200 butir.
Penyemprotan pestisida nabati seperti nimba, tagetes, eceng gondok, atau rumput laut harus dilakukan secara rutin dengan interval 3-4 hari sekali.

Untuk memperkuat kondisi tanaman agar mampu bertahan dari infeksi virus yang ditularkan oleh kutu kebul maka diperlukan penyemprotan mengunakan nutrisi organik secara rutin dengan interval 7 hari sekali. Pemberian nutrisi organik bertujuan untuk memberikan asupan yang cukup pada tanaman, sehingga tanaman tetap sehat. Tanaman yang sehat memiliki daya tahan yang baik dari serangan hama penyakit.

Kutu sisik (Pseudococcus sp.)

Hama ini lebih menyukai berapa pada bagian batan atau cabang tanaman buah naga yang tidak terkena sinar matahari. Batang atau cabang tanaman terserang telihat kusam.

Pengendalian hama Peudococcus sp. bisa dilakukan dengan penyemprotan pestisida nabati 3-4 hari sekali, seperti nimba, tagetes, eceng gondok, atau rumput laut. Untuk memulihkan tanaman yang terserang, berikan nutrisi tanaman organik, baik melalui akar, dengan cara dikocor, maupun melalui tubuh tanaman, dengan cara disemprot.

Kutu Batok (Aspidiotus sp.)

Hama kutu batok menyerang tanaman buah naga dengan cara mengisap cairan batang atau cabang, sehingga pada bagian tanaman terserang berwarna kuning.

Pengendalian hama Kutu Batok (Aspidiotus sp.) bisa dilakukan dengan penyemprotan pestisida nabati 3-4 hari sekali, seperti nimba, tagetes, eceng gondok, atau rumput laut. Untuk memulihkan tanaman yang terserang, berikan nutrisi tanaman organik, baik melalui akar, dengan cara dikocor, maupun melalui tubuh tanaman, dengan cara disemprot.

Bekicot

Hama bekicot menyerang tanaman buah naga terutama pada musim hujan. Bekicot menyerang tanaman buah naga pada malam hari dengan cara menggerogoti batang atau cabang tanaman sehingga bagian tanaman yang luka berpotensi terinfeksi oleh penyakit sekunder yang disebabkan oleh fungi maupun bakteri.

Pengendalian bekicot bisa dilakukan secara fisik yaitu dengan melakukan pengontrolan lahan dan mengambil berkicot yang menempel pada tanaman Lebih efektif pengendalian dengan cara ini dilakukan pada malam hari, karena bekicot memiliki aktifitas yang tinggi pada malam hari.

Semut

Pada umumnya, semut akan muncul pada saat tanaman buah naga mulai berbunga. Bunga buah naga memiliki aroma khas dan mengeluarkan cairan yang berasa manis. Semut menyerang dengan mengerubungi bungan yang baru kuncup dan mengakibatkan kulit buah akan berbintik-bintik cokelat. Hal ini tentunya mengakibatkan kualitas buah turun dan harga menjadi rendah. Pengendalian dilakukan dengan menaburkan kapur di sekitar batang utama.

Burung

Gangguan burung umumnya jarang terjadi sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Biasanya burung menyerang buah naga yang telah masak. Pemanenan tepat waktu dapat mengurangi resiko serangan burung tersebut.

PENYAKIT BUAH NAGA

Buah naga tergolong tanaman yang agak tahan terhadap serangan penyakit. Namun, bukan berarti tanaman buah naga tidak berpotensi terserang penyakit, apalagi jika lingkungan budidaya tidak sesui dengan syarat pertumbuhannya. Umumnya penyakit mulai menyerang tanaman akibat sanitasi kebun tidak dijaga dengan baik. Jika tanaman terserang penyakit maka harus segera dilakukan penanganan agar tidak menyebar ke tanaman yang lain. Berikut beberapa penyakit yang biasa ditemui pada tanaman buah naga dan cara pengendalian yang dapat dilakukan.

Busuk Pangkal Batang

Penyakit busung pangkal batang umumnya menyerang pada saat awal penanaman. Gejala serangan ditandai dengan adanya pembusukan pada pangkal batang sehingga menyebabkan batang berair dan berwarna kecokelatan. Pada daerah terserang terdapat bulu-bulu putih halus yang merupakan miselium cendawan. Penyakit ini disebabkan oleh serangan cendawan Sclerotium rolfsii Sacc. dan lebih sering menyerang tanaman pada saat cuaca lembab.

Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan pengaturan drainase dan kelembaban pada saat musim hujan. Penyemprotan tanaman menggunakan pestisida nabati, seperti daun serai, bawang putih, kunyit, serta bawang merah. Bahan-bahan tersebut direbus dan disemprotkan pada tanaman. Upaya lain yang bisa dilakukan adalah dengan pemanfaatan agensia hayati, seperti Trichoderma sp. dan Gliocldium sp.

Busuk Bakteri

Serangan penyakit ini desebabkan oleh infeksi bakteri Pseudomonas sp. Gejala tanaman yang terserang penyakit busuk bakteri ditandai dengan adanya pembusukan pada pangkal batang, terdapat lendir putih kekuningan pada daerah serangan, serta tanaman tanpak kusan dan layu.

Pengendalian terhadap serangan bakteri ini dilakukan dengan melakukan sanitasi kebun secara rutin, perbaikan drainase untuk mencegah adanya genangan air, pencabutan tanaman terserang dan tanah disekitar titik tanam dibuang jauh dari areal budidaya. Usahakan pembuangan tanah tersebut jangan sampai tercecer. Lubang bekas titik tanam ditaburi dengan kapur agar pH tanah lokal meningkat. Penyemprotan tanaman menggunakan pestisida nabati, seperti daun serai, bawang putih, kunyit, serta bawang merah. Bahan-bahan tersebut direbus dan disemprotkan pada tanaman. Upaya lain yang bisa dilakukan adalah dengan pemanfaatan agensia hayati, seperti Trichoderma sp. dan Gliocldium sp.

Layu Fusarium

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporium. Gejala serangan antara lain cabang tanaman berkerut, layu dan busuk berwarna cokelat. Secara umum gejala yang tampak hampir sama dengan serangan penyakit busuk bakteri.

Pengendalian terhadap serangan bakteri ini dilakukan dengan melakukan sanitasi kebun secara rutin, perbaikan drainase untuk mencegah adanya genangan air, pencabutan tanaman terserang dan tanah disekitar titik tanam dibuang jauh dari areal budidaya. Usahakan pembuangan tanah tersebut jangan sampai tercecer. Lubang bekas titik tanam ditaburi dengan kapur agar pH tanah lokal meningkat. Penyemprotan tanaman menggunakan pestisida nabati, seperti daun serai, bawang putih, kunyit, serta bawang merah. Bahan-bahan tersebut direbus dan disemprotkan pada tanaman. Upaya lain yang bisa dilakukan adalah dengan pemanfaatan agensia hayati, seperti Trichoderma sp. dan Gliocldium sp.

PANEN BUAH NAGA

Panen merupakan kegiatan memetik buah yang telah siap panen atau mencapai kematangan optimal sesuai dengan standar yang ditentukan pasar. Tujuan dari kegiatan panen ini adalah memperoleh hasil dari kegiatan budidaya, yaitu dengan memetik buah yang akan dipanen sesuai dengan tingkat kematangan yang dikehendaki. Umumnya produk hortikultura merupakan produk yang cepat sekali rusak. Meskipun mutunya bagus, tetapi jika pemanenan dilakukan dengan tidak benar maka akan menurunkan kualitasnya. Pada bagian ini akan dibahas tentang panen buah naga Super Red (Hylocereus costaricensis).

Setelah berumur 1,5-2 tahun tanaman buah naga mulai berbunga. Buah naga Super Red siap panen memerlukan waktu antara 50-55 hari sejak muncul bunga. Setelah bunga muncul pada bagian cabang atau tangkai buah diberi tanda tanggal munculnya bunga tersebut mengguunakan kertas dan ditulis dengan spidol, lalu kertas dibungkus dengan plastik bening agar tidak rusak. Biasanya pada 2 tahun pertama, setiap tiang mampu menghasilkan 8-10 buah naga dengan bobot 400-600 gram/buah. Umur produktif tanaman buah naga berkisar 15-20 tahun.

Ciri-Ciri buah naga siap panen antara lain:

  1. Umur buah sejak telah mencapai 50-55 hari setelah muncul bunga;
  2. Warna kulit buah mengkilat dengan sisik berubah dari hijau menjadi kemerahan;
  3. Mahkota buah telah mengecil;
  4. Kedua pangkal buah keriput dan kering;
  5. Bentuk buah bulat sempurna dan besar dengan bobot diperkirakan 400-600 g.
Waktu panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari antara pukul 06.00-09.00 atau sore hari antara pukul 15.00-17.00. Pemanenan dilakukan saat cuaca cerah dan tidak hujan. Hindari panen pada kondisi lembab karena dapat memicu serangan patogen pada saat penyimpanan.

Pemanenan buah naga harus dilakukan dengan benar untuk menjaga kualitas buah. Cara dan tahap pemanenan adalah sebagai berikut :
  1. Kenakan sarung tangan agar tidak melukai kulit buah.
  2. Gunakan gunting atau alat potong lain yang tajam untuk memotong tangkai buah.
  3. Potong buah tepat pada tangkainya, lakukan dengan hati-hati, jangan sampai melukai kulit buah maupun percabangan tempat buah tersebut.
  4. Bungkus buah yang telah dipanen dengan koran dan diletakkan ke dalam keranjang dengan posisi tangkai buah menghadap ke bawah. Bagian bawah atau dasar keranjang diberi alas menggunakan daun kering atau kertas koran.
  5. Bagian atas buah juga diberi alas untuk meletakkan buah pada lapisan di atasnya, bisa menggunakan daun kering atau kertas koran, sehingga dapat mengurangi tekanan buah pada lapisan di atasnya.
  6. Tinggi lapisan buah pada keranjang tidak lebih dari tiga lapis agar buah bagian bawah tidak menerima beban terlalu berat.

BUAH NAGA

More aboutBUDIDAYA BUAH NAGA ORGANIK