Tampilkan postingan dengan label HAMA PENYAKIT TANAMAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HAMA PENYAKIT TANAMAN. Tampilkan semua postingan

VIRUS PADA TANAMAN

VIRUS PADA TANAMAN

Virus bersifat parasit obligat, yaitu hanya dapat hidup pada inang yang hidup. Virus tidak menyerap cairan atau nutrisi tanaman. Akan tetapi virus menyerang dengan cara yang lebih ganas, yaitu memasuki sel inang dan memperbanyak diri di dalamnya. Jika inangnya mati, maka virus tersebut meninggalkan sel inangnya tersebut. Pemberantasan virus nyaris tidak mungkin dilakukan karena virus sangat mudah bermutasi. Pengendalian virus hanya dilakukan terhadap serangga vektor penularannya.

GEJALA UMUM PENYAKIT TANAMAN OLEH VIRUS

Secara umum tanaman yang terinfeksi oleh virus menunjukkan beberapa gejala yang biasanya terdapat daun, buah, batang, cabang, maupun akar. Gejala tersebut ditunjukkan dengan ukuran yang mengecil, perubahan bentuk atau bagian tanaman, perubahan warna, kematian jaringan tanaman (misalnya bercak bercincin), dan tanaman mengalami hambatan pertumbuhan.

PENYEBAB DAN CARA HIDUP VIRUS

Jenis virus yang menyerang tanaman sangat banyak, beberapa diantaranya adalah geminivirus, TMV, CMV, ChiVMV. Ketika tanaman pokok yang dibudidayakan tidak ada di lahan, virus dapat bertahan hidup: pada bahan biakan tanaman, vektor (serangga penular), gulma. Khusus TMV masih hidup pada daun tembakau yang sudah kering atau jadi rokok.

ASAL / SUMBER SERANGAN

Sumber serangan virus sangat banyak dan beragam. Bahan biakan (benih) juga dapat menjadi sumber serangan virus, terutama untuk TMV dan CMV. Selain itu, tanaman sakit di lapang, baik tanaman pokok yang dibudidayakan, tanaman budidaya lain selain tanaman pokok, maupun gulma. Bahkan ada gulma yang kadang-kadang tidak bergejala tetapi sudah tertular. Tetapi yang sangat membahayakan adalah serangan serangga penular (vektor) virus. Apalagi saat musim dalam kondisi yang optimal untuk perkembangan serangga penular tersebut. Manusia juga bisa menjadi perantara penularan virus, terutama untuk tanaman budidaya melalui proses pelukaan tanaman saat sedang melakukan perawatan.

KARAKTERISTIK PENYEBAB SERANGAN

Virus selalu berkembang dari waktu ke waktu. Pada umumnya pola sebaran di lapangan (lahan) tidak teratur. Disamping itu, serangan virus juga diikuti atau bersamaan dengan serangan serangga penyebabnya atau pembawanya (vektor). Penyakit virus biasanya ditemukan pada tanaman tertentu /kelompok tanaman tertentu.

CARA PENULARAN VIRUS

Infeksi virus menular dari satu tanaman ke tanaman lain melalui aktivitas serangga penular (vektor), antara lain kutu daun, kutu kebul, dan Thrips. Pelukaan tanaman dalam proses budidiaya tertutama selama proses perlakuan fisik terhadap tanaman, seperti pengikatan, perempelan, maupun pemotongan. Penularan melalui pelukaan tanaman juga bisa terjadi karena adanya gesekan antara tanaman yang terserang virus dengan tanaman sehat.

FAKTOR LINGKUNGAN YANG MEMPENGARUHI SERANGAN VIRUS

Penyakit yang disebabkan oleh virus banyak terjadi pada musim kemarau atau pertanaman di musim hujan tetapi pembibitan dilakukan pada musim kemarau, karena populasi vektor berpeluang berkembang dengan baik dan suhunya sesuai bagi perkembangan virus. Untuk virus yang ditularkan oleh kutu kebul, populasi serangga dewasa yang tidak terlalu tinggi sudah cukup untuk menularkan, karena sangat aktif geraknya.

VIRUS MOSAIK KETIMUN (Cucumber Mosaic Virus/CMV)

VIRUS TANAMAN
  • Memiliki inang yang luas termasuk gulma
  • Jarang menyerang tanaman yang masih muda
  • Ditularkan oleh kutu daun
  • Mudah ditularkan oleh manusia melalui pelukaan tanaman
  • Terbawa benih

VIRUS MOSAIK TEMBAKAU (TOBACCO MOSAIC VIRUS/TMV)

VIRUS TANAMAN
  • Inang utama dari famili Solanaceae (tembakau, terung, tomat, cabai, kentang)
  • Sangat mudah tertular lewat pelukaan
  • Terbawa di permukaan benih
  • Bertahan pada sisa tanaman yang berada di lahan
  • Bahkan pada rokok yang daunnya terinfeksi
  • Tidak ditularkan oleh serangga

CHILI VEIN MOTTLE VIRUS (ChiVMV)

VIRUS TANAMAN
  • Ditularkan oleh kutu daun
  • Jika populasi kutu daun sangat tinggi akan membentuk sayap sehingga mudah diterbangkan oleh angin

POTATO VIRUS Y (PVY)

VIRUS TANAMAN
  • Tanaman terserang : cabe, kentang, tomat, dan tembakau
  • Ditularkan oleh kutu daun dan bahan biakan vegetatif
  • Tidak ditularkan benih

TOMATO SPOTTED WILT RINGSPOT VIRUS (VIRUS BERCAK BERCINCIN)

VIRUS TANAMAN
  • Jenis tanaman inang yang terserang sangat banyak
  • Ditularkan oleh Thrips

GEMINI VIRUS (VIRUS KUNING)


  • Tanaman inang : cabai, tomat, tembakau, gulma
  • Ditularkan oleh kutu kebul (Bemisia tabaci). Jumlah kutu yang sedikit sudah cukup untuk menyebarkan karena serangga dewasa aktif bergerak
  • Tidak ditularkan benih

STRATEGI PENGENDALIAN VIRUS

  • Menghindari adanya kontak virus dengan tanaman pada saat usia dini: benih sehat, perlindungan bibit.
  • Menghindari kontak dengan vektor: Tanaman penghalang, kelambu untuk pembibitan, metode strip farming.
  • Mengurangi populasi vektor penular virus dengan memasang perangkap likat kuning maupun aplikasi pestisida.
  • Pengamatan rutin dan memusnahkan tanaman yang terserang (mengorbankan beberapa tanaman untuk menyelamatkan yang lebih besar). JANGAN TERLALU SAYANG DENGAN TANAMAN YANG SUDAH SAKIT.
  • Perlakuan benih dengan cara merendam 2 g benih dalam 10 ml trisodium fosfat (Na3PO4.12 H2O) 10 % (10 gram bahan dalam 100 ml air) selama 30 menit. Setelah itu pindahkan kembali benih yang sudah diperlakukan ke larutan yang sama, dengan membuat larutan yang baru, selama 2 jam. Bila proses tersebut telah selesai, bilas benih dengan air mengalir selama 45 menit.
  • Pemasangan kelambu di persemaian untuk menghindari kontak dengan serangga vektor penular virus.
  • Penerapan sistem strip planting atau tanaman perangkap untuk mengurangi serangan serangga vektor penular virus di areal pertanaman.
  • Jika masih ada tanaman sakit di lapang dan belum sempat dimusnahkan, hindari melakukan perompesan (wiwilan) dari tanaman sakit.
  • Secara rutin membersihkan gulma selama di pertanaman. Beberapa jenis gulma yang berpotensi sebagai inang virus adalah Ageratum (Sunda: babadotan, Jawa: wedusan), Physalis (Jawa: ceplukan, sunda: cecenet) , Mimosa (putri malu, sunda: Alimusa) .
  • Penggunaan mulsa plastik hitam perak dapat untuk mengurangi tingkat serangan serangga vektor.
  • Memperkuat pertumbuhan tanaman agar mampu mengkompensasi akibat serangan virus yaitu dengan menerapkan pemupukan dan pengairan yang tepat dan cukup .
  • Penggunaan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) untuk membuat tanaman lebih bugar dan menginduksi ketahanan .

MENENTUKAN PERMASALAHAN UNTUK MENGENDALIKAN SERANGAN VIRUS

Identifikasi karakter tanaman (spesies atau varietas). Misal, jenis tanaman tertentu yang tampak tidak normal, bukan karena sakit, tetapi karena karakternya.

Periksa individu tanaman abnormal secara keseluruhan dan kelompok tanaman di sekitarnya. Misal, jika daun tanaman menguning karena kerusakan akar, maka permasalahan sebenarnya adalah akar yang rusak bukan daun yang menguning.
More aboutVIRUS PADA TANAMAN

LALAT BUAH (Bactrocera sp.)


Lalat Buah

LALAT BUAH (Bactrocera sp.)

Lalat buah (Bactrocera sp.) adalah hama yang banyak menyerang buah-buahan dan sayuran. Anggota ordo Diptera ini kerap menggagalkan panen yang dinanti petani buah dan sayur. Sayuran seperti kubis dan seledri pun menjadi target serangan. Bahkan saai ini serangan lalat buah meluas ke tanaman hias adenium dan aglaonema.

Morfologi Lalat Buah

Lalat buah berukuran 1-6 mm, berkepala besar, berleher sangat kecil. Warnanya sangat bervariasi, kuning cerah, oranye, hitam, cokelat, atau kombinasinya dan bersayap datar. Pada tepi ujung sayap ada bercak-bercak coklat kekuningan. Pada abdomennya terdapat pita-pita hitam, sedangkan pada thoraxnya terdapat bercak-bercak kekuningan. Disebut Tephtridae-berarti bor-karena terdapat ovipositor pada lalat betina. Bagian tubuh itu berguna memasukkan telur ke dalam buah. Ovipositornya terdiri dari tiga ruas dengan bahan seperti tanduk yang keras.

Daur Hidup Lalat Buah

Dengan ovipositornya, lalat buah betina menusuk kulit buah atau sayur untuk meletakkan telurnya. Jumlah telur sekitar 50-100 butir. Setelah 2-5 hari, telur akan menetas dan menjadi larva. Larva tersebut akan membuat terowongan di dalam buah dan memakan dagingnya selama lebih kurang 4-7 hari. Larva yang telah dewasa meninggalkan buah dan jatuh di atas tanah, kemudian membuat terowongan sedalam 2-5 cm dan berubah menjadi pupa. Lama masa pupa 3-5 hari. Lalat dewasa keluar dari dalam pupa, dan kurang dari satu menit langsung bisa terbang. Total daur hidupnya antara 23-34 hari, tergantung cuaca. Dalam waktu satu tahun lalat ini diperkirakan menghasilkan 8-10 generasi. Lalat buah sering menyerang dan menghancurkan tanaman saat musim penghujan karena kelembapan memicu pupa untuk keluar menjadi lalat dewasa.

Klasifikasi Lalat Buah

Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Order : Diptera
Family : Tephritidae
Genus : Bactrocera
Subgenus : Bactrocera

Gejala Serangan Lalat Buah

Lalat betina menusuk buah atau sayur mengunakan ovipositornya untuk meletakkan telurnya dalam lapisan epidermis. Setelah telur menetas, larva akan menggerek buah dan menyebabkan buah membusuk di bagian dalam. Bila diamati, pada buah yang terserang akan tampak lubang kecil kehitaman bekas tusukan. Buah menjadi rusak, lembek, busuk dan akhirnya rontok. Lalat buah juga meletakkan telurnya tidak hanya di dalam buah, tetapi juga pada bunga dan batang. Batang yang terserang menjadi benjolan seperti bisul sehingga buah yang dihasilkan kecil-kecil dan menguning.

Akibat Serangan Lalat Buah

Sebagai contoh akan kita bahas serangan lalat buah pada tanaman cabai. Pada buah cabai terserang terdapat luka tusukan dalam ukuran kecil, seperti tertusuk jarum. Buah menjadi busuk lunak dan menghitam. Luka akibat tusukan menimbulkan infeksi sekunder berupa busuk buah, baik yang disebabkan oleh cendawan maupun bakteri. Buah cabai yang terkena tusukan lalat buah ini akan rontok. Jika buah dibelah akan terlihat biji-biji berwarna hitam dan terdapat belatung yang merupakan larva lalat buah.

Pengendalian Serangan Lalat Buah

Pengendalian lalat buah secara kultur teknis

  1. Sanitasi lingkungan, yaitu pengumpulan buah-buah yang terserang, baik yang jatuh maupun yang masih di pohon. Kemudian dimusnahkan dengan menimbun yang terserang kedalam tanah (pastikan bahwa kedalaman tanah tidak memungkinkan larva dapat berkembang menjadi pupa).
  2. Tanah di sekitarnya dicangkul dan dibalik agar pupa yang bersembunyi terkena sinar matahari dan mati.
  3. Tanaman perangkap, yaitu menanam selasih di sekeliling kebun.
  4. Pengasapan dengan membakar sampah kering dan bagian atasnya ditutupi sampah basah, agar dapat dihasilkan asap dan tidak sampai terbakar. Kepulan asap yang menyebar ke seluruh bagian tanaman akan mengusir keberadaan hama.
  5. Pembungkusan buah dengan kertas atau kantong.
  6. Penggunaan perangkap atraktan (bahan penarik lalat buah) dalam alat perangkap yang terbuat dari botol bekas air minum mineral yang diberi lubang untuk masuknya lalat buah. Bahan atraktan: metil eugenol (ME), protein hidrolisa, atau selasih.

Bioinsektisida

Bioinsektida adalah mikroorganisme pengendali serangga. Selain penyakit, kendala utama dalam budidaya tanaman adalah serangan hama. Pada awal infeksi bakteri, serangga akan menunjukkan penurunan aktivitas makan dan cenderung mencari perlindungan di tempat tersembunyi (dibawah daun). Sementara larva serangga akan mengalami diare, mengeluarkan cairan dari mulutnya, dan mengalami kelumpuhan pada saluran makanan.

Pemanfaatan musuh alami

Pengendalian hama Lalat buah (Bactrocera sp.) dengan memnfaatkan keanekaragaman hayati dalam agroekosistem. Pengendalian Bractocera dorsalis yang sudah dilakukan adalah dengan pemanfaatan musuh alami sebagai agen pengendali. Di mana dalam aplikasinya perlu ditunjang oleh beberapa hal, yaitu teknik perbanyakan inangnya yaitu B. dorsalis dengan menggunakan pakan buatan; eksplorasi, identifikasi musuh alami, yakni parasitopid B. Dorsalis, seperti Famili Braconidae (Biosteres sp. dan Opius sp.) serta peranannya dalam pengelolaan hama lalat buah; dan manipulasi musuh alami melalui praktik agronomis agar efektif sebagai agen pengendali hayati. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro) di Bogor telah melakukan serangkaian penelitian pengendalian hama tersebut. Pengendalian yang dipilih menggunakan Minyak Cemara Hantu (Melaleuca braceata) dan minyak selasih (Ocimum sanctum) yang berpeluang menjadi atraktan karena mengandung metil eugenol yang cukup tinggi. Sifatanya sebagai atraktan dapat menarik lalat buah. Akan tetapi tidak membunuhnya.

Pengendalian kimia

Pengendalian lalat buah secara kimiawi dapat dilakukan dengan memasang alat perangkap yang terbuat dari botol aqua dengan jarak ± 10 meter. Dalam perangkap tersebut diberi buah-buahan yang aromanya disukai lalat (misal nangka, timun) kemudian dicampur insektisida berbahan aktif metomil. Selain itu juga dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan. Penyemprotan menggunakan insektisida sebaiknya dilakukan pada pagi hari, dan dicampur dengan gula pasir sebanyak dua sendok makan per-tangki untuk memancing lalat memakan pestisida tersebut.
More aboutLALAT BUAH (Bactrocera sp.)

TUNGAU (MITES)


TUNGAU

TUNGAU

Tungau adalah sekelompok hewan kecil bertungkai delapan yang menjadi anggota superordo Acarina. Tungau berbeda dengan serangga (Insecta), tetapi lebih dikategorikan pada laba-laba. Hingga saat ini terdapat puluhan jenis tungau yang sudah ditemukan, tetapi taksonomi tungau belum stabil karena masih ditemukan banyak perubahan.

Dalam kondisi kering dengan suhu optimal 27° C tungau dapat menetas dalam waktu 3 hari, dan menjadi dewasa secara seksual dalam waktu 5 hari. Satu ekor tungau betina dapat bertelur hingga 20 butir per hari dan dapat hidup selama 2-4 minggu dan dapat meletakkan ratusan telur. Seekor tungau betina tunggal dapat menurunkan populasi hingga satu juta ekor tungau dalam waktu satu bulan. Tingkat reproduksi yang sangat cepat memungkinkan populasi tungau untuk beradaptasi dan melawan pestisida, sehingga metode pengendalian secara kimia menjadi kurang efektif ketika pestisida dengan bahan aktif yang sama digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Tungau betina bersifat diploid tungau sedangkan tungau jantan bersifat haploid. Artinya, tungau betina merupakan keturunan dari telur yang dibuahi oleh tungau jantan, sendangkan tungau jantan merupakan keturunan dari telur yang tidak dibuahi. Ketika melakukan perkawinan, tungau betina akan menghindari terjadinya pembuahan pada beberapa butir telur untuk menghasilkan tungau jantan. Telur yang dibuahi akan menghasilkan betina diploid. Sementara telur yang tidak dibuahi akan menghasilkan tungan jantan haploid.

Tungau menyerang tanaman dengan cara menusuk permukaan daun dan menghisap cairannya. Kerusakan akibat serangan tungau tidak bisa disepelekan. Selain merusak daun, tungau juga berpotensi menyerang batang dan buah. Hama ini menyerang tanaman pada berbagai musim karena memiliki kemampuan beradaptasi di berbagai habitat, seperti lumut, tanah, rumput, bahkan hingga gudang penyimpanan. Tungau bersifat polyfag, semua jenis tanaman diserang.

Jenis Tungau Yang Sering Menyerang Tanaman

Polyphagotarsonemus latus

Hama ini dikenal dengan nama tungau kuning. Polyphagotarsonemus latus sering menyerang tanaman cabai, tomat, karet, dan teh.

Tetranychus bimaculatus dan Tetranychus cinnabarinus

Hama ini dikenal dengan nama tungau merah. Tungau muda yang baru menetas berwarna merah jambu, mengalami beberapa kali pergantian kulit, selongsong kulitnya menempel pada daun. Tungau muda berwarna putih kekuningan dan tungau dewasa berwarna merah. Siklus hidup tungau merah diselesaikan dalam waktu sekitar 15 hari. Tungau ini sering menyerang tanaman cabai maupun tomat.

Steneotarsonemus bancofti

Steneotarsonemus bancofti menyerang tanaman tebu.

Pyemotes spp

Pyemotes spp menyerang tanaman lada.

Gejala Serangan Tungau

Umumnya tungau bersembunyi di balik daun dan menghisap cairan daun dalam jaringan mesofil hingga jaringan itu rusak. Akibatnya klorofil menjadi rusak dan menghambat proses fotosintesis tanaman. Serangan ditandai dengan munculnya bintik kuning di permukaan daun. Bintik tersebut lama-kelamaan melebar lalu berubah menjadi kecokelatan dan akhirnya menghitam. Daun menjadi terpelintir (distorsi), menebal, berbentuk seperti sendok terbalik, serta bagian bawah daun berwarna seperti tembaga dan terdapat benang-benang putih halus.
More aboutTUNGAU (MITES)

THRIPS


thrips

Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Subclass : Pterygota
Ordo : Thysanoptera

Hama thrips sangat mudah ditemukan di areal pertanaman. Bentuk tubuhnya langsing dengan panjang 1-2 mm, berwarna hitam dengan bintik-bintik atau garis merah. Telur thrips berbentuk oval. Telur menetas menjadi nimfa, tidak bisa terbang dan hanya meloncat-loncat. Thrips muda (nimfa) biasanya berwarna agak keputihan, kekuningan, hingga kemerahan. Serangga dewasa (imago) berwarna kuning pucat, coklat atau hitam. Thrips akan berubah warna menjadi lebih gelap pada suhu rendah. serangga betina memiliki dua pasang sayap kecil dan terdapat rambut berumbai di bagian samping tubuhnya, sedangkan serangga jantannya tidak bersayap. Thrips memiliki mulut asimetris yang berfungsi untuk menusuk dan menghisap tanaman, terutama pada bagian daun muda, kuncup atau tunas, bunga, dan buah muda. Masing-masing tanaman memiliki ketahanan yang berbeda terhadap spesies thrips, tergantung pada ketebalan epidermisnya.

Bagian tanaman yang dihisap cairannya akan menampakkan bercak berwarna putih keperakan yang selanjutnya bercak berubah warna menjadi kecoklatan. Pada serangan parah, daun tanaman tampak menggulung dan mengeriting. Kebanyakan spesies thrips mengeluarkan embun madu yang berpotensi mengundang datangnya serangan cendawan jelaga.

Pada kelembaban udara 70% dan suhu 27-32°C thrips berkembang biak sangat cepat karena pada kondisi demikian akan memicu produksi homon seks sehingga terjadi perkawinan masal, selain thrips itu sendiri mampu bereproduksi secara partenogenesis. Saat musim kemarau, jumlah populasi meningkat dan akan berkurang bila terjadi hujan lebat. Tekanan air hujan yang besar mampu menghanyutkan thrips. Penyebaran hama thrips dari satu tanaman ke tanaman lain berlangsung sangat cepat dengan bantuan angin maupun manusia.

Karakteristik Beberapa Spesies Thrips Thysanoptera


Taeniothrips simplek

Spesies ini memiliki tanaman inang utama gladiol. Nimfa menyerang bunga dan kuncup bunga serta mampu berkembang biak dalam umbi di gudang penyimpanan. Suhu optimal untuk perkembangbiakannya adalah 27°C dengan jumlah telur 130 butir/imago. Siklus hidupnya kurang lebih 33 hari, tetapi jika berada di dalam umbi hanya 10-19 hari.

Thrips tabaci

Thrips tabaci dikenal juga dengan nama onion thrips (thrips bawang), Thrips palmi. Bersifat kosmopolitan (tersebar luas hampir di seluruh dunia) dan polifag (mempunyai tanaman inang yang banyak) dengan jumlah telur 80 butir/imago. Spesies ini memiliki tanaman inang utama cabai, tomat, bawang merah, semangka, kentang, bayam, kapas, tembakau, labu dan tanaman dari famili Cruciferae. Perkembangan optimal terjadi pada kelembaban 70% dan jika merasa terganggu akan bersembunyi di dalam tanah. Pada tanaman bawang merah, spesies ini berkembang sempurna umur 7-12 hari. Merupakan vektor penular virus yang sangat aktif terutama pada tanaman tomat dan cabai.

Thrips parvispinus

Thrips parvispinus bersifat polifag. Tanaman inang utama meliputi tembakau, kopi, kacang panjang dan ubi jalar. Serangan awal terjadi pada daun bagian bawah atau daun tua kemudian akan menjalar ke bagian atas. Berkembang biak optimal saat suhu udara kering dengan siklus hidup satu generasi selama 9 hari. Populasi akan menurun saat musim hujan.

Heliothrips haemorrhoidalis

Spesies ini tidak memiliki tanaman inang utama karena hampir segala jenis tanaman akan diserang, bersifat polifag dan bereproduksi secara patrenogenesis. Perkembangbiakan optimal terjadi pada suhu 26-28°C dengan siklus hidup satu generasi selama 33 hari. Jumlah telur sebanyak 50 butir/imago.

Selenothrips rubrocinctus

Spesies ini memiliki tanaman inang utama yaitu mangga, salam, mete, dan kakao. Habitat utamanya di daerah tropis dan menyerang daun muda.

Dichromothrips smithi

Spesies ini memiliki tanaman inang utama yaitu anggrek (arachnis, cattleya, dendrobium, vanda). Menyerang tangkai daun, tangkai bunga dan petal bunga. Serangan parah terjadi saat musim kemarau.

Baliothrips biformis

Spesies ini memiliki tanaman inang utama yaitu tanaman jagung dan pembibitan padi. Serangnnya menimbulkan efek seperti kekeringan, serta bersifat partenogenesis.

Gejala

Thrips menghisap cairan tanaman melalui daun, pucuk, bunga, dan buah. Serangan pada daun, thrips menyerang dengan cara memakan permukaan bawah daun menggunakan mulut yang telah mengalami modifikasi menjadi penusuk penghisap. Daun tanaman yang dihisap meninggalkan bekas berwarna keperakan sebagai akibat dari jaringan daun yang dihisap cairannya menjadi kosong dan terisi udara. Perpaduan antara udara dan zat besi sebagai salah satu komponen pembentuk klorofil mengakibatkan warna keperakan tersebut berubah menjadi cokelat. Daun terserang akhirnya berkerut dan mengeriting.

Disamping itu, thrips juga bersarang di bunga. Bunga yang terserang akan layu dan gugur karena thrips menghisap cairan kaya karbohidrat dari tangkai bunga yang berperan membentuk kelopak dan polen. Serangan pada buah mengakibatkan buah mengecil dan keriput, karena jaringan dalam buah rusak.
More aboutTHRIPS

HAMA PENYAKIT TANAMAN KENTANG

HAMA PENYAKIT TANAMAN KENTANG

Tanaman kentang tergolong tanaman yang sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit baik pada musim hujan maupun musim kemarau. Penanaman kentang pada musim hujan sangat rentan terhadap serangan busuk Phytophthora dan layu Fusarium. Sebaliknya, jika penanaman dilakukan pada musim kemarau, tanaman kentang rentan terhadap serangan hama thrips, ulat, dan lalat penggorok daun. Pola tanam yang tidak menggunakan sistem rotasi tanaman dan berlangsung terus-menerus dalam waktu lama menyebabkan hama penyakit tersebut kini berpotensi menggagalkan panen di segala musim. Berikut kami uraikan tentang berbagai jenis hama dan penyakit yang berpotensi menyerang tanaman kentang beserta cara pengendaliannya.

HAMA TANAMAN KENTANG

Uret Phyllophaga (Holotricia) javana

Uret dikenal juga dengan naman white grub. Bentuk binatang ini menyerupai kumbang berwarna cokelat gelap dengan panjang 2-2,5 cm. Hama ini biasanya banyak terdapat ditumpukan bahan organik yang belum difermentasi. Sehingga aplikasi pupuk kandang yang belum difermentasi juga berpotensi menjadi penyebab serangan uret. Phyllophaga (Holotricia) javana menyerang tanaman kentang dengan cara melubangi umbi yang berpotensi membuat umbi tersebut busuk. Selain itu uret juga menyerang akar tanaman, sehingga jika serangan parah dapat mengakibatkan tanaman kentang mati.

Pengendalian hama uret bisa dilakukan dengan aplikasi agensia hayati, yaitu Metarrhizium anisoplae yang bisa didapatkan di kios pertanian terdekat.

Anjing Tanah Gryllotalpa sp.

Anjing tanah atau dalam bahasa jawa dikenal dengan orong-orong memiliki kaki yang sangat kuat. Hama ini selain menyerang umbi kentang juga sering ditemukan pada tanaman padi yang masih muda. Selain itu, Gryllotalpa sp. juga banyak ditemukan menyerang tanaman sayuran lain saat masih muda. Hama ini tinggal di dalam tanah dan menyerang pada malam hari.

Untuk saat ini anjing tanah belum menjadi hama yang serius pada budidaya kentang. Tetapi jika ditemukan serangan hama tersebut, maka segera ditaburkan insektisida berbahan aktif karbofuran, dengan dosis 0,5 gram/tanaman.

Thrips tabaci

Thrips berukuran sangat kecil, kurang lebih 1 mm sehingga sulit untuk dilihat mata. Hama ini bergerak lincah dengan radius serangan hingga 1 km. Thrips menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan daun, sehingga daun tanaman terserang tampak mengeripun dan keriting. Bagian bawah daun berwarna keperakan karena bagian dalam daun berongga setelah cairannya terhisap. Daun tua yang terserang tampak menggulung ke bagian bawah. Hama ini akan berkembang biak dengan baik dan menyerang ganas terutama pada kelembaban udara berkisar 70%. Thrips memiliki daur hidup antara 7-12 hari. Kutu muda berwarna putih, kekuningan, hingga kemerahan. Serangga dewasa memiliki dua pasang sayap kecil dan terdapat rambut pada bagian tepi tubuhnya. Bagian mulutnya berfungsi untuk menusuk dan menghisap bagian tanaman, seperti daun, bunga, buah, dan kuncup tunas.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalian serangan hama kutu daun adalah sebagai berikut :
  1. Menerapkan strip planting atau tanaman perangkap di sekeliling areal pertanaman sebagai tanaman pagar. Tanaman yang bisa digunakan sebagai tanaman perangkap adalah tanaman yang pertumbuhannya lebih tinggi dibanding tanaman utama antara lain jagung, kacang panjang, atau buncis. Tanaman perangkap ditanaman dua minggu sebelum penanaman kentang. Saat daun tanaman perangkap terserang, harus segera diambil dan dimusnahkan.
  2. Penggiliran tanaman dengan tanaman yang bukan sefamili dan tanaman inang.
  3. Sanitasi lahan, yaitu pengendalian gulma dan pemusnahan bagian tanaman terserang.
  4. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan penyemprotan insektisida nabati atau agensia hayati. Insektisida nabati dapat dibuat dari beberapa bahan nabati yang memiliki daya bunuh terhadap serangga, misalnya daun nimbau, umbi gadung, cabai, atau pohon jenu.
  5. Upaya pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, profenofos, dimehipo, asetamiprid, atau imidakloprid. Dosis/konsentrasi penyemprotan sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

Kutu Daun

Kutu daun yang umumnya menyerang tanaman kentang adalah Aphis gossypii, berwarna hijau kehitaman sampai kuning kecokelatan, dan Myzus persicae, sayapnya berwarna kehitaman dan tubuhnya berwana hijau, kuning, sampai merah kecokelatan. Kedua serangga ini bersifat polyfag, yaitu menyerang segala jenis tanaman, dan partenogenesis, yaitu berkembang biak secara aseksual (tanpa kawin). Kutu ini akan melahirkan nimfa dan daur hidupnya dalam jangka waktu 7-10 hari. Populasi kutu daun sangat tinggi pada kelembaban udara yang relatif rendah, terutama terjadi saat musim kemarau.

Kedua hama tersebut menyerang tanaman kentang dengan cara menghisap cairan daun atau bagian daun yang masih muda. Daun tampak keriput dan berkerut, terpelintir, dan berwana kekuningan. Tanaman terserang akan tumbuh kerdil dan pertumbuhannya terhambat. Hal yang sangat ditakutkan oleh pembudidaya kentang adalah kutu daun Aphis gossypii dan Myzus persicae merupakan serangga yang sangat aktif berperan sebagai penular virus. Serangan kutu daun berpotensi menggagalkan budidaya hingga puso.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalian serangan hama kutu daun adalah sebagai berikut :
  1. Menerapkan strip planting atau tanaman perangkap di sekeliling areal pertanaman sebagai tanaman pagar. Tanaman yang bisa digunakan sebagai tanaman perangkap adalah tanaman yang pertumbuhannya lebih tinggi dibanding tanaman utama antara lain jagung, kacang panjang, buncis, atau tanaman yang bunganya berwarna kuning karena kutu ini menyukai warna kuning. Tanaman perangkap ditanaman dua minggu sebelum penanaman kentang. Saat daun tanaman perangkap terserang, harus segera diambil dan dimusnahkan.
  2. Sanitasi lahan, yaitu pengendalian gulma dan pemusnahan bagian tanaman terserang.
  3. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan penyemprotan insektisida nabati atau agensia hayati. Insektisida nabati dapat dibuat dari beberapa bahan nabati yang memiliki daya bunuh terhadap serangga, misalnya daun nimbau, umbi gadung, atau pohon jenu. Agensia hayati yang bisa dimanfaatkan adalah Enthomopthora sp.
  4. Upaya pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, profenofos, dimehipo, asetamiprid, atau imidakloprid. Dosis/konsentrasi penyemprotan sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

Lalat Daun

Lalat daun atau sering disebut juga dengan istilah leafminer merupakan hama jenis penggorok yang bersifat polyfag atau menyerang beberapa tanaman. Hama ini lebih dikenal sebagai lalat penggorok daun (Lyriomyza huidobrensis). Hama Lyriomyza huidobrensis pernah merusak areal budidaya kentang di Pengalengan dan Garut. Termasuk jenis hama ganas dan berpotensi menyerang tanaman semua jenis tanaman di segala musim.

Gejala serangan tampak pada lubang-lubang kecil di permukaan daun akibat lalat dewasa menusukkan ovipositor-nya untuk meletakkan telur. Dari luka tusukan tersebut akan keluar cairan dan cairan ini akan dihisap oleh lalat sebagai makanan. Setelah telur menetas, larva atau imago akan menggorok ke dalam daun dengan cara menghisap cairan dan memakan bagian dalam daun. Pada permukaan daun akan terlihat bercak-bercak cokelat, lubang gorokan akan menyatu satu sama lain dan akhirnya daun mengering. Serangan hama lalat penggorok daun umumnya terjadi pada umur 20-35 hari atau menjelang pembentukan umbi dan berlanjut hingga fase panen. Kerusakan tanaman kentang yang diakibatkan serangan lalat Lyriomyza hudobrensis dapat mencapi 60%. Hama ini sangat berbahaya karena berperan sebagai serangga vektor penular virus. Virus berpotensi menginfeksi tanaman pada saat lalat ini menusukkan ovipositor-nya.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalian serangan hama lalat penggorok daun adalah sebagai berikut :
  1. Menanam bibit yang sehat.
  2. Menerapkan strip planting atau tanaman perangkap di sekitar areal pertanaman. Tanaman yang bisa digunakan sebagai tanaman perangkap antara lain kacang merah, atau tanaman yang bunganya berwarna kuning karena lalat ini menyukai warna kuning. Tanaman perangkap ditanaman dua minggu sebelum penanaman kentang. Saat daun tanaman perangkap terserang, harus segera diambil dan dimusnahkan. Selain cara tersebut, dapat juga dengan membuat perangkap berwarna kuning yang beri perekat. Perangkap tersebut dipasang sebanyak 100 perangkap/ha.
  3. Sanitasi lahan, yaitu pengendalian gulma dan pemusnahan bagian tanaman terserang.
  4. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan penyemprotan insektisida nabati atau agensia hayati. Insektisida nabati dapat dibuat dari beberapa bahan nabati yang memiliki daya bunuh terhadap serangga, misalnya daun nimbau, umbi gadung, atau pohon jenu. Agensia hayati yang bisa dimanfaatkan adalah Ascecode sp., Hemiptarsenus varicornis., Gronotoma sp., dan Opius sp.
  5. Upaya pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, profenofos, dimehipo, asetamiprid, atau imidakloprid. Dosis/konsentrasi penyemprotan sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

Ulat Penggulung

Ulat penggulung yang menyerang tanaman kentang adalah Phthorimaea operculella. Serangan ulat jenis ini banyak terjadi pada musim kemarau. Selain menyerang tanaman kentang, Phthorimaea operculella juga menyerang tanaman tembakau. Ulat ini dikenal juga dengan nama Potato Tumbermoth (PTM) dan diduga sebagai hama yang dapat mengundang datangnya serangan jamur Fusarium. Pada ketinggian 1.200 mdpl daur hidup ulat ini dapat mencapai 40 hari sehingga sangat berbahaya bagi tanaman kentang. Selain menyerang tanaman, Phthorimaea operculella juga berpotensi menyerang umbi kentang di dalam gudang. Serangga dewasa berupa kupu-kupu yang aktif pada malam hari. Kupu-kupu ini meletakkan telur yang sangat kecil di bawah daun atau di atas umbi yang tidak tertutup tanah.

Gejala serangan pada tanaman dimulai dengan adanya perubahan warna daun dari hijau menjadi merah tua. Selain itu, akan mucul jalinan menyerupai benang, di dalamnya terdapat ulat kecil berwarna abu-abu. Daun menggulung karena permukaan daun sebelah atas rusak. Serangan tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga terjadi di gudang tempat penyimpanan umbi, yang ditandai dengan adanya kotoran di sekitar mata tunas.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama ulat Phthorimaea operculella adalah sebagai berikut :
  1. Usahakan tidak ada retakan tanah, karena larva ulat Phthorimaea operculella ini akan masuk melalui retakan tanah dan merusak umbi.
  2. Pembubunan harus dilakukan dengan rutin untuk mencegah serangan larva ke dalam umbi.
  3. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  4. Upaya pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Atau bisa juga menggunakan pestisida biologi dengan aplikasi Bacillus thuringiensis atau Baculovirus.
  5. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Ulat Spodoptera exigua

Spodoptera exigua berwarna hijau dan berubah menjadi cokelat dengan strip kekuningan. Pupa ulat bawang terbentuk di dalam tanah akhirnya berubah menjadi kupu-kupu dengan sayap depan berwarna abu-abu gelap dan sayap belakang berwarna agak putih. Ulat ini sangat rakus dan menyerang hampir semua jenis tanaman hortikultura, sehingga penyebarannya sangat cepat. Spodoptera exigua menyerang tanaman kentang dengan cara memakan daun tanaman dimulai dari bagian tepi daun menuju bagian tengah. Pada serangan hebat, daun habis dan tanaman tampak gundul.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama ulat Spodoptera exigua adalah sebagai berikut :
  1. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  2. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Atau bisa juga menggunakan pestisida biologi dengan aplikasi Bacillus thuringiensis atau Baculovirus.
  3. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Ulat Tanah (Agrotis epsilon)

Ulat ini disebut juga ulat pemotong, atau black cut worm. Agrotis epsilon menyerang tanaman saat masih muda dengan cara memotong pangkal batang tanaman. Hama ini tergolong hama yang aktif pada malam hari, pada siang harinya bersembunyi di dalam tanah. Larva yang baru menetas biasanya merusak jaringan daun dan setelah dewasa ulat pindah ke dalam tanah dan akan memotong tanaman yang masih muda. Serangga dewasa berupa kupu-kupu yang berwarna gelap. Daur hidup dalam satu generasi berlangsung selama 28-42 hari.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama ulat Agrotis epsilon adalah sebagai berikut :
  1. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  2. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Atau bisa juga menggunakan pestisida biologi dengan aplikasi Bacillus thuringiensis atau Baculovirus.
  3. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Ulat Heliothis armigera

Ulat Heliothis armigera atau dikenal juga dengan nama corn earworm dapat menyerang umbi dan daun kentang. Ulat ini juga sering ditemukan pada tanaman cabai, tomat, tembakau, maupun jagung. Stadium dewasa berupa kupu-kupu berwarna kekuningan berbintik dan bergaris hitam. Hama ini dapat hidup di dataran rendah hingga dataran tinggi, yaitu di ketinggian 2.000 mdpl. Serangan ditandai dengan adanya daun maupun uymbi yang berlubang.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama ulat Heliothis armigera adalah sebagai berikut :
  1. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  2. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Atau bisa juga menggunakan pestisida biologi dengan aplikasi Bacillus thuringiensis atau Baculovirus.
  3. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Ulat Spodoptera litura

Tubuh ulat Spodoptera litura terdapat bintik-bintik segitiga berwana hitam. Bagian sisi tubuhnya berwana hitam dan bergaris kekuningan. Pupa terdapa di bawah permukaan tanah. Ulat ini dikenal juga dengan nama ulat grayak atau ulat tentara, karena menyerang secara bergerombol. Ulat menyerang daun tanaman hingga tinggal epidermis saja sehingga daun tampak seperti meranggas. Bersifat polyfag dan tergolong hama yang sangat ganas. Pada tanaman cabai, Spodoptera litura tidak hanya menyerang daun tanaman saja, tetapi buah cabai pun ikut diserang.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama ulat Spodoptera litura adalah sebagai berikut :
  1. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  2. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Atau bisa juga menggunakan pestisida biologi dengan aplikasi Bacillus thuringiensis atau Baculovirus.
  3. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Kumbang Kentang (Epilachna sp.)

Hama Epilachna sp. dikenal juga dengan nama potato beetle yang menyerang tanaman dari famili Solanaceae seperti tomat, terong, tembakau, cabai, maupun Physalis angulata atau sejenis ciplukan. Sosok serangga ini menyerupai kepik dengan warna kecokelatan dan berbintik hitam. Jumlah bintik pada tubuhnya sangat bervariasi, yaitu antara 12-16 totol.

Serangan dimulai dengan memakan bagian tengah daun, sehingga daun yang terserang akan nampak berlubang menyerupai jendela.  Pada serangan berat, hanya akan tersisa tulang daunnya saja.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama ulat Epilachna sp. adalah sebagai berikut :
  1. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  2. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati.
  3. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Nematoda (Meloidogyne incognita)

Nematoda sering juga disebut dengan nama bintil akar atau Root Knot Nematode, karena serangan hama ini ditandai adanya bintil-bintil kecil pada akar atau umbi yang menyerupai jerawat. Tanaman kentang yang terserang nematoda menunjukkan gejala pertumbuhan kerdil, daun menguning saat udara panas, daun yang mengering akan berguguran, apabila tanaman dicabut akan terlihat bintil-bintil pada akar atau umbi.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama nematoda adalah sebagai berikut :
Tidak menanam tanaman kentang pada daerah endemik.
Pemberian insektisida nematisida dengan bahan aktif karbofuran sebanyak 1 gr/tanaman.

PENYAKIT TANAMAN KENTANG

Busuk Daun (Phytophthora infestans)

Penyakit busuk daun disebabkan oleh infeksi patogen Phytophthora infestans. Cendawan tersebut dapat menyerang seluruh bagian tanaman, baik daun. Batang, pangkal batang, umbi, dan perakaran tanaman kentang. Hingga saat ini, Phytophthora insfestans masih merupakan penyakit utama yang sering menggagalkan panen, terutama terjadi pada musim hujan dengan suhu optimal untuk perkembangannya adalah 21¬°C.

Daun yang terserang menunjukkan gejala adanya bercak kecil kebasah-basahan berwarna hijau kelabu yang berubah menjadi cokelat kehitaman. Bercak meluas keseluruh daun sehingga daun akan membusuk dan kering. Daun yang membusuk tetap meggantuk pada tanaman, dan serangan akan meluas sampai ke batang atau cabang. Dibagian bawah daun terserang terdapat konidia spora berwana putih.

Serangan pada umbi ditandai denga adanya bercak berwarna cokelat sampai ungu kehitaman. Pada serangan berat, umbi akan membusuk dan tidak dapat dipanen. Penyakit ini juga menyerang umbi kentang saat di gudang penyimpanan.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit Phytophthora infestans adalah sebagai berikut :
  1. Sanitasi lingkungan, yaitu dengan memusnahkan tanaman terserang dan pengendalian gulma secara rutin.
  2. Pengaturan drainase sehingga tidak terjadi genangan air pada musim hujan.
  3. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Atau bisa juga menggunakan agensia hayati yaitu Trichoderma sp. atau Gliocladium sp.
  4. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif simoksanil, famoksadon, dimetomorf, propamokarb hidroklorida, mankozeb, klorotalonil atau thiram dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Layu Bakteri

Penyebab layu bakteri adalah bakteri Pseudomonas (Ralstonia) solanacearum. Gajala serangan ditandai dengan adanya beberapa daun muda pada pucuk tanaman mati dan menguningnya daun bagian bawah. Bila pangkal batang dipotong akan terlihat bercak berwarna cokelat pada kambiumnya berbentuk menyerupai cincin.

Serangan pada umbi detandai dengan adanya tanah basah berlendir yang menempel pada jung stolon atau bagian mata umbi atau bagian ujung umbi. Bila umbi dibelah akan nampak warna cokelat tua melingkar di bagian dagingnya. Tanda ini merupakan ciri khas serangan bakteri Pseudomonas (Ralstonia) solanacearum. Suhu uptimum untuk perkembangan bakteri adalah 27-37°C, sedangkan suhu yang menghambat pertumbuhannya 8-10°C.

Upaya pengendalian antara lain dengan meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman kentang terserang, melakukan penggiliran tanaman, pengaturan drainase agar tidak terjadi genangan air pada musim hujan, serta penyemprotan kimiawi menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik dengan bahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin. Dosis/konsentrasi sesuai pada kemasan. Sebagai pencegahan, dapat diaplikasikan agensia Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. pada saat persiapan lahan, umur 20hst dan 35 hst dilakukan pengocoran menggunakan pestisida organik pada tanah, contoh wonderfat dengan dosis sesuai anjuran pada kemasan.

Layu Fusarium

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Fusarium oxisporium. Gejala tanaman yang terserang penyakit ini sepintas mirip dengan serangan layu bakteri. Perbedaannya terletak pada pagian tanaman yang terserang, yaitu pada layu bakteri, jika bagian terserang dimasukkan ke dalam air maka akan keluar cairan putis susu meyerupai asap. Sedangkan pada layu fusarium tidak mengeluarkan cairan tersebut.

Upaya pengendalian antara lain dengan meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman kentang terserang, melakukan penggiliran tanaman, pengaturan drainase agar tidak terjadi genangan air pada musim hujan, serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida. Dosis/konsentrasi sesuai pada kemasan. Sebagai pencegahan, secara biologi berikan trichoderma pada saat persiapan lahan, umur 20hst dan 35 hst dilakukan pengocoran dengan pestisida organik pada tanah, contoh wonderfat dengan dosis sesuai anjuran pada kemasan.

Bercak Daun Alternaria

Penyakit ini disebut juga dengan istilah cacar daun atau bercak kering yang disebabkan oleh serangan cendawan Alternaria solani. Pada daun tanaman terserang terdapat bercak-bercak cokelat sampai hitam yang terdapat warna kuning pada sekitar bercak tersebut. Serangan parah akan mengakibatkan daun mengering dan gugur. Selain menyerang daun cendawan Alternaria pori juga merang umbi kentang. Umbi yang terserang ditandai dengan adanya bercak-bercak gelap berbentuk bulat tidak teratur pada kulit umbi.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini adalah sebagai berikut :
  1. Sanitasi lingkungan, yaitu dengan memusnahkan tanaman terserang dan pengendalian gulma secara rutin.
  2. Pengaturan drainase sehingga tidak terjadi genangan air pada musim hujan.
  3. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Atau bisa juga menggunakan agensia hayati yaitu Trichoderma sp. atau Gliocladium sp.
  4. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, difenokonazol, metil tiofanat, karbendazim, mankozeb, klorotalonil atau thiram dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Kudis lak

Penyakit kudis lak disebut juga dengan nama stem-cancer atau black scurf yang disebabkan oleh infeksi cendawan Rhizoctonia solani. Cendawan ini dapat terbawa oleh umbi, tanah, maupun pupuk kandang.  Daun yang terserang akan menggulung ke arah dalam dengan tepi berwarna ungu, batang lebih pendek, terdapat nekrotis pada pangkal akar, jika menyerang umbi akan mengakibatkan stolon busuk yang berwarna cokelat tua sampai hitam dan akan muncul umbi-umbi kecil pada batang di atas tanah. Pada permukaan umbi terdapat koloni cendawan berbentuk noda yang berwarna cokelat sampai hitam.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini adalah sebagai berikut :
  1. Sanitasi lingkungan, yaitu dengan memusnahkan tanaman terserang dan pengendalian gulma secara rutin.
  2. Pengaturan drainase sehingga tidak terjadi genangan air pada musim hujan.
  3. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Atau bisa juga menggunakan agensia hayati yaitu Trichoderma sp. atau Gliocladium sp.
  4. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif simoksanil, famoksadon, dimetomorf, propamokarb hidroklorida, mankozeb, klorotalonil atau thiram dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Kudis

Penyakit kudis disebut juga dengan nama common scab yang disebabkan oleh serangan bakteri Streptomyces scabies. Secara umum gejala serangan penyakit ini tidak berbeda jauh dengan gejala serangan penyakit layu bakteri dan layu fusarium. Pada permukaan umbi yang terserang terdapat bercak-bercak berwana kemerahan hingga kecokelatan. Pada bagian yang terserang akan mengering, berkerut, mengeras, dan bagian dalamnya bertepung.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini adalah sebagai berikut :
  1. Sanitasi lingkungan, yaitu dengan memusnahkan tanaman terserang dan pengendalian gulma secara rutin.
  2. Pengaturan drainase sehingga tidak terjadi genangan air pada musim hujan.
  3. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Atau bisa juga menggunakan agensia hayati yaitu Trichoderma sp. atau Gliocladium sp.
  4. Pengendalian kimiawi menggunakan bakterisida berbahan aktif oksitetrasiklin, strptomicyn sulfat, kasugamisin, atau tembaga dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Virus

Virus yang sering menyerang tanaman kentang diantaranya PLRV, PVX, PVY, dan CMV. Virus merupakan penyakit yang sangat berpotensi menimbulkan kegagalan terutama pada musim kemarau. Gejala serangan umumnya ditandai pertumbuhan tanaman kentang mengerdil, daun mengeriting dan terdapat bercak kuning kebasah-basahan. Penyakit virus sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Penyakit virus ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lain melalui vektor atau penular. Beberapa hama yang sangat berpotensi menjadi penular virus diantaranya thrips, kutu daun, kutu kebul, dan tungau. Manusia dapat juga berperan sebagai penular virus, baik melalui alat-alat pertanian maupun tangan terutama saat perempelan.

Beberapa upaya penanganan virus antara lain : membersihkan gulma (gulma berpotensi menjadi inang virus), mengendalikan hama/serangga penular virus, memusnahkan tanaman kentang terserang virus, kebersihan alat dan memberi pemahaman kepada tenaga kerja agar tidak ceroboh saat melakukan penanganan terhadap tanaman kentang.
More aboutHAMA PENYAKIT TANAMAN KENTANG

HAMA PENYAKIT TANAMAN JAGUNG

HAMA PENYAKIT TANAMAN JAGUNG

HAMA

Ulat Tanah (Agrotis sp.)


Hama jenis ini menyerang tanaman jagung muda pada malam hari, sedangkan pada siang harinya bersembunyi di dalam tanah. Ulat tanah menyerang batang tanaman jagung muda dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan juga ulat pemotong. Pengendalian hama ini dapat dilakukan menggunakan insektisida biologi dari golongan bakteri seperti Bacilius thuringiensis atau insektisida biologi dari golongan jamur seperti Beauvaria bassiana. Secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

Belalang (Locusta sp., dan Oxya chinensis)

Seperti ulat tanah, hama jenis ini menyerang tanaman jagung saat masih muda, yaitu dengan cara memakan tunas jagung yang baru tumbuh. Pengendalian secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

Hama belalang pada tanaman jagung merupakan hama migran dimana tingkat kerusakannya tergantung pada jumlah populasinya dan tipe tanaman yang diserang

Gejala serangan :
hama ini menyerang terutama pada bagian daun, daun terlihat rusak karena serangan dari belalang tersebut, jika populasinya banyak dan belalang sedang dalam keadaan kelaparan, hama ini bisa menghabiskan sekaligus dengan tulang – tulang daunnya.

Kumbang Bubuk (Sitophilus zeamais Motsch)

Kerusakan biji oleh kumbangn bubuk dapat mencapai 85% dengan penyusutan bobot biji 17%. Sitophilus zeamais Motsch dikenal dengan maize weevil atau kumbang bubuk, merupakan serangga yang bersifat polifag.

Selain menyerang jagung, juga beras, gandum, kacang tanah, kacang kapri, kacang kedelai, kelapa dan jambu mente. S. Zeamais lebih dominan terdapat pada jagung dan beras. S. Zeamais merusak biji jagung dalam penyimpanan dan juga dapat menyerang tongkol jagung yang masih berada di pertanaman.

Telur diletakkan satu per satu pada lubang gerekan didalam biji, Keperidian imago sekitar 300-400 butir telur stadia telur kurang lebih enam hari pada suhu 250C. Larva menggerek biji dan hidup di dalam biji, umur kurang lebih 20 hari pada suhu 250C dan kelembaban nisbi 70%. Pupa terbentuk di dalam biji dengan stadia pupa berkisar 5-8 hari.

Imago yang terbentuk berada di dalam biji selama beberapa hari sebelum membuat lubang keluar. Imago dapat bertahan hidup cukup lama yaitu dengan makan sekitar 3-5 bulan jika tersedia makanan dan sekitar 36 hari jika tanpa makan.

Siklus hidup sekitar 30-45 hari pada kondisi suhu optimum 290C, kadar air biji 14% dan kelembaban nisbi 70%. Perkembangan populasi sangat cepat bila bahan simpanan kadar airnya di atas 15%.

Pengendalian

a) Pengelolaan Tanaman
Serangan selama tanaman di lapangan dapat terjadi jika tongkol terbuka. Tanaman yang kekeringan, dengan pemberian pupuk yang rendah menyebabkan tanaman mudah terserang busuk tongkol sehingga dapat diinfeksi oleh kumbang bubuk. Panen yang tepat pada saat jagung mencapai masak fisiologis untuk mencegah Sitophilus zeamais, karena panen yang tertunda dapat menyebabkan meningkatnya kerusakan biji di penyimpanan.

b) Varietas Resisten/Tahan
Penggunaan varietas dengan kandungan asam fenolat tinggi dan kandungan asam aminonya rendah dapat menekan kumbang bubuk, dan penggunaan varietas yang mempunyai penutupan kelobot yang baik.

c) Kebersihan dan pengelolaan gudang
Kebanyakan hama gudang cenderung bersembunyi atau melakukan hibernasi sesudah gudang tersebut kosong. Untuk itu dibersihkan semua struktur gudang dan membakar semua biji yang terkontaminasi serta membuang dari area gudang. Selain itu karung-karung bekas yang masih berisi sisa biji harus dibuang. Semua struktur gudang harus diperbaiki, termasuk dinding yang retak-retak dimana serangga dapat bersembunyi, dan memberi perlakuan insektisida baik pada dinding maupun plafon gudang.

d) Persiapan biji jagung yang disimpan
Kadar air biji ≤ 12% dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Perkembangan populasi kumbang bubuk akan meningkat pada kadar air 15% atau lebih.

e) Fisik Dan Mekanis
Pada suhu lebih rendah dari 50C dan di atas 350C perkembangan serangga akan berhenti. Penjemuran dapat meng-hambat perkembangan kumbang bubuk. Sortasi dapat dilakukan dengan memisahkan biji rusak yang terinfeksi oleh serangga dengan biji sehat (utuh).

f) Bahan Tanaman
Bahan nabati yang dapat digunakan yaitu daun Annona sp., Hyptis spricigera, Lantana camara, daun Ageratum conyzoides, Chromolaena odorata, akar dari Khaya senegelensis, Acorus calamus, bunga dari Pyrethrum sp., Capsicum sp., dan tepung biji dari Annona sp. dan Melia sp.

g) Hayati
Penggunaan agensi patogen dapat mengendalikan kumbang bubuk seperti Beauveria bassiana pada konsentrasi 109 konidia/ml takaran 20 ml/kg biji dapat mencapai mortalitas 50%. Penggunaan parasitoid Anisopteromalus calandrae (Howard) mampu menekan kumbang bubuk.

h) Fumigasi
Fumigan merupakan senyawa kimia yang dalam suhu dan tekanan tertentu berbentuk gas, dapat membunuh serangga/hama melalui sistem pernapasan. Fumigasi dapat dilakukan pada tumpukan komoditas kemudian ditutup rapat dengan lembaran plastik. Fumigasi dapat pula dilakukan pada penyimpanan yang kedap udara seperti penyimpanan dalam silo, dengan menggunakan kaleng yang dibuat kedap udara atau pengemasan dengan menggunakan jerigen plastik, botol yang diisi sampai penuh kemudian mulut botol atau jerigen dilapisi dengan parafin untuk penyimpanan skala kecil. Jenis fumigan yang paling banyak digunakan adalah phospine (PH3), dan Methyl Bromida (CH3Br).

Lalat Bibit (Atherigona sp.)

Lalat bibit hanya ditemukan di daerah Jawa dan Sumatera dan dapat merusak pertanaman jagung hingga 80% dan bahkan puso. Lama hidup serangga dewasa bervariasi antara lima sampai 23 hari, serangga betina hidup dua kali lebih lama daripada yang jantan. Serangga dewasa sangat aktif terbang&nbsp dan sangat tertarik pada kecambah atau tanaman yang baru muncul di atas permukaan tanah. Imago kecil dengan ukuran panjang 2,5-4,5 mm.
Telur Imago betina mulai meletakkan telur tiga sampai lima hari setelah kawin dengan jumlah telur tujuh sampai 22 butir atau bahkan hingga 70 butir. Imago betina meletakkan selama tiga sampai tujuh hari, diletakkan secara tunggal, berwarna putih, memanjang, diletakkan dibawah permukaan daun.
Larva terdiri dari tiga instar yang berwarna putih krem pada awalnya dan selanjutnya menjadi kuning hingga kuning gelap. Larva yang baru menetas melubangi batang yang kemudian membuat terowongan, sampai dasar batang, sehingga tanaman menjadi kuning dan akhirnya mati.
Pupa terdapat pada pangkal batang dekat atau di bawah permukaan tanah, umur pupa 12 hari pada pagi atau sore hari. Puparium berwarna coklat kemerah-merahan sampai coklat dengan ukuran panjang 4,1 mm.

Pengendalian
a) Hayati
- Parasitoid Trichogramma spp. Yang memarasit telur, Opius sp. Dan Tetrastichus sp. Memarasit larva
- Predator Clubiona japonicola yang merupakan predator imago.

b) Kultur Teknis
Oleh karena aktivitas lalat bibit hanya selama satu sampai dua bulan pada musim hujan, dengan mengubah waktu tanam, pergiliran tanaman dengan tanaman bukan jagung, tanam serempak serangan lalat bibit dapat dihindari.

c) Varietas Resisten
Galur-galur jagung QPM putih yang tahan terhadap lalat bibit adalah MSQ-P1(S1)-C1-11, MSQ-P1(S1)-C1-12, MSQ-P1(S1)-C1-44, MSQ-P1(S1)-C1-45, dan galur-galur jagung QPM kuning yang tahan terhadap serangga hama ini adalah MSQ-K1(S1)-C1-16, MSQ-K1(S1)-C1-35, MSQ-K1(S1)-C1-50.

d) Kimiawi
Pengendalian dengan insektisida dapat dilakukan dengan perlakuan benih (seed dressing) yaitu thiodikarb dengan dosis 7,5-15 g b.a./kg benih atau karbofuran dengan dosis 6 g b.a./kg benih. Selanjutnya setelah tanaman berumur 5-7 hari, tanaman disemprot dengan karbosulfan dengan dosis 0,2 kg b.a./ha atau thiodikarb 0,75 kg b.a/ha. Penggunaan insektisida hanya dianjurkan di daerah endemik .

Gejala :
tanaman yang baru tumbuh menguning karena larva yang baru menetas melubangi batang, kemudian membuat terowongan hingga ke dasar batang sehingga tanaman menguning dan akhirnya mati. Jika tanaman mengalami recovery (proses penyembuhan), maka pertumbuhannya akan kerdil.

Ulat Grayak (Spodoptera sp.)

Larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang secara serentak berkelompok. dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, umumnya terjadi pada musim kemarau.

Pengendalian secara fisik dapat dilakukan dengan memasang alat perangkap ngengat sex feromonoid sebanyak 40 buah/Ha semenjak tanaman jagung berumur 2 minggu.

Penggunaan agensia hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami seperti : Cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, dan Metarhizium anisopliae. Dari golongan bakteri yaitu Bacillus thuringensis. Pemanfaatan patogen virus untuk ulat ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan Sl-NPV (Spodoptera litura - Nuclear Polyhedrosis Virus). Parasit lain yang dapat dimanfaatkan adalah Parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp.

Pengendalian secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

Kemampuan ulat grayak merusak tanaman jagung berkisar antara 5-50%. Ngengat aktif malam hari, sayap bagian depan ber-warna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang ber-warna keputihan. Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadang tersusun 2 lapis), warna coklat kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing berisi 25–500 butir) tertutup bulu seperti beludru.

Larva mempunyai warna yang bervariasi, ulat yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan dan hidup berkelompok. Ulat menyerang tanaman pada malam hari, dan pada siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab). Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar.

Pupa, ulat berkepompong dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon) berwana coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm.
Siklus hidup berkisar antara 30 – 60 hari (lama stadium telur 2 – 4 hari, larva yang terdiri dari 5 instar : 20 – 46 hari, pupa 8 – 11 hari).

Tanaman Inang hama ini bersifat polifag, selain jagung juga menyerang tomat, kubis, cabai, buncis, bawang merah, terung, kentang, kangkung, bayam, padi, tebu, jeruk, pisang, tembakau, kacang-kacangan, tanaman hias, gulma Limnocharis sp., Passiflora foetida, Ageratum sp., Cleome sp., Trema sp.

Penggerek Tongkol (Heliotis armigera, Helicoverpa armigera.)

Imago betina akan meletakkan telur pada silk (rambut) jagung Rata-rata produksi telur imago betina adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga hari setelah diletakkan dan sesaat setelah menetas larva akan menginvasi masuk kedalam tongkol dan akan memakan biji yang sedang mengalami perkembangan. Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol jagung.
pada lubang – lubang bekas gorokan hama ini terdapat kotoran – kotoran yang berasal dari hama tersebut, biasanya hama ini lebih dahulu menyerang pada tangkai bunga.

Musuh alami yang digunakan sebagai pengendali hayati dan cukup efektif untuk mengendalikan penggerek tongkol adalah Parasit, Trichogramma spp yang merupakan parasit telur dan Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit pada larva muda.
Kimiawi setelah terbentuk rambut jagung pada tongkol dan selang 1-2 hari hingga rambut jagung berwarna coklat.

Penggerek Batang (Ostrinia fumacalis)

Hama ini menyerang semua bagian tanaman jagung pada seluruh fase pertumbuhan. Kehilangan hasil akibat serangannya dapat mencapai 80%. Ngengat aktif malam hari, dan menghasilkan bebe-rapa generasi per tahun, umur imago / ngengat dewasa 7-11 hari. Telur berwarna putih, di letakkan berkelompok, satu kelompok telur beragam antara 30-50 butir, seekor ngengat betina mampu meletakkan telur 602-817 butir, umur telur 3-4 hari. Ngengat betina lebih menyukai meletakkan telur pada tanaman jagung yang tinggi dan telur di letakkan pada permukaan bagian bawah daun utamanya pada daun ke 5-9, umur telur 3-4 hari.

Larva yang baru menetas berwarna putih kekuning-kuningan, makan berpindah-pindah, larva muda makan pada bagian alur bunga jantan, setelah instar lanjut menggerek batang, umur larva 17-30 hari. Pupa biasanya terbentuk di dalam batang, berwarna coklat kemerah merahan, umur pupa 6-9 hari.

Gejala Serangan
Larva O. furnacalis ini mempunyai karakteristik kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak.

Pengendalian
  1. Kultur teknis
  2. Waktu tanam yang tepat,
  3. Tumpangsari jagung dengan kedelai atau kacang tanah.
  4. Pemotongan sebagian bunga jantan (4 dari 6 baris tanaman)

Hayati
Pemanfaatan musuh alami seperti :
- Parasitoid Trichogramma spp.Parasitoid tersebut dapat memarasit telur O. furnacalis.
- Predator Euborellia annulata memangsa larva dan pupa O. furnacalis.
- Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki mengendalikan larva O. furnacalis,
- Cendawan Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae mengendalikan larva O. furnacalis. Ambang ekonomi 1 larva/tanaman.

Kimiawi
Penggunaan insektisida yang berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklhrofos, dan karbofuran efektif untuk menekan serangan penggerek batang jagung.

merupakan salah satu hama utama pada tanaman jagung sehingga perlu diwaspadai. Kehilangan hasil akibat hama tersebut mencapai 20−80%. Besarnya kehilangan hasil dipengaruhi oleh padat populasi larva serta umur tanaman saat terserang.

Gejala :
kerusakan pada setiap bagian tanaman jagung yaitu lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, tumpukan tassel yang rusak.

Penggerek batang merupakan salah satu hama utama tanaman jagung yang menjadi momok bagi para petani di kawasan Asia. Bagaimana tidak, hama utama pada tanaman jagung itu mampu merusak sekaligus menghilangkan potensi hasil yang ada hingga 80%.

Nama ilmiahnya adalah Ostrinia furnacalis Guenee, dari kerabat Noctuidae, itulah hama penggerek batang pada tanaman jagung. Hama ini menjadi salah satu hama utama pada pertanaman jagung karena dampak yang bisa ditimbulkannya cukup merugikan bagi para petani. Tingkat kerusakan dan kehilangan hasil (loss yields) yang diakibatkannya bisa mencapai 80%.

Tingginya kerusakan hasil yang ditimbulkan tersebut karena titik serangnya bukan hanya pada bagian tertentu saja, namun hampir di semua bagian tanaman jagung bisa menjadi incarannya. Selain itu, hama ini juga menyerang pada semua fase pertumbuhan tanaman jagung.

Lantaran yang diserang adalah hampir semua bagian tanaman, maka gejala serangannya bisa dilihat di bagian daun, batang, bunga, dan juga tongkol. Dampak serangan larvanya memiliki ciri khas yang bisa diamati langsung dengan mata telanjang, yaitu: adanya lubang kecil pada daun, adanya lubang bekas gerekan pada batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol. Akibat gerekan tersebut batang dan dan bunga jantan menjadi mudah patah, adanya tumpukan bunga jantan yang rusak, dan rusaknya tongkol jagung.

Serangan serangga ini dimulai saat tanaman jagung berumur dua minggu, dimana imagonya mulai meletakkan telur pada bagian-bagian tanaman. Puncak peletakan telur itu sendiri terjadi pada stadia pembentukan bunga jantan hingga keluarnya bunga jantan.

Yang menarik, ngengat betina hama ini lebih suka meletakkan telur-telurnya di bawah permukaan daun, utamanya pada daun ke-5 hingga daun ke-9. Seekor ngengat betina mampu meletakkan telurnya sebanyak 300 – 500 butir. Jumlah telur yang diletakkan pada daun pun beragam di antara masing-masing kelompok, yaitu berkisar antara 30 hingga 50 butir, bahkan ada yang lebih dari 90 butir. Umur telurnya sendiri berkisar antara 3 hingga 4 hari.

Intensitas serangan hama penggerek batang mulai parah tatkala telur-telur tersebut menetas dan berubah menjadi larva. Pada fase inilah tingkat kerusakan dan kehilangan hasil terbesar terjadi. Larva yang berwarna putih itu akan langsung mencari makanan di semua bagian tanaman jagung. Biasanya larva muda akan memakan bagian alur bunga jantan, dan setelah memasuki fase instar, larva yang memiliki umur 17 – 30 hari itu akan mulai menggerek batang jagung.

Kutu Daun (Mysus persicae)

Hama kutu daun pada tanaman jagung adalah Mysus persicae. Hama ini mengisap cairan tanaman jagung terutama pada daun muda, kotorannya berasa manis sehingga menggundang semut dan berpotensi menimbulkan serangan sekunder yaitu cendawan jelaga. Serangan parah menyebabkan daun tanaman mengalami klorosis(kuning), dan menggulung. Kutu ini juga menjadi serangga vektor penular virus mosaik. Pengendalian hama Mysus persicae dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.


PENYAKIT


Hawar Daun (Helmithosporium turcicum)

Gejala
Pada awal terinfeksi maka gejala berupa bercak kecil, berbentuk oval kemudian bercak semakin memanjang berbentuk ellips dan berkembang menjadi nekrotik yang disebut hawar, warnanya hijau keabu-abuan atau coklat. Panjang hawar 2,5_15 Cm, bercak muncul dimulai pada daun yang terbawah kemudian berkembang menuju daun atas. Infeksi berat dapat mengakibatkan tanaman cepat mati atau mengering, dan cendawan ini tidak menginfeksi tongkol atau klobot. Cendawan ini dapat bertahan hidup dalam bentuk miselium dorman pada daun atau pada sisa sisa tanaman di lapang.

Penyebab
Penyakit hawar daun disebabkan oleh Helminthosporium turcicum

Pengendalian
- Menanam varietas tahan Bisma, Pioner-2, pioner-14, Semar-2 dan semar-5
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai keakarnya (Eradikasi tanaman) yang terinfeksi bercak daun
- Penggunaan fungisida dengan bahan aktif mankozeb dan dithiocarbamate

Busuk Pelepah (Rhizoctonia solani)

Gejala
Penyakit busuk pelepah pada tanaman jagung umumnya terjadi pada pelepah daun, dengan gejala bercak berwarna agak kemerahan kemudian berubah menjadi abu-abu, selanjutnya bercak meluas dan seringkali diikuti pembentukan sklerotium dengan bentuk yang tidak beraturan yang berwarna putih kemudian berubah menjadi cokelat.

Gejala penyakit ini dimulai dari bagian tanaman yang paling dekat dengan permukaan tanah dan menjalar ke bagian atas, pada varietas yang tidak tahan penyakit ini (rentan) serangan cendawan dapat mencapai pucuk atau tongkol. Cendawan ini bertahan hidup sebagai miselium dan sklerotium pada biji, di tanah dan pada sisa-sisa tanaman di lapang. Keadaan tanah yang basah, lembab, dan drainase yang kurang baik akan merangsang pertumbuhan miselium dan sklerotia, sehingga merupakan sumber inokulum utama.

Penyebab
Penyebab penyakit busuk pelepah adalah Rhizoctonia solani

Pengendalian
- Menggunakan varietas/galur yang tahan sampai agak tahan terhadap penyakit hawar pelepah seperti : Semar-2, Rama, Galur GM 27
- Diusahakan agar pertanaman tidak terlalu rapat sehingga kelembaban tidak terlalu tinggi
- Lahan mempunyai drainase yang baik
- Pergiliran tanaman, tidak menanam jagung terus menerus di lahan yang sama
- Penggunaan fungisida dengan bahan aktif mancozeb dan karbendazim

Penyakit Bulai (Peronosclerospora maydis)

Penyakit bulai merupakan penyakit utama tanaman jagung. Penyakit ini menyerang tanaman jagung khususnya varietas rentan hama penyakit dan umur muda (antara 1 - 2 minggu setelah tanam). Kehilangan hasil jagung akibat penularan penyakit bulai dapat mencapai 100% pada varietas rentan.

Gejala
Gejala khas bulai adalah adanya warna khlorotik memanjang sejajar tulang daun dengan batas yang jelas antara daun sehat. Pada daun permukaan atas dan bawah terdapat warna putih seperti tepung dan ini sangat jelas pada pagi hari. Selanjutnya pertumbuhan tanaman jagung akan terhambat, termasuk pembentukan tongkol, bahkan tongkol tidak terbentuk, daun-daun menggulung dan terpuntir serta bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan.

Penyakit bulai pada tanaman jagung menyebabkan gejala sistemik yang meluas keseluruh bagian tanaman dan menimbulkan gejala lokal (setempat). Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun yang dibentuk terinfeksi. Tanaman yang terinfeksi penyakit bulai pada umur masih muda umumnya tidak menghasilkan buah, tetapi bila terinfeksi pada tanaman yang sudah tua namun masih terbentuk buah dan umumnya pertumbuhannya kerdil.

Penyebab
Penyakit bulai di Indonesia disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis dan Peronosclerospora philippinensis yang luas sebarannya, sedangkan Peronosclerospora sorghii hanya ditemukan di dataran tinggi Berastagi Sumatera Utara dan Batu Malang Jawa Timur.

Pengendalian
- Menanam varietas tahan: Bima 1, Bima 3, Bima 9, Bima 14, Bima 15, Lagaligo, dan Gumarang
- Melakukan periode waktu yang bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu bulan
- Penanaman jagung secara serempak
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai keakarnya (Eradikasi tanaman) yang terserang penyakit bulai
- Penggunaan fungisida metalaksil pada benih jagung (perlakuan benih) dengan dosis 2 gram (0,7 g bahan aktif) per kg benih

Busuk Tongkol


a. Busuk tongkol Fusarium

Gejala
Gejala penyakit ini permukaan biji pada tongkol berwarna merah jambu sampai coklat, kadang-kadang diikuti oleh pertumbuhan miselium seperti kapas yang berwarna merah jambu. Cendawan berkembang pada sisa tanaman dan di dalam tanah, cendawan ini dapat terbawa benih, dan penyebarannya dapat melalui angin atau tanah.;
Penyakit busuk tongkol Fusarium disebabkan oleh infeksi cendawan Fusarium moniliforme

b. Busuk tongkol Diplodia

Gejala
Kelobot yang terinfeksi pada umumnya berwarna coklat, infeksi pada kelobot setelah 2 minggu keluarnya rambut jagung, menyebabkan biji berubah menjadi coklat, kisut dan busuk. Miselium berwarna putih, piknidia berwarna hitam tersebar pada kelobot. Infeksi dimulai pada dasar tongkol berkembang ke bongkol kemudian merambat ke permukaan biji dan menutupi kelobot. Cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk spora dan piknidia yang berdinding tebal pada sisa tanaman di lapangan.

Gejala busuk tongkol Diplodia disebabkan oleh infeksi cendawan Diplodia maydis.

c. Busuk tongkol Gibberella

Gejala
Tongkol yang terinfeksi dini oleh cendawan ini dapat menjadi busuk dan kelobotnya saling menempel erat pada tongkol, buah berwarna biru hitam di permukaan kelobot dan bongkol.

Gejala busuk tongkol Gibberella disebabkan oleh infeksi cendawan Gibberella roseum.

Pengendalian :
- Menggunakan pemupukan berimbang.
- Tidak membiarkan tongkol terlalu lama mengering di lapangan, jika musim hujan bagian batang dibawah tongkol dipotong agar ujung tongkol tidak mengarah keatas.
Pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan termasuk padi-padian, karena patogen ini mempunyai banyak tanaman inang.

Busuk Batang

Gejala
Penyakit busuk batang jagung dapat menyebabkan kerusakan pada varietas rentan hingga 65%. Tanaman jagung yang terserang penyakit ini tampak layu atau kering seluruh daunnya. Umumnya gejala tersebut terjadi pada stadia generatif, yaitu setelah fase pembungaan. Pangkal batang yang terinfeksi berubah warna dari hijau menjadi kecoklatan, bagian dalam batang busuk, sehingga mudah rebah, dan bagian kulit luarnya tipis. Pada pangkal batang yang terinfeksi akan memperlihatkan warna merah jambu, merah kecoklatan atau coklat.

Penyakit busuk batang jagung dapat disebabkan oleh delapan spesies/cendawan seperti Colletotrichum graminearum, Diplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium moniliforme, Macrophomina phaseolina, Pythium apanidermatum, Cephalosporium maydis, dan Cephalosporium acremonium. Di Sulawesi Selatan penyebab penyakit busuk batang yang telah berhasil diisolasi adalah Diplodia sp., Fusarium sp. dan Macrophomina sp.

Penularan
Cendawan patogen penyebab penyakit busuk batang memproduksi konidia pada permukaan tanaman inangnya. Konidia dapat disebarkan oleh angin, air hujan ataupun serangga. Pada waktu tidak ada tanaman, cendawan dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman yang terinfeksi dalam fase hifa atau piknidia dan peritesia yang berisi spora. Pada kondisi lingkungan yang sesuai untuk perkembangannya, spora akan keluar dari piknidia atau peritesia. Spora pada permukaan tanaman jagung akan tumbuh dan menginfeksi melalui akar ataupun pangkal batang. Infeksi awal dapat melalui luka atau membentuk sejenis apresoria yang mampu masuk ke jaringan tanaman. Spora/konidia yang terbawa angin dapat menginfeksi ke tongkol, dan biji yang terinfeksi bila ditanam dapat menyebabkan penyakit busuk batang.

Pengendalian
1. Menanam varietas tahan, hasil seperti BISI-1, BISI-4, BISI-5, Surya, Exp.9572, Exp. 9702, Exp. 9703, CPI-2, FPC 9923, Pioneer-8, Pioneer-10, Pioneer-12, Pioneer-13, Pioneer-14, Semar-9, Palakka, dan J1-C3.
2. Pergiliran tanaman.
3. Pemupukan berimbang, menghindari pemberian N tinggi dan K rendah.
4. Drainase yang baik.
5. Pengendalian penyakit busuk batang (Fusarium) secara hayati dapat dilakukan dengan cendawan antagonis Trichoderma sp.

Karat Daun (Puccinia polysora)

Bercak-bercak kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat pada permukaan daun jagung di bagian atas dan bawah, uredinia menghasilkan uredospora yang berbentuk bulat atau oval dan berperan penting sebagai sumber inokulum dalam menginfeksi tanaman jagung yang lain dan sebarannya melalui angin. Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi dan infeksinya berkembang baik pada musim penghujan atau musim kemarau.

Penyebab
Penyakit karat disebabkan oleh Puccinia polysora

Pengendalian
- Menanam varietas tahan : Lamuru, Sukmaraga, Palakka, Bima-1 dan Semar- 10
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai keakarnya (Eradikasi tanaman) yang terinfeksi karat daun dan gulma
- Penggunaan fungisida dengan bahan aktif benomil

Bercak Daun (Bipolaris maydis Syn.)

Gejala
Penyakit bercak daun pada tanaman jagung dikenal dua tipe menurut ras patogennya yaitu ras O dan T. Ras O bercak berwarna coklat kemerahan dengan ukuran 0,6 x (1,2_1,9) cm, sedangkan Ras T bercak berukuran lebih besar yaitu (0,6_1,2) x (0,6_2,7) cm. Ras T berbentuk kumparan dengan bercak berwarna hijau kuning atau klorotik kemudian menjadi coklat kemerahan. Kedua ras ini, ras T lebih berbahaya (virulen) dibanding ras O dan pada bibit jagung yang terserang menjadi layu atau mati dalam waktu 3_4 minggu setelah tanam.

Tongkol yang terserang/terinfeksi dini, biji akan rusak dan busuk, bahkan tongkol dapat gugur. Bercak pada ras T terdapat pada seluruh bagian tanaman (daun, pelepah, batang, tangkai kelobot, biji, dan tongkol). Permukaan biji yang terinfeksi ditutupi miselium berwarna abu-abu sampai hitam sehingga dapat menurunkan hasil yang cukup besar. Cendawan ini dalam bentuk miselium dan spora dapat bertahan hidup dalam sisa tanaman di lapang atau pada biji di penyimpanan. Konidia yang terbawa angin atau percikan air hujan dapat menimbulkan infeksi pertama pada tanaman jagung.

Penyebab
Penyakit bercak daun penyebabnya adalah : Bipolaris maydis Syn. Pada B. maydis ada dua ras yaitu ras O dan ras T.

Pengendalian
- Menanam varietas tahan : Bima-1, Srikandi Kuning-1, Sukmaraga dan Palakka
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai akarnya (Eradikasi tanaman) yang terinfeksi bercak daun
- Penggunaan fungisida dengan bahan aktif mancozeb dan carbendazim

Virus Mosaik

Gejala
Gejala penyakit ini tanaman menjadi kerdil, daun berwarna mosaik atau hijau dengan diselingi garis-garis kuning, dan dilihat secara keseluruhan tanaman tampak berwarna agak kekuningan mirip dengan gejala bulai namun permukaan daun bagian bawah dan atas dipegang tidak terasa adanya serbuk spora. Penularan virus dapat terjadi secara mekanis atau melalui serangga Myzus percicae dan Rhopalopsiphum maydis secara non persisten. Tanaman yang terinfeksi virus ini umumnya terjadi penurunan hasil.

Pengendalian
Mencabut tanaman yang terinfeksi seawal mungkin agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman sekitarnya ataupun pertanaman yang akan datang.
Mengadakan pergiliran tanaman, tidak menanam jagung terus menerus di lahan yang sama.
Penggunaan peptisida apabila di lapangan populasi vektor cukup tinggi.
Tidak penggunakan benih yang berasal dari tanaman yang terinfeksi virus.
More aboutHAMA PENYAKIT TANAMAN JAGUNG

HAMA PENYAKIT DURIAN

Mengulas tentang Hama Penyakit Durian, sehingga tanaman durian Anda bisa berproduksi dengan kualitas baik.

HAMA PENYAKIT TANAMAN DURIAN

Penggerek Batang (Batocera sp. , Xyleutes sp.)

Hama ini menyerang tanaman durian dengan cara membuat lubang pada batang, dahan, atau ranting. Gejala serangan ditunjukkan dengan tanaman layu, daun kering dan rontok akhirnya mati. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan adalah sanitas kebun serta memusnaskan bagian tanaman yang terserang. Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan aplikasi insektisida sistemik berbahan aktif asefat, metomil, atau metamedophos ke dalam lubang gerekan kemudian ditutup dengan pasak kayu. Dapat pula menaburkan insektisida sistemik berbahan aktif karbofuran dengan dosis 115-150 g/pohon. Interval 3 bulan sekali.

Penggerek Buah (Tirathaha sp., Dacus dorsalis )

Hama ini menyerang tanaman durian dengan cara membuat lubang pada buah. Gejala serangan ditunjukkan dengan buah busuk berulat dan akhirnya rontok. Secara biologi dapat dilakukan dengan aplikasi Beauveria bassiana. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan adalah sanitas kebun serta memusnaskan buah durian yang terserang. Upaya pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan aplikasi insektisida berbahan aktif sipermetrin, klospirifos, profenofos, asefat, metomil, atau metamedophos. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan. Lakukan penyemprotan 10 hari sekali mulai saat pembentukan buah.

Kutu Putih ( Pseudococus sp.)

Kutu putih berbentuk bulat dan berwarna kehijauan, seluruh tubuhnya diselumuti lapisan lilin berwarna putih. Hama ini menyerang tanaman durian dengan cara menghisap cairan daun dan menyelubungi buah durian. Serangan pada bunga menyebabkan kerontokan. Kotorannya sangat manis sehingga mengundang semut serta berpotensi menimbulkan penyakit embun jelaga. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Ulat Daun (Papilia sp., Setora sp., Lymatria sp.)

Hama tersebut menyerang tanaman durian dengan cara memakan daun hingga berlubang dan rusak. Secara biologi dapat dilakukan dengan aplikasi Beauveria bassiana. Upaya pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan aplikasi insektisida berbahan aktif sipermetrin, klospirifos, profenofos, asefat, metomil, atau metamedophos. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan. Lakukan penyemprotan 7 hari sekali pada saat ulat baru menetas.

Fusarium sp.

Penyakit ini merupakan patogen tular tanah dan sangat berpotensi mematikan tanaman. Tanaman terserang menunjukkan gejala layu, jika dibelah, pada bagian korteks akan tampak warna coklat dan pada bagian yang berkayu akan tampak warna merah muda dengan bercak coklat. Tanaman yang terserang dimusnahkan dan dibakar serta bekas lubang tanam ditaburi kapur. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah mengatur kelembaban tanah, terutama menghindari adanya genangan air di areal pertanaman durian. Secara biologi dapat diberikan trichoderma atau Gliocladium pada saat persiapan lahan, dan pengocoran rutin 2 minggu sekali. Dapat juga dilakukan dengan pengocoran pestisida organik pada tanah, misal wonderfat dengan dosis sesuai anjuran pada kemasan.

Phytophthora sp.

Gejala serangan pada buah terdapat bercak kebasahan berwarna cokelat kehitaman, membusuk serta terdapat miselium cendawan berwarna putih. Buah durian terserak akan rontok. Sedangkan gejala serangan pada batang ditandai dengan adanya luka yang mengeluarkan lendir berwarna merah pada kulit batang. Setelah batang busuk, pucuk-pucuk tanaman akan mengering, daun layu dan rontok, dan akhirnya mati. Pengendalian dengan sanitasi kebun, pengaturan kelembaban areal pertanaman durian dengan cara memperlebar jarak tanam, pemangkasan ranting atau cabang tidak produktif. Secara biologi dapat dilakukan dengan pemberian Thricoderma sp. atau Gliocladium pada tanah untuk menekan pertumbuhan patogen yang masih bersifat saprofit. Secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida sistemik dengan bahan aktif metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Penyakit Bercak Daun Colletotrichum sp.

Gejala serangan ditandai dengan adanya bercak-bercak besar kering pada daun tanaman serta mengakibatkan daun tanaman berlubang. Musnahkan daun terserang, lakukan pemangkasan pada ranting atau cabang tidak produktif. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

Penyakit Akar Putih (Rigodoporus lignosus)

Gejala serangan ditandai dengan adanya daun yang menguning kemudian berubah menjadi coklat sebelum akhirnya mengerut dan gugur. Musnahkan semua tanaman terserang dari areal kebun, gunakan Natural GLIO sebagai pencegahan. Secara biologi dapat dilakukan dengan pemberian Thricoderma sp. atau Gliocladium pada tanah untuk menekan pertumbuhan patogen yang masih bersifat saprofit. Upaya pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida sistemik dengan bahan aktif metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf. Dosis/konsentrasi sesuai dengan petunjuk pada kemasan.

Penyakit Jamur Upas (pink disease)

Gejala munculnya cairan kuning pada bagian batang terserang dan diselimuti dengan benang-benang jamur berwarna mengkilat berbentuk seperti laba-laba sehingga menyebabkan kematian pada batang. Musnahkan bagian tanaman yang terserang, pengaturan kelembaban areal pertanaman durian dengan cara memperlebar jarak tanam, pemangkasan ranting atau cabang tidak produktif. Secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida sistemik dengan bahan aktif metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
More aboutHAMA PENYAKIT DURIAN

HAMA PENYAKIT TANAMAN CABAI


LIHAT FOTO HAMA PENYAKIT CABAI


Kami akan mengulas Hama Penyakit Tanaman Cabai secara khusus, karena tanaman cabai berpotensi mencapai nilai ekonomis sangat tinggi. Sehingga pengendalian hama penyakit tanaman cabai secara terpadu sangat diperlukan.

Hama Tanaman Cabai

Hama Gangsir (Brachytrypes portentosus) - Gambar

Hama ini menyerang tanaman cabai muda yang baru saja pindah tanam. Serangannya dilakukan pada malam hari, sedangkan pada siang harinya bersembunyi di dalam tanah. Gangsir ini membuat liang di dalam tanah sampai kedalaman 90 cm. Gangsir merusak tanaman cabai muda dengan cara memotong pangkal batang tapi tidak memakannya. Pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.

Hama Ulat Tanah (Agrotis ipsilon) - Gambar

Hama jenis ini menyerang tanaman cabai muda pada malam hari, sedangkan pada siang harinya bersembunyi di dalam tanah atau di balik mulsa PHP. Ulat tanah menyerang batang tanaman cabai muda dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan juga ulat pemotong. Pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam atau pemberian umpan beracun, yaitu dedak yang diberi insektisida berbahan aktif metomil, kemudian diberikan pada lubang tanam pada sore hari. Pemberian umpan beracun cukup efektif untuk mengendalikan Agrotis ipsilon.
More aboutHAMA PENYAKIT TANAMAN CABAI