Tampilkan postingan dengan label AGRIBISNIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AGRIBISNIS. Tampilkan semua postingan

ASPEK PEMASARAN DAN PERMODALAN AGRIBISNIS PERTANIAN

Dalam agribisnis pertanian, selain aspek produksi dan aspek permodalan, aspek pemasaran juga perlu mendapatkan perhatian agar tingkat keberhasilan agribisnis lebih tinggi sehingga keuntungan yang diperoleh akan lebih besar. Strategi pemasaran yang tepat akan memperpendek sistem atau mata rantai perdagangan, sehingga lost of benefit atau keuntungan yang hilang akibat panjangnya tataniaga perdagangan bisa dihindari.

ASPEK PEMASARAN AGRIBISNIS PERTANIAN

Pengertian pemasaran jauh lebih luas dari pasar. Di dalam pemasaran tercakup semua kegiatan yang berkaitan dengan usaha memasarkan produk, termasuk juga jalur pemasaran/tata niaganya. Untuk lebih jelasnya akan dibahas mengenai pasar, jalur pemasaran/ tata niaga, dan kegiatan pemasaran.

A. Pasar

Pasar dapat diartikan sebagai suatu organisasi tempat para penjual dan pembeli dapat dengan mudah saling berhubungan. Bagi pengusaha agribisnis pertanian, pasar merupakan tempat melempar hasil produksinya.

Dikenal ada beberapa macam pasar (saluran distribusi) dalam agribisnis pertanian, antara lain pasar langsung atau saluran distribusi langsung, saluran distribusi tidak langsung, dan eksportir.

Saluran distribusi langsung yaitu saluran distribusi yang langsung mengarah pada konsumen, seperti hotel, restauran, rumah sakit dan rumah tangga. Saluran distribusi langsung ini biasanya dilakukan oleh pengusaha agribisnis pertanian dalam skala kecil atau pengusaha agribisnis pertanian yang sudah besar tetapi secara khusus mengadakan kerjasama dengan pihak konsumen dengan kriteria dan kualitas hasil peroduksi yang sudah disepakati. Dalam hal ini misalnya seorang pengusaha agribisnis pertanian mengadakan kerjasama dengan pihak industri pengolahan yang berbasis pertanian.

Saluran distribusi tidak langsung, seperti pasar pasar tradisional, swalayan, pedagang pengecer dan koperasi. Mata rantai atau tata niaga perdagangan dalam saluran distribusi ini sangat beragam. Ada kalanya seorang pelaku agribisnis pertanian yang langsung membawa hasil produksinya ke pasar, tetapi tidak sedikit pula yang karena keterbatasan sarana transportasi, arus informasi, dan komunikasi, hasil produksi agribisnis pertanian harus dikumpulkan oleh pedagang pengumpul.

Saluran distribusi yang terakhir adalah eksportir. Dari eksportir inilah nantinya konsumen luar negeri dapat dijangkau. Untuk melakukan ekspor hasil produksi agribisnis pertanian, biasanya ditetapkan standar mutu yang dikeluarkan oleh negara tujuan terhadap kualitas produk agribisnis pertanian. Dalam melakukan ekspor perlu memperhatikan keadaan dan kebutuhan pasar negara yang akan dituju.

Berbicara mengenai pasar sebaiknya dengan mempertimbangkan jarak antara sentral produksi dengan pasar atau konsumen tujuan. Pertimbangan ini didasarkan pada sifat dari produk agribisnis pertanian yang secara umum bukan merupakan komoditas yang tahan lama. Karena sifat inilah maka pasar relatif tidak boleh terlalu jauh dengan sentral produksi. Kalaupun terpaksa memperoleh pasar yang jauh, maka harus diimbangi dengan kelancaran lancar transportasi dan sistem pengemasan yang aman.

B. Jalur Pemasaran Atau Tataniaga Produk Agribisnis Pertanian

Sebelum sampai ke tangan konsumen, produk usaha agribisnis pertanian ini hampir selalu melalui perantara. Jalan yang dilalui oleh produk agribisnis pertanian tersebut, dengan atau tanpa melalui perantara hingga sampai kepada konsumen dikenal dengan istilah jalur pemasaran atau jalur tata niaga.

Pada umumnya jalur tata niaga ada dua macam yaitu jalur langsung sederhana dan jalur dengan perantara.

1. Jalur tata niaga agribisnis pertanian secara langsung

Di sini produsen langsung berhadapan dengan konsumen. Harga yang dibayar konsumen sama besamya dengan yang diterima produsen. Dengan demikian, dari segi harga, produsen akan mendapatkan harga yang wajar. Di lain pihak konsumen juga merasa untung karena mendapat produk yang lebih segar. Meskipun demikian, jalur tata niaga ini mempunyai beberapa kelemahan seperti lingkup atau kapasitas pasar atau konsumen yang tidak begitu luas, produsen tidak tertarik untuk meningkatkan pendapatan dengan mengolah produk menjadi bentuk lain dan dengan harga yang lebih baik, serta produsen tidak dapat meluaskan jaringan pemasaran karena dengan meluaskan jaringan pemasaran, berarti terlepas dari profesinya sebagai petani atau produsen.

2. Jalur tata niaga agribisnis pertanian dengan perantara

Jalur tata niaga ini melibatkan pedagang perantara sehingga produsen tidak dapat langsung berhubungan dengan konsumen. Yang dimaksud dengan pedagang perantara yaitu pedagang yang memiliki dan menguasai barang serta menyalurkan dengan tujuan mendapat keuntungan.

Macam pedagang perantara yang biasa dijumpai dalam usaha agribisnis pertanian adalah pedagang eceran, pedagang besar, dan pedagang pengumpul. Pedagang eceran merupakan perantara yang menjual barang dagangannya langsung kepada konsumen akhir. Sementar pedagang besar adalah pedagang yang menerima produk agribisnis pertanian dari petani atau pedagang pengumpul dan menyalurkan kepada pedagang kecil atau eceran. Sedangkan pedagang pengumpul merupakan pedagang yang mengumpulkan sejumlah kecil produk dan beberapa produsen dan menjualnya dalam jumlah besar pada langganannya. Pendek kata, semua pedagang yang berfungsi sebagai penyalur dan produsen ke konsumen adalah pedagang perantara.

Banyaknya pedagang perantara membuat mata rantai tata niaga menjadi semakin panjang. Akibatnya tingkat harga yang diterima petani relatif sangat rendah dibanding dengan harga yang harus dibayar oleh konsumen. Untuk mengatasi hal ini, perlu adanya upaya memperpendek jalur tata niaga, disamping upaya peningkatan efisiensi peranan lembaga tata niaga serta perbaikan sarana transportasi.

Secara garis besar produk agrobisnis pertanian dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu produk agribisnis tanaman pangan dan produk agribisnis hortikultura. Produk tanaman pangan diantaranya adalah padi, jagung, sagu, singkong, dan ketela rambat. Sementara produk hortikultur mencakup semua produk sayur dan buah-buahan.

Berikut ini simulasi jalur tata niaga agribisnis pertanian



C. Kegiatan Pemasaran Produk Agribisnis Pertanian

Dalam usaha agribisnis pertanian kegiatan pemasaran berperan sebagai pembuka jalan bagi produk untuk sampai ke pasar. Bila kegiatan ini sampai terhambat, produk akan tersendat-sendat memasuki pasar. Padahal, produk dari usaha agribisnis pertanian mempunyai sifat yang mudah sekali rusak atau tidak tahan lama.

Berkaitan dengan kegiatan pemasaran, yang perlu dilakukan oleh pengusaha agribisnis pertanian adalah memahami tentang studi pemasaran, memperkirakan jumlah produksi, mempersiapkan produk, menentukan harga jual, menentukan distribusi, dan menentukan kebijakkan promosi.

1. Studi Pemasaran Agribisnis Pertanian

Studi pemasaran ini mencakup aspek yang cukup luas, antara lain studi pasar, studi mengenai produk yang dihasilkan, distribusi, konsumen, dan promosi (jika perlu). Studi pemasaran dimaksudkan untuk mencari data-data mengenai permintaan terhadap jenis komoditas agribisnis pertanian pada waktu lalu, sekarang, dan yang akan datang.

2. Memperkirakan Jumlah Produksi Agribisnis Pertanian

Perkiraan jumlah produksi berfungsi untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan pemasaran telah sesuai dengan yang direncanakan. Pada umumnya permintaan terhadap produk usaha agribisnis pertanian selalu mengalami pasang surut. Jika tidak diatasi dengan usaha memperkirakan jumlah penjualan maka akan terjadi kelebihan produk yang tidak bisa dilempar ke pasar. Atau, kalaupun bisa memasuki pasar maka harganya akan turun jauh di bawah harga yang di inginkan.

3. Mempersiapkan Produk Agribisnis Pertanian

Pengusaha agribisnis harus benar-benar tahu produk seperti apa kualitas produk yang diinginkan oleh konsumen. Untuk menghasilkan produk yang bisa memenuhi keinginan konsumen, antara lain dapat ditempuh dengan cara:
  1. menetapkan standar kualitas produk agribisnis pertanian,
  2. tidak mengandalkan satu jenis produk atau komoditas agribisnis pertanian,
  3. usahakan menggunakan kemasan spesial sehingga menarik konsumen,
  4. buat inovasi untuk mencoba membuat produk olahan sehingga produk agribisnis pertanian bisa memiliki nilai tambah

4. Menentukan Kebijakan Harga Jual Produk Agribisnis

Harga jual akan sangat menentukan posisi pengusaha dalam persaingan. Harga jual yang ditetapkan harus benar-benar dapat memberikan kepuasan kepada konsumen di samping harus dapat memenuhi pencapaian tujuan perusahaan. Memang pada kenyataannya harga jual komoditi agribisnis pertanian sangat tidak menentu. Hal ini tentu saja akibat dari tidak adanya estimasi produksi yang dilakukan oleh praktisi agribisnis pertanian karena memang daya dukung sumber data untuk melakukan itu sangat tidak mewakili. Akan tetapi, sebagai pelaku agribisnis yang maju, tentu saja segala upaya akan dilakukan untuk membuat analisa pasar terhadap kebutuhan konsumen akan jenis produk agribisnis. Selain itu perkiraan jumlah produksi secara nasional terhadap jenis komoditi agribisnis pertanian juga perlu dilakukan. Dengan melakukan estimasi produksi dan analisa kebutuhan konsumen tersebut, maka paling tidak pelaku usaha agribisnis pertanian sudah berupaya untuk mengantisipasi resiko harga jatuh pada saat panen. Sekalipun tingkat akurasi analisa pasar tersebut masih sangat rendah. Dengan jam terbang yang tinggi, maka tingkat akurasi akan semakin baik.

5. Menentukan Distribusi Produk Agribisnis

Dalam menentukan saluran distribusi produk atau komoditas, pengusaha agribisnis pertanian dapat memilih untuk melakukannya sendiri atau melalui perantara. Ada beberapa alasan pengusaha memilih perantara dalam mendistribusikan produknya antara lain
  1. pertimbangan dana dan personalia penjualan,
  2. efisiensi kerja,
  3. keadaan prasarana daerah pemasaran setempat, dan
  4. pengetahuan dan pengalaman menangani daerah pemasaran setempat.

6. Menentukan Kebijakan Promosi Produk Agribisnis

Promosi merupakan kegiatan memperkenalkan, meyakinkan, dan mengingatkan kembali manfaat dan kualitas produk kepada konsumen. Promosi biasanya dilakukan terhadap jenis komoditi agribisnis baru atau peluncuran varietas baru. Kegiatan promosi harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:
  1. jumlah dana yang tersedia untuk promosi,
  2. masa tahapan siklus produksi,
  3. konsumen yang ingin dituju, dan
  4. sifat atau ciri khusus produk yang dihasilkan.
Kebanyakan pengusaha agribisnis pertanian belum begitu memperhatikan masalah promosi, karena rata-rata usahanya belum begitu intensif. Akan tetapi jika kapasitas usahanya sudah semakin besar dan melakukan ekspansi usaha pada kegiatan pengolahan hasil agribisnis pertanian, maka mau tidak mau kegiatan promosi ini harus dilakukan.


Artikel Terkait :

ASPEK PRODUKSI AGRIBISNIS PERTANIAN

More aboutASPEK PEMASARAN DAN PERMODALAN AGRIBISNIS PERTANIAN

ASPEK PRODUKSI AGRIBISNIS PERTANIAN

Dalam agribisnis pertanian, aspek produksi perlu mendapatkan perhatian yang lebih dibanding aspek lain. Ini bukan berarti mengabaikan aspek lain, tetapi semata-mata karena komoditi yang dikelola adalah tanaman, makhluk hidup, yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan.

Dari tanaman yang ditanam akan dihasilkan produk untuk dijual ke pasar. Dengan demikian, mesin produksi dalam agribisnis pertanian ini adalah tanaman itu sendiri yang sifatnya sangat berbeda dengan mesin yang bekerja dengan bahan bakar. Oleh karena itu, penanganan aspek produksi ini harus hati-hati agar perusahaan dapat berproduksi sesuai dengan rencana. Aspek produksi agribisnis pertanian akan dibedakan menjadi perencanaan produksi dan pengendalian produksi.

A. Perencanaan Produksi Agribisnis Pertanian

Perencanaan produksi agribisnis pertanian meliputi perencanaan produk, perencanaan lokasi usaha, perencanaan standar produksi, dan pengadaan tenaga kerja.

1. Perencanaan Produk Atau Komoditas

Termasuk dalam perencanaan produk atau komoditas adalah penentuan jenis tanaman dan jumlah tanaman. Pada dasarnya penentuan jenis tanaman harus memperhatikan faktor agroklimat. Namun, jika menggunakan rumah kaca, faktor agroklimat dapat dibuat sedemikian rupa sehingga sesuai dengan jenis tanaman yang akan diusahakan.

Untuk tanaman yang tidak diusahakan dalam rumah kaca, faktor agroklimat harus benar-benar diperhatikan. Tanaman yang akan diusahakan haruslah tanaman yang sesuai dengan iklim dan keadaan tanah setempat. Apalagi jika tanaman yang kita pilih sebagai komoditas agribisnis merupakan tanaman yang rentan terhadap serangan hama dan penyakit, maka penyesuaian waktu tanam sangat penting untuk menunjang keberhasilan agribisnis tersebut.

Sebagai contoh, untuk agribisnis bisnis kentang, jika penanamannya dilakukan di dataran rendah atau menengah, maka produksi yang dihasilkan tidak akan seoptimal jika ditanam di dataran tinggi. Begitu pula jika agribisnis yang kita pilih adalah cabai hibrida, dan penanaman dilakukan pada musim hujan, tentu saja biaya pemeliharaan yang akan timbul akan lebih besar dibanding jika menanan cabai hibrida pada musim kemarau. Hal itu disebabkan serangan penyakit pada musim hujan sangat besar.

Dalam menentukan agribisnis yang akan diusahakan perlu juga diperhatikan masalah pengadaan bibitnya. Untuk memenuhi kebutuhan bibit, pemerintah dan pihak swasta telah melakukan perbanyakan berbagai jenis bibit unggul.

Selain merencanakan jenis tanaman, merencanakan jumlah tanaman yang akan ditanam perlu juga diperhatikan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar tidak terjadi kelebihan produk. Sebaiknya merencanakan jumlah tanaman ini beracuan pada pasar. Jumlah permintaan pasar itulah yang harus dipenuhi. Dengan cara ini efisiensi produksi akan tercapai dengan baik.

2. Perencanaan lokasi usaha

Secara umum perencanaan lokasi usaha untuk agribisnis pertanian sebaiknya memperhatikan aspek-aspek sebagai berikut.

a. Aspek teknis-ekonomis
Termasuk dalam aspek ini adalah biaya transportasi, baik dari pusat produksi ke lokasi sumber bahan baku atau dari pusat produksi ke pasar. Perlu juga dilihat ada tidaknya sarana jalan di tempat tersebut. Tersedianya sarana jalan yang berfungsi memperlancar transportasi akan menurunkan biaya operasional. Kelancaran transportasi memang sangat diperlukan karena akan membantu kegiatan pasca panen, terutama dalam hal pengangkutan hasil produksi.

Ketersediaan tenaga kerja, tingkat upah tenaga kerja, peluang perluasan usaha, harga tanah, serta sarana penunjang lain, seperti listrik dan air juga harus diperhatikan.

b. Aspek iklim
Aspek iklim diperlukan untuk menentukan jenis agribisnis yang akan diusahakan. Aspek ini meliputi suhu udara, kelembaban, curah hujan, dan intensitas cahaya.

c. Aspek agronomis
Tercakup dalam aspek ini antara lain topografi lahan, jenis dan kondisi tanah, serta sistem drainase. Aspek iklim dan agronomis sering dijadikan satu menjadi agroklimat. Untuk lebih jelasnya, aspek agroklimat diuraikan pada materi Pengendalian Produksi.

d. Aspek lingkungan dan sosial budaya masyarakat di sekitar lahan
Aspek ini meliputi dukungan masyarakat di sekitar lahan, penyesuaian diri masyarakat terhadap modemisasi, pandangan masyarakat terhadap bisnis, ada-tidaknya kerja sama yang saling menguntungkan, kompetisi dengan pengusaha lain, perilaku pedagang perantara, dan keadaan sosial ekonomi masyarakat di sekitar lokasi agribisnis.

e. Aspek tata kota
Ada kawasan-kawasan tertentu yang oleh pemerintah dilarang untuk pendirian agribisnis pertanian dengan alasan tata kota. Di kawasan ini jelas tidak dapat dipilih sebagai lokasi usaha meskipun aspek-aspek lainnya telah terpenuhi.

3. Perencanaan Standar Kualitas Produk

Agar produk dari agribisnis pertanian yang kita usahakan mampu bersaing di pasar, diperlukan adanya standar kualitas, terutama produk dengan jangkauan pasar ekspor. Biasanya standar mutu komoditi yang akan dieskpor telah ditentukan oleh eksportir.

Untuk produk atau komoditas yang berorientas pasar lokal atau nasional, maka standar kualitas produk disesuaikan dengan permintaan pasar yang ada. Standar produk untuk permintaan supermarket tentu saja berbeda dengan standar produk untuk permintaan pasar tradisional. Menentukan standar produk yang tepat akan menghemat biaya operasional agribisnis.

Apa yang terjadi jika banyak pengusaha yang kurang memperhatikan kualitas produk? Yang jelas, pasar akan dibanjiri oleh produk agribisnis pertanian yang berkualitas rendah. Bisa dipastikan harga suatu produk akan jatuh. Hanya pengusaha yang pandai menjaga kualitas saja yang bisa bertahan dalam keadaan seperti ini.

4. Pengadaan tenaga kerja

Kebutuhan akan tenaga kerja disesuaikan dengan besar kecilnya usaha itu sendiri. Pengusahaan agribisnis pertanian yang tidak begitu besar, membutuhkan tenaga kerja yang sedikit dan dapat dipenuhi oleh anggota keluarga sendiri. Namun, untuk pengusahaan yang besar dan dilakukan secara intensif, penggunaan tenaga kerja dari luar mutlak diperlukan.

Sebagai contoh, berdasarkan luas lahan yang dimiliki, pengusaha agribisnis pertanian yang mengelola lahan seluas 2.500-3.000 m2, dapat mempekerjakan 1-2 orang tenaga kerja. Namun, gambaran ini tidak mengikat. Bagi pengusaha yang sudah maju, kebutuhan tenaga kerjanya dapat lebih besar, dan telah ada penggolongan tenaga kerja. Semakin banyak tenaga kerja yang digunakan, semakin besar pula biaya yang diperlukan. Sekitar 34,81% dari seluruh pengeluaran total dihabiskan untuk upah tenaga kerja.

Sebagai gambaran untuk biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja di sektor pertanian, di daerah Wonosobo Jawa Tengah, adalah Rp 25.000,00 - Rp 35.000,00 per-orang per-hari dengan waktu kerja 8 jam sehari.

B. Pengendalian Produksi Agribisnis Pertanian

Pengendalian produksi terutama ditekankan pada proses produksi tanaman yang akan dibudidayakan. Proses produksi dalam agribisnis pertanian menyangkut pengetahuan mengenai jenis dan sifat-sifat tanaman, agroklimat bagi pertumbuhannya, budidaya, serta penanganan pascapanen.

1. Jenis-jenis tanaman

Jenis tanaman yang akan ditentukan dalam agribisnis pertanian harus mempertimbangkan potensi atau peluang pasar terhadap hasil produksi agribisnis. Jika Anda memiliki peluang pasar yang lebih bagus dengan harga yang tinggi untuk tomat jenis sayur berarti pilihan utama untuk agribisnis yang akan diusahakan adalah tomat jenis sayur. Begitu pula untuk agribisnis pertanian yang lain, ada banyak jenis tanaman yang bisa dijadikan sebagai pilihan, seperti jenis cabai merah keriting, cabai merah besar, pepaya ukuran besar, pepaya ukuran kecil, dan sebagainya. Pilihan yang tepat dengan menyesuaikan potensi atau peluang pasar yang ada akan menunjang keberhasilan agribisnis tersebut.

2. Sifat-sifat tanaman

Sifat-sifat tanaman sangat perlu untuk diketahui agar penanganannya, mulai budidaya sampai pemasarannya, dapat dilakukan dengan baik sehingga penurunan mutu produknya dapat dicegah atau setidak-tidaknya berkurang. Parameter yang dapat digunakan untuk menentukan sifat-sifat tanaman yang cocok untuk agribisnis yang akan dijalankan antara lain:

a. Ketergantungan terhadap musim
Apakah tanaman yang akan dibudidayakan dapat ditanam dan dipanen kapan saja atau hanya bisa dilakukan pada musim-musim tertentu. Misalnya untuk agribisnis tembakau tidak mungkin ditanam pada awal musim hujan dan dipanen saat akhir musim hujan. Untuk agribisnis buah mangga hanya dapat dipanen satu kali dalam satu tahun. Jika menanam tomat pada musim kemarau berarti biaya yang dikeluarkan untuk mengendalikan serangan virus akan lebih besar. Estimasi ketergantungan tanaman terhadap musim akan membantu membuat perencanaan waktu tanam, pembiayaan atau permodalan, dan pemanenan.

b. Tingkat perputaran modal
Bagaimana tingkat perputaran modal terhadap agribisnis yang kita usahakan? Menanam jahe tentu saja memiliki tingkat perputaran modal yang lebih lambat dibanding dengan tomat, karena waktu panen jahe yang lebih panjang. Untuk tanaman pepaya membutuhkan investasi yang sedikit lebih lambat dibanding tanaman cabai atau tomat, akan tetapi saat tanaman pepaya sudah memasuki fase panen, maka tingkat perputaran modalnya lebih cepat dimana pembudidaya bisa mendapatkan penerimaan paling tidak satu minggu sekali. Dengan mengetahui tingkat perputaran modal, pelaku agribisnis dalam memperkirakan kemampuan pengembalian modal.

c. Daya tahan hasil produksi pasca panen
Sifat ini merupakan sifat fisik produk agribisnis pertanian. Perlu diketahui apakah produk agribisnis tersebut mudah rusak oleh kesalahan perlakuan fisik selama pemanenan atau pengangkutan. Jika produk tersebut mudah rusak, tentu saja penanganan panen dan pasca panen harus hati-hati dan usahakan untuk mengikuti SOP (Standar Operasional Prosedur) yang sudah dibuat. Jika produk tersebut tidak mudah rusak, seperti gabah, penanganan tentu saja bisa dilakukan secara tradisional, sejauh tidak mengakibatkan kerugian yang fatal.

3. Agroklimat

Agroklimat mempunyai arti iklim yang berhubungan dengan kegiatan pertanian. Dalam agribisnis pertanian, faktor agroklimat sangat menentukan keberhasilan usaha. Memaksa tanaman untuk tumbuh di daerah dengan agroklimat yang tidak sesuai akan fatal terhadap keberhasilan agribisnis.

Faktor-faktor agroklimat yang perlu diketahui dalam agribisnis pertanian meliputi keadaan tanah/lahan, ketinggian tempat, suhu, dan curah hujan.

a. Keadaan tanah
Keadaan tanah yang harus disesuaikan dengan jenis tanaman budidaya secara umum adalah jenis tanah dan tingkat keasaman tanah (pH). Jenis tanah harus diusahakan sesuai dengan jenis tanaman budidaya dalam kegiatan agribisnis. pH tanah juga haru berada pada kisaran optimal untuk pertumbuhan tanaman budidaya. Pengukuran pH tanah dapat dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut pH meter atau cairan pH tester.
Informasi selengkapnya tentang pH tanah bisa dilihat pada artikel pH Tanah

b. Ketinggian tempat
Ketinggian tempat merupakan salah satu syarat tumbuh jenis tanaman yang akan dibudidayakan. Jangan memaksakan untuk menentukan agribisnis pada tanaman yang tidak sesuai dengan ketinggian tempatnya. Kesalahan menentukan jenis tanaman yang sesuai dengan ketinggian tempat akan berakibat fatal terhadap keberhasilan agribisnis.

c. Suhu udara
Suhu udara berkaitan erat dengan ketinggian tempat. Setiap ketinggian tempat naik 100 m, suhu udara akan turun kurang lebih 0,57°C. Suhu udara yang sesuai tanaman budiaya akan menunjang keberhasilan agribisnis.

d. Curah hujan
Satu persyaratan yang harus dipenuhi untuk menunjang keberhasilan agribisnis pertanian adalah curah hujan. Tanaman budidaya yang tidak membutuhkan curah hujan tinggi maka jangan ditanam saat awal musim hujan. Demikian pula sebaliknya. Jika memaksakan untuk menanam tanaman yang rentan terhadap curah hujan tinggi dengan pertimbangan peluang harga yang bagus saat panen, maka harus diperhatikan juga biaya perawatan yang akan meledak mungkin bisa mencapai 200-300 persen.

Data agroklimat suatu daerah bisa diperoleh dari dinas-dinas pertanian setempat.

4. Teknologi Budidaya Dalam Agribisnis Pertanian

Teknologi budidaya untuk setiap jenis tanaman berbeda-beda. Penerapan teknologi budidaya yang baik dan benar menjadi penentu keberhasilan agribisnis pertanian. Walaupun semua komponen sudah dipersiapkan, tetapi jika teknologi budidaya yang diterapkan tidak benar, maka besar kemungkina agribisnis pertanian yang kita usahakan akan menemui kegagalan. Oleh karena itu, dalam agribisnis pertanian mau tidak mau harus menguasai masing-masing teknologi budidaya dari jenis tanaman yang dibudidayakan.
Sebagai referensi untuk menunjang teknologi budidaya berikut kami sajikan beberapa pilihan teknologi budidaya mulai dari pengadaan bibit, pemupukan, hingga penanganan hama penyakit yang dapat mendukung kegiatan agribisnis pertanian :

Budidaya Bawang Merah, Budidaya Buah Naga, Budidaya Cabai, Budidaya Durian, Budidaya Jagung, Budidaya Jahe, Budidaya Jamur, Budidaya Jeruk, Budidaya Melon, Budidaya Padi, Budidaya Pepaya, Budidaya Semangka, Budidaya Tanaman Anggrek, Budidaya Tanaman Buah, Budidaya Terong, Budidaya Tomat.

Petunjuk Aplikasi Pestisida, Hama Penyakit Cengkeh, Hama Penyakit Durian, Hama Penyakit Tanaman Cabai, Hama Penyakit Tanaman Jagung, Hama Penyakit Tanaman Kentang.

Pupuk Dan Pemupukan, Pupuk Organik, Hormon Tumbuhan atau ZPT (Zat Pengatur Tumbuh).

5. Penanganan Pascapanen Hasil Produksi Agribisnis

Penanganan pasca panen merupakan penanganan terhadap hasil produksi agribisnis setelah panen selesai, atau setelah pemetikan hasil produksi. Pasca panen untuk setiap jenis tanaman berbeda-beda. Penanganan pasca panen pada buah tomat dan gabah sangat berbeda jauh. Begitu pula untuk tujuan pemasaran. Jenis produksi yang sama akan mengalami penanganan pasca panen yang berbeda jika tujuan pemasarannya berbeda. Untuk pepaya yang dipasarkan ke pasar tradisional akan berbeda penanganannya dengan pepaya yang dipasarkan ke supermarket atau tujuan ekspor. Penanganan pasca panen yang tidak benar akan mengurangi nilai jual dari hasil produksi agribisnis pertanian.

Secara umum, penanganan pasca panen meliputi, pembersihan, pemilihan atau sortasi, pengelasan (grading), penyimpanan, pengepakan dan pengangkutan. Semua kegiatan tersebut bertujuan untuk menjaga kualitas hasil produksi agribisnis pertanian agar masuk dalam standar kualitas yang telah disepakati dengan pihak pembeli.

Artikel Terkait :

ASPEK PEMASARAN AGRIBISNIS PERTANIAN

More aboutASPEK PRODUKSI AGRIBISNIS PERTANIAN